
Jika Jia mulai memasuki Ballroom hotel bersama hadiah mewahnya, dan Jio masih menghibur hati yang tengah menjerit takut karena akan segera menjalani pengobatan Tumor Otak, maka Gerald yang di rumah seorang diri Friday Night time, hanya bisa berada di depan televisi besar di kamarnya.
Ia hanya bisa menghabiskan waktunya untuk bermain PS dan PS sampai hampir mati kebosanan. Meski matanya fokus menatap layar besar di depannya, dan jemari sibuk dengan tombol stick di genggaman. Tapi hati dan pikirannya ada pada dua gadis yang sedang ia dekati.
Entah, siapa yang akan menjadi kekasihnya terlebih dahulu.
Yang jelas perjuangan tidak boleh berakhir begitu saja. Meski seharusnya malam Friday Night seperti ini adalah malam yang menguntungkan untuk melakukan pendekatan.
Ia sendiri masih tidak tau, siapa yang ada di hatinya, dan siapa yang hanya ada di pikirannya. Untuk saat ini ia sama - sama berat melepas keduanya.
Ting!
Suara notifikasi masuk ke dalam ponsel sang bungsu. Ia cepat melirik sekilas. Nama Chloe ada di sana. Namun ia tak segera membalas. Karena misi di layar belum usai, dan ia dalam mode on fire!
Tit!
Game berakhir, dan ia segera meraih ponselnya.
📩 "Hai, Gerald! Sedang apa?"
✉️ "Hai, Chloe. Hanya bermain PS!"
Tak perlu menunggu lama bagi Gerald untuk mendapatkan balasan dari Chloe.
📩 "Tidak keluar?"
✉️ "Tidak, Daddy melarang ku. Katanya tunggu sampai 15 tahun!"
Jawab Gerald dengan mengikut sertakan emoticon sedih. Padahal dalam hati ia tidak punya uang untuk keluar saat ini. Modal benar - benar di bawah standar putra bangsawan.
Karena sesungguhnya sang Daddy tidak pernah ikut campur urusan anak - anaknya yang semacam itu.
Ya, dalam mode anak orang kaya tapi tidak punya uang adalah sesuatu yang berat untuk di jalani Gerald.
📩 "Kapan kamu berusia 15 tahun?"
✉️ "Beberapa bulan lagi..."
Dan obrolan itu terus berlanjut dengan obrolan yang datar - datar saja. Karena Gerald sendiri belum berani bertindak lebih jauh. Karena ia berfikir, mengencani seroang gadis membutuhkan modal yang sangat besar.
***
Di sisi lain, ada Jio yang mulai beranjak dari sofa setengah lonjong mereka. Karena Virginia ingin pergi ke mall untuk shopping. Bertekad untuk selalu menuruti apapun yang di inginkan sang kekasih, Jio akan mengikuti kemanapun sang kekasih pergi.
Virginia meminta untuk shopping, bukan berarti gadis itu materialistis, tapi karena memang dia hobi berbelanja. Toh dia sendiri anak orang kaya raya, tanpa Jio pun dia bisa membayar apapun yang ia inginkan.
Kembali melajukan mobil mewahnya di tengah keramaian di momen Friday Night, Jio terus memandangi wajah sang kekasih yang malam itu terlihat bersinar. Meski ada sesuatu yang membuat sang kekasih sesekali merasakan sakit.
Ya, selama ini Virginia sering merasa tiba - tiba pusing, hanya saja Virginia yang tak menghiraukan, membuat ia yang sesungguhnya khawatir hanya bisa berjaga - jaga. Jika dulu ia tak tau penyebabnya. Maka hari ini ia sudah tau semuanya.
"Sampai!" seru Jio memarkir mobilnya di salah satu parkiran VIP.
"Yeay!" seru Virginia sembari membuka seat belt yang menyilang di depan dada.
Jio sigap turun untuk membuka kan pintu penumpang bagian depan. Meminta sang gadis untuk keluar dengan menjadikan tangan kokohnya sebagai penyangga tubuh sintalnya.
"Thank you, Sayang!"
__ADS_1
"You're welcome, Baby..." jawab Jio sembari mencuri satu kecupan di pipi merah ranum sang gadis.
