
Rasa penasaran yang tinggi, membuat Chania terus mendesak Michael agar menceritakan sedikit banyak tentang rahasia yang tak diketahuinya. Termasuk interaksi ganjil antara Michael dan sang Mama.
Michael duduk di samping Chania, bersandar dengan cara yang menghela nafas berat. Memperlihat betapa sulit menceritakan apa yang ada di dalam pikirannya. Rasanya belum sanggup jika harus di benci oleh wanita di sampingnya yang kini berstatus sebagai istrinya.
Memejamkan mata untuk beberapa detik, menarik nafas dalam sebelum bercerita.
"Mama lumpuh akibat menghajar seorang wanita bernama Kimberly beberapa tahun yang lalu. Saat aku berusia 10 tahun." ucap Michael lirih.
Membuat Chania mengerutkan keningnya, namun ia memasang telinga dengan sebaik mungkin.
"Kala itu, seorang wanita bernama Kimberly, mendatangi Papa di salah satu klub malam di Italia, konon katanya untuk meminta bantuan. Dan entah bagaimana cerita yang sebenarnya, Pagi harinya Mama menemukan Papa dengan wanita itu berada di kamar hotel dalam keadaan yang menjijikkan, namun sama - sama tertidur. Dan rasa cemburu itu membuat Mama murka. Mama yang ahli bela diri pun menghajar wanita itu tanpa ampun. Namun Papa dan wanita itu sama - sama tidak tau bagaimana bisa mereka berada di sana."
Chania mencerna setiap kata yang keluar dari bibir Michael.
...🌺 Flashback On 🌺...
🍄 Italia, 21 tahun silam . . .
Pertemuan santai antara Klan Black hold dan beberapa klan sekutunya di lakukan di sebuah klub malam high class di Venice, Italia.
Frederick Sebastian, bos Mafia dari Klan Black Hold adalah ketua dalam pertemuan malam itu. Karena Black Hold memiliki kekuasaan paling besar di Italia. Bahkan sampai di Amerika.
Obrolan ringan dengan di temani berbagai jenis minuman di meja membuat malam itu terasa lebih akrab. Dan lebih hangat akibat kehadiran beberapa wanita malam dengan pakaian seksi yang siap untuk melayani para anggota Mafia.
Semua berpasangan, namun tidak dengan seorang Frederick Sebastian. Mafia beristri itu memilih duduk sendiri tanpa mau di sentuh oleh wanita manapun. Padahal banyak wanita yang ingin duduk di sampingnya. Selaku salah satu pria terkaya di Italia.
Putra tunggal Tuan besar Bastian yang sudah pensiun dari gemerlap dunia hitam, bahkan perusahaan pun sudah turun padanya.
Suasana berubah saat seorang perempuan datang dan berdiri di samping meja para Mafia. Dengan mengenakan pakaian yang membuat seluruh mata tertuju padanya.
Bukan gaun malam yang di desain untuk menunjukkan lekuk tubuh, bukan pula pakaian kurang bahan yang memperlihat kulit putih mulus nan menggoda.
Melainkan memakai celana jeans di padu dengan sweater lengan panjang berwarna cream dan syal biru tua. Rambut di ikat sekedarnya.
"Kimberly?" desis Frederick yang mengenali perempuan berusia sekitar 25 tahun itu.
"Frederick, bisa kita bicara?"
Semua menoleh pada Frederick. Dengan berbagai pertanyaan yang muncul di benak masing - masing.
Darimana seorang Frederick mengenal gadis cupu seperti itu? Ini jauh dari kota Roma, tapi bagaimana bisa Frederick mengenal gadis aneh di sini?
Itu adalah sebagian dari pemikiran para ketua klan.
Frederick mengangguk pelan, kemudian bergeser sedikit. Meminta Kimberly duduk di sampingnya.
Kimberly berjalan di antara meja dan sofa, melewati beberapa pasang kaki yang duduk di sofa. Kaki yang belang - belang. Sepasang berbalut celana mahal, kemudian di sebelahnya paha dan betis mulus terpampang nyata. Kemudian kembali bertemu kaki dengan balutan celana panjang dan mahal, dan kembali bertemu paha mulus hingga ujung kaki yang di Balut heels.
__ADS_1
Kimberly duduk di samping Frederick, membuang rasa malu pada seluruh pasang mata seisi sofa yang membentuk setengah lingkaran itu.
"Ada apa?" tanya Frederick setengah berbisik.
"Bisa aku bicara berdua dengan mu, Frederick?" bisik Kimberly menatap penuh harap pada Frederick.
"Baiklah!" Frederick segera beranjak dari duduknya dan meminta Kimberly untuk mengikuti langkahnya.
Sampai akhirnya, Frederick membawa Kimberly ke sebuah ruang VIP yang lebih sepi, dan kedap suara.
