
Hidup jauh dari gemerlap dunia, tentu saja membuat Sang Tuan muda dan Nona muda Xavier harus kembali beradaptasi pada kehidupan anak muda di Roma, Italia. Agar tidak terkesan kolot.
Jio dan Jellow, sebagai murid laki - laki mereka memiliki kesempatan untuk belajar mengemudikan mobil dan motor selama di kuil, dalam kurun waktu dua tahun terakhir. Dan itu menjadi keberuntungan sendiri untuk saat ini. Karena pertempuran tidak hanya terjadi di dalam rumah, gedung, gudang ataupun lapangan saja.
Berbeda dengan Jia, sebagai murid perempuan ia tidak di ajarkan mengemudikan mobil. Karena kuil menyerahkan urusan itu pada pihak keluarga.
Beberapa hari setelah kembali ke Roma, keduanya hanya boleh di rumah. Bermain playstation yang sudah mencapai 5. Padahal dulu saat mereka berangkat hanya ada PS2.
Selain itu, dua remaja 17 tahun itu juga harus home schooling. Kadang juga asyik dengan ponsel mereka. Namun belum ada satu pun yang berani menghubungi sahabat lama mereka. Itu karena Daddy Michael masih harus mengajarkan banyak ilmu lain untuk mereka.
Salah satunya menembak musuh dengan tepat presisi. Karena selama di kuil, mereka lebih fokus pada senjata tradisional seperti panah, pisau kecil, samurai, pedang, paling jauh senapan.
Maka saat ini segala jenis senjata api di perkenalkan Michael pada si kembar. Mulai dari jenis Glock kesayangannya, Desert Eagle, AK-47, Revolver dan senjata api-- jenis lainnya.
"Sepertinya aku menyukai Desert Eagle, Dad!" ucap Jio setelah mencoba semuanya.
"Kenapa kau tidak menyukai Glock?" tanya Michael memicingkan matanya, karena sang putra tidak satu selera dengan dirinya. "Bukankan Glock sangat ampuh menghabisi lawan?"
"Desert Eagle tak kalah mengerikan, Dad!" jawab Jio enteng. Ia mainkan senjata buatan pabrik Israel itu.
"Baiklah," jawab Michael pasrah. "Kalau kamu Jia? Kau lebih suka yang mana?"
"Em..." Jia tampak masih berfikir. "Entahlah, Daddy! Semua rasanya tidak membuat aku menembak dengan presisi seperti Kak Jio." jawabnya lesu.
Sedari tadi ia hanya memandangi barisan berbagai jenis senjata yang sudah berulang kali ia coba selama beberapa hari ini.
"Kamu hanya perlu sedikit latihan serius lagi, Jia... Kau hanya perlu fokus mu!" ucap Michael menekan kata fokus.
"But, Dad... Sepertinya aku lebih suka memakai samurai naga api yang di berikan Shifu!" jawab Jia tersenyum ceria pada Daddy nya.
Ia mengingat samurai yang ia simpan pada dinding kamarnya. Terpampang indah, seolah menunjukkan kelasnya. Di beri nama samurai naga api karena pada gagangnya terdapat ukiran naga berwarna kuning kemerahan seperti api yang berkobar. Begitu pula pada besi pipih nya, yang terukir halus gambar naga.
Ukuran gagangnya pun sangat pas di tangan Jia yang terkesan lentik. Meski begitu, jemari lentik itu mampu memukul lawan dengan sangat kuat.
"Mana bisa menghadapi musuh hanya dengan samurai, Jia!" omel Michael menghela nafas berat. "Bagaimana jika mereka menyerang mu dari jarak jauh?" tanya Michael serius. "Melempar pisau? Bagaimana jika jumlahnya banyak? Berapa jumlah pisau yang kamu bawa?" Michael terus memberondong Jia dengan pertanyaan - pertanyaan untuk membuka cara berpikir putrinya yang terkesan mengentengkan musuh.
"Musuh tidak bisa hanya di selesaikan dengan samurai saja. Semua senjata yang dapat melindungi kita, semua senjata yang kita bawa di mobil, ataupun semua senjata yang tersebar di rumah ini kamu harus menguasai!" tegas Michael. "Seluruhnya! Dan pistol adalah senjata yang paling penting untuk di kuasai!"
__ADS_1
"Hmm..." menghela nafas. "Baiklah, Dad! Aku akan serius belajar menggunakan Glock seperti Daddy!" lanjutnya tersenyum mengangkat pistol jenis Glock - 17. Glock yang menampung 17 peluru. Lebih ringan dan cocok untuk tangan Jia yang ramping.
"Hmm.. Good!" sahut Michael, setidaknya ada anaknya yang satu selera dengan dirinya. "Ayo! tembak sampai manekin itu kepalanya hancur, Jia!" ucap Michael berbangga.
"Aku tidak ingin menembak kepalanya, Daddy!" jawab Jia. "Aku ingin jantung mereka berhenti berdetak dalam satu tembakan ku!" desis Jia memasang wajah seram. Menganggap manekin di depan adalah musuh nyata pertama yang ia hadapi.
