
Beberapa jam yang lalu . . .
Michael yang tertidur bersama Chania setelah momen bercinta, di kejutkan dengan dering ponsel yang terus berbunyi. Dimana sebuah nama tertera di sana.
Marco memanggil ...
Mengingat sedang ada penerimaan senjata di pelabuhan miliknya malam ini, Michael segera mengangkat panggilan itu.
ð "Ada apa Marco?"
Tanya Michael masih dengan posisi kepala Chania yang berada di dadanya.
ð "Tuan! saya melihat gerak gerik mencurigakan. Saya yakin ada yang berusaha menyabotase kiriman senjata kita malam ini! Sebisa mungkin, saya harap Tuan bersedia datang ke pelabuhan! Karena banyak mobil asing yang tiba - tiba datang! Sementara pasukan kita yang standby kalah jumlah! Dan lagi, Tuan! saya melihat seseorang yang saya yakini sebagai pemimpin pasukan musuh!
Jelas Marco tanpa jeda.
ð "Jack dan Dimitri sudah kau beri tau?"
Michael tak kalah panik.
ð "Tuan Dimitri sedang dalam perjalanan menjemput Tuan. Beliau meminta saya untuk menghubungi Tuan untuk bersiap. Sementara Tuan Jack langsung menuju pelabuhan dengan beberapa anak buah lainnya.
ð "Aku akan segera datang!"
ð "Baik, Tuan!"
Michael menutup panggilan Marco dan segera membuat Chania berpindah dari dadanya. Ia tarik bantal lain dan meletakkannya sebagai ganti tubuhnya yang di peluk Chania.
Kemudian ia segera bergegas dan mempersiapkan diri untuk berperang. Ia yakin musuh kali ini adalah musuh yang sama dengan penyerangan malam itu. Musuh yang cukup sulit untuk di lacak, meskipun mudah di tumpas.
Michael mengeratkan gigi - giginya. Ia harap malam ini ia akan menemukan siapa pemimpinnya.
Mengenai Marco, ia adalah pemimpin penerimaan dan pengiriman barang Michael. Jika diurutkan, maka posisinya berada di bawah Jack dan Dimitri.
Bukan hanya Marco yang berada di bawah Jack dan Dimitri. Ada beberapa lagi yang jabatannya setara dengan Marco.
__ADS_1
***
Sebelum berangkat, Michael mengirim pesan ke ponsel Chania yang berada di nakas. Ia tak tega membangunkan Chania yang tertidur dengan pulas untuk berpamitan.
Setelah itu, ia mendekati ranjang kembali. Ia tatap wajah cantik istrinya yang terlelap di balik selimut tebal yang menutup penuh tubuh polosnya. Kemudian ia ulurkan tangan untuk membelai rambut kepala Chania lantas mendaratkan kecupan di dahi dan bibir Chania dengan lembut.
"Aku harus pergi! jangan bangun sebelum aku pulang. Good night!" ucap Michael lirih kembali mengecup singkat bibir Chania.
Ia beranjak, keluar dari kamar dengan memasang wajah garang miliknya. Berpesan pada pengawal agar tak ada satu orang pun yang boleh mengganggu tidur Chania.
Michael berjalan dengan dingin keluar dari rumah megahnya. Tepat saat Dimitri berhenti tepat di depan pintu.
Kali ini Dimitri memakai mobil humvee untuk menjemput Tuannya. Menyadari akan ada peperangan dahsyat malam ini. Michael segera masuk, setelah seorang pengawal membuka pintu humvee.
Dimitri melajukan mobil perang itu dengan kecepatan tinggi. Sedangkan Michael segera memakai baju perang miliknya.
Humvee semakin dekat dengan pelabuhan dimana Michael menurunkan senjatanya. Dalam pikirannya, jangan sampai kiriman kali ini jatuh di tangan musuh, ataupun di hancurkan musuh. Bisa - bisa Black Hold akan rugi dengan jumlah besar.
"Stop!" perintah Michael saat Humvee hampir sampai di pelabuhan.
Suara roda bergesekan dengan aspal hingga menimbulkan suara decitan. Karena Dimitri mengerem mendadak di saat humvee melaju dengan kecepatan tinggi.
"Ada apa, Tuan?"
"Aki harus mengamati musuh terlebih dahulu!" jawab Michael dengan nada dingin sembari keluar dari lubang kecil di atap humvee dengan membawa teropong malam di tangannya.
"Baik, Tuan!" jawab Dimitri ikut mengambil teropong malam.
