SANG MAFIA!

SANG MAFIA!
Chapter 223


__ADS_3

Jika di kamar Nona Muda Xavier ada Jia yang sedang galau karena komunikasinya dengan pemuda impian hanya sekejap.


Kemudian di salah satu restoran yang ada di kaki bukit Fields of Pealand ada Tuan Muda Xavier yang sedang menunjukkan kemesraan pada alam.


Maka ada Tuan Muda kecil yang sedang mengantarkan seorang gadis jelita bernama Chloe Patrizia ke rumahnya.


"Sejak kapan kamu suka BTS?" tanya Gerald pada Chloe yang duduk di sampingnya. Di dalam sebuah mobil CRV Turbo Prestige Black Edition, di mana di balik kemudi ada Andreas, sang bodyguard utama.


"Sejak aku di ajak sepupu ku untuk melihat konser mereka di Los Angeles..." jawab Chloe.


Gerald mengangguk pelan, sedari tadi ia hanya fokus melihat bibir merah yang bergerak - gerak menjawab pertanyaannya. Ataupun bertanya padanya.


"Eh! itu rumah ku! bercat coklat muda!" seru Chloe menunjuk rumah mewah dengan pagar berwarna coklat dengan beberapa aksen warna emas di beberapa titik.


Sebagai anak orang terkaya di Italia tentulah Gerald tidak heran dengan rumah mewah Chloe. Karena rumah dia sendiri bak istana di negeri dongeng.


"Berhenti di rumah itu, Paman!" seru  Gerald pada Andreas.


"Siap, Tuan Gerald!" jawab Andreas, sembari mulai jalan merambat. Karena rumah hanya kurang tak lebih dari 50 meter saja.


"Ayo, mampir dulu, Gerald?" ajak Chloe.


Chloe si gadis yang dulu susah di dekati itu, kini rupanya sudah takluk pada sang Casanova kecil. Entah apa yang membuat gadis pirang itu bersedia menerima chat darinya. Bahkan dengan agresif ingin bertemu dengannya secepatnya. Padahal saat di Elementary School, gadis itu sangat jual mahal pada siapa saja.


"Sepertinya aku akan merepotkan jika aku mampir.." jawab Gerald tersenyum kecil.


"Tentu tidak, Gerald.... Mommy ku tau, kalau kamu yang mengantar aku pulang.." jawab Chloe saat mobil sudah berhenti tepat di depan pagar setinggi 3 meter.


"Memangnya Mommy kamu tau aku?"


"Tentu saja, tau!" jawab Chloe. "Mommy masih ingat betul tentang kamu. Kata Mommy, dia masih sering bertemu dengan Daddy dan Mommy kamu saat ada acara perusahaan."


"Oh, ya?" tanya Gerald seperti tak percaya.


"Iya, Gerald..." jawab Chloe. "Ayo, mampir! Mommy pasti senang kalau kamu bersedia main ke rumah ku.."


"Emm.... baiklah..." jawab Gerald setelah berfikir beberapa detik.


Chloe pun tersenyum senang mendengar keputusan Tuan Muda Xavier. Karena idola baru di sekolahnya itu bersedia masuk ke dalam rumahnya.


Keduanya pun menuruni mobil, setelah Andreas memasukkan mobil ke dalam pagar besi sang Tuan rumah.


Dengan seragam sekolah yang khas, keduanya kini memasuki pintu rumah yang di buka oleh Chloe sendiri.


"Masuk, Gerald.." ucap Chloe dengan senyum manis.


Gerald pun masuk dengan sedikit ragu. Untuk pertama kali ia memasuki rumah teman perempuan yang memikat hatinya.


"Duduk, Gerald..." pinta Chloe.


Rumah mewah dengan gaya Eropa yang kental, sudah cukup membuktikan siapa pemiliknya. Keluarga Chloe memang tulen Eropa. Tanpa ada blasteran dari benua manapun.


Berbeda dengan keluarga Xavier yang memiliki darah Asia.


"Rumah kamu bagus, Chloe..." puji Tuan Muda Xavier sembari melihat - lihat ornamen ruang tamu yang di padu dengan foto - foto yang ada di tata dengan rapi.


