SANG MAFIA!

SANG MAFIA!
Chapter 47


__ADS_3

Kembali ke Italia setelah menghabiskan tiga hari di Paris membuat Chania cukup kelelahan. Karena dua hari yang tersisa di gunakan oleh mereka untuk berlibur ala manusia pada umumnya.


Tanpa embel - embel pengusaha dan mafia yang melekat pada nama Michael Xavier, mereka berkeliling kota penuh cinta itu.


Mengukir kebersamaan yang entah sampai kapan bisa mereka rasakan. Chania dengan segala pengharapan tidak pernah terlepas dari Michael.


Michael dengan segala kebingungan yang menyelimutinya. Antara siapkah menyatakan cinta? lalu bagaimana cara mengungkapkan cinta yang sesuai dengan keinginan Chania.


Ia sendiri takut jika cinta hanya akan mengecewakan keduanya. Di saat sebuah kenyataan pahit mencuat di antara mereka.


Di walk in closed, Chania mengeluarkan barang - barangnya dari koper. Dan memasukkan kembali berkas - berkas miliknya yang ia simpan di koper itu. Sampai ia kembali menemukan diary sang Mama.


"Aku selalu saja lupa membacanya!"


Chania mengambil buku diary itu, dan kembali menemukan nama sang Mama yang tertulis begitu indah. Chania melanjutkan membaca halaman kedua dari buku diary itu. Masih dengan masa yang sama, 23 tahun yang lalu.


🌺🌺🌺


Dimana dirimu, wahai yang mulia raja?


Satu minggu sudah aku di sini, di tempat yang kau janjikan.


Aku kedinginan, dan mungkin sama seperti yang di rasakan olehnya.


Buah cinta kita.


Aku masih menunggu.


Di tempat yang sunyi, sepi, dan tak ada cinta yang kau janjikan.


Aku masih mengharap kehadiranmu, yang mulia.


🌺🌺🌺


Chania tertegun mengartikan rangkaian kata yang masih ambigu itu. Sampai di titik terakhir pun, ia belum juga paham.


Namun dengan kata sendiri, buah hati, menunggu. Apa itu artinya saat itu Mamanya tengah menunggu sang Papa yang tak kunjung datang? Dan buah hati yang di maksud adalah dirinya?


"Jika itu 23 tahun lalu, apa itu artinya aku masih dalam kandungan? dan itu benar aku? dimana Mama pada masa itu?"


Gumaman Chania lirih. Kemudian ia membaca sisi sebelahnya, di halaman yang sama. Namun tanggal yang tertera berjarak dua hari. Yang artinya di tulis dua hari setelah sisi sebelahnya.


🌺🌺🌺


Tuan besar, meski tanpamu aku merawatnya dengan baik.


Kini dia berusia dua puluh minggu.


Namun aku belum tau apa dia laki - laki atau perempuan.


Atau bahkan dua - dua nya.


Yang jelas dokter bilang dia ada dua.

__ADS_1


Itu artinya kita akan punya anak kembar.


Aku akan merawat mereka dengan baik.


Aku akan menyayangi mereka, meski kau tak akan pernah datang.


🌺🌺🌺


"Kembar?" pekik Chania.


"Apa aku punya kembaran? dimana? kenapa Papa dan Mama tidak pernah menceritakannya?"


Jantung Chania berdetak begitu kencang mendapati kenyataan baru. Yang mungkin saja sebuah rahasia besar yang di simpan oleh orang tuanya.


Chania menjatuhkan diary itu, mendadak kepalanya terasa pusing. Memikirkan sesuatu yang benar - benar di luar dugaannya.


"Chania?"


Pintu terbuka bersamaan dengan suara pria yang tak asing bagi Chania. Cepat - cepat ia memasukkan diary sang Mama ke dalam koper. Ia akan mengatur waktu untuk bisa membaca seluruh isi diary.


' Aku harus menemukan keberadaan saudara kembar ku jika memang dia benar ada! '


Ucap Chania dalam hati.


"Belum selesai?" suara Michael terdengar semakin dekat.


"Sudah kok!" jawab Chania mendorong koper ke tempatnya. "Mau makan malam sekarang?"


"Hem" jawab Michael.


"Kenapa?" tanya Michael datar.


Chania bergeming, gadis itu masih dalam lamunan.


"Baby?" bisik Michael lirih tepat di telinga Chania.


"Ah!" Chania tersentak kaget. "Apa?"


