SANG MAFIA!

SANG MAFIA!
Chapter 138


__ADS_3

Di depan pintu bertuliskan Ruang Operasi, ramai oleh beberapa orang yang tak sabar ingin mendengar kabar baik dari pasien yang tengah di perjuangkan di dalam sana.


Michael duduk di samping istrinya, mendekap tubuh yang masih terasa lemas itu. Hal yang sama di lakukan oleh Reno pada kekasihnya. Hanya saja perasaan Sania tidak selemah Chania. Karena Gia adalah sahabat terbaik Chania selama ia menghilang dari Michael.


"Sepertinya gadis itu semakin cantik!" celetuk Dimitri menyenggol lengan Jack yang ada di sebelahnya.


"Apa peduliku!" jawab Jack cuek.


"Hihihi!" Dimitri terkikik lirih. "Bukankah dulu kau meliriknya?"


"Haaah!" menghela nafas kasar. "Jangan mengarang cerita!" desis Jack kesal.


"Ayolah, kawan... sampai kapan kau tidak akan jatuh cinta?"


"Kau sendiri?"


"Jangan tanyakan aku! aku lebih muda darimu, kawan! aku masih suka bermain - main di panti pijat!" Dimitri cengingisan sendiri mengingat kenakalannya di panti pijat saat hari libur.


Jack menyebikkan bibirnya malas. Ia sendiri sesekali bermain di panti pijat. Hanya saja tidak segila Dimitri.


Tring!


Ponsel Dimitri berdenting. Sebuah pesan masuk ke ponsel salah satu bodyguard utama Michael itu.


"****!" umpatnya tertahan. Namun masih terdengar jelas di telinga semua orang yang menunggu di sana. Terutama Jack yang sontak berdiri tegak dan menatap lekat sahabatnya itu.


"Ada apa, Di?" tanya Michael sontak berdiri setelah melepas istrinya.


Dimitri mendekat diikuti Jack yang juga penasaran.


Berkata lirih, "CCTV menemukan dua pengunjung misterius yang bukan penyewa kamar hotel, Tuan. Mereka memakai topi hitam dan bermasker! Hanya sepasang mata mereka saja yang dapat di kenali. Dan tidak ada sidik jari yang mereka tinggalkan. Andreas menelusuri jejak mobil mereka. Dan berakhir di ..."


"Dimana?" tegas Michael.


"Markas Invisible Light!"


"Invisible Light?" sahut Michael dan Jack bersamaan.


"Kau yakin?" tanya Jack.


"Andreas selalu bekerja 100%! Aku yakin dia akan selalu memberikan informasi terbaiknya!"


"Aku tau!" ucap Jack. "Tapi apa motif yang membuat Invisible mencelakai Gia?" tanya Jack. "Bukankah ini hari pertama Gia ada di Roma? Atau..."


"Tidak mungkin jika Gia punya musuh!" sahut Reno yang seolah bisa membaca maksud ucapan Jack.


"Atau ini semua ada sangkut pautnya dengan Black Hold?" tanya Dimitri. "Lagi pula, Invisible Light selalu bergerak tak terlihat seperti namanya. Bagaimana mungkin mereka melakukan hal itu dan terdeteksi oleh CCTV? bahkan radar kita dengan mudah menemukan mereka?" sahut Dimitri.


"Jebakan!" ucap Michael lirih, dingin namun tegas.


"Maksud Tuan?" tanya Jack dan Dimitri bersamaan.


"Bisa jadi bukan Invisible yang melakukan ini!" jawab Michael.


"Lalu siapa dan apa tujuan mereka? bukankah Black Hold dan Invisible tidak pernah berseteru?"


"Orang ketiga yang mencoba mengadu domba klan Black Hold dan klan Invisible!"


"Siapa?"


"Menurutmu siapa saja yang sedang bermasalah dengan kita?" tanya sang Mafia.

__ADS_1


"Ada Red Blood dan Black Devils, Tuan! hanya saja beberapa waktu terakhir mereka tidak terlihat bergerak untuk mencari masalah dengan kita! Hanya saja tidak ada permohonan damai dari mereka."


"Andreas harus menelusuri lebih jauh! beri tau dia bahwa bisa jadi ini hanyalah jebakan! Jangan biarkan dia menyerang bebas Invisible!"


"Siap, Tuan!" sahut Dimitri segera menghubungi Andreas.


Ceklek!


Pintu terbuka setelah lebih dari satu jam tertutup.


"Bagaimana sahabat saya, Dok!" Chania sontak mendekati dokter wanita yang keluar dari sana.


"Keluarga Nona Gia?"


"Ya, betul!"


"Nona Gia berhasil di tangani. Luka sudah tertutup sempurna. Hanya saja beliau masih di bawah pengaruh obat bius!" jawab sang dokter!" Satu jam lagi, Nyonya bisa menjenguknya di ruang ICU secara bergantian!"


"Syukurlah..." lirih Chania dan Sania bersamaan.


***


Malam telah tiba, Michael, Chania dan yang lain sudah kembali ke rumah. Kembali berkumpul dengan baby Jia dan baby Jio. Meninggalkan Jack yang di tugaskan Michael untuk mengawasi Gia di rumah sakit.


Michael bersama Dimitri dan pengawal lainnya, saat ini menggelar pertemuan di aula, tepatnya berada di lantai 2 gedung latihan tembak.


"Andreas, apalagi yang kau dapatkan sore ini?" tanya Michael.