"Jauh lebih bagus rumah kamu, Gerald.." sahut suara seorang wanita yang keluar dari ruang tengah.


Gerald tertegun untuk sesaat, saat melihat wanita paruh baya yang sepertinya seumuran dengan Mommy nya, keluar dengan senyuman yang sangat ramah.


"Dia Mommy ku, namanya Mommy Kiara."


"Selamat siang, Nyonya Kiara..." sapa Gerald datar, dan hanya senyuman formal yang ia tampilkan.


"Siang, Gerald.. panggil Aunty saja.. supaya lebih akrab," terang Mommy nya Chloe sembari menghampiri Gerald dan Chloe yang masih berdiri di ruang tamu. "Kamu semakin tampan ya, Gerald.." pujinya menyentuh lembut rahang pemuda 14 tahun itu.


"Terima kasih, Aunty," jawab Gerald merasa aneh saat ada seorang ibu - ibu yang menyentuh rahangnya. "Chloe juga semakin cantik dan anggun.." sahut Gerald ikut memuji.

__ADS_1


"Ya... putri bungsu Aunty memang cantik seperti Aunty, bukan?" tanya wanita itu dengan nada sedikit bergurau.


"Ya, Aunty benar..." Gerald tersenyum ramah, mencoba mengikuti cara santai wanita yang ada di depannya. "Dia cantik seperti Aunty.. Memangnya saudara Chloe ada berapa,aunty?"


"Dia hanya punya satu Kakak laki - laki yang masih kuliah.."


"Oh... pantas saja Chloe anak Aunty yang paling cantik. Karena memang tidak ada duanya..." ucap Gerald dengan nada bergurau.


Membuat Ibu dan anak yang ada di ruang tamu seluas ruang kelas itu ikut terkekeh.


"Bagaimana kabar Mommy kamu?" tanya Mommy Chloe berbasa - basi.


"Baik," jawab Gerald. "Memangnya Aunty mengenal Mommy saya?" tanya Gerald memastikan ulang.


"Waktu kalian kecil dulu, bukankah Chania sering mengantarmu ke sekolah?" tanya nya. "Dari sanalah kami saling mengenal. Namun siapa sangka, ternyata Daddy nya Chloe adalah rekan bisnis yang baik dengan Daddy mu, Michael Xavier."


"Oh, ya?"


"Yaa, tentu saja!" jawab Kiara tersenyum ramah.


Gerald kembali diam. Tentu ia belum terbiasa berkomunikasi dengan orang - orang di luaran. Apalagi usianya baru 14 tahun dan baru saja turun gunung.


"Ayo duduk, Gerald... Aunty akan meminta pelayan untuk membuatkan kamu minum.."


"Oh.. tidak usah Aunty! Gerald harus segera pulang.." pamit Gerald. "Mommy bisa marah besar kalau sampai Gerald pulang terlambat."


"Harus secepat itu, ya?" tanya Chloe bernada kecewa.


"Iya, Chloe.." jawab Gerald kembali tersenyum.


"Hemm... baiklah.." sahut Kiara dengan nada kecewa yang sama seperti putrinya. "Hati - hati ya, Gerald.. kapan pun kamu mau, jangan ragu untuk main ke rumah Chloe yaa?"


"Ya, Aunty..." jawab Gerald mengangguk. "Bye Aunty, Bye Chloe.."


"Bye... Gerald.." balas Ibu dan anak bersamaan saat mengantar Gerald sampai di depan rumah.


"Anak - anak Xavier memang sangat berkualitas..." puji Kiara saat mobil CRV yang membawa Gerald meninggalkan rumahnya.


"Ya, Mommy... aku tidak tau, kenapa saat kecil dulu tidak tertarik padanya!"


"Untung kamu cerita pada Mommy kalau Gerald menghubungi mu..." senyum Ibu dua anak itu.


Chloe pun hanya tersenyum kaku. Dalam hati ia mengakui ketampanan seorang Gerald Xavier. Tapi ia juga ragu karena satu hal...


