SANG MAFIA!

SANG MAFIA!
Chapter 286


__ADS_3

Pemuda berusia 24 tahun yang berasal dari Texas, Amerika Serikat itu bagai cenayang yang bisa kembali menemukan Virginia setelah Virginia yakin jika mereka tidak akan bertemu lagi, setelah pertemuan dan perkenalan tidak sengaja yang mereka lakukan.


"Jadi?" tanya Axton seolah mengingatkan kembali apa yang pernah di ucapkan oleh sang gadis.


"Em..." Virginia tampak berfikir keras.


"Kamu sudah berkata demikian... Atau.. kamu ini seorang penjahat berkedok penipuan? Jadi terbiasa mengingkari janji." ucap Axton dengan sebuah gelak tawa. "Maaf! Aku hanya bercanda!" sahutnya langsung. "Wajah mu sudah memancarkan jika kamu ini sangat baik dan jujur."


"Hemh!" Virginia mendengkus kasar karena tidak suka di bilang demikian. "Baiklah! Aku akan memberikan nomor ponsel ku! Tapi janji jangan telepon, Video call! Dan lagi, jangan spam chat kalau aku tidak membalas!" ucap Virginia seolah membuat satu perjanjian yang harus di sepakati.


"Ok! Tidak masalah!" sahut Axton cepat. "Apapun syaratnya akan aku terima Asal sesekali kita bisa mengobrol! Mengingat kamu orang pertama yang aku kenal di negara ini." lanjut Axton tersenyum sangat senang.


Virginia mengangkat kedua alisnya. Meski sesungguhnya sangat tidak suka, tapi apa mau di kata. Ia yang sudah berucap demikian.


"Tulis disini!" ucap Axton memberikan ponselnya pada Virginia.


Dengan sangat terpaksa sang gadis akhirnya menuliskan nomor ponsel miliknya. Kemudian menyerahkan kembali pada Axton.


"Aku pergi dulu! Sudah terlambat!" pamit Virginia segera menjauh dari Axton yang tersenyum senang, karena berhasil mendapatkan nomor ponsel Virginia langsung dari orangnya.


"Ok! Bye!" jawabnya. "See you, girl!"


***


Sementara dari jarak sekian meter, dua pasang mata sudah memperhatikan kejadian barusan dari awal hingga Virginia menjauh.


"Problem is come true!" gumam seseorang sembari menggelengkan kepalanya pelan.


"Jadi apa rencanamu?" lanjutnya berucap.


"Aku harus mencari tau siapa laki-laki itu!" jawab Jio menatap tidak suka dan benci pada pemuda itu.


"Hmm! Kau Hacker handal, brother! Urusan bocah itu tidak akan membuat mu kesulitan!" ujar Nikki yang selalu membanggakan seorang Georgio Xavier Sebastian.


Jio tak lagi menjawab. Tujuannya adalah untuk bisa sampai di kelas lebih awal dan mencari informasi tentang pemuda yang mengaku bernama Axton itu.


"By the way... Di mana mereka bertemu?" tanya Nikki pada Jio.


Lagi-lagi Jio hanya menghela nafas kasar dan resah.


***

__ADS_1


Kelas IX di Junior Zilvanare International School adalah tahun terakhir sebelum mereka memasuki jenjang Senior Zilvanare International School.


Di mana pada jenjang Senior nanti akan di anggap sebagai masa terindah bagi siapa saja yang menjalaninya.


Di kelas IX kali ini, di kelas yang baru dan tentu saja posisi meja pun juga berubah sesuai pilihan masing-masing, ingin duduk di mana dan duduk bersama siapa. Yang jelas yang datang lebih awal dia akan memiliki hak untuk memilih bangku dengan siapa.


Atau sebagian kelas justru di pilih langsung oleh guru kelas, akan duduk di barisan dan deret ke berapa, juga bersama siapa.


Dan bedanya di kelas yang saat ini di tempati oleh Gerald, di buat menjadi memiliki teman satu bangku. Di mana jika sebelumnya mereka hanya duduk sendiri, kini dua bangku di buat menempel, dan menjadikan mereka memiliki teman satu bangku.


Selain untuk memperluas gang dari satu bangku ke bangku lainnya, juga untuk membuat mereka memiliki teman diskusi, juga teman belajar bersama.


Dan Gerald, sang Tuan Muda Xavier itu sudah berjuang keras untuk bisa satu bangku dengan Jenia Mezzaluna. gadis pujaan yang tak kunjung ia dapatkan sampai detik ini.


Namun seiring berjalannya waktu, segalanya bisa saja akan berubah.


