
Pulang dengan beberapa bekas luka di tubuhnya, Jia di sambut dengan teriakan sang Mommy yang menyedot perhatian semu yang ada di ruang tengah.
Sementara Jia yang sebelumnya terlihat lesu dan malas saat berjalan memasuki ruang tengah, seketika tersentak kaget mendengar teriakan Chania.
Kini ia menatap heran pada sang Ibu yang tengah memutar tubuhnya ke kiri dan kanan, guna mencari luka seperti apa yang menempel pada tubuhnya.
"Jia... Kenapa kamu sampai terluka seperti ini?" tanya Chania khawatir.
Merasa diri adalah seorang petarung, dan luka kecil adalah hal biasa. Tentu membuat Jia heran dengan sikap Chania yang berlebihan
"Jia tidak apa - apa, Mommy!" jawab Jia.
"Seperti ini di bilang tidak apa - apa!" sembur Chania dengan raut wajah penuh kesedihan.
"Ini hanya luka kecil!" jawab Jia.
"Diam!" sembur Chania, "Mommy harus mengecek semua luka - luka mu!"
Jia melirik sang Daddy dan Gerald yang berdiri di belakang Mommy nya. Seolah bertanya apa yang harus ia lakukan.
Namun dua lelaki itu hanya mengedikkan bahu mereka secara bersamaan. Kemudian saling lirik satu sama lain.
"Apa kata dokter?" tanya Chania berhenti memeriksa anak perempuannya.
"Tidak ada." jawab Jia santai.
"Tidak mungkin!"
"Mommy.... Jia ini seorang petarung! Luka kecil seperti ini sudah biasa Jia dapatkan selama di Kuil!"
"What!" pekik Chania tak percaya jika Jia sering terluka. "Kamu yakin?"
"Hemm!" Jia mengangguk dengan santainya, seolah tidak ada beban dalam hidupnya. "Kata Daddy itu hal biasa!" lanjut ya melirik sang Daddy.
"Kenapa Daddy tidak pernah cerita kalau di kuil kamu sering terluka?"
Chania melirik Michael yang seketika mendelik karena lirikan Chania bukanlah lirikan menggoda. Melainkan lirikan macam mata elang yang mengincar santap siangnya.
Michael menarik nafas dalam saat Chania yang semula menghadap putrinya, kini berbalik menghadap dirinya. Sorot mata sang istri cukup membuatnya merasa di intimidasi.
Ya, tentu hanya Nyonya Besar yang berani melotot saat berhadapan dengan Tuan Besar di rumah itu.
"Jadi selama ini Jia memang sering terluka?" tanya Chania dengan nada yang lembut namun sangat mengintimidasi. Sorot mata sangat tajam pada suaminya. "Padahal kamu bilang, Jia selalu baik - baik saja! Dia petarung perempuan yang terhebat! Tidak akan ada senjata lawan yang berhasil menyakitinya seujung kuku pun!"
Michael menahan nafas saat Chania berucap demikian. Padahal ia menutupi semua itu demi menjaga perasaan sang istri, agar tidak khawatir. Ataupun agar memintanya untuk membawa pulang paksa Jia.
Bahkan mungkin jika sampai ia mengatakan kehidupan para penghuni kuil pada Chania, bisa jadi Ibu tiga anak itu akan pergi sendiri mendatangi kuil, untuk membawa pulang anak - anaknya.
__ADS_1
"Daddy selalu bilang, petarung memang harus begitu, Mommy!" sahut Gerald dengan santainya. "Harus tau perihnya luka! Jika tidak begitu, akan mudah tumbang di medan tempur! Termasuk Kak Jia!" lanjutnya tanpa rasa bersalah.
Tanpa ia tau, jika setiap kata yang meluncur dengan polosnya itu bisa membuat sang Daddy terancam tidur di luar kamar.
Michael pun melotot ke arah putra bungsunya itu. Memberi kode agar diam. Namun melihat respon sang Ayah, membuat Gerald justru ingin mengerjai Michael.
"Benar begitu, Honeeey?" tanya Chania dengan mendayu - dayu.
"Bahkan Daddy bilang padaku, jika kita para lelaki bisa menjadi yang terhebat di kuil, maka para gadis di kuil akan mendekat dengan sendirinya!" ucap Gerald, "dan aku membuktikan sendiri dengan eksistensi Kak Jio yang ia tinggalkan di kuil!" lanjutnya tersenyum.
Chania tidak mengeluarkan sepatah katapun. Tapi senyum penuh ancaman, dengan kepala yang manggut - manggut teratur, sudah cukup membuat Michael ingin tenggelam saja saat ini.
"Daddy juga bilang, kita akan menjadi incaran banyak wanita saat keluar dari kuil! Karena selain kita memiliki ketampanan yang turun temurun, kita juga punya kekuatan tersendiri untuk melindungi mereka!" lanjutnya tersenyum jail. Terlihat sama sekali tidak ada beban di dalam hidupnya.
Memang jika di lihat dari segi kehidupan putra - putri Sebastian, apa yang di perlu di khawatirkan?
Dari segi materi tidak akan habis tujuh turunan. Dari segi kekuasaan, mereka sudah jaya nenek moyang mereka. Hanya keberadaan musuh dari dunia hitam yang membuat mereka harus selalu waspada dan melatih diri untuk lebih tangguh dari orang - orang umumnya.
Michael tersenyum kikuk, ia garuk kepala belakang yang tidak gatal. Di dalam dada ada dendam tersembunyi untuk putra bungsunya.
' Awas kamu, Gerald! ' ancam Michael dari dalam hati.
"Itu adalah masa lalu, Baby..." ucapnya lirih dengan nada merayu.
