
Terlepas dari kisah Reno dan Sania yang benar menjalin kedekatan selama satu bulan setelah pertemuan pertama. Namun karena kondisi yang mengharuskan Sania tidak boleh keluar rumah sebelum pertemuan dengan Deborah berhasil, membuat Reno lah yang selalu datang ke Roma setiap hari liburnya.
Guna mendekati gadis cantik, yang ia nobatkan sebagai pemilik hati.
Satu bulan menjalin kedekatan, tak membuat keduanya kini mendapat kejelasan status. Mereka hanya berkeliling rumah, bersantai berdua bahkan masak berdua, tapi belum juga berstatus sebagai sepasang kekasih.
Sania yang masih ragu dengan perasaannya, tak membuat Reno untuk memaksa sang wanita mencintainya. Ia tau, jika selama ini Sania berada dalam keterbatasan karena sikap Margareth yang semena - mena.
Apalagi satu kalimat yang menyatakan cinta tak dapat di paksakan, membuat Reno lebih memilih untuk membiarkan semua mengalir apa adanya.
***
Dan sekarang tibalah waktunya keluarga Frederick dan Deborah benar - benar bertemu. Beberapa kali gagal, entah karena mendapat penolakan atau karena Deborah yang menghindar jauh hingga keluar negeri.
Michael terus menggenggam tangan Chania yang kehamilannya kini sudah menginjak delapan bulan. Melangkah bersama Frederick dan Madalena juga pengacara kepercayaan Frederick di tambah beberapa bodyguard utama memasuki rumah megah peninggalan Smith Arlington.
Di ruang khusus, dimana banyak kursi - kursi mewah membentuk oval dengan beberapa meja di tengah. Ornamen - ornamen khas Italia terlihat sangat kental di ruangan itu. Ruangan yang di desain sendiri oleh mendiang Smith.
Terlihat Deborah, Royce, dan juga Oliver duduk menunggu mereka.
Tak lupa pengacara kepercayaan Smith Arlington, Roy dan asisten nya juga ada di sana. Di salah satu kursi panjang yang berada di sisi kanan Deborah.
"Apa mau mu?" tanya Deborah menahan amarah yang siap meledak. Apalagi saat melihat perut Chania yang sudah membesar.
Para tamu masih berdiri, belum ada tanda - tanda akan di persilahkan duduk oleh Deborah.
"Deborah..." panggil Madalena.
"Jangan menyebut namaku!" hentak Deborah menatap benci wanita yang ternyata sudah kembali kesadaran dan ingatannya.
"Kenapa kamu tidak merubah hidupmu menjadi lebih baik?" tanya Madalena berusaha bersikap baik.
Tersenyum sinis, "Apa urusanmu? kau bukan lagi siapa - siapa bagiku! Persahabatan kita sudah berakhir sejak aku menembak Smith Arlington!" ucap Deborah tanpa perasaan bersalah. "Dan selama ini aku hanya berpura - pura baik padamu! Dan kau tau.... bisa di bilang, 50% penyebab ketidak warasan mu adalah karena aku!"
"Deborah!" teriak Madalena tak terima mendapati kenyataan yang di ucapkan Deborah. "Kamu gila!" seru Madalena. Dadanya naik turun menahan sesak.
"Hahaha! itu kenyataan Madalena! Dan kau ku biarkan hidup hanya agar aku bisa mengancam putra dan suamimu!" ucap Deborah tanpa rasa berdosa. "Tapi sial! ternyata kau sembuh tanpa sepengetahuanku!" dengkus Deborah berapi - api. "Kau sangat pintar bersandiwara rupanya! Sampai mata - mata ku benar - benar terkecoh oleh kalian!"
Madalena hanya menggelengkan kepalanya. Setetes air mata menetes dari mata lentik. Ia memang bertekad untuk menghadapi Deborah. Melebur dan melupakan persahabatan yang pernah terjalin. Menerima kenyataan apapun yang akan ia dapatkan, ia sudah menyiapkan diri.
__ADS_1
Namun nyatanya saat mendengar semua itu secara langsung. Entah kenapa, hatinya mendadak hancur.
Sedangkan Deborah sendiri justru tersenyum sinis melihat Madalena sakit hati.
Oliver, gadis itu hanya menunduk. Tanpa berani melihat siapapun yang hadir. Dan tanpa di rasa, perasaan malu akan sikap sang Mama mulai menjalar di hatinya.
Ia melirik sekilas ke arah Chania menggunakan ekor matanya. Terlihat Chania yang berdiri dengan mengusap perut besarnya. Terlihat jika ibu hamil itu tak akan bisa berdiri terlalu lama. Tangan lainnya tampak memegang erat lengan Michael yang menatap tajam ke arah Deborah.
Entahlah, tiba - tiba saja rasa kasian pada Chania timbul di hatinya. Ia mendongakkan kepalanya, menatap Frederick beserta seluruh rombongannya.
"Uncle Frederick, silahkan duduk!" ucap Oliver mendahului kehendak sang Mama.
"Untuk apa kau menyuruh mereka duduk!" hentak Deborah!"
"Mom!" sentak Oliver. Perasaan takut pada sang Mama sepertinya mulai luntur sedikit demi sedikit.
