
Sania yang ragu dengan kemampuannya untuk bisa sukses mengelola bisnis, berharap bisa mendapatkan bantuan dari Michael sang Ipar.
Tidak memiliki bakat apalagi predikat sarjana, Sania kebingungan sendiri ketika di tanya tentang 35% harta bagian miliknya akan di kelola siapa.
Membayangkan 35% dari harta Arlington saja dia sudah pusing. Apalagi harus mengelolanya. Ia merasa tak akan mampu.
"Kamu tidak pernah menjalankan bisnis sebelumnya?" tanya Frederick sebelum Michael sempat menjawab pertanyaan Sania.
Sania hanya menggeleng.
"Kamu tidak pernah kuliah?" sahut Chania.
Sania kembali menggeleng.
"Kenapa tidak kuliah?" timpal Frederick kembali. "Bukankah Alexandre baik padamu?"
"Papa Alexandre memang baik, beliau juga sempat mendaftarkan saya kuliah di Paris. Tapi dulu kakak angkat saya selalu merecoki kuliah saya. Sampai saya di DO oleh pihak kampus atas kesalahan yang tidak pernah saya lakukan."
"Kenapa dia melakukan itu?" lanjut Frederick seolah menginterogasi tahanannya di markas.
"Karena kuliah saya mengganggu pekerjaan dia."
"Kenapa kamu takut sekali dengan Margareth?" tanya Michael dengan nada satu tingkat lebih tinggi. Ia ikut merasa risih melihat Sania yang seperti hidup di bawah tekanan Margareth.
"Aku hanya merasa apa yang di katakan dia itu benar!"
"Apa yang dia katakan?" tanya Michael dengan tatapan mengintimidasi agar Sania berbicara dengan jujur.
"Aku..." Sania melihat semua yang ada di ruangan itu satu persatu. "Aku hanya..."
"Katakan saja, jangan ragu!" sahut Frederick.
"Aku hanya anak pungut yang tak pantas mendapatkan fasilitas yang sama dengannya! Dan Papa Alexandre tidak pernah tau tentang kalimat itu!"
Sania menunduk setelah mengucapkan apa yang selama ini selalu menjadi ancaman tersendiri untuknya. Hati kecilnya selalu merasa semakin kecil setiap mengingat apa yang di ucapkan Margareth, sejak hari pertama mereka di kenalkan.
Dada Chania meremang untuk sesaat. Bisa di bilang hidup Sania lebih buruk dari dirinya di masa lalu. Jika ia sempat mengalami tekanan hidup selama beberapa bulan setelah kedua orang tuanya meninggal.
Maka rasanya Sania sudah mengalami tekanan batin sejak kecil. Meskipun berdasar diary sang Mama Sania di bawa oleh sang Papa. Yang mana konon katanya hidupnya akan bahagia dan terjamin.
"Cih!" decih Michael. "Wanita itu tidak berubah ternyata!"
Menghela nafas, "Apa rencana mu Michael?" tanya Frederick.
__ADS_1
"Untuk sementara aku akan membantu mu, Sania. Tapi kamu harus melanjutkan pendidikan mu. Kelak kau harus bisa mengelolanya sendiri!"
Tersenyum senang, "Baik, Kak Michael! aku akan kuliah!" jawab Sania yang puas mendapatkan jawaban bijak dari saudara iparnya.
Meskipun sang istri adalah saudara kembar Sania, tapi kali ini Michael menempatkan diri sebagai kakak untuk Sania. Mengingat usia mereka yang terpaut 8 tahun jauhnya.
***
"Dimana Reno?" tanya Sania pada seorang pelayan. Seingatnya Reno tadi berada di ruang tamu.
"Tuan Reno ada di kamar tamu, Nona."
"Oh! Okay!"
Jawab Sania segera melangkahkan kaki ke lorong yang mengarah ke kamar tamu. Ada beberapa pintu di sana. Namun Sania sudah hafal di mana kamar yang selalu di tempati Reno saat berada di istana Michael.
Tok tok tok!
Ketukan pertama tak ada jawaban.
Tok tok tok!
Ketukan kedua pun tak membuahkan hasil. Akhirnya Sania mencoba mendorong handle pintu dengan sangat pelan.
