
Melihat kilatan emosi yang semakin membara di mata Nicholas, membuat jiwa Sang Mafia ikut terbakar. Tak menyangka permasalahan yang sudah terpendam puluhan tahun kini kembali naik tanpa ia sadari.
Masa itu, saat peperangan itu terjadi, ia masih berusia sekitar 20 tahunan. Di mana usia itu dirinya masih sangat menikmati hidupnya sebagai anak salah satu orang terkaya di negerinya. Sedang diri di Harvard untuk menempuh pendidikan. Dan pulang ke Italia jika di panggil sang Ayah untuk bertempur saja. Toh Black Hold di Amerika tak kalah besar dari di Italia.
Uang yang melimpah membuat Sang Mafia hanya menikmati hidupnya untuk berada di klub malam setiap pulang kuliah. Menggoda gadis - gadis di klub malam yang datang untuk menghilangkan penat saja. Bukan untuk menjajakan diri. Dan kemudian membawanya pulang ke apartemen untuk menghabiskan malam sunyi berdua.
Memori di masa muda kembali menguar di benak Sang Mafia. Masa muda yang kelam sebelum ia mengenal yang namanya cinta. Satu perasaan yang dulu ia anggap tidak akan pernah tumbuh di dalam hatinya yang beku, dan hanya di penuhi oleh nafsu saja.
Dan kini melihat Nicholas maju merengsek untuk menyerang dirinya membuatnya kembali mengingat masa itu, saat ia melihat Neo Roderick maju menyerang sang Ayah di tengah malam gelap yang sama seperti saat ini.
Pertempuran yang di awali dengan persahabatan erat itu harus berakhir naas. Dengan putusnya leher seorang Neo Roderick di tangan Frederick Sebastian, sahabat sejak usia muda.
Dan saat itu Michael berbangga diri, karena sang Ayah berhasil membunuh Neo Roderick yang berkhianat, meski cukup berat. Hingga bersimbah darah di tubuh sang Ayah. Bukan hanya darah, tapi juga air mata karena terasa begitu berat membunuh sahabat sendiri.
Kini, ia di serang oleh orang yang pernah bertempur dengannya sekitar 30 tahun di hadapan putra sulungnya. Jika ia menang dalam pertempuran ini, ia harap sang anak pun akan berbangga diri padanya.
Jio berdiri dengan dada kembang kempis, karena tak sabar ingin ikut melawan orang yang sudah berulang kali mengatai Kakeknya brengsek itu.
Dengan membawa pedang di tangan kanannya, dan sebuah pisau berbentuk seperti celurit namun kecil di tangan kirinya, Nicholas berlari mendekati Michael untuk menyerang lebih dulu. Michael yang sudah siap sontak mengambil ancang - ancang terbaiknya.
Nicholas berlari kencang kemudian beberapa meter di depan Michael, ia tekuk lutut sebelah kiri dan kemudian menebaskan pedang ke arah pinggang Sang Mafia dengan sangat cepat.
Tapi Sang Mafia bukanlah sembarang Mafia. Ia melompat tinggi sebelum pedang itu berhasil menyentuh baju serba hitam yang ia kenakan. Dan saat ia sudah berada di atas, cepat ia memutar tubuhnya dengan memajukan satu kaki. Sehingga kakinya yang kuat menendang kencang pelipis Nicholas, meski pria itu sempat menghindar.
Hap! Michael kembali mendarat di tanah dengan kaki yang menghentak Bumi dengan sangat kuat.
Nicholas yang sempat terhuyung, juga langsung bersiap kembali. Nicholas juga bukan golongan orang yang mudah untuk di kalahkan.
"Aku akan menebas leher mu, di depan anakmu, Michael! sama seperti yang di lakukan Ayahmu pada Ayahku!" geram Nicholas dengan mata yang terus memicing meski tendangan Michael cukup kuat di pelipisnya.
"Jangan banyak bicara, pecundang! lawan aku, dan jangan sekalipun kau kabur seperti yang kau lakukan 30 tahun lalu!" ejek Michael dengan seutas senyum dingin nan sinis.
Di ejek demikian membuat Nicholas geram dan kembali maju dengan mengarahkan pedangnya lurus ke depan. Mengarah pada jantung Sang Mafia.
