
🍄 Istana Michael Xavier ...
Matahari sudah benar - benar pulang ke peraduannya. Jika di pantai ada dua anak muda yang sedang mencari suatu kejujuran, maka di istana ada pula anak muda yang sedang dilema.
Jia, gadis itu sedari tadi memilih untuk duduk di balkon kamarnya. Menyibukkan diri dengan tugas kuliah atau juga hanya sekedar iseng bermain sosial media melalui ponsel dan juga laptopnya.
Tujuan utamanya untuk tetap berada di balkon adalah hanya untuk bisa melihat Xiaoli kembali dari tugasnya berpatroli ke area depan.
Setiap mendengar suara langkah maupun suara seseorang, ia akan segera berpura - pura berdiri. Entah itu untuk melihat langit, atau melihat ke arah pepohonan di sisi rumah. Atau bahkan langsung melihat ke arah bawah.
Ia sudah beberapa kali ia melakukan hal itu, namun nyatanya yang muncul bukanlah Xiaoli. Melainkan bodyguard yang lain. Atau sekedar penjaga rumah yang melintas untuk bergantian makan malam.
Jia mencoba untuk mencari akun media sosial milik Xiaoli, namun tak satu pun akun yang bisa ia temukan atas nama Xiaoli Chen.
"Sepertinya dia memang tidak suka bermain media sosial!" gumamnya di depan sebuah laptop yang ada di atas meja. "Atau tidak bia?" lanjutnya, "Ah! Tidak mungkin kalau tidak bisa!"
"Huuufftt!" ia hela nafas kecewa karena tak menemukan satu foto pun yang menunjukkan wajah seorang Xiaoli Chen, so bodyguard tampan.
✍️ BTW jangankan Jia, reader juga belum lihat, kan ya? Visual Xiaoli Chen? 🤭
Kecewa karena Xiaoli ternyata tak kunjung kembali ke belakang rumah, alias kembali ke Mess. Akhirnya Jia memilih untuk masuk ke dalam kamar dan keluar dari kamarnya. Ini adalah jam makan malam untuk keluarga Xavier. Ia yakin Mommy dan Daddy nya sudah menunggu di bawah sana.
"Hai, Mommy! Hai, Daddy!" sapa Jia pada Tuan besar dan Nyonya besar Xavier yang sudah sesuai dengan dugaannya. Yaitu sudah berada di meja makan, dengan Daddy di kursi pemimpin keluarga. Dan Mommy di kiri ya. Berdampingan dengan Jia.
"Hai, girl!" balas Michael dan Chania bersamaan.
"Aku tidak di sapa?" tanya Gerald.
"Untuk apa? harusnya kamu yang sapa aku duluan!" jawab Jia cuek sembari duduk di kursi biasa ia duduk. Yaitu tepat di depan Gerald duduk, dan di samping sang Mommy.
Sementara kursi milik Jio yang berada tepat di depan Chania, untuk malam ini jelas kosong. Karena mereka semua tau, kemana sang Tuan muda pergi.
"Begitu, ya?" tanya Gerald, "Baiklah! hai kak Jia yang paling cantik!" sapa Gerald sedikit di buat lebay.
Padahal dalam hati sepertinya ia sangat malas menyebut sang Kakak cantik. Atau mungkin karena menurut Gerald Jia lebih tua darinya? Dan itu membuatnya tak bisa membandingkan antara gadis seusianya dengan gadis seusia Jia.
Tapi bisa jadi alasan terlalu sering bertemu, membuat Jia terlihat tak secantik teman - teman gadis Gerald.
"Hai juga, adikku yang... playboy!" jawab Jia menyindir.
"Kamu....." sahut Chania menatap putra bungsunya yang sepertinya tak mendengar nasihatnya.
"Jangan dengarkan Kak Jia, Mom. Gerald hanya melakukan apa yang memang biasa di lakukan lelaki tampan!" jawab Gerald. "Ya, kan? Daddy?"
"Apa?" tanya Chania penasaran. Merasa sang putra suka bermain wanita, maka yang menjadi objek selanjutnya untuk di tatap adalah sang... suami.
Ya! suaminya adalah satu - satunya pria yang dominan kuat menurunkan sifat itu pada anak - anak mereka. Melihat sang suami yang tak protes dengan jawaban Gerald, Chania berfikir jika Michael lah yang mendukung anaknya untuk melakukan hal itu.
Atau karena Michael sendiri dulunya juga seperti itu?
Chania menatap tajam suaminya, karena ia ingat, jika dirinya dulu juga salah satu korban suaminya. Yang mana ia yang perawan, justru kesuciannya di ambil oleh pria hidung belang yang suka gonta ganti pasangan.
"Kenapa melihat ku seperti itu?" tanya Michael saat melihat tatapan yang tak biasa dari sang istri. Sangat mengintimidasi dan mematikan untuk seorang Michael Xavier yang sangat mencintai istrinya.