Michael menghela nafas pelan, "Kenapa makan tidak seperti biasanya?" tanya Michael lebih detail. "Apa makanannya tidak enak?"


"Oh!" Chania kebingungan. "Enak kok! aku hanya belum terlalu lapar!" jawab Chania mencari alasan.


Michael mengangguk, namun demikian tak lantas percaya begitu saja dengan jawaban Chania. Sebagai seorang Mafia, Michael juga ahli dalam membaca bahasa tubuh.


# # # # # #


Matahari pagi merengsak masuk ke sela - sela gorden yang tidak tertutup sempurna. Membuat sepasang mata tegas terbuka secara perlahan.


Matanya terbuka, dan yang pertama kali di rasakan oleh tubuhnya adalah kehangatan. Kulit putihnya yang bersentuhan dengan kulit mulus nan putih. Dan sedikit lengket di rasakan di beberapa titik. Akibat sisa - sisa percintaan semalam.


Ia lirik sedikit kebawah, helaian rambut - rambut panjang pirang kecoklatan berhamburan di sekitar wajah dan dada bidangnya.


Tangannya terangkat, merapikan rambut yang berhamburan. Hingga sang pemilik rambut menggeliat manja di dalam dekapannya. Dan dapat Michael rasakan jika tubuh seksi itu semakin masuk ke dalam dekapannya hingga menempel sempurna. Wajah cantik sempurna menyusup ke lehernya. Michael Xavier tersenyum tipis.

__ADS_1


Di sisi lain bagian tubuh lainnya bereaksi lebih kuat akibat ulah Chania yang mungkin saja tidak di sadari gadis itu.


' Seindah inikah kebersamaan? '


"Baby?" panggil Michael.


"Baby?" ulang Michael dengan mengusap pipinya.


"Hm?" jawab Chania malas.


"Wake up"


"Emmh!" Chania justru menggeliat dengan mendekap tubuh Michael. Bahkan dadanya bergesekan dengan dada bidang Michael yang sama - sama polos.


"Bangun atau kamu akan menyesal?" bisik Chania.


"Ngantuk, Honey!"


Rengek Chania manja dan tanpa sengaja mengangkat satu kaki dan di letakkan di atas paha Michael. Samar - samar paha Chania menyentuh bagian senjatanya yang sudah menegang dari tadi. Selain menegang karena baru bangun tidur di pagi hari, gerakan Chania membuatnya semakin menegang tegap.


"Baby, please!"


"Aaah!" rengek Chania mengunci tubuh Michael.


"Baiklah, kamu boleh bilang menyesal setelah aku puas!" hardik Michael kembali menjalankan aksinya.


"Ah!" sontak Chania kaget saat tiba - tiba Michael menindih tubuhnya.


Pada akhirnya kegiatan semalam kembali terulang. Hentakan demi hentakan dari pinggul Michael membuat Chania mendesah, melenguh dan merancau kemana - mana. Karena senjata Michael terasa begitu keras dan penuh di dalam tubuh Chania.


***


"Honey, hari ini aku ijin menemui dokter Verra ya?" ucap Chania saat mereka meninggalkan rumah untuk berangkat ke kantor.


"Butuh aku temani?" tanya Michael masih asyik dengan ponselnya.


"Nggak usah! kamu di kantor aja, pasti kerjaan numpuk! Biar aku pergi sendiri naik taksi nanti! sepertinya kondisi sudah aman, kan?" jawab Chania mengingat penyerangan waktu itu.


"Biar di antar Dimitri!" jawab Michael sedikit tegas dan penekanan sembari menatap sepasang manik mata Chania.


"Kenapa? bukankah waktu itu kamu bilang, pimpinan musuh kamu waktu itu sudah mati?"


Michael menghela nafas, ia belum sanggup untuk mengatakan cerita yang sesungguhnya.


"Aku hanya khawatir, dia memiliki sekutu, dan sekutunya itu menuntut balas atas kekalahan Albert Atherna." kilah Michael. "Apalagi Atherna masih berdiri, bisa saja ayahnya akan menuntut balas padaku. Dan semua orang tau, kau sekretaris pribadiku, bisa saja kamu turut terkena imbasnya."


Chania melirik lengan Michael yang belum sembuh sempurna, yang kini tertutup jas mahal. Pria itu sungguh tak pernah mengeluhkan lengannya itu sakit ataupun perih.


"Baiklah, aku akan pergi bersama Dimitri."


"Hemm!"


🪴🪴🪴

__ADS_1


Happy reading 🌹🌹🌹


__ADS_2