
Mengunci tangan Selena dengan kuat, Noel bisa bebas bermain sesuai perintah bosnya. Noel yang sudah terbiasa dengan banyak wanita liar di luar sana, tentu saja sangat senang saat mendapatkannya secara gratis.
"Ayo, Cantik.. kamu mau dimana?" tanya Noel kembali. "Katakan, jangan malu - malu.."
"Jangan mimpi" bentak Selena geram. "Cuih!" Selena meludah ke arah wajah Noel, namun Noel berhasil menghindar.
"Hahaha! kasar juga!" ucap Noel. "Tapi bukankah lebih baik kamu mendapat hukuman ketiga terlebih dahulu dari pada harus menerima hukuman pertama dan kedua lebih dulu?" Noel tersenyum mesum pada Selena. "Jadi kamu tau surga dunia, sebelum menderita dengan tulang - tulang mu yang patah..."
Tubuh wanita selalu menggoda pria mata keranjang, bukan?
"Lepaskan aku, Brengsek!" sentak Selena. Tentu saja ia risih dengan cara bicara Noel yang menjijikkan.
Bersamaan dengan Andreas memasuki lorong dimana Noel dan Selena berada. Andreas sempat melihat Frank yang tergeletak, entah pingsan atau tewas. Yang jelas pria itu ambruk dengan darah yang masih terus keluar dari perutnya.
Kemudian matanya menangkap sahabatnya, Noel. Noel yang sedang menciumi pipi Selena dengan tatapan sangat lapar.
"Apa yang kau lakukan, Noel?" tanya Andreas tak paham kenapa Noel berani mencium adik Oliver.
"Hai, Andreas! kemarilah..." ucap Noel dengan santainya. "Bos meminta kuta untuk memberi gadis ini hukuman!"
"Hukuman apa?"
"Ah, lebih tepatnya bukan hukuman. Tapi bos meminta kita untuk memberikan gadis ini... kenikmatan..." bisik Noel di telinga Selena.
Tentu saja kalimat itu terdengar semakin menjijikkan di telinga Selena.
"Jangan kurang ajar kalian!" seru Selena kesal.
"Kenapa, cantik?" tanya Noel. "Bukankah sebelumnya kamu juga ingin membuat Nyonya muda Chania melayani anak buah mu?" desis Noel bernada ketus.
"Hah!" hentak Selena semakin geram.
"Apa yang di perintahkan bos untuk dia?" tanya Andreas.
"Sudah ku bilang, And... bos meminta kita untuk memberi dia surga dunia... kemudian bos meminta kita untuk memotong satu tangan dan satu kakinya! Terakhir bos ingin mengambil sendiri tulang belakang wanita cantik ini!" jelas Noel membuat bulu kudu Selena meremang.
"Wow!" seru Andreas berjalan mendekat. "Terdengar sangat mengasyikkan!" desisnya ikut memandangi tubuh Selena dari atas ke bawah.
"Jangan kurang ajar!"
"Kau benar, And..." desis Noel sembari mengunci kedua tangan Selena, dengan satu tangannya. Sementara tangan lainnya mulai meraba perut Selena.
"Lepaskan, brengsek!" teriak Selena.
"Jangan teriak, sayang... percuma.. anak buah mu sudah tewas semua!" bisik Noel tersenyum nakal. "Bagaimana kalau kita bermain bertiga, And?" tanya Noel pada Andreas.
"Awas saja kalian! Mommy ku akan datang untuk menyelamatkan aku!" ucap Selena, "Dan kalian berdua akan menyesal sudah meremehkan aku!"
"Oh, ya?" tanya Andreas ikut bergabung. "Emm.. sebaiknya jangan bermimpi terlalu tinggi, Nona!" lanjut Andreas tersenyum culas. "Sepertinya bermain bertiga memang sangat menggairahkan, Noel! tapi..."
__ADS_1
"Tapi apa?"
"Bukankah dia perawan?"
"Lantas? baguslah! setidak nya kita bisa mendapatkan yang pertama, dan dia bisa mendapatkan surga dunia sebelum tewas di tangan Tuan Michael! hahah!" tawa Noel.
"Hahaha! tapi bukan itu maksudku, Noel" Andreas ikut tertawa culas. "Maksudku... apa perawan bisa memuaskan kita? apa dia bisa bergoyang di atas tubuh kita?" tanya Andreas ikut bernada mesum.
"Lepaskan!" hentak Selena menjejakkan kaki ke lantai, menghempaskan tangannya sekuat tenaga. Berusaha untuk melepaskan diri. Tapi siapalah dirinya. Tenaganya tidak ada apa - apanya di banding dua pria itu.
"Di ujung sana ada ruangan seperti kantor! bagaimana kalau kita main di sana saja?" tanya Noel.
"Emm... boleh juga!" jawab Andreas mengangguk setuju.
"Lepaskan aku brengsek!" teriak Selena.
Tanpa menggubris ucapan Selena, Andreas dan Noel mendorong Selena untuk keluar dari lorong, mendekati pintu ruang kerjanya. Dimana tadi Selena dan Frank berada.
"Waah... ada sofa rupanya!" seru Andreas.
"Bisa kita mulai, And..." desis Noel. "Setelah ini aku akan membagi mu dengan anak buah kami!" Noel mengecup pipi Selena.
Selena menghempaskan wajahnya, berusaha untuk menghindar.
Andreas dan Noel masing - masing mengunci satu tangan Selena. Sementara satu tangan lainnya mulai merayap di balik baju berbahan satin. Bibir mereka meringsek ke tengkuk leher kanan dan kiri.