"Beraninya kamu!" desis Deborah lirih menatap tajam putri pertamanya.
Oliver tak peduli, ia mendekati justru Madalena, dan menyentuh lengan wanita yang sejak kecil ia anggap sebagai ibu kedua itu. Mengajak Madalena untuk duduk di sofa panjang.
"Duduklah, Michael!" Oliver memberi isyarat pada Michael agar mengajak Chania duduk.
Meskipun saat ini terlihat wajah kesal Deborah begitu mendominasi.
"Baiklah!" ucap Deborah mengawali urusan. "Sedari kemarin kau hanya bilang ada hal penting yang harus kita bicarakan! Sekarang bicaralah!" perintah Deborah pada Roy.
"Saya rasa, ini adalah saat tepat untuk pembagian warisan, Nyonya!"
Tersenyum sinis, "Berapa kali harus aku katakan. Akulah istri sah Smith Arlington. Oliver dan Selena adalah putri sah nya. Untuk apa masih harus pembagian harta berdasarkan wasiat? Kalau pun wanita itu berhak, dia hanya anak haram. Tidak berhak mendapatkan banyak bagian!" melirik tajam Chania. "Dan untuk apa pula kau sampai medatangkan mereka!" sentak Oliver menunjuk Frederick dan Madalena.
"Maafkan saya, Nyonya! bukankah saya pernah mengatakan, jika pembagian harta, dan pembacaan wasiat akan berlangsung jika seluruh putri Arlington hadir?"
"Ya, aku tau itu!" jawab enteng Deborah. "Begini saja!" ucap Deborah mengambil alih keputusan sebelum surat wasiat di bacakan. "Chania, kau sudah menjadi istri konglomerat, kau tak membutuhkan lagi harta warisan, bukan? sebaiknya kau tanda tangan untuk menyerahkan bagian mu itu untuk Oliver!"
"Tidak bisa seperti itu, Nyonya!" sahut Roy.
"Apa maksudmu!"
"Jika ada pengalihan harta bagian putri Kimberly pada orang lain, maka hanya bisa di lakukan jika kedua putri Kimberly hadir."
__ADS_1
"Hahaha!" Deborah tertawa lantang. "Kalian semua bahkan tau, jika salah satu dari mereka tidak pernah di temukan!" ucap Deborah percaya diri. "Jadi untuk apa harus tanda tangan keduanya? Mau meminta kemana kamu? ke kuburannya?" sinis Deborah.
Semua tampak menghela nafas. Sepertinya ketamakan Deborah benar - benar tidak ada lawan.
Bahkan Oliver sendiri sampai harus kembali menunduk karena merasa malu. Meskipun entah sejak kapan gadis itu memiliki rasa malu.
"Memangnya kamu yakin dia sudah mati?" tanya Frederick dingin, membuat Deborah sedikit ragu.
Namun kesombongannya membuatnya kembali yakin, jika saudara kembar Chania sudah meninggal belasan tahun yang lalu.
"Kau lupa siapa aku, Frederick?" tanya sinis Deborah.
"Aku tidak pernah lupa siapa kau, Deborah!" jawab Frederick. "Tapi aku rasa kau lupa, jika banyak pengkhianat di antata kita."
"Apa maksudmu?" tanya Deborah santai. Namun dalam dirinya saat in' sedang di landa kepanikan. Lantaran nada bicara Frederick yang membuat keyakinannya mulai tidak baik baik - baik saja.
"Sania Arlington, bergabunglah dengan kami!" ucap Frederick lantang.
Deborah, Oliver dan Royce tampak bingung dengan ucapan Frederick. Ketiga menoleh ke arah pintu berukuran 2 meter yang tertutup.
Nafas tertahan, lidah tercekat. Tak ada yang mampu berucap atau menanyakan maksud dari ucapan Frederick barusan.
Tiga pasang mata semakin membulat saat pintu mulai terbuka. Satu daun ke arah kiri, satu daun lagi ke arah kanan. Satu senti meter yang berjalan, membuat pintu semakin terbuka lebar. Dan...
Seorang gadis berdiri tepat di tengah - tengah pintu. Rambut pirang kecoklatan dan tubuh yang sama persis dengan Chania sebelum hamil, membuat tiga masang mata mendelik bersamaan hingga reflek berdiri dari duduknya.
Bibir terbuka membentuk huruf O. Dada kembang kempis menahan sesak. Hancur sudah kesombongan Deborah. Ada pengkhianat di dalam kekuasaannya. Itulah yang ia pikirkan. Ia menggelengkan
Langkah kaki jenjang mulai memasuki ruangan secara perlahan. Selangkah demi selangkah mengikis angan - angan indah yang di bangun untuk masa tua seorang Deborah.
"Selamat malam, Nyonya!" sapa Sania dengan senyuman hangat.
Tak ada jawaban dari pihak Deborah.
Wanita itu terpaku. Seolah tengah menebak apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Bacakan surat wasiat itu, Roy!" perintah Frederick melirik Roy yang sudah siap dengan berkas penting peninggalan Smith Arlington.
🪴🪴🪴
__ADS_1
Happy reading 🌹🌹🌹