SANG MAFIA!

SANG MAFIA!
Chapter 199


__ADS_3

Pagi yang di penuhi dengan drama sedih Jia karena gagal keluar rumah pun sudah berlalu. Jam pulang kuliah untuk Jio pun sudah tiba. Begitu juga bagi calon dokter, Virginia Brown.


Jio berdiri di samping mobilnya, menyandarkan pinggang pada bodi Bugatti biru miliknya. Menatap Virginia yang kini sudah masuk ke dalam mobil untuk pulang.


"Bye, Jio!" Virginia melambaikan tangannya.


"Bye!" balas Jio tersenyum tipis.


Maka Virginia pun melajukan mobilnya, setelah menutup kaca jendela di pintu kemudi.


Sementara Jio mendengkus kesal, akibat ponsel yang tak kunjung berhenti bergetar di dalam saku celananya.


📞 "Hem?" dengkus Jio mengangkat panggilan di ponselnya.


📞 "Kak Jio lama sekali! Aku sudah tidak sabar untuk membeli hadiah!" seru Gerald dari sebrang sana.


📞 "Kau ini, seperti perempuan saja!" kesal Jio.


📞 "Ayolah, Kak! Bukankah kemarin Kak Jio bilang pulang jam 1! Ini sudah jam 2!" dengkus Gerald. "Pasti Kak Jio kencan dulu! Hayo ngaku!"


📞 "Jangan banyak bicara! Aku pulang!" jawab Jio mengabaikan kalimat adik bungsunya.


📞 "Okay, Kak!" seru Gerald, namun kali ini dengan senyum mengembang.


Jio mengembalikan ponsel ke dalam saku celananya. Dan segera bergegas memasuki mobilnya untuk menjemput adik bungsunya.


***


Bugatti Divo berwarna biru melaju cepat di antara keramaian kota Roma. Membaur dengan berbagai jenis mobil. Bersalip - salipan dengan sport car lainnya.


"Kak, ajari aku mengemudikan mobil!" ujar Gerald yang sudah duduk di sampingnya sejak beberapa menit yang lalu. "Mobil Kak Jio benar - benar keren!" serunya mengamati mobil mewah Jio.


Ini kali pertama putra bungsu keluarga Xavier itu memasuki mobil senilai 80 jt dolar lebih itu.


"Aku tidak punya hak untuk mengajari mu," jawab Jio santai, "tanya saja pada Daddy!"


"Aku pernah bicara pada Daddy. Tapi Daddy bilang menunggu aku berumur 15 tahun! Itu artinya masih tahun depan. Rasanya terlalu lama!" gerutunya memanyunkan bibir.


"Ya sudah turuti saja!" jawab Jio enteng.


"Tapi aku dengar Kak Jio belajar mengemudikan mobil sejak usia 13 tahun! Itupun di kuil!" protes Gerald. "Kenapa selama aku di kuil tidak melihat siapapun yang berusia 13 tahun di ajari mobil!"


"Hanya murid terbaik yang di ajari mengemudikan mobil lebih awal!" jawab jio lagi - lagi dengan nada santainya.


Gerald mengerucutkan bibirnya malas. Wajah tampan itu mendadak kusut, gara - gara menyadari diri yang tak sehebat Kakaknya. Tak sejenius Kakak laki - lakinya.


"Aku memang tak sehebat Kak Jio," ucapnya kemudian, "Kakak memang pantas menjadi putra mahkota Klan Black Hold." lanjutnya dengan bangga. "Selain tampan, Kakak ku ini juga sangat jenius! Dan satu lagi! Setia!" Sungguh paket lengkap!"


Jio melirik adiknya sekilas. Ia sama sekali tidak besar kepala mendengar setiap kata yang meluncur dari bibir adiknya. Di puji bahkan di puja menjadi hal biasa bagi seorang Georgio Xavier Sebastian.


Tanpa terasa, mobil Jio sudah memasuki area parkir salah satu mall di kota Roma, Centro Commerciale Porta.


Kini dua pemuda itu mulai berkeliling, berbaur dengan pengunjung mall lainnya. Bedanya Jio dan Gerald dengan mereka adalah, dua pemuda tampan itu menjadi pusat perhatian.


Jika Gerald mengukir senyum manis nan tampannya. Maka Jio memasang wajah dingin dan datarnya. Tanpa senyum ramah, apalagi senyum menggoda lawan jenis. Sungguh berbeda dengan remaja 14 tahun di sampingnya.


"Aku tidak menyangka, kita menjadi pusat perhatian mereka semua!" ujar Gerald lirih. Senyum menawan tak sedikit pun terlepas dari bibirnya.


Namun Jio benar - benar mengabaikan perkataan bangga adiknya. Karena apa? Ya! Tentu saja karena sang Tuan muda sudah biasa menjadi pusat perhatian dimana pun ia berada.


"Stop, Kak!" seru Gerald menghentikan langkah Kakaknya.


