SANG MAFIA!

SANG MAFIA!
Chapter 220


__ADS_3

"Ya ampun.. Mana muat kalau barang - barang ini di bawa pakai mobil ku..." gerutu Chania melihat betapa banyaknya barang yang ia beli di Fendi Rome Boutique untuk di bawa ke salah satu panti asuhan yang berada di bawah naungan Klan Black Hold.


Dimana panti asuhan itu di dirikan oleh Michael sejak 17 tahun yang lalu. Di peruntukan khusus untuk anak - anak yang Ayahnya tewas di medan pertempuran bersama Klan Black Hold.


Tentu saja panti asuhan itu berdiri atas saran Nyonya Besar Xavier.


Untuk itulah, Chania tak ragu sama sekali membelikan anak - anak di sana barang - barang dari butik mahal sekalipun. Toh uang di rekeningnya tak akan habis walau untuk membeli butik itu sekalipun.


"Ada apa, Mom?" tanya Jia pada Mommy nya.


"Kamu langsung pulang kan, Jia?"


"Tentu saja, Mommy! Jia tidak mau di hukum lebih berat oleh Daddy karena pulang terlambat!" jawab Jia malas mengingat hukumannya.


"Em... Begini! Mommy masih ada urusan untuk membawa semua barang ini ke panti asuhan. Tapi kamu kan tau, mobil Mommy kecil. Mommy rasa semua ini tidak akan muat!"


"Lalu?" tanya Jia masih tidak paham maksud Ibunya.


"Mobil kamu kan besar! Jadi Mommy akan pakai mobil kamu. Kamu pulang pakai mobil Mommy saja, ya!" ujar Chania.


"Oh.. Okay!" jawab Jia tidak masalah.


"Xiaoli, Noel! Bawa semua ini masuk ke mobil Jia!" perintah Chania pada dua bodyguard utama yang mengikuti mereka masuk ke dalam butik.


"Baik, Nyonya!"


Dua bodyguard menjalankan tugas mereka bersama. Berbagai ukuran paper bag ada di tangan mereka. Bahkan Chania dan Jia juga membawa beberapa paper bag kecil.


Pengawal yang bertugas mengemudikan mobil Jia pun segera membuka pintu belakang dan bagasi begitu melihat empat orang keluar dari butik dengan banyak barang.


"Noel, kita ke panti asuhan ya!" titah Chania masuk ke dalam mobil Jia yang sudah penuh barang - barang.


"Baik, Nyonya!" jawab Noel yang masih berdiri di dekat pintu mobil. "Lalu Nona Jia?"


"Biarkan dia pulang bersama Xiaoli pakai mobilku!" jawab Chania segera memperbaiki posisi duduk di mobil mewah putrinya.


Mendengar jawaban Chania, jangan di tanya seperti apa ekspresi wajah Jia saat ini. Gadis menjelang 19 tahun itu sampai kesulitan menyembunyikan senyuman di bibirnya. Karena saking senangnya.


Bahkan merah di pipi sudah mulai nampak dan tak lagi mungkin untuk di sembunyikan.


"Baik, Nyonya!" jawab Noel menutup pintu mobil mewah milik Jia, sebelum ia masuk ke pintu penumpang bagian depan. "Saya permisi, Nona Jia!"


"Ya, Paman!" jawab Jia. "Bye, Mommy!" Jia melambaikan tangan dengan semangat dan senyuman yang sangat cerah.


"Bye, girl..." jawab Chania meski tak dapat di dengar oleh Jia.


Dan melajulah mobil mewah itu meninggalkan halaman parkir. Meninggalkan Jia yang masih berdiri menatap kepergian mobilnya, serta ada Xiaoli yang masih setia berdiri di belakang Jia.


Lalu... seperti apa perasaan pemuda tampan 21 tahun itu?


