SANG MAFIA!

SANG MAFIA!
Chapter 183


__ADS_3

Seorang diri di dalam Bugatti Divo miliknya, Jio sudah di kepung oleh pasukan musuh. Di belakang ada Jeep dengan tujuh orang penumpang yang sudah siap turun dengan persenjataan lengkap.


Sedang di depan sana, ada beberapa orang keluar dari balik semak - semak hutan dan berjalan mendekat ke arahnya dengan memasang wajah seram.


Hanya dengan sorot mata mereka saja, Jio tau apa yang mereka inginkan saat ini. Tak lain dna tak bukan adalah kematian Tuan Muda Xavier, yaitu dirinya sendiri.


Dalam menghadapi musuh, Jio selalu terlihat tenang. Tatapan mata yang dingin, emosi yang selalu terlihat stabil. Meski di dalam dada emosi sudah bergemuruh, darah sudah mendidih. Apalagi jika itu menyangkut... Virginia.


Membuka pintu dengan gaya cool nya, Jio sudah bersiap dengan pedang pusaka di tangan kirinya. Dan berbagai senjata lainnya yang tersembunyi di dalam jaketnya.


Menatap lurus ke depan dengan tajam. Tatapan pembunuh atau sering di sebut sebagai tatapan iblis milik sang Ayah, ternyata benar - benar bisa menurun kepadanya di saat seperti ini.


"Siapa kalian?" desis Jio saat rombongan musuh dari dalam hutan berhenti dengan menyisakan jarak 10 meter saja dari Jio.


"Kami?" tanya pemimpin pasukan itu.


"Kamu mau tau siapa kami?" sahut suara lelaki lain dari belakang Jio. Mereka pasukan yang turun dari Jeep.


"Kami adalah pasukan yang haus darah para Tuan Muda sepertimu... Hahaha!" gelak nya, kemudian di ikuti anggota di belakangnya.


Jio melirik sinis ke arah belakang. Menatap tajam lelaki yang menjawab pertanyaan nya.


"Baiklah, aku tau siapa yang harus mati duluan di antara kalian!" desis Jio tersenyum dingin.


"Lawan kami, anak muda!" tantang pasukan dari hutan. "Kami dengar putra mahkota Black Hold adalah murid terbaik di salah satu perguruan!" ucapnya terkekeh mengejek.


Jio menarik pedang dari sarungnya. Melempar sarung pedangnya ke dalam mobil. Kemudian ia ambil pisau kecil dari balik jaketnya.


"Bersiaplah untuk merasakan tajam pisau ku!" desis Jio.


Ia berlari cepat ke arah hutan untuk mendapatkan lokasi terbaik untuk berperang. Sontak semua musuh mengikuti langkah Jio yang sangat cepat. Mereka tentu tidak mau kehilangan jejak sang putra Mafia.


Hingga Jio berhenti di tempat yang sesuai dengan keinginannya. Ia memutar badan dengan cepat, dan mengambil kuda - kuda dan meletakkan pedang di depan tubuhnya, untuk melindungi diri atau melakukan perlawan dadakan jika di butuhkan.


Kurang dari 20 orang lelaki berbadan besar membentuk lingkaran untuk mengelilingi Jio yang hanya seorang diri. Ada berbagai macam senjata di tangan mereka. Pedang, golok, pisau dan beberapa membawa busur panah di tangan mereka, bersiap untuk memberi serangan dengan melesakkan anak panah.


Meski begitu, tak ada rasa takut sedikitpun pada diri Jio. Ia tetap tenang, yakin dan siap bergerak senyap. Anak panah bukanlah ancaman mengerikan untuknya.


"Hiiaaakk!" teriak seorang anak buah musuh berlari ke arah Jio dengan bersenjatakan dua golok besar. Mengarahkan golok ke kanan dan ke kiri. Memberikan ancaman untuk Jio. Dia adalah musuh yang menjadi target pertama Jio.


Jio tersenyum sinis, "bagus!" desisnya.

__ADS_1


Ia pun bersiap menerima sabetan golok jika memang akan sampai padanya. Tangan kanan berayun ke kiri dan kanan dengan sangat cepat. Dan saat musuh menghunus golok, ia melompat tinggi, membuat lawan gagal mengenai tubuhnya.


Di saat yang bersamaan, segera ia sabetkan ujung pedang tepat di leher lawan. Darah merah keluar dari sana. Mengucur deras dengan di ikuti teriakan kesakitan yang tertahan.


Musuh pertama telah mati. Apa yang di inginkan Jio sudah terlaksana. Kini tinggal musuh susulan.


Satu persatu atau bahkan dua dan tiga sekaligus bergantian menghadapi Jio. Dan kita semua tau seperti apa kekuatan seorang Georgio Xavier.


Tidak sampai 10 menit, 12 orang musuh tewas di tangannya. Bahkan beberapa di antara sebenarnya memanah jarak jauh. Tapi dengan mudah Jio menghalau panah itu menggunakan pedangnya, hingga mengenai sang pemanah sendiri.


Sangat presisi dan sesuai prediksinya. Bisa di bilang panah mereka sebagai senjata makan tuan bagi mereka sendiri.


Lebih dari separuh musuh sudah tergeletak tak bernyawa. Menyisakan beberapa saja yang tampak belum mau menyerah begitu saja. Tak peduli, walau jelas di depan mata, teman mereka tewas dengan sangat mudah.


Sisanya terlihat memiliki badan lebih besar dari mereka yang sudah tewas. Dari gesturnya sejak tadi terlihat jika mereka lebih di hormati dari pada yang tewas duluan.