Jio pun berhenti dengan ekspresi datarnya. Mengikuti arah pandang Gerald yang mengarah pada galery pernak pernik untuk perempuan. Jio memicingkan matanya, berfikir apa yang ingin di beli Gerald di toko macam itu.


"Kita masuk, Kak!" Gerald mendorong pundak Kakaknya untuk memasuki Galery.


Jio mengikuti keinginan adiknya untuk memasuki tempat itu. Meski hati tidak sepenuh nya yakin akan mendapatkan hadiah yang cocok untuk teman adiknya itu.


"Selamat datang di galery kami..." sambut seorang karyawati yang berkostum seperti kelinci, dengan bando telinga kelinci yang tinggi.


"Hem!" jawab Gerald tersenyum ramah.


Gerald berkeliling dan melirik ke kanan dan ke kiri. Sementara Jio hanya mengikuti dari belakang dengan ekspresi datarnya.

__ADS_1


"Hai... Ada yang bisa kami bantu?" sapa seorang karyawati. "Kakak mau cari apa?" tanyanya pada Gerald.


"Hadiah untuk teman perempuan ku!" jawab Gerald.


"Teman atau pacar, nih?" tanya gadis penjaga toko yang berusia sekitar 20 tahunan itu.


"Em... Sekarang sih teman... Tapi entahlah nanti! Hihihi!" Gerald tersenyum kikuk.


"Ohh... semacam calon pacar?" tebak gadis itu.


"Maybe!" sahut Gerald.


"Apa dia menyukai music?"


"A.. Tidak tau!" jawab Gerald.


"Apa dia suka jalan - jalan?"


"A...." Gerald berfikir kembali, "tidak tau juga!"


"Em... Apa dia suka berolah raga?"


"Haaah!" Gerald menghela nafas berat. "Aku sama sekali tidak tau apa yang dia suka!" jawabnya polos. "Aku bahkan belum tau wajah aslinya sekarang seperti apa. Benar - benar cantik, atau berubah jadi buruk rupa!"


Toeng!


Jio mengulum senyumnya. Adik kecilnya ini benar - benar memalukan. Sudah berada di tempat seperti ini. Sok - sok an membeli hadiah pertemuan. Ternyata wajahnya yang sekarang pun belum tau.


Jika Jio mengulum senyumnya, maka berbeda dengan gadis penjaga toko itu. Ia nyaris terbahak. Namun tugasnya adalah menghargai dan menghormati pembeli. Sehingga gadis itu menahan tawanya setengah mati.


"Baiklah, aku tau hadiah apa yang cocok untuk dia!" ujar penjaga toko itu.


"Serius?" tanya Gerald, "coba tunjukkan padaku!"


"Tunggu yaa..." jawabnya ramah.


Gadis itu meninggalkan Gerald dan Jio yang menunggu di antara etalase pernak pernik hadiah dengan bandrol harga cukup fantastis itu.


Saat hanya berdua, Jio menendang kaki adiknya dengan jengkel. Tentu saja hal itu membuat Gerald mengaduh kesakitan. Kekuatan Jio sama sekali tidak main - main. Meskipun menurutnya hanya sebuah pukulan kecil.


"Apanya yang memalukan?" tanya Gerald memicingkan matanya. Tangan masih mengusap betis yang terasa sakit.


"Apa kau yakin tak tau seperti apa wajahnya sekarang?"


"Sama sekali tidak, Kak!" jawab Gerald. "Bahkan foto profilnya hanya sebuah boneka teddy!"


Kali ini Jio benar - benar terkekeh tanpa suara. Pertemuan Gerald dan gadis incarannya di masa lalu benar - benar lebih tragis dan miris dari pada dirinya dan Virginia.


"Yang aku tau, dia dulu paling cantik di kelas!" ujar Gerald tersenyum. Mengenang kecantikan gadis berusia 10 tahun di masa empat tahun yang lalu.


Jio menyebikkan bibirnya malas. Meskipun ia tetap melihat kecantikan Virginia pasca 7 tahun tak bertemu, belum tentu pula teman Gerald juga akan tetap cantik setelah empat tahun tak bertemu.


"Hai, coba lihat ini! Ada beberapa hadiah yang cocok untuk temannya." ucap gadis penjaga toko. Menunjukkan beberapa hadiah berwarna pink di atas etalase.


Gerald mengamati satu persatu hadiah yang mungkin salah satunya menjadi favorit temannya itu.


"Menurut aku, hadiah ini yang pasti di sukai dan di pakai oleh perempuan!" ucap gadis penjaga toko, menunjukkan sebuah kotak pipih berwarna pink.


"Apa itu?" tanya Gerald.


Sedangkan Jio hanya mengamati dengan memasang wajah cuek. Namun sesungguhnya mata elang Tuan muda itu ikut melihat - lihat.


"Dompet!" jawab gadis itu menunjukkan isinya.