"Masa lalu yang ingin kamu turunkan pada anak - anak kita?" tanya Chania seperti hakim di dalam sebuah persidangan.
"Lalu?" sahut Chania, "di ajarkan pada anak - anak?"
"Bukan begitu, Baby..."
Sementara Michael sedang bingung, Jia justru di buat bingung dengan kedua orang tuanya. Sedari tadi gadis itu hanya diam mengamati Daddy dan Mommy nya yang seperti air dan api.
Sedang sang adik, justru seperti bahan bakar yang siap mengobarkan api di dalam dada Mommy nya.
Lalu Jia sendiri harus jadi seperti apa? Haruskah ia menjadi tanki air untuk menyelamatkan sang Daddy dari kobaran api?
Oh, No! Di tengah rasa bersalah pada Xiaoli, ia juga masih harus di bingungkan dengan orang tuanya. Dimana sebelumnya sang Mommy menunggunya, kini justru menghakimi Daddy nya.
"Kenapa kamu tidak bilang kalau kehidupan di kuil juga melukai seorang perempuan?" tanya Chania pada Michael.
"Dengarkan aku dulu, Baby... Aku melakukan itu karena kamu pasti meminta mereka pulang, kalau sampai kamu tau Jia pun terluka di sana..." jawab Michael meyakinkan istrinya. "Dan lagi... Yang melukai Jia juga perempuan! Dan Jia juga pasti berhasil membalas! Jadi mereka seimbang!" lanjutnya tersenyum.
Chania menarik nafas panjang, dan membuangnya kasar. Memang apa yang di perkirakan Michael tidak salah. Ia pasti melakukan hal itu. Tapi ia tidak suka di bohongi seperti itu. Karena ia menyesal tidak mengetahui semua sejak awal.
"Seperti kamu yang tidak suka kebohongan, maka aku juga sama!" ucap Chania. "Cari cara sendiri supaya kamu bisa tidur di kamar!" sembur Chania sembari menghentakkan satu kakinya di atas lantai marmer. "Jika kamu tidak menemukan cara, tidur saja di ruang tamu!"
Michael pun tersentak kaget dengan respon istrinya yang jauh dari ekspektasi. Dan semakin tidak berdaya saat istrinya mendengkus kesal, kemudian berlari meninggalkan ruang tengah untuk menaiki tangga.
__ADS_1
Tiga orang di bawah hanya bisa menatap punggung yang terus bergerak dan semakin jauh di atas tangga. Hingga menghilang dari pandangan.
Gerald tersenyum kikuk. Sepertinya ia berhasil mengerjai sang Daddy. Hingga membuat Daddy nya mati kutu di depan Mommy nya.
"Daddy pastikan akan menunda kartu kreditmu!" sembur Michael tepat di depan wajah Gerald yang masih tersenyum lucu.
"What!" pekiknya sembari kehilangan segala jenis senyum di wajahnya. "No, Daddy!"
"Itu harga yang pantas untuk ulahmu!" jawab Michael meninggalkan ruang tengah dengan kesal.
Malam ini sang Tuan Mafia sepertinya akan punya tugas besar. Yaitu menaklukkan Nyonya besarnya dengan cara apapun.
Di tengah dinginnya malam, tentu ia enggan tidur sendirian di kamar tamu, atau ruang kerjanya. Ia harus mendapat dekapan erat sang istri tercinta.
"Daddy!" teriak Gerald, mencoba membujuk Ayahnya. "Daddy, aku sudah 14 tahun!" lanjutnya.
Namun Michael sudah menghilang di balik pintu ruang kerja di lantai bawah.
"Oh my God! Hari yang buruk!" gerutunya melas. "Aku menyesal mengatakan semua itu!" gerutunya bingung.
Sementara Jia mengulum senyum lucu. Ia sama sekali tak menyangka adiknya yang ia pikir akan menjadi pemenang di antara perdebatan orang tuanya. Ternyata justru bernasib sial di akhir cerita.
"Please! Jangan tertawakan aku!" seru Gerald pada Jia.
"Hemm!" Jia mengedikkan bahunya cuek. Apapun yang di katakan sang adik nyatanya tak bisa melenyapkan rasa ingin tertawanya.
"Siap - siap saja Kak Jia mentraktir ku setiap hari!" teriak Gerald saat Jia melangkah pergi.
"Memangnya kamu pikir aku tidak mendapat hukuman atas apa yang terjadi hari ini?" sembur Jia dari anak tangga ke tujuh.
"Hah?"
"Kartu kredit dan kartu ATM ku, semua di sita Daddy selama dua bulan!" lanjutnya menahan kesal. Namun ia bisa memakluminya, karena semua karena kesalahannya sendiri.
"What!" pekik Gerald. "lalu bagaimana ini?" tanyanya. "Aku sudah janji mengirim hadiah untuk teman lamaku!"
"Pikir saja sendiri!" jawab Jia kembali membalikkan badan, dan kembali melangkah ke atas. Tentu ia tak mau ambil pusing dengan adiknya yang mulai mengencani teman lamanya dulu.
"Wah! Brarti satu - satu nya sumber keuangan ku hanya sisa satu, si paling jenius! Kak Jio!"
Senyum Gerald mengembang saat mendapat ide untuk meminta uang jajan pada Jio. Apalagi Jio memiliki uang lebih banyak di banding Jia.
Karena selain jatah jajannya sebagai anak keluarga Xavier, ia juga mendapatkan gaji dari pekerjaannya di kantor dan di Klan Black Hold.
Pucuk di cinta, ulam pun tiba. Baru saja di angankan, sang pemuda petarung tiba di ruang tengah.
"Kak Jio..." panggil Gerald penuh arti.
__ADS_1
...🪴 Happy Reading 🪴...