"Kenapa kamu tidak marah, jika Gerald menjawab pertanyaan ku seperti itu?" tanya Chania dengan mata bulat yang terlihat hampir ingin meloncat dan menubruk mata Michael yang menatap ngeri pada dirinya.
Menelan ludahnya dengan sangat susah, Michael mencoba untuk menemukan alasan yang tepat. Sungguh otaknya selalu terasa beku jika tengah berdebat dengan sang istri. Jauh berbeda dengan saat ia berada di medan perang sebagai pemimpin pasukan untuk menyerang musuh di mana pun berada.
"Sorry, Baby... Mana mungkin aku bisa melarang Gerald seperti itu." jawab Michael. Kemudian ia dekatkan bibirnya pada telinga istrinya dan berbisik. "Kamu bahkan tau siapa aku, Sayang. Bagaimana kalau Gerald malah membalikkan semua omelanku. Jadi kamu saja yang memperingatkan anak - anak..." ucap Michael lirih. Agar anak - anak tak mendengar. "Jangan aku..." rayunya.
Meski begitu, bisikan itu sampai ke telinga Jia yang sudah terlatih. Dan membuat sang gadis tersenyum simpul.
MIchael pun tersenyum kikuk sembari mentoel dagu istrinya. Berharap semua kembali normal.
"Please...."
Mohon Sang Mafia pada sang istri. Sungguh hal yang tak pernah ia lakukan pada siapapun juga.
__ADS_1
Namun ia justru mendapat pelototan tajam dari sang mantan sekretarisnya itu. Puas dengan kode kerasnya, Chania kembali menatap putra bungsunya.
"Ingat Gerald! Mommy tidak suka kamu terlalu banyak teman wanita! please, contoh Kak Jio! Yang hanya menyukai satu gadis sejak kecil, sampai detik in!" jelas sang Mommy.
"Dengar itu!" sembur Jia merasa memiliki kesempatan untuk mengejek sang adik.
"Oh, Mommy.... Setia adalah hal yang paling tidak masuk akal untuk di lakukan anak remaja seusiaku!"
"Tidak masuk akal bagaimana?" tanya Chania menatap tak percaya pada putra bungsunya.
"Bukan hanya untuk anak seusiaku, Mommy! Tapi juga seusia Kak Jio dan Kak Jia. Bahkan seusia Kak Xiaoli!"
Ucap Gerald tiba - tiba menggerakkan dagu dan menyebut nama seorang bodyguard yang detik itu muncul di ambang pintu. Yang mana sebuah nama yang membuat jantung Jia seketika berdetak lebih cepat. Meskipun hanya mendengar sebuah nama.
"Ya, kan? Kak Xiaoli?" tanya Gerald memberi kode pada seseorang yang masih berdiri di pintu masuk ruang makan. Tepatnya di belakang Jia.
"Hah!" pekik Jia mendelik.
Benarkan sang Bodyguard tampan ada di belakangnya saat ini?
Kalau iya, kenapa tak ada suaranya?
Dan pertanyaan yang paling penting adalah sejak kapan Xiaoli ada di belakangnya?
Atau Gerald hanya asal bicara?
Tapi kenapa Daddy dan Mommy nya juga melihat ke arah yang sama dengan Xiaoli?
Sudah tak sanggup lagi menahan rasa penasaran di dalam dada dan pikirannya, Jia pun menoleh dengan sangat perlahan. Dan benar saja, Xiaoli berdiri di arah pintu masuk yang lebar. Berdiri dengan gagah, dan memberi senyum simpul saat Gerald yang bertanya padanya.
Meski baru sampai, ia sudah bisa mendengar apa yang menjadi topik pembicaraan keluarga Xavier sejak beberapa meter yang lalu. Itulah tidak enaknya jika berbaur dengan banyak telinga sensitif.
Sorot mata Jia pun akhirnya bertemu dengan sorot mata Xiaoli yang selalu menyejukkan hati sang Nona Muda.
"Benarkan, Kak Xiaoli?" tanya Gerald lagi untuk memastikan Xiaoli akan berada di pihaknya.
"What! yakin?" pekik Gerald tak percaya.
Jika Gerald tak percaya, maka Jia justru kini mengulum senyuman. Ia mendapatkan satu hal yang membuat jantungnya kini semakin berdebar. Cepat - cepat ia membalikkan badan kembali menghadap meja makan. Menyembunyikan senyum senangnya dna malu - malu dari Xiaoli.
' YES!! ' pekik nya dalam hati.
"Yakin, Tuan muda!" jawab Xiaoli seadanya.
"Padahal kan Kak Xiaoli tampan dan sangat mempesona! tidak mungkin kan jika tidak ada yang menyukai Kak Xiaoli?"
"Saya tidak pernah tau, Tuan muda!" jawab Xiaoli.
' YES!!! '
Lagi - lagi Sang Nona muda berseru riang di dalam hati. Ia sangat puas dengan jawaban Xiaoli. Yang mana artinya Xiaoli tidak semudah itu tertarik pada lawan jenis. Itu berarti Xiaoli adalah tipe laki - laki yang setia.
