SANG MAFIA!

SANG MAFIA!
Chapter 144


__ADS_3

Semua telah berkumpul di ruang kerja Michael. Termasuk di dalamnya Frederick. Frederick, Mafia berdarah dingin yang beberapa saat terakhir lebih sibuk dengan bisnis di banding dengan gelar Bos Mafia miliknya itu kini harus ikut turun tangan. Menemukan menantunya yang entah ada di mana.


"Bagaimana?" tanya Frederick pada salah satu tim IT terbaiknya.


"Nomor atas nama Selena Arlington ada di daerah jl Van hock!" jawabnya. "Dan satu nomor yang di hubungi Selena terakhir kali, terdeteksi ada di Latina! Tapi masih terus bergerak!" lanjutnya.


"Pasti dia yang membawa Chania!" ujar Michael geram.


"Apa rencana mu, Michael?" tanya Darrel. "Menurutku kita harus berpencar! sebagian menangkap Selena dan Frank, sebagian menemukan keberadaan Chania!"


"Kau benar!" sahut Michael. "Apa kau bersedia memimpin pasukan ku untuk menemukan Selena? dia pasti di rumah Frank!"


"Hemm!" jawab Darrel yakin. "Tentu saja, Michael!" lanjutnya tegas.


"Kau bawa Andreas dan pasukannya! Antonio dan pasukannya akan bersamaku mencari istriku!"


"Setuju!" sahut Darrel.


"Kapan kalian beroprasi?"


"Sekarang!" sahut Michael. "Aku sudah tidak sabar ingin memapras habis punggung Selena!" ucap Michael dengan gigi yang mengerat. "Aku ingin mengambil kembali sumsum tulang belakang yang sudah susah payah kita dapatkan!" lanjutnya dengan tatapan yang tajam. "Mereka berdua harus membayar atas apa yang mereka lakukan pada istriku!"


"Kau harus tenang, Michael!" sahut Frederick. "Jangan gegabah!"


"Aku tidak akan mengampuni siapapun yang menyentuh istriku! mengusik istriku sedikit saja, sama artinya mengeluarkan jiwa iblis yang ku simpan!"


Darrel menepuk pundak sahabatnya. Meskipun selisih usia mereka hampir 5 tahun, namun mereka tetap terlihat seumuran. Darrel tetap terlihat muda, tampan, dan gagah.


"Kalian harus terus mengawasi perkembangan sinyal mereka! Posisi mereka meleset sedikit saja, maka kalian harus segera memberi kami laporan!"


"Siap, Tuan!" jawab dua orang tim IT yang di pekerjakan lembur malam ini.


Dua tim berpencar. Satu tim yang di pimpin Darrel membawa pasukan Andreas ke arah utara. Menuju jalan Van Hock.


Satu tim lagi di pimpin Michael menuju arah kota Latina. Cukup jauh dari pusat kota Roma.


***


Sepasang mata mengerjap, di tengah - tengah kepala yang terasa sedikit pusing. Ia gerakkan sedikit kepalanya ke kanan dan ke kiri.


' Tempat apa ini? '


Tanyanya dalam hati. Ia kembali mengingat - ingat apa yang terakhir kali terjadi. Dan ia mulai ingat jika terakhir kali ia berada di dalam kamar wanita. Berdiri di depan pintu untuk menjaga istri bosnya.


Melirik kanan kiri, Maya sadar jika ia berada di dalam kurungan.


' Dimana Nyonya muda? '


Tanyanya dalam hati. Ia belum berani bergerak. Sebagai bodyguard wanita terlatih, tentu ia paham akan situasi.


Sampai akhirnya sudut matanya menangkap sosok wanita yang masih dalam keadaan tidak sadarkan diri. Ia ingat gaun itu adalah yang di pakai Chania.


Di dalam penjara remang - remang itu, Maya bisa melihat jika ada sosok dua pria tengah asyik mengobrol santai di lorong pintu keluar.


Sedikit demi sedikit Maya bergerak mendekati Chania. Dengan cara merangkak, agar tak terlihat oleh dua penjaga itu.