"Kenapa dompet?" tanya Gerald.


"Karena semua wanita suka berbelanja! Dan mereka pasti suka mengoleksi aneka dompet!"


"Kalau suka belanja, harusnya yang di koleksi bukan dompet! Tapi uang!" jawab Gerald apa adanya. "Ah, tapi aku tidak punya uang!" lanjutnya semakin polos.


Sontak gadis penjaga toko melongo di buatnya. Memang benar, tapi ia sama sekali tidak menyangka Gerald akan menjawab demikian.


Sedangkan Jio melirik jengkel pada adiknya untuk yang kedua kalinya.

__ADS_1


"Kenapa? Ada yang salah?" tanya Gerald.


"Oh...tidak ada Tuan Muda..." jawab gadis penjaga toko. "Hanya saja..." gadis itu menggantung kalimatnya, ragu untuk melanjutkan.


"Sudahlah!" pungkas Gerald, "menurut Kakak, apa ini cocok?" tanya Gerald pada Jio.


Jio mengamati dompet kecil itu dengan seksama. Terlihat lucu dan sangat cocok, tapi ...


"Tidak!" jawab Jio datar.


"Kakak yakin?"


"Hem..."


"Tidak cocok!" ucap Gerald pada penjaga tok, "kalau ini apa?" tanyanya mengangkat sebuah kotak besar berisi tujuh kotak kecil. Dimana setiap kotak berisi kalung dengan gambar karakter 7 lelaki.


"Itu kalung!" jawab penjaga toko, "terbuat dari berlian yang di padu dengan emas 24 murni. Kamu bisa pilih salah satunya."


"Tapi kenapa gambarnya laki - laki semua?" tanya Gerald setelah membuka satu persatu kotak.


Penjaga toko tersenyum, "itu adalah gambar karakter anggota boyband BTS, K-POP. Rata - rata remaja perempuan seumuran kamu menyukai mereka."


"Ha?" cibir Gerald dengan sedikit gelak tawa, "memangnya setampan apa mereka?"


Penjaga toko kembali tersenyum, "setampan kamu!" jawabnya tersenyum lucu. Penjaga toko benar - benar gemas menghadapi Gerald yang ..... Ya, begitulah.


Tersenyum bangga, "para lelaki Xavier memang tampan!" ucapnya bangga, "lihat Kakakku! Tampannya tiada tanding!"


Jio melirik dingin adiknya. Namun penjaga toko melirik malu - malu pada Jio. Dalam hati, sejak tadi dia berusaha untuk cuek pada Jio. Karena ketampanan serta diamnya Jio benar - benar membuat dirinya membeku.


"Coba hadiah lainnya! Aku tidak mau ada gambar lain yang di pakainya selain gambar ku!"


"Baiklah, ini ada yang gambar kupu - kupu, siapa tau suka!" penjaga toko membuka kalung dengan liontin kupu - kupu miring berwarna pink.


"Bagaimana menurut kakak?" tanya Gerald pada Jio.


Jio kembali melihat dengan seksama, "tidak cocok!" jawabnya kemudian.


Gerald tersentak kaget dengan jawaban Jio, "kenapa semua tidak cocok?" protesnya.


"Karena jelek!" jawab Jio singkat.


Dan itu membuat penjaga toko terkekeh.


"Ah, aku lupa! Kakak kan kutu buku! Mana bisa merayu wanita! Mana tau hadiah yang cocok untuk wanita!" gerutunya. "Baiklah! Lebih baik aku tanya diri sendiri!"


"Cepat pilih satu! Aku bosan di sini!" sembur Jio.


"Iya! Iya!" jawab Gerald, "aku mau kalung kupu - kupu saja!"


"Jangan! Itu terlalu jelek!" sahut Jio.


Gerald melirik bingung pada Jio, "kalau begitu dompet saja! Dia pasti suka!"


"Itu jelek!" sahut Jio lagi.


"Lalu apa?" protes Gerald.


"Berikan satu kotak ini saja!" Jio mengambil kotak kalung BTS dan menyerahkan pada Gerald. "Dia pasti suka!" ujarnya.


"Hah?" pekik Gerald.


"Jangan banyak protes! Kalau tidak mau, bayar sendiri!" pungkas Jio.


"Haaa.." menghela nafas miris. "Baiklah!" pasrah Gerald tak berkutik.


Maka selesai tujuan mereka ke Mall. Membeli hadiah pertemuan untuk teman Gerald.


"Kalau sampai dia tidak suka, Kak Jio harus bertanggung jawab!" ujar Gerald saat mobil melaju meninggalkan Mall.


Jio menyebikkan bibirnya. Tak peduli dengan ucapan adik bungsunya itu.


# # # # # #

__ADS_1


"Terima kasih!" ucap Jio pada pengantar paket keesokan harinya.


...ðŸŠī Happy Reading ðŸŠī...


__ADS_2