
Sampai di Rumah Sakit, Jia langsung melangkah cepat menuju ruangan yang sudah di informasikan oleh sang Kakak. Xiaoli dengan setia mengikuti langkah sang Nona Muda yang tak lain adalah kekasihnya sendiri.
Jia harap sang Kakak tidak dalam kondisi tertekan untuk saat ini. Sebagai saudara kembar, tentu Jia bisa merasakan secara tidak langsung ketika sang saudara kembar tengah gelisah dan tidak baik-baik saja.
"Permisi Aunty! Benar, ini ruang rawat Virginia?" tanya Jia pada seseorang yang tengah memegang handle pintu, sepertinya orang itu juga hendak masuk ke dalam ruang rawat VIP itu.
"Iya... kamu siapa, ya?" tanya seorang wanita yang tak lain adalah Mamanya Virginia, Nyonya Brown.
"Saya Jia, saudara kembar Jio.." jawab Jia mengangguk ramah.
Sontak Nyonya Brown menutup mulutnya karena malu, tidak menyangka akan bertemu Jia di Rumah Sakit setelah sekian tahun tidak bertemu.
"Maafkan Aunty, Jia! Aunty tidak mengenali kamu..."
Mama Virginia langsung memeluk Jia untuk menyapa. Jia pun membalas dengan pelukan yang sama.
"Tidak apa, Aunty!" jawabnya. "Jia datang untuk memberi support pada Kak Jio. Menjelang pengobatan Virginia yang kata Kak Jio akan di lakukan sore ini."
"Iya, benar..." menjawab dengan lesu. "Terima kasih, Jia." Nyonya Brown mengangguk lemah.
Terlihat mata wanita itu sembab, mungkin karena terlalu banyak menangis. Menghadapi kenyataan yang tidak mudah untuk seorang Ibu. Apalagi Virginia adalah anak tunggal. Satu-satunya pengharapan yang di miliki oleh Tuan dan Nyonya Brown.
"Masuklah, Jia... mereka ada di dalam, dan Virginia tengah di persiapkan untuk di bawa ke ruang operasi."
"Terima kasih, Aunty..." jawab Jia.
Jia menoleh pada sang kekasih yang setia menunggunya di luar ruang rawat VIP. Dan Xiaoli pun mengangguk, ia paham apa arti dari tatapan sang kekasih. Hati sudah satu tujuan, lantas apa yang tidak di pahami dari sorot mata ketika tengah saling jatuh cinta.
Nyonya Brown menekan handle pintu, mendorongnya pelan dan terlihatlah di dalam sana Virginia tengah selesai mengganti baju pasien dengan baju operasi. Dan seorang perawat tengah mengganti cairan infus di tangan kiri pasien.
Kemudian Jio tampak masih setia duduk di sisi kanan Virginia yang terbaring. Tangan keduanya bertaut, seolah saling menguatkan satu sama lain.
"Hai, Ma..." sapa Virginia. "Mama dari mana?"
"Mama baru saja menghubungi Papa, menanyakan kenapa Papa belum datang juga." jawab Nyonya Brown.
"Lalu?"
"Ternyata mobil Papa terjebak macet di daerah yang tidak jauh dari kantor!"
__ADS_1
"Oh... tidak masalah, Ma... Sudah ada Mama dan Jio di sini.. Sudah lebih dari cukup untuk menemani Virginia."
Tersenyum tipis, "Tidak hanya Mama dan Jio yang ada di sini, Nia.."
"Ha? lalu siapa, Ma?" tanya Virginia mengerutkan keningnya.
Jio pun ikut menatap Ibu kekasihnya dengan penuh tanda tanya. Seolah ikut bertanya, siapa lagi yang ada di sana? Ia sudah terlalu kalut untuk bicara dengan orang lain.
"Ada Jia..." ucap Nyonya Brown menunjuk pintu.
Dan muncul lah gadis cantik yang merupakan seorang petarung berselimut keanggunan, serta paras cantik di antara helai rambut panjang dan menawan.
"Jia?" pekik Jio yang tak menyangka jika sang saudara kembar ada di sana.
"Hai, Virginia..." sapa Jia sembari membawa satu buket bunga berukuran besar.
"Hai, Jia!" sapa Virginia dengan senyum yang cerah. Kedatangan setiap orang yang menjenguknya, adalah penyemangat tersendiri untuknya.
Jia mendekat, "Ini adalah sekumpulan bunga daisy dan bunga rose untuk kamu. Aromanya yang khas akan menenangkan semua hati yang ada di ruangan ini!" ucap Jia meletakkan bunga yang ia beli setelah adu mulut dengan sang kekasih itu di atas meja nakas yang kosong.
"Terima kasih, Jia..." ucap Virginia senang. "Kamu datang saja aku sudah senang sekali."
"Sama-sama!" jawab Jia memeluk Virginia sekilas.
"Memangnya Daddy mengizinkan kamu kesini?" tanya Jio.
"Tentu saja!" jawab Jia beralih posisi berdiri di samping Jio. "Justru Mommy dan Daddy menitip salam untuk Uncle Brown, Aunty Brown dan juga Nona Brown..." jawab Jia tersenyum manis menatap Virginia. Seolah menyampaikan semangat dari orang tuanya untuk sang calon menantu... jika benar terjadi.