"Nyonya?" panggil Maya lirih, setelah berhasil sampai di samping tubuh lemas Chania.


"Nyonya.." bisik Maya sembari menggoyang sedikit lengan Chania yang kotor oleh pasir.


"Nyonya!" Maya sedikit lebih keras menggerakkan tubuh Chania.

__ADS_1


"Em.." Chania berhasil tersadar.


"Nyonya, kita di culik! jangan menimbulkan suara." bisik Maya.


"Apa!" lirih Chania segera menyadarkan diri sepenuhnya dan reflek terduduk.


"Jangan duduk, Nyonya."


Chania segera kembali merebahkan dirinya seperti semula. Namun rupanya pergerakan Chania sempat terlihat dari ujung mata sang penjaga.


"Sepertinya mereka sudah sadar!" ucap seorang penjaga berbaju biru.


"Ayo kita lihat!" sahut satu penjaga lagi berbaju merah.


"Ayo!"


"Pura - pura pingsan, Nyonya!" bisik Maya. Dan keduanya kembali berpura belum sadarkan diri.


"Hah! mereka ini pingsan atau mati?" tanya si baju merah setelah sampai pada jeruji besi.


"Apa mungkin mereka overdosis?"


"Hah! apa sebodoh itu mereka mengerjakan tugasnya!"


"Entahlah! ayo balik!"


Dua penjaga kembali ke tempat asal. Maya dan Chania kembali membuka mata mereka.


"Apa yang harus kita lakukan, Maya?" tanya Chania lirih.


"Saya masih harus membaca situasi, Nyonya!" jawab Maya melihat sekitar. Dua penjaga duduk membelakangi mereka.


Maya berkesempatan untuk mengecek perlengkapan senjata di tubuhnya. Namun hanya menemukan dua pisau kecil dan runcing dari saku jaketnya bagian dalam. Pistol dan sebagai telah lenyap entah kemana.


"Ya, Maya!"


Maya merangkak mendekati pintu jeruji. Mencoba untuk membuka gembok menggunakan ujung pisau yang runcing. Saat baru saja mencoba, suara yang tak asing terdengar dari luar. Sontak Maya dan Chania terlibat saling tatap di antara cahaya remang kegelapan.


"Bagaimana mereka?"


"Belum sadarkan diri, Nona!" jawab seorang penjaga berbaju biru.


"Sampai malam begini?" tanya Selena tak percaya.


"Ya, Nona!"


"Kalian yakin mereka masih pingsan?" tanya Selena. "Mana mungkin pingsan sampai selama ini!" gerutunya.


Dua penjaga saling lirik. Benar juga apa yang di ucapkan Selena.


"Minggir!" hentak Selena ingin memasuki lorong menuju penjara.


Bersamaan dengan itu, Maya sudah berhasil membuka gembok. Namun Maya meminta Chania agar diam, agar tidak menimbulkan kecurigaan, bahwa pintu sudah bisa terbuka.


Di dalam remang cahaya lampu redup, Chania dapat melihat wanita yang bersuara mirip Selena berjalan masuk.


"Selena bisa berjalan?" gumam Chania lirih.


Maya pun bertanya hal yang sama di dalam hatinya.


"Nyalakan lampu!" teriak Selena pada penjaga.

__ADS_1


Takk!


Lampu menyala, bersamaan dua pasang mata uang seketika beradu pandang. Chania berdiri dengan menatap tak percaya pada Selena. Sedang Selena geram, karena dugaannya benar, Chania dan Maya sudah sadar.


"Hah! kalian memang pintar berpura - pura!" desis Selena berjalan dengan angkuhnya. "Dan kalian!" sembur Selena pada dua penjaga suruhannya. "Kalian benar - benar bodoh!" teriaknya kesal.


"Maaf, Nona!" ucap kedua penjaga bersamaan.


"Ternyata kau sudah bisa berjalan!" ucap Chania dari dalam jeruji.