Michael menggerakkan teropong ke arah pelabuhan. Ia masih berada di jalan yang cukup tinggi di banding pelabuhan. Dari sana pelabuhan masih bisa di lihat.
Teropong malam di gerakkan Michael ke laut. Dimana kapal miliknya sudah mulai mendekati dermaga. Kemudian mengarahkan teropong ke arah dermaga. Terlihat di sana anak buah Michael berjajar seperti biasanya untuk menunggu kapal yang beberapa menit lagi akan menepi.
Michael kembali mengamati sekitar, dan benar saja, ada beberapa humvee asing di sana.
Dia juga menemukan humvee pasukannya yang membawa Jack dan beberapa anak buahnya. Jack tampak menyamar dengan berpakaian ala ninja. Karena wajah Jack cukup familiar di kalangan musuh. Michael tersenyum tipis, karena pengawal pribadinya itu selalu tau posisi terbaik yang bisa ia tempati.
__ADS_1
Michael segera memasang alat komunikasi yang otomatis tersambung pada para pemimpin pasukan. Termasuk Jack, Dimitri, Marco dan dua orang di bawah Marco.
Menginformasikan bahwa dirinya sudah berada di area pelabuhan. Semua hanya menjawab dengan satu kata Siap, Tuan!
Satu persatu humvee di teropong bagian dalamnya. Dari semua humvee musuh ia menemukan seseorang yang ia yakini sebagai pemimpin pasukan musuh.
Namun ia cukup di buat kaget. Mana kala pria itu adalah seseorang yang cukup ia kenal. Pernah bersekolah di tempat yang sama, dan sama - sama anak seorang Mafia. Hanya saja Michael berasal dari Klan Black Hold. Klan Mafia terbesar di Italia. Sedangkan pria itu berasal dari Klan Atherna yang kekuasaannya tak sebanding dengan Black Hold.
Namun mereka bukanlah sahabat baik, hanya sekedar saling kenal saja di masa sekolah saja. Namun ia tak menyangka jika pria itu akan menyerangnya dengan cara sabotase. Karena selama ini hubungan Black Hold dan Atherna tak pernah saling bersenggolan.
Di sisi lain, Michael juga tahu jika pria itu memiliki kekuatan yang cukup bagus. Bela diri yang mumpuni dan berprestasi dalam dunia tinju pada masanya. Belasan tahun tak pernah bertatap muka, tak membuat Michael pangling pada wajah itu.
Michael mengeratkan giginya, mengepalkan tangannya dengan kuat. Raut wajahnya seperti akan terbakar. Michael masih mengamati dari teropong malam miliknya.
Kapal berhasil menepi ke dermaga, seperti dugaan Michael, pria itu memberikan komando agar seseorang yang tersambung dalam saluran telponnya melakukan sesuatu.
Tak di sangka sesuatu bergerak dari sisi lain pelabuhan. Semakin dekat benda itu semakin jelas benda apa itu. Tak di sangka ternyata sebuah kendaraan rudal yang muncul dari kegelapan. Berlawanan arah dengan humvee Michael.
"Sial!" umpat Michael. "Dekati pembawa rudal!" ucap Michael pada Dimitri.
"Ternyata mereka membawa rudal, Tuan!" ucap Jack.
"Aku tau!"
Segera Dimitri menancap gas. Mengarahkan mobil ke arah pembawa rudal. Dengan sigap Michael mengeluarkan senjatanya, senjata khusus yang di desain memiliki peredam suara. Kemudian mengincar pengemudinya.
Dan untungnya semua berada di area pelabuhan, kecuali humvee yang Michael dan mobil rudal yang tengah fokus mengarahkan rudal ke kapal.
Terlihat di sebuah humvee musuh, seorang pria tersenyum sinis. Jemarinya menghitung detik. Dalam sepuluh detik maka rudal akan melesat ke arah kapal Michael yang membawa ribuan senjata.
Namun sampai jemarinya habis untuk menghitung, suara rudal melesat tak kunjung terdengar.
Pria itu sontak menoleh ke kanan dan kiri. Tidak mungkin ada yang salah dalam rencananya kali ini. Ia sudah memastikan yang turun di pelabuhan hanya sebagian kecil anak buah Michael. Ia tak tau jika Jack bersembunyi di sana.
Pria bertubuh besar, bahkan lebih besar dari Michael itu seketika turun dari humvee dengan menyiapkan pistol Glock di tangan kanan, dan sebuah pisau kecil dan tajam sebelah kanan sebagai senjata jika ada yang menyerangnya mendadak.
__ADS_1
ðŠīðŠīðŠī