"Apa ruangan ini tidak terlalu berlebihan, Frederick?"
"Kenapa?"
"Bukankah ruangan ini terlalu mahal?"
Frederick tersenyum miring. VIP room? tidak ada harganya untuk seorang Frederick Sebastian.
Kimberly tersenyum kecut. Ia lupa siapa orang yang sedang duduk di hadapannya itu. Bersebrangan dengan meja berbentuk lonjong.
Seorang Mafia berdarah dingin, sekaligus CEO terkemuka di Italia. Siapa yang tak mengenal ketampanannya? hampir seluruh wanita pasti mengenalnya.
"Apa istri mu ikut ke Venice?" tanya Kimberly ragu.
"Ya.. dia di hotel bersama putra kami." jawab Frederick datar.
Frederick dan Kimberly saling mengenal namun tak begitu mengenal istrinya.
"Dari mana kamu tau aku datang ke sini?" tanya Frederick.
"Desas - desus yang beredar. Lebih tepatnya dari suami ku yang memberi tahuku."
"Suami?" Frederick mengerutkan keningnya.
"Ya, aku sudah menikah, Frederick." Kimberly menunduk.
"Sejak kapan? kenapa aku baru mendengarnya?"
"Satu bulan setelah anak kami lahir." air mata tergelincir begitu saja di pipi mulus Kimberly.
"Smith tau?"
Kimberly mengangguk kecil. "Awalnya ia marah, tapi aku tidak punya pilihan lain. Aku tidak ingin anak ku tumbuh tanpa memiliki seorang ayah."
"Kenapa Smith tidak bilang padaku?"
"Entahlah." jawab Kimberly, si perempuan manis nan cantik.
__ADS_1
Frederick menghela nafas berat, menggelengkan kepalanya pelan. "Berapa usia anak kalian sekarang?"
"Satu tahun."
Tiba - tiba suara ketukan pintu terdengar. Menyusuri lubang telinga keduanya. Kimberly reflek berdiri dan membuka pintu yang berjarak 2 meter dari sofa tempat mereka duduk.
Seorang waiters masuk dengan membawa nampan, berisi jus jeruk dan sebotol wine, beserta dua gelasnya.
Kimberly kembali duduk setelah waiters keluar. Ruangan kembali hanya terisi dua insan yang saling menganggap teman.
"Lalu apa yang ingin kau bicarakan padaku?" tanya Frederick kemudian.
"Sejak hari itu, hari pernikahan aku dan suamiku, merupakan hari terakhir aku bertemu dengannya." ucap Kimberly. "Dan saat ini aku ingin bertemu dengannya untuk membicarakan putri kami. Apa kamu bisa membantuku? semua akses yang menghubungkan kami di putus olehnya."
Frederick mengernyit, pasalnya yang ia tau bahwa Smith kesulitan bertemu dengan wanita di hadapannya ini, lantaran Kimberly menutup seluruh akses.
Tapi kenapa justru wanita ini bilang ia kesulitan bertemu Smith, karena Smith menutup akses.
Frederick yang pening, memilih menuangkan wine kedalam dua gelas kosong. Kemudian mengajak Kimberly untuk meminumnya.
"Minumlah dulu!" ucap Frederick mengangkat gelas.
Kimberly reflek ikut mengangkat gelasnya, dan menyentuhkan gelas mereka di udara. Meneguk dengan perlahan.
"Kamu tinggal dimana?"
"Di pesisir pantai." jawab Kimberly.
"Nanti supir ku akan mengantarmu pulang. Akan aku usahakan membuat Smith menemui mu." ucap Frederick sembari berfikir apa yang terjadi sebenarnya.
***
Tanpa Kimberly ingat lagi kalimat apa yang di ucapkan Frederick selanjutnya. Begitu juga Frederick tak tau kalimat yang keluar dari bibir Kimberly.
Tiba - tiba saja keduanya terbangun akibat suara berisik di dalam ruang kamar presidential sweet di salah satu hotel ternama di Venice.
"DASAR PELACUR TIDAK TAU DIRI!" teriak seorang wanita menarik tubuh Kimberly yang polos turun secara paksa dari ranjang.
Kimberly yang menyadari tubuh polosnya segera menarik selimut dan melilitkan pada tubuhnya. Ia tampak kebingungan dengan situasi di ruangan itu. Seorang wanita yang ia ketahui sebagai Madalena, istri Frederick menarik rambutnya dengan membabi buta.
"Ada apa ini? kenapa aku bisa di sini!" ucap Kimberly di tengah - tengah kebingungannya.
"Belum puas kau merayu Smith dan sekarang menggoda suamiku!" ucap Madalena dengan amarah sepenuh dada.
Sedangkan Frederick, pria itu pun ikut di buat bingung. Apa yang terjadi?
🪴🪴🪴
__ADS_1
Happy reading 🌹🌹🌹