Ingin rasanya Xiaoli tersenyum lebar mendengar perintah Nyonya Besar. Tapi semua hanya ia tahan di dalam perutnya saja. Setengah mati menahan ekspresi senang ataupun salah tingkah yang bisa saja akan terbaca oleh Noel, maupun Jia sendiri yang sama - sama memiliki kemampuan membaca ekspresi wajah.


' Terima kasih atas kesempatannya, Nyonya! '


Ucap Xiaoli dalam hati.


Setelah mobil Lexus LM milik Jia tak lagi terlihat, dengan malu - malu Jia memutar tubuhnya ke belakang sangat pelan bahkan kepalanya sedikit menunduk.


Xiaoli tersenyum tipis melihat ekspresi Jia yang jelas ia paham apa artinya.


"Kita pulang sekarang, Nona cantik?" tanya Xiaoli dengan senyum menawan miliknya.


Entah Xiaoli sengaja atau reflek saat menyebut Jia dengan sebutan Nona cantik. Yang jelas Xiaoli tampak tak mengurangi sedikit pun senyum yang sedari tadi ia berikan untuk sang Nona Muda.


Kalaupun Xiaoli memang sengaja, kekuatan dari mana yang mendorong sang pemuda untuk berani berucap macam itu?


Sementara Jia yang baru pertama kali mendapat panggilan itu dari Xiaoli, sontak mendongakkan kepalanya ke atas. Menatap tak percaya pada wajah Xiaoli yang biasanya terlihat sangat menghormati dirinya, kini terlihat seperti sedang mendekati dirinya.


Tentu saja itu membuat jantung sang Nona Muda hampir melompat sejauh 10 kilo meter.


"Kamu panggil aku apa?" tanya Jia ingin mendengar sekali lagi apa yang tadi ia dengar saat sedang tidak fokus.


"Coba ulangi!" kejar Jia. "Atau ada orag lain yang sedang kamu tanyai?" tanya Jia lagi sembari melihat sekitar. Mencari sosok yang sebenarnya ia tau jika tidak ada Nona lagi selain dirinya di sana.


"Maaf, jika saya lancang, Nona..." jawab Xiaoli menatap dengan penuh kekaguman wajah Jia yang berada setara dengan pundaknya.

__ADS_1


"Maaf untuk apa? Aku hanya ingin memastikan bahwa itu kamu, yang memanggilku..."


"Nona cantik..." jawab Xiaoli menatap lekat wajah Jia yang memang benar - benar mampu mengalihkan dunianya.


Jia tak lagi bisa menahan gelak tawa yang di barengi rasa malu - malu nya. Ia terkekeh dengan wajah merah merona, tepat di depan Xiaoli karena salah tingkah.


"Berani sekali kamu memanggilku seperti itu?" Jia memicingkan matanya pada Xiaoli. Namun picingan itu sama sekali tidak mengandung amarah.


"Karena Nona Muda Xavier memang sangat cantik!" jawab Xiaoli tetap dengan tersenyum tenang. "Adakah kalimat saya yang salah, Nona... cantik?" tanya Xiaoli sengaja mengulang pujiannya dan kembali berhasil membuat Jia semakin di gempur debaran tak karuan.


Pipi yang ranum kini semakin merah akibat tidak bisa lagi menutupi rasa malu. Akhirnya uang bisa ia lakukan hanyalah...


"Kita pulang sekarang!" ucap Jia sedikit menghentak sambil berbalik untuk menutupi rasa gugup yang terlihat nyata di wajah cantiknya.


Xiaoli tersenyum simpul. Ia mulai yakin jika Nona muda juga memiliki perasaan yang sama dengannya. Hanya saja naluri masih saja terus mengingatkan, jika derajat mereka jauh berbeda.


Xiaoli mengikuti langkah Jia untuk mendekati mobil BMW M8 milik Nyonya Besar Xavier.


Xiaoli sigap membuka pintu belakang untuk Jia. Dan saat Jia hendak masuk ke dalam mobil. Ia menyempatkan diri untuk melirik Xiaoli yang tak henti menatap wajahnya.