Michael memutar tubuhnya dengan sedikit berjongkok. Pedangnya ia buat berdiri, dan berhasil menepis pedang Nicholas ke sisi kanan tubuhnya. Hingga menimbulkan suara bunyi besi tipis yang bertubrukan.
Tidak berhenti sampai di situ, Nicholas mengarahkan pisau kecil di tangan kirinya ke arah depan, berlawanan dengan pedangnya yang bergerak ke arah kiri tubuhnya. Dan sling...
Rompi pelindung tubuh yang di kenakan Sang Mafia robek di bagian bawah ketiak. Dan keduanya kembali dengan posisi berdiri tegak dengan tetap mengambil ancang - ancang siaga. Mengatur nafas, keduanya memiliki kecepatan gerakan yang hampir sama. Bedanya Michael belum mengerahkan semua kekuatan yang ia miliki.
__ADS_1
"Hanya itu kekuatanmu, Nicholas?" tanya Michael menghiraukan rompinya yang sobek.
'Itu belum seberapa, Michael Xavier!" desis Nicholas.
"Kau tau? sebenarnya berperang dengan siapapun bukan lagi menjadi hobiku!" ucap Michael dengan memicingkan matanya tajam. "Tapi takdir masih saja meminta ku untuk memegang pedang ini, dan membawanya ke dalam medan pertempuran!" lanjutnya. "Aku tidak mau terlalu lama membuang waktu ku hanya untuk terlalu lama bertempur denganmu! sekarang aku memberi mu dua pilihan. Akhiri pertempuran ini dengan cara berdamai, atau kau ingin mati di tanganku?"
"Hahaha!" tawa lepas Nicholas mengejek tawaran Michael yang di rasa sebagai suatu penghinaan.
"Berdamai? dengan mu?" tanya Nicholas sinis. "Tidak akan, Michael! aku yang akan membuat mu tewas di tanganku! Kemudian aku akan membunuh anak - anak mu! Lalu istri mu akan aku jadikan budak nafsuku!" desis Nicholas dengan wajah biadab miliknya.
Dan apa yang di ucapkan Nicholas benar - benar membangunkan percikan api yang siap berkobar di dalam tubuh Sang Mafia. Bukan hanya Michael, tapi Jio pun ikut merasakan geram luar biasa dengan apa yang di ucapkan Nicholas tentang Ibunya. Tangan memegang pedang sangat erat terasa bergetar.
"Tidak ada yang boleh menyakiti keluarga Xavier!" desis Sang Tuan Muda yang hanya di lirik receh oleh Nicholas.
"Kau benar - benar membangunkan singa tidur, Nicholas!" ucap Michael. "Aku sudah memberimu penawaran! tapi kau menolak dengan cara yang busuk! baiklah, tidak ada penawaran untuk yang kedua kali!" ujar Michael bersiap untuk menyerang Nicholas.
Karena penawaran damainya di tolak, maka kali ini Michael memilih dia lah yang maju lebih dulu.
Dengan gerakan tanpa bayangan, Michael kini sudah berada di belakang tubuh Nicholas. Dan pria itu pun merasakan jika ada Michael di belakangnya, sehingga ia segera membalikkan badan sembari menebaskan pedang kebanggaannya.
Namun gerakan Nicholas rupanya sudah terbaca oleh Michael. Sehingga dnegan mudah Michael bisa menghindar, dan kini kembali berada di belakang Nicholas. Dan dengan gerakan cepat Michael menusuk punggung Nicholas yang di lapisi dengan rompi khusus berperang. Dan pisau kecil Michael tepat mengenai perbatasan punggung yang tidak tertutup sempurna oleh rompi perang. Sehingga darah keluar dari sana.
"Kekuatan mu sama sekali tidak berubah, Nicholas! Sampai kapan pun kau akan tetap berada di bawahku!"
Tidak terima di katakan demikian, Nicholas cepat bergerak dan membalas Michael menggunakan pisau kecil, dan lagi - lagi Michael menggunakan jurus seribu bayangan miliknya. Dan pisau kecil kembali menusuk lengan yang tidak terlindungi apapun tepat sasaran.