Keduanya pun melangkah memasuki mall secara bersamaan. Mall yang sama saat ia mengantarkan Gerald untuk membeli hadiah pertemuan dengan seseorang yang katanya teman, tapi entah yang mana. Jio tak mengurusi sampai kesana.
"Kamu mau beli apa, Sayang?" tanya Jio.
"Aku mau kita beli syal yang sama." jawab Virginia.
"Harus sama?"
"Ya, jika pasca pengobatan dan aku mengalami lupa ingatan, lalu aku melupakan kamu juga, ingatkan aku pada syal kita yang kembar." lanjut Virginia dengan ceria, namun terdengar seperti tangisan pilu di dalam hati sang putra mahkota Xavier.
Tangan yang semula menggenggam jemari lentik, kini beralih merangkul pundak sang kekasih dengan sangat posesif. Menarik pundak itu agar menempel sempurna di dada bidangnya. Hingga tangan kanan sang kekasih kini melingkar di pinggul belakang.
Sejatinya sejak tadi keduanya sama - sama menyadari jika Jio cukup menarik perhatian mata para gadis yang melintas berlawanan arah dengan mereka. Namun sebisa mungkin Virginia untuk tidak cemburu. Dan justru menempatkan diri sebagai pemenang.
Itu adalah salah satu cara yang bisa kita ambil, jika ada yang melirik kekasih kita!
Sedang Jio berusaha untuk menunjukkan pada mereka, jika gadis di sampingnya adalah pemilik dirinya. Maka dengan tanpa ragu ia akan mencium singkat puncak kepala Virginia jika ada yang mencoba tersenyum ramah padanya.
"Ayo... masuk sana, Sayang!" ajak Virginia merangkul pinggang Jio dengan kedua tangan.
"Okay, Baby!" jawab Jio yang sudah berjanji untuk tidak menolak keinginan sang gadis.
Sebuah toko aksesoris anak muda yang bisa dikatakan bukan sembarang toko aksesoris. Karena barang - barang yang di jual di dalam sana adalah aksesoris dengan harga mahal yang kwalitasnya tidak kaleng - kaleng. Contohnya mengandung emas murni, berlian asli atau bahkan bahan kulit binatang asli. Yang rata - rata di buat secara Limited Edition.
Jio ingat di toko itulah ia membelikan Gerald satu box kalung BTS, dan juga kalung untuk sang kekasih.
"Selamat datang di gerai kami..." sapa seorang pegawai yang berjaga di pintu masuk.
Keduanya masuk secara bersamaan, dan mata Virginia seketika berbinar ketika melihat berbagai aksesoris keluaran terbaru. Bukan sekali dua kali Virginia memasuki gerai itu, tetapi selalu ada saja barang yang menarik perhatiannya.
"Kamu suka?" tanya Jio yang masih terlihat begitu posesif mendampingi sang kekasih.
"Cangkir itu eksklusif dari kami, Nona," sahut seorang gadis berpakaian SPG yang tiba - tiba sudah muncul di belakang Virginia. "Baru di pajang hari ini dan hanya di buat dua buah saja. Yang satu sudah di beli seseorang baru saja." infonya.
"Kalau begitu ini untuk aku!" ujar Virginia menyerahkan cangkir itu pada SPG.
"Siap, Nona!" jawab SPG itu sembari menerima cangkir Hello Kitty, dan bersiap untuk mengemas dengan sangat hati - hati. Karena kalau sampai pecah di tangan SPG, maka mereka lah yang harus membayar sebesar 90%
"Hai, apa satu box kalung BTS masih ada?" tanya Jio pada SPG itu. Ia ingat jika sang adik meminta satu lagi.
"Untuk yang model lama sudah sold out, Tuan. Ada model terbaru dari kami yang baru launching kemarin, tapi dengan harga lebih mahal..."
"Tidak apa, yang penting BTS, kemas sekalian dengan itu."
"Siap, Tuan."
"Untuk apa kalung BTS?" tanya Virginia mendongakkan kepala, menatap heran wajah tampan kekasihnya.
"Gerald!" jawab Jio menatap lembut sepasang mata Virginia yang selalu menghanyutkan.
"Untuk apa Gerald pakai kalung BTS?" tanya Virginia keheranan.