Saat sorot mata mereka bertemu, kembali Xiaoli tersenyum manis. Dan Jia benar - benar hanyut ke dalam senyuman milik bodyguard tampan itu.


Cepat Jia masuk ke dalam mobi, begitu menyadari detak jantung di dalam semakin tak terkendali.


' Aku tidak tau harus senang atau menyesal sudah melihat senyumnya! benar - benar seperti morfin bagi ku! '


Gerutu Jia dalam hati. Nafasnya semakin sesak, saat Xiaoli membuka pintu kemudi yang ada di depannya. Dan kondisi ruangan di dalam mobil yang sempit, membuat Jia semakin merasa kekurangan udara.


Xiaoli duduk di balik kemudi bundar. Bersiap melajukan mobil mewah itu untuk kembali parkir di garasi istana Tuan Besar Michael.


Jia menatap wajah tampan Xiaoli dari kursi belakang sebelah kanan. Yang mana sedikit banyak bisa melihat, betapa indah garis wajah milik seorang Xiaoli Chen.


Meski ada beberapa sisa - sisa goresan kaca saat kecelakaan waktu itu. Dan goresan itu membuat Jia mengingatkan Jia pada kecelakaan fatal yang ia lakukan.


"Apa Nona ingin pindah duduk di depan?" tanya Xiaoli tiba - tiba.


Sontak Jia terhenyak, "Hah? u..un...untuk apa?" tanya Jia gugup.


"Supaya Nona cantik lebih mudah untuk bisa memandangi saya." jawab Xiaoli tersenyum tenang. Melirik Jia dari spion tengah. Tentu itu membuat Jia semakin salah tingkah.


Jika bisa ingin rasanya ia tenggelam di kerak Bumi terdalam. Ia sungguh melupakan siapa Xiaoli. Jangankan Xiaoli yang sejak kecil sudah berada di kuil, bahkan menjadi guru pendamping. Dirinya saja yang hanya tujuh tahun di kuil sudah di ajarkan bagaimana caranya untuk bisa peka dengan apapun yang ada di sekitarnya.


' Jiaaaa!! kenapa kamu sangat bodoh! '


Gerutunya dalam hati sembari membuang pandang keluar jendela.


"Tuan Noel memberikan saya nomor ponsel Nona Muda untuk saya simpan."


"Untuk apa menyimpan nomor ponsel ku?"


"Katanya jika sewaktu - waktu Nona menghubungi saya karena urusan penting, saya langsung tau jika itu Nona Jia." jawab Xiaoli masih terus fokus dengan kemudinya.


"Padahal aku tidak punya nomor ponselmu!" jawab Jia. "Bagaimana aku menghubungi mu. Ada - ada saja Paman Noel!"


Xiaoli tersenyum, "kalau begitu.. apa Nona membutuhkan nomor ponsel saya?" tanya Xiaoli lagi. "Dengan suka rela akan saya berikan, Nona!"


Jantung Jia bagai di pompa menggunakan mesin pemompa. Ia tarik nafasnya dalam, kemudian ia hembuskan panjang.


"Apa itu memang penting?" tentu saja Jia enggan terlihat antusias untuk bisa mendapatkan nomor ponsel Xiaoli. Meskipun ia ingin.


"Bukankah kejahatan ada di mana saja, Nona?" tanya Xiaoli. "Ingat peristiwa Nona Virginia? dia di culik saat berada di dalam kampus."


"Itu karena dia tidak bisa bela diri, berbeda denganku!" elak Jia.


"Apakah Nona juga bisa melawan tembakan dari pistol bius yang datangnya tidak di sangka - sangka?"


"Aku punya nomor ponsel Paman Jack, Paman Dimitri, Paman Noel, Paman Antonio, Paman Andreas dan bodyguard inti lainnya. Kenapa aku juga harus menyimpan nomor ponselmu?"


"Apa Nona tidak tau, saya sudah menjadi bodyguard inti?" tanya Xiaoli tak mau menyerah begitu saja. "Mereka semua punya tugas masing - masing, bukan?"