Tersenyum sinis, "Tentu saja, Chania Arlington!" jawab Selena sombong. Memamerkan kakinya dengan berputar lincah menggunakan sepatu kets putih miliknya. "Lihat! selama ini aku hanya berpura - pura cacat di depan kalian..."


"Segila itu kamu merencanakan untuk menyingkirkan aku, Selena!" ujar Chania geram.


"Hahahaha!" gelak tawa Selena memenuhi gudang kosong. "Bukankah aku sudah pernah bilang! bahwa aku akan menyingkirkan perempuan manapun yang dinikahi Michael! terutama kau! karena kita saudara tiri!" tegas Selena berapi - api.


"Kau tau Selena!" ucap Chania menatap benci. "Kakak mu Oliver, dulu dia sangat membenci ku! hampir setiap hari kami bertengkar di rumah suamiku, Michael! Tapi kamu lihat sekarang!" lanjut Chania mencoba membuka pintu hati Selena baik - baik. "Dia sangat baik padaku! dia membelaku, dia selalu ada untukku!"


"Hahahaha!" tawa Selena semakin menggema. "Sayangnya aku bukanlah Kak Oliver! darah yang mengalir di tubuhnya berbeda dengan darah yang mengalir di tubuhku! Tentu kamu tau itu, Chania.." jawab Selena sinis. "Jadi kami berbeda!"


Chania semakin menatap benci pada Selena. Hati Selena mungkin lebih keras dari batu karang di lautan lepas.


"Apa tujuan anda mengurung kami begini, Nona!" tanya Maya ketus.


Selena menoleh dingin pada Maya, tawa yang semula menggelegar, lenyap seketika. Mendengar cara bicara Maya yang ketus, jelas terlihat jika gadis itu seolah menantang dirinya.


Secara fisik, Selena tau akan kalah jika beradu otot dengan Maya. Tapi dari segi kekuasaan, dia punya banyak penjaga di sana.


Berjalan dingin mendekati Maya, "Kau ingin tau apa yang ingin aku lakukan pada kalian?" tanya Selena dingin.


Chania dan Maya menatap Selena dengan dada bergemuruh.


"Aku ingin memisahkan dia!" menunjuk Chania. "Dengan suaminya!" lanjut Selena. "Kau juga ingin tau dengan cara apa?" tanya Selena, "Dengan cara membuat seluruh anak buah ku menikmati tubuh kalian berdua! hahahahaha!" gelak Selena layaknya tawa iblis.


Chania menarik nafas dalam, tidak mungkin hidupnya berakhir disini dengan cara begini.


' Honey.... dimana kamu? '


Batin Chania mulai merasa sesak.


"Kenapa?" tanya Selena. "Mau teriak minta tolong?" tanyanya mengejek. "Disini hanya ada anak buah ku, Chania... mereka akan menuruti apapun yang aku mau! hahaha!"


"Suami ku tidak akan tinggal diam dengan apa yang kamu lakukan padaku ini, Selena!"


"Nyatanya sampai saat ini dia tidak bisa menemukan mu, Chania..." ejek Selena. "Jadi persiapkan diri kalian, untuk melayani anak buah ku yang jumlahnya ada puluhan! Hahaha!"


Maya dan Chania saling tatap. Dari sorot mata, mereka berkomunikasi untuk membuat Selena terkejut.


"Hai, kalian!" panggil Selena pada dua penjaga di belakangnya.


"Ya, Nona!"


"Kalian bisa mulai memilih, mau yang mana duluan.. hahaha!"


Dua penjaga tersenyum bengis. Menatap Chania dan Maya dengan tatapan lapar penuh nafsu dan hasrat.


"Michael akan membuang mu setelah ini, Chania..."


"Tidak! tidak mungkin!" hentak Chania.


Chania menatap Maya penuh harapan agar mereka bisa terselamatkan. Maya pun berharap hal yang sama. Tapi dirinya hanya seorang diri. Sementara di luar puluhan laki - laki menjaga mereka berdua.

__ADS_1


"Maya..." lirih Chania.


...🪴 Happy reading 🪴...


__ADS_2