Dan saat itulah, Michael menebaskan pedang miliknya ke arah leher Nicholas. Namun rupanya takdir masih berbaik hati pada Nicholas. Pria itu cepat menghalau menggunakan pedangnya meski terseok sekalipun. Karena darah di tubuhnya sudah banyak berkurang, membuatnya kesulitan menjaga keseimbangan.
Bersama mundurnya Nicholas dan Michael secara bersamaan, datanglah para punggawa Klan Balck Hold yang sudah menyelesaikan misi mereka, yakni menghabisi musuh yang di anggap sebagai punggawa pasukan musuh. Kemudian mengikat para tentara bayaran yang di perintahkan untuk menyerang Klan Black Hold.
"Tuan?" sapa Jack pad Jio yang fokus menatap sang Ayah dan Nicholas.
"Apa Paman mengenal pria itu?" tanya Jio tanpa menoleh pada Jack dan Dimitri, yang di anggap Jio sudah lama mengikuti Michael.
"Ya, Tuan Muda!" jawab Jack dan Dimitri bersamaan.
"Tahun - tahun pertama kami bergabung bersama Tuan Besar, kami di pertemukan untuk berperang Klan yang di pimpin oleh Ayah orang itu!" jawab Jack.
"Noe Roderick?" tanya Jio.
__ADS_1
"Ya, Tuan! dan dia adalah Nicholas Roderick!" sahut Dimitri yang masih bisa mengingat betul musuh - musuh Black Hold.
"Jadi dendam turun temurun?" sahut Xiaoli yang berdiri di samping Dimitri.
"Ya!" jawab Dimitri.
"Serumit itu dendam yang tercipta!" gumam Jio.
Kembali pada Michael dan Nicholas yang saling berhadapan di jarak 4 meter.
Michael melirik Jack dan Dimitri yang tampak sudah santai. Itu artinya urusan anak buah mereka sudah selesai. Menyisakan dirinya yang harus menghabisi akar dari permasalahan.
"Lihat!" ujar Michael menunjuk anak buahnya dan anaknya yang berdiri berjajar. "Anak buah mu sudah habis di tangan anak buahku! masih kau bersombong diri di depanku?" tanya Michael sinis.
Nicholas melirik sekilas, dan ia sempat terkejut saat melihat tak ada satu anak buahnya pun yang mendatangi dirinya. Itu artinya semua anak buahnya sudah berada di tangan anak buah Michael.
Tapi diri mana mungkin mau mengakui kekalahan. Terlalu malu untuk melakukannya. Sehingga tanpa aba - aba ia langsung menyerang Michael, meski tau jika ia akan kalah. Jika tidak kalah di tangan Michael maka ia akan kalah karena di keroyok.
"OK, FINE!" seru MIchael menerima serangan dari Nicholas dengan kedua tangan yang sudah menjadi perisai.
Dan peperangan satu lawan satu kembali terjadi. Dimana para punggawa Black Hold berdiri sebagai penonton di barisan terdepan. Keseruan yang ada membuat sorak sorai mereka menjadikan nyali Nicholas menyusut seiring dengan berkurangnya darah di dalam tubuhnya.
Dan satu sabetan ujung pedang dari Michael berhasil menyobek dada Nicholas hingga membelah dada secara miring dan memuncratkan darah yang lagi - lagi mengenai wajah Tuan Besar Xavier.
"YEEAAH!!' seru pasukan Black Hold.
Perang di tengah malam itupun berakhir dengan kemenangan di tangan Klan terbesar di Italia. Kembali pulang dengan membawa kemenangan membuat rasa bangga sendiri. Meski begitu mereka memilih tidak merayakan dengan cara apapun. karena satu anggota Balck Hold yang terkena bom pada akhirnya harus meregang nyawa di medan pertempuran.
***
🍄 Jam 1 dini hari....
✉️ "Aku pulang, Baby..."
Pesan yang sama terkirim dari dua ponsel yang berbeda. Dari ponsel Jio dan Michael, dan tertuju pada dua orang yang berbeda pula.
✉️ "Kita menang!"
Kali ini pesan singkat ini terkirim dari bodyguard paling tampan dan muda, untuk Nona Muda Xavier.
__ADS_1
...🪴 Bersambung ... 🪴...