"Terima kasih, Jia... sampaikan salam kembali dari kami, ya...?" jawab Nyonya Brown mewakili suami dan anaknya.
"Siap, Aunty!" jawab Jia.
"Nona Virginia siap untuk di pindahkan ke ruang operasi." ucap perawat yang sedari tadi berkutat di sekitar Virginia, untuk menyiapkan segala sesuatunya.
"Baik..." jawab Jio dan Nyonya Brown bersamaan.
"Kamu akan baik-baik saja, Baby... kita akan terus bersama..." bisik Jio sebelum mengangkat tubuh Virginia dan memindahkannya ke brankar pasien yang hendak di dorong menuju ruang operasi.
"I love you..." bisik Virginia ketika tubuh mungilnya sudah berada di dalam dekapan Jio.
__ADS_1
"I love you more..." balas Jio mengecup dalam kening Virginia.
Gadis itu sampai memejamkan matanya dalam. Tak ingin kedekatan seperti ini berakhir. Yang ia harapkan adalah bisa lebih jauh dari sekedar dekapan semacam ini.
***
Brankar mulai di dorong oleh dua perawat menuju ruang operasi. Jio berjalan di sisi brankar dengan terus menggenggam tangan sang kekasih. Matanya tak lepas sedikitpun dari menatap sang kekasih.
Sementara Nyonya Brown berjalan beriringan dengan Jia di belakang perawat yang mendorong. Kemudian di belakang keduanya ada Xiaoli yang setia mengikuti langkah kaki sang kekasih.
Pintu ruang operasi mulai di buka oleh seorang perawat yang sudah menunggu di sana, ketika brankar semakin dekat dengan ruang operasi. Dan saat itulah, Jio harus melepas tangan sang kekasih dengan berat hati. Jemari yang semula bertaut erat, kini semakin renggang hingga menyisakan ujungnya saja yang saling bersentuhan.
Detik terus bergerak, dan jemari itu lepas seiring dengan ingatan Jio tentang mimpinya di pantai yang menjadi saksi cinta keduanya. Seolah momen ini adalah momen terakhir untuk mereka bisa bertemu. Dan setelah ini, entah apa yang akan terjadi.
Jia sigap mendekati sang kakak yang seketika memejamkan matanya dalam ketika pintu ruang operasi di tutup dari dalam, dan tak ada yang boleh menemani di dalam sana. Semua orang hanya boleh menunggu di luar saja.
"Semua pasti akan baik-baik saja, Kak!" ucap Jia memeluk tubuh Jio dari depan. Ia sandarkan kepala di dada bidang saudara kembarnya.
Meski keduanya lahir di hari yang sama dan waktu yang tak jauh berbeda, tapi tubuh Jio terlihat lebih tinggi dari Jia. Dan itu membuat Jia terlihat benar-benar seperti adik yang beda usia sekian tahun dari sang Kakak.
"Tapi aku mimpi buruk, Jia..." ucap Jio lirih, sangat lirih. Tak ingin ada yang mendengar kalimat itu keluar dari bibirnya.
"Kak, mimpi hanyalah bunga tidur..." hibur Jia yang masih memeluk Jio.
"Tapi kamu tau seperti apa jadinya mimpi yang hadir di dalam tidurku. 98% mereka akan benar-benar terjadi..." lirih Jio lagi. Ingin rasanya ia meneteskan air mata. tapi ia tak ingin terlihat selemah itu. Meski hanya Virginia seorang yang mampu membuatnya menjadi lemah.
"Kalaupun 98% mimpi yang Kak Jio alami menjadi nyata. Kita masih punya harapan 2% lagi untuk mimpi itu tidak terjadi."
"Sangat kecil, Jia...sangat kecil..." rintih Jio.
"Setidaknya ada harapan!" Jia menolak untuk menyerah memberi harapan. Meskipun ia sendiri tidak yakin dengan apa yang dia ucapkan, tapi ia tak ingin mematahkan keadaan begitu saja.
"Kita tunggu sampai operasi selesai! Dan aku yakin, semua akan baik-baik saja!" lanjut Jia. "Virginia akan tetap menjadi milikmu! Tidak akan ada yang berubah! apalagi hati kalian yang sudah terpaut!"
Tidak ada lagi yang bisa di ucapkan Jio. Selain mengharapkan sang kekasih kembali menjadi Virginia yang ceria dan tetap menjadi miliknya. Tubuh yang sangat kuat di medan perang itu, kini seperti tubuh tanpa tulang belulang. Lemah dan tak berdaya.
"Aku seperti tidak melihat putra mahkota Klan Black Hold di dalam dirimu, Kak!" bisik Jia setengah menghibur dengan sedikit mengejek. Sekaligus mengingatkan pada sang putra sulung, jika dia tidak hanya di ciptakan untuk Virginia seorang.
Tapi ia juga di ciptakan untuk menjadi penerus klan Black Hold. Selain itu, sang pemuda juga memiliki tanggung jawab yang besar pada Sebastian Corp.
__ADS_1
Namun yang di sindir hanya menghela nafas panjang dan kasar.
...🪴 Bersambung ... 🪴...