"Haaahh! lepas!" teriak Selena. Ia merasakan geli sekaligus jijik pada saat yang bersamaan. Rasanya ingin muntah tapi semua itu tidak terjadi.
"Emmmh!" lenguh Selena risih. Namun ia tidak dapat melakukan apapun selain pasrah.
' Mom, help me! '
Batin Selen menyesali perbuatannya. Perhitungannya telah salah besar. Bahkan kini ia tak tau nasib Papanya.
Dua tangan kompak meremas buah segar yang mungkin belum pernah di sentuh siapapun selain mereka. Mengingat gadis itu baru bangun setelah koma panjang.
"Wow! padat juga dadamu!" bisik Noel sembari menjilati daun telinga Selena.
"Kau benar, Noel! ukurannya juga pas di tanganku!" sahut Andreas terus meremas benda kenyal Selena.
"Lepas!" seru Selena berusaha melepaskan diri.
"Sssstthh!" bisik Noel meminta Selena diam. "Diam dan menurutlah, aku janji kamu akan mendapat kenikmatan yang sama dengan kami..." ucap Noel kembali menjilati leher Selena.
"Itu benar... menurutlah.. kamu akan puas nanti!" sahut Andreas sembari menaikkan baju Selena.
Noel iku membantu Andreas untuk menarik ke atas baju Selena hingga terlepas dari tubuhnya.
Dua bongkah benda padat menyembul dari br* hitam yang di kenakan Selena. Sungguh, Selena merasa sangat jijik dengan semua itu. Bukan ini rencana yang ia susun. Bukan ini yang ia perkirakan.
__ADS_1
"Wooow!" desis Noel menggerakkan lidah dari kanan ke kiri. Seolah siap merasakan kelezatan dari apa yang ada di depan mata.
"LEPASSS!" teriak Selena. Namun ruangan itu kedap suara. Tak akan ada siapapun yang mendengarnya.
Tangan jail Andreas menarik pengait br* di punggung Selena. Seketika pengait itu terlepas.
Sedang Noel sudah merengsak masuk ke dalam br*. Meremas bagian penting dari seorang wanita. Noel berulang kali meremas pelan. Dan menjepit ujung dengan jari - jarinya.
"You look so hot!" bisik Noel.
Andreas melakukan hal yang sama, meremas bagian satunya. Bibirnya mendekati tali br* di pundak. Kemudian menggigit tali dan menurunkan tali br* Selena. Membuat br* itu jatuh ke lengan bagian bawah. Membuat keduanya semakin bebas bermain dengan buah dada yang bergelantung manja.
"Hssshh!" desis Andreas sudah tak tahan. Ia segera menunduk dan menghisap puncak pink milik Selena.
"Ssshhh!" Selena mendesis risih, jijik, dan merasa sangat tidak nyaman. Namun tubuhnya tak berkutik. Tangan ya masih di mencengkeram kuat oleh Noel dan Andreas.
Melihat Andreas yang tampak sangat menikmati hisapannya. Noel pun ikut serta di puncak satunya. Sehingga dua pucak pink di nikmati oleh dua bibir dan lidah secara bersamaan dari dua orang pria yang berbeda postur tubuhnya.
' Ini gila! '
Teriak Selena dalam hati. Menunduk, melihat dua kepala di depan dada menikmati bagian sensitif dari tubuhnya adalah hal yang menjijikkan.
Ia pernah memimpikan untuk bisa bercinta dengan Michael dengan cara yang indah. Bukan dengan pria lain, apalagi dua pria sekaligus. Sangat menjijikkan.
"Emmh" lenguh Selena mendongak dengan mata terpejam. Ia merasa sangat jijik, tapi titik sensitif di dada, membuat bagian bawah tubuhnya terasa basah tanpa ia inginkan.
Dua lidah kompak bergerak, memberi sentuhan - sentuhan manja di puncak pink yang menggugah hasrat Selena. Dan keduanya berhasil membuat puncak pink itu menegang kencang. Seolah meminta untuk di hisap lebih dalam lagi.
Tentu saja Noel dan Andreas melakukan hal itu. Menghisap dalam, juga memberi gigitan - gigitan manja yang membuat Selen sedikit berteriak.
Tangan Andreas dan Noel juga tak kalah aktif. Kedua tangan yang menganggur bergerak di bagian paha berlapis celana kain tebal.
Sedang tangan yang mengunci tangan Selena, mengarahkan tangan itu untuk menyentuh senjata di tengah tubuh mereka yang sudah menegang. Membantu tangan Selena untuk menggosok kejantanan mereka.
Selena memejamkan matanya dalam. Apa yang terjadi adalah hal paling memalukan yang pernah terjadi di dalam hidupnya.
Ia sudah terbiasa dengan tontonan dewasa saat masih kecil. Tentu saja ia tak asing dengan apa yang terjadi. Tapi apa yang terjadi saat ini adalah semacam pemaksaan, alias pemerk*sa*n ramai - ramai.
"Dada mu sangat manis, adikku berdiri tegak dengan cepat!" bisik Noel menciumi daun telinga Selena. Sembari asyik meremas buah yang menganggur.
"Ini adalah dada Tuan Putri, Noel! jangan samakan dengan dada wanita di panti pijat! hahaha!" gelak Andreas.
"Hemm.. kamu memang benar, And!"
Saat dua bodyguard tengah asyik bermain - main dengan gumpalan empuk di dada Selena, tiba - tiba pintu terbuka berbarengan dengan sebuah hentakan dan teriakan.
Brakk!
"Lepaskan dia!" teriakkan yang membuat Noel dan Andreas merasa terganggu.
__ADS_1
...🪴 Happy reading 🪴...