
Masih dalam momen bahagia, Michael dan Chania terus menebar senyum mereka. Sang Mafia dingin itu tampaknya begitu bangga telah menjadi seorang ayah. Dimana momen yang tak pernah ia pikirkan sebelumnya. Bahkan saat terlintas pun, untuk apa? pikirnya.
Michael duduk miring di tepi ranjang pasien Chania. Sesekali membelai wajah cantik istrinya. Tak henti kalimat terima kasih ia ucapkan berkali - kali. Untaian kata cinta pun ia ucapkan lirih namun terdengar begitu dalam.
Mereka semua kini berada di dalam ruang perawatan VVIP, setelah semalam adalah hari kelahiran baby twins. Di sisi ruangan ada dua stroller bayi mewah berwarna putih dan hitam.
Stroller dengan harga mencapai ribuan dollar itu memiliki empat roda. Dua roda kecil di bagian depan, dan dua roda berukuran lebih besar di bagian belakang.
Namun tak ada satu bayi pun yang berada di sana. Karena satu bayi berada di gendongan sang Eyang, Madalena Queen Sebastian. Dan satu lagi berada di lengan sang Aunty, Sania Arlington.
"Gia... kamu cantik sekali sih! bikin Aunty gemes!" ucap Sania mendekap penuh sayang pada sang keponakan perempuan.
"Gio juga sangat tampan! sangat mirip dengan Daddy nya waktu bayi!" sahut Madalena menoleh Michael sekilas dan kembali menatap takjub pada cucunya yang seolah reinkarnasi sang putra.
"Cucu ku!" sahut Frederick bangga. Pria itu duduk di samping sang istri. Ikut berbahagia dengan kehadiran dua anggota keluarga barunya. Yang tak lain akan menjadi penerus Sebastian Company, sekaligus...
Yaa... Klan Black Hold!
Klan Mafia tertinggi sekaligus terkenal paling kuat di Italia. Sudah pasti cucu mereka akan melanjutkan apa yang sudah di turunkan. Serta Sebastian Company, adalah salah satu perusahaan terbesar di Italia. Pundi - pundi rupiah yang menjanjikan. Di tambah harga sahamnya yang terus naik.
Dan kini, kekayaan orang tua Gio dan Gio adalah pewaris terkaya Italia. Berasal dari dua pengusaha terkaya di Italia. Darah Sebastian dan Arlington yang mengalir pada dua tubuh mungil itu sudah bisa menjelaskan betapa kaya rayanya mereka berdua kelak.
🌹 Georgio Xavier Sebastian
🌹 Georgia Xavier Sebastian
Dua nama yang di pilih oleh Chania dan di setujui oleh sang ayah, Daddy Michael Xavier. Serta Gio dan Gia (baca Jio dan Jia) adalah nama yang di tentukan sebagai nama panggilan dua bayi mungil itu.
Tok tok tok!
Ketukan pintu yang pelan terdengar dari dalam ruang rawat. Jack yang tergabung di dalam sana sigap membukakan pintu.
"Selamat siang!" sapa perempuan dengan rambut pirang kecoklatan yang tergerai dengan gelombang yang indah.
Semua terpaku sesaat saat menatap siapa yang datang dengan membawa dua paper bag besar berwarna biru dan pink, serta satu buket bunga besar untuk Chania.
"Siang, Oliver!" jawab Chania tersenyum.
"Masuklah, Oliver!" sambung Madalena.
Oliver melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruang rawat paling besar sekaligus paling mewah di rumah sakit itu.
Oliver meletakkan buket bunga dan paper bag di atas meja, kemudian mendekati Chania. Ia berdiri berseberangan dengan Michael duduk.
"Selamat atas kelahiran mereka, Chania." ucap Oliver menyentuh lembut tangan Chania, dan di balas dengan sentuhan lembut oleh Chania.
__ADS_1
"Terima kasih, Oliver!" jawab Chania.
"Hemm.." tersenyum serta mengangguk sedikit.
"Aku dengar kamu akan bertunangan?"
Tersenyum malu, "Iya... Darrel meminta ku secara resmi beberapa waktu yang lalu. Aku juga tidak tau kenapa semua bisa berjalan begitu cepat."
"Aku senang mendengarnya. Sepertinya Tuan Darrel juga orang yang baik!"
"Aku hanya merasa terlalu jahat untuk mendapatkan seseorang seperti Darrel Harcourt!"
"Kenapa begitu?" sahut Madalena yang mendengar percakapan di sekitar ranjang.
"Aku sudah menjadi orang yang jahat selama ini!" Oliver menunduk. "Terutama padamu... Chania!" mendongak sedikit, menatap lesu pada Chania. Kemudian melirik sekilas pada Michael yang berwajah datar.
"Sudahlah, lupakan masa lalu!" jawab Chania menepuk pelan punggung tangan Oliver. "Kita lupakan jika kita pernah bertengkar di rumah Michael!" Chania meremas jemari Oliver dengan hangat. Ia berikan senyuman tulus yang di balas Oliver dengan senyuman getir.
Oliver kembali mengingat masa itu, masa dimana dia selalu berusaha menyingkirkan Chania. Bertengkar di pagi hari. Saling menjambak rambut, tampar menampar.