***


Sesi makan siang di restauran kaki bukit telah berakhir. Makan siang menakjubkan yang di pesan khusus oleh Jio, dimana hanya ada mereka berdua, di ruangan yang sudah di desain dengan sangat romantis dan mewah.


Virginia kembali berdiri di pagar besi balkon, yang menunjukkan keindahan bukit dan bunga - bunga yang ada di sebrang sana. Menunggu Jio yang katanya pergi ke toilet.


Menatap lurus ke depan, merasakan dinginnya udara, sekaligus kehangatan yang di dapat dari long coat yang di pakaikan oleh Jio, membuat dingin terasa biasa saja.


Dalam hati ia berangan, bukan long coat itu yang menghangatkan tubuhnya. Tapi lelaki yang memberinya.


Virginia memejamkan matanya dalam. Merasai kembali momen yang tercipta beberapa waktu yang lalu.


Dimana untuk pertama kalinya bibirnya bersentuhan dengan bibir seorang pemuda yang ia cintai. Sangat indah dan mendebarkan. Bahkan momen saat ia hanyut ke dalam ******* - ******* kecil Jio, kembali terasa di dalam sanubari. Bahkan bibirnya serasa kembali basah.


Sayu - sayu di tengah lamunan, ia merasakan sesuatu menyentuh kedua lengannya. Serta tiba - tiba saja rambutnya yang tergerai seperti menabrak dinding. Cepat - cepat ia membuka mata. Dan apa yang pertama kali ia lihat seketika membuat mulutnya terbuka lebar. Membentuk huruf O besar yang seketika itu ia tutup menggunakan kedua telapak tangan.


Sebuah kalung dengan liontin berbentuk kupu - kupu miring yang terbuat dari emas, dengan warna dasar pink di beberapa bagian dan di padu dengan berlian - berlian kecil di bagian - bagian sayap yang bewarna pink itu, di bentang menggunakan dua tangan tepat di depannya.


"Untukmu..."


"Jio..." lirih Virginia tak percaya akan diberikan sebuah hadiah di momen romantis pertama mereka.


"Ini adalah tanda cintaku padamu, My Lady..." bisik Jio di telinga gadis cantik miliknya.

__ADS_1


Virginia tersenyum haru menatap liontin kupu - kupu yang menurutnya sangat cantik. Kemudian ia mendongak ke atas, dimana Jio menatap lekat wajahnya. Terlihat dari sorot mata sang pemuda, jika cinta yang di berikan padanya sungguh melimpah ruah.


"Untukku?" tanya Virginia dengan tatapan mata yang sangat sendu dan tak percaya.


Tanpa menjawab, Jio tersenyum dan mendekatkan wajahnya. Dan saat wajah mereka bertemu di jarak yang sangat dekat itu, Jio segera menyentuhkan bibirnya tepat di tengah dahi sang kekasih dengan sangat lembut.


"Aku bantu pakaikan..." lirih Jio setelah puas mencium kening sang kekasih.


Pemuda itu pun menyibak rambut keemasan Virginia yang tergerai. Kemudian memakaikan kalung cantik yang ia temukan saat mengantarkan sang adik untuk membeli hadiah pertemuan.


"Ini sangat cantik, Jio..." lirih Virginia menyentuh bandul kupu - kupu yang indah itu. Ia membalikkan badannya, kemudian menatap Jio dan bandulnya secara bergantian.


"Kamu suka?" Jio meraih pinggang ramping Virginia yang tertutup tebalnya long coat.


Tak sanggup lagi untuk menjawab, Virginia hanya tersenyum haru sembari mengangguk penuh arti.


"Terima kasih, My Man!" ujar Virginia segera mengangkat kedua tangannya ke atas, tepat di sisi kanan dan kiri kepala Jio, kemudian melingkar di leher sang pemuda. Cepat ia berjinjit untuk bisa meraih bibir tipis sang petarung.


Tentu saja Jio tak tinggal diam menerima perlakuan agresif dari sang kekasih. Ciuman dari sang kekasih ia balas dengan sebuah dekapan erat di tubuh Virginia, kemudian ia balas dengan sebuah ciuman yang lebih dalam.