"Saya sudah menemui pemimpin Invisible, Tuan!" ucap Andreas. "Dan mereka bilang ciri - ciri itu tidak ada dalam anggotanya. Lagi pula mereka tak akan mungkin bergerak tanpa mencari titik jangkauan CCTV!"


"Lalu?"


"Kau berhasil menemukannya?"


"Saya sudah memerintahkan beberapa orang untuk mencari tempat berkumpulnya preman jalanan, Tuan!"


"Hemm!" jawab Michael. "Aku ingin penjagaan untuk seluruh keluarga Sebastian semakin di perketat. Selama aku tidak ada di rumah, jangan biarkan istri ku keluar gerbang seorang diri! paham!"


"Paham, Tuan!" serentak para pemimpin pasukan menjawab dengan lantang.


"Aku harap, besok dua penjahat itu ditemukan!"


"Pasti, Tuan!" sanggup Andreas yakin.


Pertemuan berakhir. Michael kembali ke kamar, dimana sang istri tercinta selalu setia menunggunya.


"Tuan Dimitri!"


Seru seseorang di belakang Dimitri.


"Dimana Tuan Jack?" tanya Maya mengejar Dimitri. Hingga mereka akhirnya berjalan beriringan menuruni tangga.


"Menjaga teman Nyonya muda di Rumah sakit!" jawab Dimitri.


"Oh... kenapa Jack yang menjaganya?"


"Kau tentu tau, sudah lama tidak ada yang menyerang kita. Tapi tiba - tiba sahabat Nyonya di serang di toilet saat dia bersama kami. Jelas ini adalah sebuah peringatan untuk kita!"


"Hemm.. ya! aku tau!"


"Besok antar Nyonya menjenguk temannya!" titah Dimitri. "Antonio akan ikut bersama mu!"

__ADS_1


"Siap, Tuan!" Maya tersenyum tipis dan berhenti melangkah. Membiarkan bodyguard yang berada 2 tingkat di atasnya itu berjalan lebih dulu.


# # # # # #


Pagi telah tiba, Michael Xavier sang CEO Sebastian corporation telah bersiap untuk berangkat menuju perusahaan milik keluarganya.


"Hemm.. untuk apa keharuman ini?" tanya Chania setelah mencium bau parfum yang di gunakan suaminya di depan dada.


Tersenyum gemas, ia raih pinggang istrinya. Dan menghempaskan jarak di antara mereka.


"Harum ku hanya untukmu, Sayang..." ucap Michael mencium bibir merah delima istrinya. "Tapi akan sangat aneh jika seorang CEO sepertiku berjalan tanpa meninggalkan keharuman yang khas milikku!"


"Kalau ada karyawan wanita yang terpesona, bagaimana?"


"Sudah dari dulu mereka terpesona padaku!" jawab Michael sombong. "Tapi kamu tau, kan? tidak semua wanita bisa masuk ke dalam hidupku!" ucapnya. "Hanya kamu!" tegas Michael yakin.


Tersenyum haru dan bangga, "Aku percaya! Tuan Michael Xavier pasti akan selalu menepati janjinya!"


"Of course!"


"Baiklah, berangkatlah, Tuan! istri kecilmu ini akan selalu setia menunggu mu untuk pulang!"


"Hem... good!" jawab Michael segera meraih bibir manis istrinya.


Untuk beberapa saat bibir itu saling bertaut. Memberikan deburan - deburan cinta yang hanya bisa di rasakan oleh mereka berdua. Di kamar mewah nan megah, sepasang suami istri itu membutuhkan waktu cukup lama hanya untuk sekedar ciuman pengantar kerja.


"Aku boleh menjenguk Gia, kan?" tanya Chania setelah sang suami puas menikmati bibir paginya.


"Hemm.. boleh!" jawab Michael. "Tapi jangan jauh - jauh dari Maya! Aku meminta Dimitri untuk mengatur Maya dan Antonio sebagai pengawal mu selama aku tidak ada!"


"Siap, Tuan!" jawab Chania tersenyum senang.


"Aku berangkat!" Michael mendaratkan kecupan di kening, lalu berjalan ke arah pintu.


Chania mengekor sang suami sampai mereka sampai di ruang tengah. Dimana ada si kembar di sana. Yang juga bersiap mendapat kecupan pagi hari dari sang Papa, sebelum sang Papa berangkat bertugas.


***


"Maya, bawakan ini, ya!" perintah Chania menunjuk kotak bekal buatan Chef istana Michael.


"Baik, Nyonya!" jawab Maya meraih kotak bekal untuk Jack dan Gia.


"Ayo!" ucap Chania mengajak Maya meninggalkan istana Michael.


Di luar, ada Antonio yang sudah bersiap dengan seorang supir di bagian kemudi.


"Silahkan, Nyonya!" ucap Antonio membuka pintu mobil.


"Terima kasih!"


Antonio menunduk hormat. Kemudian di belakang Chania, masuklah Maya ke dalam mobil Lexus LM berwarna putih itu.


***


🍄 Rumah Sakit ...


"Apa yang kamu butuhkan?" tanya Jack pada Gia yang berusaha meraih gelas di meja nakas.


"Ah!" pekik Gia. "Se...sejak ka..kapan Tuan Jack, a..ada di situ?" tanya Gia tergagap. Ia baru menyadari ada orang di balik tirai yang menutupi ranjang pasiennya.


...🪴 Happy reading 🪴...

__ADS_1


__ADS_2