Dua orang maju dengan membawa pedang. Jio dengan sigap melawan keduanya. Dua pedang melawan satu pedang. Tidak seimbang memang. Tapi nyatanya Jio bisa dengan mudah menghindar.


Namun saat Jio musuh berpencar, Jio mengambil ancang - ancang. Membawa satu pedang sangat tidak menguntungkan untuknya saat ini. Sehingga ketika kedua musuh bergerak bersamaan, musuh sebelah kiri berhasil menggores sedikit leher Jio.


Jika sebelah kanan Jio berhasil membuat lawan kelabakan, karena pedang mereka nyaris sama. Maka tidak dengan tangan kiri yang hanya berbekal pisau kecil.


Namun bersamaan dengan lehernya yang tergores, Jio juga berhasil melempar pisau kecilnya, dan mendarat di bagian leher. Tepat pada denyut nadi musuh. Sehingga musuh sebelah kiri justru lebih cepat tewas.


Reflek, semua musuh yang tersisa bergerak mengambil ancang - ancang. Memutar badan berulang kali. Khawatir jika mereka menjadi sasaran mendadak.


Dan benar saja! tanpa di sadari siapapun, Jio sudah berada di belakang seseorang yang berdiri paling belakang, dan menancapkan pisau di leher nya.


"Aaakkh!" teriaknya tertahan. Bahkan hampir tak mengeluarkan bunyi sama sekali.


Semua menoleh ke belakang, saat mendengar suara temannya. Sontak semua semakin mendelik. Sama sekali tak menyangka yang lawan mereka bisa menghilang sedemikian cepat.


Belum selesai keterkejutan mereka, suara teriakan kesakitan kembali terdengar. Kali ini musuh yang melawan Jio menggunakan pedang tadi.


Empat orang yang tersisa semakin mendelik dengan apa yang mereka lihat. Segera mereka membentuk lingkaran dengan menabrakkan punggung satu sama lain.


Namun semua fokus menatap ke arah depan, mencari - cari keberadaan Jio, sama sekali tak ada yang menyadari jika Jio bergabung bersama mereka. Berada di antara empat orang lainnya.


Yang dikira musuh hanya empat orang, sebenarnya adalah lima orang yang saling memunggungi. Dan Jio menjadi yang ke lima.


Tersenyum sinis, Jio berkata lirih ...

__ADS_1


"Apa yang kalian cari?"


Sontak empat orang berhamburan menjauh seperti mendengar suara hantu di belakang mereka. Kaget bukan kepalang saat mendengar suara yang tak asing, namun bukan bagian dari pasukan mereka.


"F*ck!" umpat beberapa dari mereka yang masih bernyawa.


"Siapa yang mau mati duluan?" tanya Jio dingin. Sangat dingin, bagaikan suhu udara di kutub utara.


"Kau yang mau mati duluan!" jawab seseorang di antara empat musuh. "Semua! MAJUUUU!" teriaknya kemudian.


Empat orang maju bersamaan. Namun Jio bukanlah sembarang Tuan Muda. Hanya dengan lirikan dan senyuman sinis, dan satu gerakan memutar. Semua musuh yang tersisa tewas dengan perut yang robek hingga organ bagian dalam nyaris keluar.


Jio menarik nafas panjang untuk mengakhiri aksinya siang itu. Matahari telah melewati waktu angka 12 siang. Ia tak mau kehilangan jejak Virginia.


Segera ia kembali ke jalanan terjal, ia mundurkan terlebih dahulu Jeep musuh. Untuk kemudian ia bisa membawa mobilnya berjalan mundur dan kembali ke jalan utama.


Ia singkirkan palang pintu yang hanya sebuah aksi sabotase. Bukan penutupan jalan resmi. Kembali ia injak pedal gas mengikuti arah sinyal ponsel Virginia.


***


Bugatti Divo memasuki area pabrik yang terlihat sangat sepi. Mobil melaju jauh lebih pelan dari sebelumnya. Melihat sekita. Seolah tak ada satupun penghuni di sana.


Namun saat mobil melewati gedung kosong, ada beberapa mobil pribadi dan Jeep di sana. Saat ia berhenti, barulah beberapa orang keluar dari pintu besar yang abru terbuka dengan membawa persenjataan lengkap.


Sekitar 10 orang membentuk dua barisan. Menyisakan ruangan di bagian tengah untuk berjalan, entah siapa. Yang jelas orang itu belum muncul.


Jio kembali menyiapkan persenjataan yang ia bawa di dalam mobilnya. Kali ini ia menyalakan alarm khusus di mobilnya.


Meski baju dan rambut terlihat berantakan, ia tetap bisa keluar dari mobil dengan gagah dan tampan.


"Dimana, Virginia?" tanya Jio pada semua pasukan musuh yang berbaris rapi.


Namun semua hanya tersenyum sinis. Seolah mengejek Jio, yang ...


...🪴Happy Reading 🪴...


Hai Kakak - Kakak pembaca setia SANG MAFIA! Spesial untuk season 2 atau bisa di sebut sebagai generasi kedua SANG MAFIA! Author receh ini udah up Visual Daddy Michael Xavier Sebastian, Mommy Chania Renata dan juga Georgio Xavier Sebastian loh!


Chek di ig : @lovallena (Lena Maria)


Tokoh lainnya akan segera menyusul..😘

__ADS_1


See you there 🤩


Salam, Lovallena 😉


__ADS_2