Darah muda yang sangat berapi - api tentu membuat keduanya cepat untuk mempelajari hal baru. Salah satunya belajar mengatur tempo saat berciuman. Agar tidak sampai kehabisan nafas.


Kalung liontin yang hampir di miliki sang adik untuk hadiah pertemuannya, susah payah ia dapatkan. Susah payah ia membuat sang adik untuk tidak jadi mengambilnya. Dan ancaman adalah jurus terampuh untuk membuat sang adik batal memilih kalung itu.


Karena ia yakin Virginia akan menyukai kalung itu.


Dengan segala upaya, akhirnya sampailah kalung itu di tangannya. Karena merasa kalung itu akan lebih cocok untuk Virginia di banding untuk bocah 14 tahun yang masih sangat labil.


***


Waktu terus bergulir, hari - hari di lalui dengan suka cita masing - masing. Cerita hidup masing - masing dan segala sesuatu yang terus berbeda di antara tiga anak Xavier.


Dan sampai pada satu waktu, dimana Gerald mendatangi sang Kakak laki - laki yang terlihat baru pulang dari kantor.


Sudah seharian ia menunggu sang kakak. Hubungannya kedua gadis yang sedang ia kejar, membuatnya bingung kepada siapa ia akan memberikan satu box kalung BTS yang ia miliki. Satu - satunya cara ialah dengan meminta untuk di belikan satu lagi oleh Jio. Satu - satunya anak di keluarga Xavier yang rekeningnya selamat dari penyitaan sang Ayah.


Ia pun melancarkan aksinya untuk meminta apa yang sedang ia butuhkan. Karena kartu kredit untuknya belum juga di berikan oleh sang Ayah. Sedangkan dua minggu sudah berlalu, sejak sang Daddy mengeluarkan ultimatum untuk mengundur pemberian kartu kreditnya.


Begitu sampai di kamar Jio, ia sudah merengek tak karuan. Bahkan saat Jio mandi pun ia akan terus berada di depan pintu sampai sang Kakak keluar dari bilik air itu.


"Ayolah, Kak Jio... please!" rengek Gerald duduk di ranjang Jio. "belikan aku satu lagi.."


"Bukankah di dalam box itu ada tujuh?" tanya Jio sembari mengusap rambutnya yang basah dengan menggunakan handuk?"


"Yaaa Kak.. tapi jika di berikan secara utuh dan lengkap pastilah lebih romantis!" keluh Gerald sembari - menjatuhkan punggungnya di ranjang sang Kakak laki - laki.


"Kalau begitu berikan pada salah satu dari mereka saja! jangan belajar jadi buaya darat!""


"Mana bisa, Kakak...!" gemas Gerald. "Aku tidak bisa memilih salah satu dari mereka!"


Jio menatap kesal pada sang adik yang di rasa sangat menyebalkan untuk anak seusia dia.


Tiba - tiba suara derap kaki di luar membuat Jio terkesiap, begitu juga dengan Gerald yang sedang asyik berbaring di ranjang sang Kakak. Dan Jio semakin mengerutkan keningnya, karena suara itu mengarah ke kamarnya.


"Ada yang menembakkan bom pada saluran pipa gas perusahaan kita di tepi kota!" seru Michael begitu begitu sampai di ambang pintu kamar sang putra mahkota.


"What!" pekik Jio panik dengan mata terbelalak.


"Kebakaran di mana - mana, Jio! persiapkan diri untuk kita segera berangkat ke sana!"


"Baik! Daddy!" sahut Jio cepat.


Sementara Gerald yang pemikirannya belum sampai di sana hanya memandang heran pada Kakak dan Daddy nya yang seketika tergopoh - gopoh keluar kamar.


"Apa yang terjadi?" lirih Gerald mengikuti langkah Jio yang kini sudah keluar dari kamar.


"Kamu diam di rumah! jaga Mommy!" sahut Jio tanpa berniat menjelaskan pada sang adik.

__ADS_1


...🪴 Bersambung ... 🪴...


__ADS_2