"Maafkan aku dan juga Mommy ku!"
"Kita bersaudara! tidak perlu berlebihan!" jawab Chania.
Oliver membuka mulutnya lebar. Ia tak tau cara menggendong bayi. Ia panik untuk sesaat, namun sebisa mungkin ia menerima dan menggendong dengan baik. Agar Gia merasa nyaman di lengannya.
Ini adalah untuk kali pertama Chania dan Oliver mengobrol dengan santai sejak insiden penembakan itu. Tidak ada lagi ketegangan ataupun kecanggungan lagi. Layaknya saudara, mereka saling menebar senyum bahagia atas kehadiran baby twins.
"Ternyata bayi sangat menggemaskan!" celetuk Oliver mengusap lembut pipi gembul Gia menggunakan punggung jari telunjuknya. "Siapa namanya?"
"Gia dan Gio!" jawab Sania.
"Cepatlah menikah, Oliver!" sahut Chania menggoda.
"Semoga!" tersenyum malu. "Kamu juga, Sania!" celetuk Oliver mengarah pada Sania.
"Hah! aku?" Sania menunjuk wajahnya sendiri yang kemudian bersemu merah.
"Iya!" sahut para wanita di ruangan itu.
Karena para Mafia, mereka masih menyimpan wajah datar dan cuek akan percakapan para wanita yang menurut mereka tidak terlalu penting.
"Oliver sudah di lamar Darrel! kalau aku?" ucap Sania. "Siapa yang mau menikahi ku? aku tidak punya pacar!" celetuk Sania dengan kecut. "Tidak ada yang mau dengan ku!" lanjutnya satir.
Ia menghela nafas berat, dan semakin sesat kala ingat bahwa satu - satunya pria yang mendekatinya kini entah berada dimana dengan siapa.
__ADS_1
"Aku mau jika kamu mau!"
Suara barinton yang tak asing mendadak terdengar dari balik pintu. Sontak semua menoleh pada titik yang sama.
"Reno!" seru Sania menatap tak percaya.
Hampir sebulan tak ada lagi obrolan, tiba - tiba pria itu muncul di tengah obrolan yang membuatnya sedikit terkejut.
Darah Sania membeku untuk sesaat. Tubuhnya bak terpaku dalam lantai. Tanpa tau harus bergerak dan berbuat apa. Bahkan mata pun hanya lurus pada satu titik tanpa berkedip sekalipun.
Adegan saling tatap Sania dan Reno membuat Oliver dan Chania saling melirik dengan mengulum senyum penuh arti.
Jantung Sania berdetak begitu cepat. Manakala ia melihat tubuh gagah itu mulai berjalan mendekatinya. Mengikis jarak dari 5 meter sampai hanya menyisakan 5 langkah saja.
Langkah Reno berhenti, keduanya saling menatap tanpa mengalihkan pandang sedikitpun.
"Apa kabar, Sania?" tanya Reno datar, namun tatapan yang di luncurkan kepada Sania terlihat begitu dalam dan mengunci. Hingga membuat Sania tak bisa berkutik sedikitpun.
Titik fokus Sania menghilang, saat kembali mendengar suara yang beberapa Minggu terakhir begitu ia rindukan. Namun malu untuk mengakui. Bahkan pada burung yang berkicau di pagi hari sekalipun.
"A...a..aku.." gagap Sania. "Ba..baik!" jawab Sania terbata. Rasa gugup melengsak ke dalam relung hati terdalam. Ditatap sedemikian lekat setelah mengucap kalimat yang menggetarkan jiwa di hadapan seluruh anggota keluarganya.
Reno kembali melangkah pelan namun terdengar begitu dingin. Satu langkah, dua langkah, tiga langkah, empat langkah dan menyisakan satu langkah terakhir.
Dua pasang anak manusia berdiri saling berhadapan, menatap dengan tatapan yang mampu membuat lawan jenisnya gugup. Menanti apa yang akan terjadi selanjutnya.
Beberapa saat ruangan begitu hening. Bahkan suara bayi pun tak terdengar.
Gia, bayi perempuan itu membuka mata kecilnya, namun ia tampak diam. Sedangkan Gio, bayi laki - laki itu sudah terlelap di lengan sang Eyang.
Semua pasang mata dewasa menatap satu titik. Sepasang insan yang sedang jatuh cinta.
Reno mengeluarkan sesuatu dari balik jas yang ia kenakan. Kotak kecil berbahan seperti kaca. Dapat di lihat jika benda itu berisi sebuah cincin emas putih dengan mata berlian di atasnya.
Sania semakin tertegun melihat apa yang ada di tangan Reno. Nafasnya sudah tak beraturan. Menanti apa yang akan di lakukan sang Chef andalan.
Reno memundurkan satu kakinya, menjatuhkan tubuhnya kemudian menekuk satu lutut yang kebelakang, dan menjadikan tumpuan di atas lantai. Sedang satu lututnya menekuk, dengan tetap menjadikan telapak kaki sebagai tumpuan.
Mata Sania mendelik dengan apa yang di lakukan oleh sang Chef.
"Will you merry me?"
🪴🪴🪴
Happy reading 🌹🌹🌹
__ADS_1