Batinnya bertanya - tanya. Kepala Sania masuk sedikit untuk melihat kondisi di dalam kamar. Benarkah pria itu tidur? atau ternyata bukan kamar ini yang di tempati Reno.
Dua sudut bibir terangkat sedikit, saat melihat sosok yang ia cari tengah tengkurap di atas tempat tidur. Berselimut tebal sampai menutupi seluruh tubuhnya. Menyisakan kepalanya yang miring ke kiri menghadap Sania.
Dua tangan kekar berada di bawah bantal putih untuk menyangga kepalanya agar lebih tinggi dan nyaman. Sepasang mata yang terpejam di tambah rambut yang mulai acak - acakan sama sekali tak mengurangi kadar ketampanan sang Chef.
Melangkahkan kaki dengan sangat pelan, Sania masuk ke dalam kamar tamu. Menutup kembali pintu dengan sangat hati - hati agar tak menimbulkan suara.
Ini kali pertama Sania memasuki kamar itu. Entah, setan apa yang merasukinya sampai berani memasuki kamar dimana ada seorang pria di dalamnya.
Satu langkah demi satu langkah dengan setengah berjinjit, Sania mendekati tempat tidur. Bibir mengulum senyuman, melihat pria tampan tengah terlelap dalam tidurnya.
Berhenti tepat di sisi ranjang, Sania menatap lekat wajah tampan khas pria Italia itu.
' Apa iya aku harus mengerjai dia saat tidur begini? '
Sania tersenyum jahil. Melihat kanan kiri, mencari apa yang bisa ia gunakan untuk mengerjai Reno.
Sampai akhirnya ia menemukan sebuah bolpoin di atas meja rias yang hanya berisi sisir dan tissue itu. Karena kamar tamu jarang di gunakan, pastilah tidak ada alat make up dan sebagainya.
__ADS_1
Bolpoin berhasil berada di tangannya. Ia pun kini sudah berhasil setengah terbaring miring tepat di samping kepala Reno yang posisinya belum berubah.
Memandang wajah tampan dengan semakin dekat dan lekat. Ia gigit bibir bagian dalam. Guna menahan senyum terpesona yang sulit ia tahan.
' Betapa indah ciptaan Tuhan... '
Lirih Sania dalam hati. Bolpoin di tangan yang sudah di buka pun akhirnya ikut membeku bersama dirinya yang terhanyut oleh garis wajah yang terbentuk begitu indah.
' Baru kali ini ada pria yang mendekati setulus dirimu, Tuan... '
Lanjutnya masih dengan tatapan terpukau.
Tubuh Reno bergerak, seolah mencari posisi yang lebih nyaman. Dan kini tubuh Reno dalam posisi terlentang. Saat itulah Sania sedikit tersentak kaget hingga membuatnya tersadar dari lamunan. Tersenyum sendiri, merasa bodoh dengan apa yang baru saja lewat di dalam benaknya.
Akhirnya tangan yang sedari tadi membeku berayun mendekati wajah tampan. Hendak membuat lukisan - lukisan abstrak dari bolpoin hitam di tangannya.
Sepuluh senti, lima senti.. jarak ujung pena dengan wajah Reno semakin dekat.
Dua senti...
Grepp!
Tangan berkulit putih mulus itu justru tertangkap tangan kokoh nan kekar milik Reno.
"Hah!" lirih Sania kaget dan segera menutup mulutnya menggunakan satu tangan lainnya. Begitu menyadari mata Reno masih terpejam, mata yang sempat mendelik akhirnya kembali normal.
' Apa dia sedang bermimpi? '
Tanyanya dalam hati.
Mengayunkan tangannya yang semula menutup mulut ke depan wajah Reno. Memastikan pria itu masih tidur atau pura - pura. Sementara tangan kanannya sedari tadi masih berada di dalam genggaman Reno.
"Apa yang kamu lakukan?" suara lirih serak - serak basah khas bangun tidur membuat Sania melompat kaget.
Namun sayang, bukannya ia jatuh ke lantai ia justru...
🪴🪴🪴
Happy reading 🌹🌹🌹
Justru apa hayo...? 🤭
Maaf yaa.. Othor jarang up.. Karena berbagai halangan di dunia nyata yang tak bisa di tinggalkan. 🙏
__ADS_1
Sehat - sehat kalian semua ... 🥰