Jia terdiam sembari berfikir. Mata bundarnya melirik ke atas, seolah menimbang - nimbang perkataan Xiaoli yang memang ada benarnya.


"Baiklah! aku akan menyimpan nomor ponselmu!" jawab Jia kemudian. "Nanti kamu hubungi aku, ya! supaya aku tau itu kamu!"


Seringai terbit dari bibir bodyguard paling muda dan paling tampan yang tergabung dalam pasukan inti Klan Black Hold.

__ADS_1


***


"Paman Noel! Paman Noel! Paman Noel!"


Xiaoli berteriak dengan kencang sambil berlari di jalan setapak menuju mess khusus bodyguard yang sudah memiliki pasangan.


"Ada apa, Xiaoli?" tanya Gia yang keluar dari rumah utama bodyguard.


"Maaf Bibi Gia, apa aku mengganggu Bibi?"


"Tidak!" jawab Gia. "Sama sekali tidak. Tapi kenapa kamu mencari Noel sampai teriak - teriak seperti itu?"


"Ini penting, Bibi! Maaf ya!" Xiaoli hendak kembali berlari.


"Tapi Noel sepertinya belum pulang!"


"Hah!" pekik Xiaoli menghentikan langkahnya. "Bibi yakin?"


"Tentu saja, Xiaoli!" jawab Gia. "Coba tanya Bibi Merr kalau tidak percaya!"


"Bibi Merr ada?"


"Ada!" jawab Gia. "Baru saja dari sini."


Xiaoli tampak berfikir, "Tidak usahlah, Bibi! Nanti saja!" jawab Xiaoli tiba - tiba menekuk wajah tampannya.


"Memangnya kenapa, Xiaoli?"


Xiaoli menatap wajah Gia dengan lekat. Kemudian mengamati kanan kiri, melihat sekitar, aman atau tidak untuk berbicara dengan Bibi Gia, istri bodyguard utama Paman Jack Black.


"Bibi, tolong Xiaoli ya? Tapi jangan bilang siapapun!"


"Minta tolong apa memangnya?" tanya Gia.


Xiaoli berjalan mendekati rumah utama mess bodyguard, yang berdampingan dengan rumah Dimitri.


Xiaoli merangkul pundak Gia, dan mengajak Gia untuk masuk ke dalam teras. Kemudian ia berbisik pelan.


"Apa Bibi punya nomor ponsel Nona Jia?" tanya Xiaoli berbisik.


"Hah? Nomor ponsel Jia?" pekik Gia tak percaya.


"Ssttt!" Xiaoli segera meminta Gia untuk tidak bicara terlalu kencang.


"Memangnya kamu tidak punya?"


"Kalau Xiaoli punya, tidak akan Xiaoli minta Bibi!" jawab Xiaoli masih dengan berbisik.


"Kamu kan bodyguard inti?"


"Iya, Bibi! Tapi Paman Jack belum memberiku nomor ponsel keluarga Xavier. Hanya nomor Tuan dan Nyonya saja yang aku punya."


"Memangnya untuk apa nomor ponsel Jia?"


"Nona Jia meminta aku untuk mengirim pesan padanya. Tapi aku tidak punya nomornya, Bi!"


"Ya, kamu mintalah!"


"Tapi aku malu, Bi!"


"Nanti aku minta suami ku untuk memberi padamu."


"Aduuh, Bibi... Sekarang saja! Please!"


"Yakin ini tidak akan menjadi masalah besar antara aku dan Jia?"


"Yakin, Bibi! Kalau sampai Nona Jia marah karena Bibi memberiku nomor ponsel beliau, aku rela di tembak desert eagle milik Paman Jack!"


Xiaoli menatap yakin pada Gia yang menatapnya heran.


"Baiklah!"


Seringai kemenangan terbit di bibir sang bodyguard tampan....


' Maafkan aku... Demi kamu aku menghalalkan segala cara, Nona Cantik! '

__ADS_1


...🪴 Bersambung ...🪴...


__ADS_2