Michael tersenyum miring. Secantik apapun putrinya, pastilah masih menurun gen kejam yang ia miliki. Dan itu pasti membuat putrinya lebih kuat. Tidak mudah untuk di jatuhkan lawan.
***
Hari - hari terus berlalu. Dua bulan sudah sejak latihan tembak hari itu. Semakin lihai, semakin bersahabat dengan pistol pilihan mereka, membuat keduanya bebas membawa kemana pum benda hitam itu.
Satu siang yang cerah di hari minggu, Jio mengajak adiknya untuk mulai mengenal jalanan kota Roma. Jika biasanya kemana - mana mereka di antar sopir dan bodyguard, maka hari itu mereka hanya jalan berdua.
Atas izin sang Daddy dan Mommy, Jio memastikan adiknya akan aman saat mereka bersantai di luar.
Menggunakan sportcar jenis Bugatti Divo berwarna biru yang ia dapat sejak kembali dari kuil. Sudah cukup untuk menunjukkan dari mana mereka berasal.
Mensejajarkan diri sebagai manusia biasa, dengan orang - orang biasa yang bukan dari kalangan Mafia dengan segala kelebihan mereka, Jio dan Jia berlibur di salah satu taman hiburan di kota Roma.
Berbagai wahana permainan ingin rasanya mereka coba. Banyak sekali wahana yang menguji adrenalin. Karena keduanya terlatih sejak kecil, tak ada satu wahana pun yang mereka takuti saat usia sudah hampir 18 tahun.
Sebuah wahana Roller Coaster dengan berbagai lekukan dan kilat cahaya menarik perhatian Jia yang baru saja turun dari wahana yang naik ke angkasa, dan turun bagai di banting oleh awan. Antrean cukup panjang tak membuat Jia enggan untuk mendekat.
"Kak, sepertinya wahana itu paling menantang!" seru Jia menarik tangan Jio untuk masuk ke dalam antrean paling belakang.
"Iya!" jawab Jio datar, ia lebih fokus mengamati sekitar. Melihat manusia - manusia yang jumlahnya sulit untuk di hidung, tapi dapat di perkirakan oleh Jio.
Sebelumnya, 7 tahun di perasingan, tentu mereka tak pernah bertemu orang asing seperti sekarang.
Menyandarkan punggung pada pagar pembatas, kedua siku ke belakang untuk menopang tubuhnya, mata Jio menangkap sosok gadis yang terlihat begitu menarik perhatiannya tengah antri menghadap gerai ice cream.
Gadis itu memakai kaos ketat berwarna pink muda yang di balut jaket jeans crop dengan lengan balon yang hanya sampai siku saja. Bawahan memakai hotpants magenta setengah paha. Sepatu putih sneakers membalut kaki yang betis hingga pahanya terlihat sangat mulus.
Rambut di gerai bebas, dengan topi coklat khas GC menutupi kepalanya. Tas ransel berukuran kecil menggantung pada dua pundak.
Jio tersenyum tipis melihat gadis itu dari belakang. Dalam hati ia berkata menarik! Sangat menarik. Dalam benaknya, apakah Virginia sekarang seperti gadis itu?
__ADS_1
Jika di lihat dari belakang, postur gadis itu tak jauh dari Jia yang seumuran dengan Virginia.
Jio menyentuh dadanya, ada getaran hebat yang ia rasakan saat mengingat satu nama yang selama ini hanya bisa ia intai pergerakannya melalui berbagai sosial media rahasia yang ia miliki.
"Ayo, Kak! Maju!" ucap Jia membuat Jio kembali sadar. Dan memutuskan pandangan yang sedari tadi ia tujukan pada gadis yang antri di gerai ice cream.
"Apa yang kamu lamunkan, Kak?" tanya Jia setelah maju antrian sekitar 10 langkah.
"Tidak ada... Hanya.." Jio menoleh ke kedai ice cream, namun gadis itu sudah tidak ada.
"Hanya apa?"
"Tidak ada!" jawab Jio menoleh pada Roller Coaster yang siap untuk melaju dengan 20 penumpang yang baru saja naik.
"Kamu yakin berani?" tanya Jio mengalihkan pertanyaan Jia.
"Memangnya sedari tadi ada yang aku takutkan?"
Jio tersenyum, "Ya... Kamu memang hebat!" jawab Jio mengusap puncak kepala Jia dengan sedikit kasar.
***
Selesai dengan wahana Roller Coaster, Jia mengajak Jio untuk menyantap makan siang di salah satu kedai makanan yang tersedia.
Duduk berhadapan, mereka memesan menu makan siang yang menjadi favorit mereka di rumah. Namun rasanya tak seenak buatan Ched di istana Michael.
"Beginian di jual!" gerutu Jia.
"Jia..." lirih Jio agar adiknya berhenti mengeluhkan makanan.
Kembali, Jio menangkap sosok gadis yang menarik perhatiannya tengah bercanda gurau dengan teman - temannya di salah satu meja di restauran yang sama.
Jio melirik ke arah pojok di belakang Jia. Dimana gadis itu duduk membelakangi dirinya.
Selesai makan Jio masih asyik menatap punggung gadis itu. Sampai gadis itu berdiri dan ....
...🪴 Happy Reading 🪴...
__ADS_1