Hari ini... adalah hari pertama memasuki bulan ke tiga bagi Gerald untuk berada di kelas IX. Dan Jenia adalah sosok yang selalu membuatnya bersemangat untuk datang ke sekolah.


"Siapa itu namanya?" tanya Gerald ketika ia datang dan langsung duduk di bangkunya, di mana sudah ada Jenia di sana yang sedang melukis tokoh anime menggunakan pensil.


"Ini?" tanya Jenia menunjuk hasil gambarannya. Karena di kira Gerald menanyakan tentang itu.


"Bukan!" jawabnya. "Itu!" Gerald menunjuk leher Jenia dengan sebuah lirikan.


"Siapa namanya?" ulang Gerald.


"Suga!" jawab Jenia sedikit ketus.


"Oh!" Gerald mengangguk paham. "Menurut kamu... lebih tampan Suga atau aku?" tanya nya kemudian dengan rasa percaya diri yang berlebih.


Dan sebagai putra dari seorang Michael Xavier, memang sudah sangat wajar jika Gerald menyombongkan dirinya. Karena seluruh penduduk Bumi, dari penduduk kota sampai pelosok mungkin bisa dengan mudah mengatakan jika dirinya tampan dan rupawan.


Belum lagi embel-embel nama belakang yang ia miliki. Di mana nama itu sudah sangat terkenal di seluruh dunia. Terutama dalam dunia bisnis.


Jenia melirik jengah dan heran pada Gerald yang selalu saja membanggakan kelebihannya itu.


' Meskipun memang benar tampan, tapi please! Bisa tidak jangan terlalu percaya diri '


Gerutu sang gadis di dalam hati.


"Bilang saja aku, apa susahnya!" pinta Gerald.

__ADS_1


"Anda terlalu memaksa, Tuan!"


"Hahaha!" gelak Gerald.


"Jauh lebih tampan Suga kemana-mana!" lanjut Jenia, meski dapat di lihat jika ada sedikit dusta yang di tutupi.


"Baiklah! Setelah dewasa aku akan ke Korea dan membuat wajah ku setampan mereka!" ujar Gerald.


Jenia sontak menoleh ke sisi kanan, dan menatap heran pada Gerald. "Dasar gila!" gumamnya.


Sang pemuda kini tak lagi terlihat memburu cinta Jenia secara paksa seperti dahulu. Ia hanya mengikuti alur yang ada. Karena sejak menjadi teman sebangku, Gerald jadi tau jika Jenia memang tidak di izinkan untuk berpacaran selama masih di bangku Junior. Atau di bawah 17 tahun.


Meski begitu, tak akan membuat Gerald menjauh. Ia justru tidak bisa berjauhan dengan teman sebangkunya ini. Karena perasaan itu terlalu nyata untuk di lupakan.


Namun jiwa playboy Gerald seolah tidak bisa menerima begitu saja. Sehingga ia masih sering bertemu dengan Chloe. Dan bahkan beberapa kali ia terlihat menemani Chloe untuk nonton atau shopping.


Entahlah, siapa yang nantinya akan menjadi kekasih pertama seorang Gerald. Dan siapa yang akan menjadi cinta sejati Gerald.


Karena Gerald juga di dekati oleh banyak gadis seusianya di luaran sana.


***


Lantas bagaimana dengan kisah Jia dan Xiaoli di hari itu?


Kelas yang di ikuti Jia belum usai, tapi sang gadis sungguh tidak bisa berkonsentrasi dalam mengikuti jam kuliah. Akhirnya ia memutuskan untuk meninggalkan kampus dan menghampiri sang kekasih yang selalu setia menunggunya di tempat parkir.


Dari kejauhan, Jia bisa melihat jika Xiaoli tengah duduk di balik kemudi dengan kaca mobil yang terbuka. Di mana sang pemuda tampak terdiam, seperti tengah melamun. Di tangannya, sebuah ponsel hanya ia putar-putar saja. tanpa di mainkan ataupun di nyalakan.


Dengan setengah berlari, sang gadis menghampiri mobil miliknya. Meski tidak sedang dalam konsentrasi penuh, Xiaoli tentu tau jika ada seseorang yang yang tengah berlari ke arahnya.


"Hai!" sapa Jia ketika Xiaoli menoleh dan bertepatan dengan dirinya yang sudah dekat dengan mobil.


"Hai!" jawab Xiaoli segera keluar dari mobil. "Sudah selesai?" Xiaoli mengerutkan keningnya.


"Belum!"


"Kenapa sudah keluar?"


"Aku ingin pergi dengan mu!"


"Kemana?" tanya Xiaoli bingung.

__ADS_1


"Fields of Pealand!"


...🪴 Bersambung ... 🪴...


__ADS_2