"Bukan untuk dia pakai, tapi untuk diberikan pada temannya." jawab Jio. "Kamu mau?" tanya Jio dengan mengerlingkan mata nakal.
"Hah?" pekik Nia. "Tidak! aku tidak suka BTS!" jawabnya.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Jio memicingkan matanya.
"Aku sudah punya kamu yang jauh lebih tampan dari BTS, jadi buat apa aku mengidolakan mereka yang sudah pasti tidak dapat aku miliki." jawab Virginia dengan entengnya.
"Good girl!" bisik Jio kembali mencuri kecupan. Kali ini yang ia kecup tentu saja bibir yang baru saja berucap demikian. "Ayo, pilih lagi apa yang kamu mau.."
"Fine!"
Dan mereka kembali berkeliling di dalam toko itu. Hingga Virginia menemukan tiga buah barang yang sangat ia sukai. Dan tentu Jio yang membayar semuanya. Meski Nia berusaha untuk menolak.
Puas berada di dalam gerai itu, kini mereka tertuju pada satu tujuan mereka. Yaitu membeli syal yang sama. Dan keduanya menemukan syal berwarna biru, dari butik kenamaan Channel.
Meninggalkan area Mall dengan memakai syal yang sama dan dari butik mahal, tentu sudah bisa di jelaskan dari kalangan mana mereka berasal.
***
Sedangkan di dalam hingar bingar pesta ulang tahun yang sedang berlangsung, Jia tampak menenteng paper bag berisi hadiah untuk Gladys. Jia menyerahkan paper bag itu kepada panitia penerima hadis yang ada di pintu masuk. Setelah mengisi buku hadir, Jia langsung berbaur untuk mencari sahabat - sahabatnya.
Reena yang entah sudah datang atau belum. Karena semua memakai topeng yang sama, sehingga sulit untuk di bedakan satu sama lain.
Tak menemukan Reena, Jia langsung menghampiri Gladys yang ada di bagain depan. Tentu saja gadis itu sudah ada di podium.
"Jia!" sapa Gladys yang tak terdengar sampai di posisi Jia berada, karena suara musik yang menghentak. Namun tangan Gladys yang melambai membuat JIa tau jika Gladys menyapanya.
"Happy Birthday!" ucap Jia bercipika cipiki dengan sang sahabat.
"Thank you..." ucap Gladys tersenyum.
"Hai, Gladys! Hai, Jia!" sapa suara laki - laki yang tak lain adalah Diego.
"Hai, Diego!" balas Gladys.
"Happy Birthday!" ucap Diego juga bercipika cipiki dengan Gladys.
"Thank you, Diego..."
"Cari tempat duduk yuk..." ajak Diego pada Jia.
"Eh, di sini dulu, kita mau sesi tiup lilin!" cegah Gladys.
"Oh.. ya udah ayo!" jawab Jia.
Semakin cepat acara selesai, maka semakin baik! batin Jia.
Gladys berdiri di balik kue tart susun tiga setinggi 1 meter. Dengan hiasan kupu - kupu dan taburan butiran swarovski yang mempesona. Dan semua tamu yang berminat untuk bergabung berdiri di depan kue tart itu berkumpul dan bernyanyi bersama.
Di dendangkanlah lagu Happy Birthday To You oleh group musical yang bertugas.
Dan seluruh undangan di dalam ruangan ikut bernyanyi bersama. Hingga lagu usai. Dan beberapa potongan kue di bagikan kepada mereka yang mau.
Jia mengambil sepotong kue tart sebagai bentuk penghargaan bagi yang berulang tahun. Kemudian ia memakannya sedikit di meja yang telah di sediakan.
Acara masih terus berlanjut, mulai dari games, persembahan lagu dari tamu undangan dan nanti akan di akhiri oleh sebuah pesta dansa. Namun Jia sudah mau mati kebosanan seperti Gerald.
Tubuhnya yang di balut gaun anggun nan mahal itu memang berada di dalam hiruk pikuk pesta mewah sang sahabat. Tapi pikirannya hanya satu, menagih hutang Xiaoli.
Yaitu, hutang penjelasan, yang sudah tak sabar ingin ia dengar.
__ADS_1
...🪴 Bersambung ... 🪴...