' Ah! tapi bagaimana kalau Xiaoli juga sulit jatuh cinta padaku? '
Tiba - tiba hati Nona muda kehilangan moodnya. Baru saja ia mendapatkan kode bahagia. Tapi tiba - tiba pemikirannya membuat rasa percaya diri menghilang begitu saja. Apalagi diri tak tau cara memikat laki -laki untuk mencintai dirinya.
' Tapi dia sering menatapku dengan sangat lembut. Apa itu bukan suatu ketertarikan? '
Gumamnya lagi. Dan masih di dalam hati.
"Ehm! Kak Xiaoli? di sekolah ku banyak gadis cantik! bagaimana kalau besok Senin Kak Xiaoli saja yang antar Gerald sekolah?" tawar Gerald pada Xiaoli yang membuat sepasang mata Jia mendelik pada sang adik. Namun tak ada yang menyadari arti dari tatapan mata sang Nona muda.
Xiaoli hanya menjawab dengan senyuman. Karena menolak keinginan dan perintah Tuan muda juga sangat di larang di lakukan olehnya.
"Berhenti membahas hal itu, Gerald!" potong Chania tegas pada sang putra. "Ada apa kamu kesini, Xiaoli?" tanya Chania pada bodyguard baru Klan Black Hold.
"Maafkan saya, Nyonya besar dan Tuan besar. Ada undangan untuk Nona muda Jia!" ucap Xiaoli menyodorkan sebuah undangan berbentuk box, dengan pita merah yang melilit kemudian membentuk pita di bagian atas.
__ADS_1
Sontak Jia menoleh pada Xiaoli.
"Undangan?" tanya Jia menatap Xiaoli dengan menahan degup jantung yang bertalu - talu.
"Benar Nona!" jawab Xiaoli, "boleh saya masuk?" tanya Xiaoli dengan sopan.
"Hm!" sahut Michael datar.
Dan masuklah Xiaoli ke dalam ruangan untuk menyerahkan box undangan pada Jia.
"Terima kasih." Jia benar - benar menahan degup jantung di dada saat jaraknya dengan Xiaoli semakin terkikis.
"Sama - sama, Nona!" jawab Xiaoli. "Saya permisi, Tuan, Nyonya, Nona muda dan Tuan muda!" Xiaoli kembali mengangguk hormat untuk berpamitan.
"Iya!" jawab Chania dan Jia bersamaan.
Xiaoli sudah menghilang di balik dinding. Bersamaan dengan itu, degup jantung Jia juga berangsur berukurang.
"Undangan dari siapa, Kak?" tanya Gerald, "kenapa malam - malam begini baru datang?"
Pertanyaan Gerald rupanya mewakili kedua orang tua mereka. Semua tampak menanti jawaban dari Jia. Tanpa menjawab, Jia segera membuka box undangan.
Yang pertama kali ia dapatkan adalah sebuah kertas undangan.
"Pesta ulang tahun dengan topeng?" gumam Jia membaca tema undangan.
"Pesta topeng? dari siapa?"
Jia membaca undangan lebih lengkap, "oh dari teman satu kelas ku!" jawabnya kemudian.
"Siapa namanya?"
"Gladys!" jawab Jia, "dia tadi sudah bilang akan mengadakan pesta minggu depan.
"Kapan?" sahut Michael ingin tau setiap pergerakan putri tunggalnya di luar sana.
"Friday Night!" jawab Jia. "Boleh kah, Daddy?" tanya Jia dengan nada memohon.
"Kamu masih dalam masa hukuman!" jawab singkat Michael.
"Ayolah, Daddy.... Jia ingin seperti teman - teman.. toh tidak setiap minggu..." rengek sang Nona muda.
"Tidak!"
"Mommy...." rengek Jia pada sang Ibu.
"Biarlah, Honey! asal hanya satu kali ini!" ucap Chania pada suaminya. "Biarkan beberapa bodyguard mengawasi nya!"
Dua wanita Xavier menatap Tuan besar Xavier dengan tatapan memohon yang menggemaskan. Tapi saat melihat mata sang istri, Michael tak lagi bisa menolak.
"Baiklah!" jawab Michael, "sekali ini saja!" lanjutnya tegas.
"Siap, Daddy!" sahut Jia gembira. "Thank you, Mommy!"
Jia berdiri dan mencium pipi sang Ibu, kemudian berganti mencium pipi sang Ayah.
"Aku ikut!" sahut Gerald tiba - tiba.
"No!" jawab Jia sembari kembali ke kursi tempatnya.
***
Sedangkan di pantai, ada dua anak manusia yang tampak masih berada dalam diam. Virginia masih menghadap pantai. Bahkan saat ini ia menangis.
Lalu bagaimana dengan Jio?
🪴 Bersambung .... 🪴
__ADS_1