SANG MAFIA!

SANG MAFIA!
Chapter 81


__ADS_3

Merasa aneh dengan kalimat Michael yang melewatkan ulang tahunnya.


' Memangnya dia tau, kapan aku ulang tahun? '


Chania masih bertanya - tanya dalam hati. Rasanya untuk saat ini ia masih enggan bicara dengan Michael secara langsung untuk hal pribadi macam itu.


Menghapus air matanya, berusaha untuk menguasai diri. Agar tidak semudah itu terlena dengan kalimat - kalimat Michael. Chania berusaha melepaskan diri dari pelukan suaminya.


"Pergilah, Tuan. Tempat ini terlalu kumuh untuk orang - orang seperti anda." ucap Chania mendorong tubuh Michael sebisanya.


Michael membuang nafas berat, ia lepaskan dekapan. Rasanya ia tak sanggup membantah sepatah katapun dari Chania. Namun tak ada niat sedikitpun untuk meninggalkan rumah itu.


"Ikutlah aku pulang, Baby..."


"Disini rumah saya, Tuan." jawab Chania berjalan membelakangi Michael. Mendekati sebuah kursi kecil yang hanya ada satu saja. Karena dengan perut yang membuncit dia kesulitan untuk duduk di lantai.


Michael membalikkan badan, melihat sendu pada Chania yang seolah enggan menatapnya. Ia paham, rasa kecewa masih menguasai istrinya.


Pandangan Michael menyisir ruang tamu yang bahkan jauh lebih besar kamar mandi di kamarnya.


Mendekati tirai, membuka ruangan di balik tirai tanpa pintu. Memicingkan matanya, menahan sesak di dada. Melihat kamar yang sangat sempit, usang, namun terlihat rapi dan bersih. Beralih pada pintu kecil yang ternyata kamar mandi sempit.


Rasa sesak semakin menggerogoti hatinya. Rasanya tak sanggup membayangkan istrinya tinggal di rumah seperti itu selama empat bulan ini.


Membayangkan bagaimana jika Chania sedang muntah - muntah. Kemudian tidur dan sebagainya di lakukan seorang diri.


"Ayolah Chania, istriku... kita pergi dari sini. Pulang bersamaku." ucap Michael memohon. "Tempat ini lebih dari sekedar rumah kurcaci."


"Saya lebih nyaman tinggal di tempat ini, Tuan. Saya lebih nyaman menjadi Carina dari pada Chania." jawab Chania tanpa menoleh Michael.


Michael berjongkok tepat di depan Chania. Meraih dan menggenggam tangan Chania. Menciumi punggung tangan dengan tarikan nafas yang dalam. Mendongakkan kepala menatap penuh harap pada sosok wanita yang kini menjadi penguasa di hatinya.


"Tempat ini tidak layak untuk kamu tempati, Baby..." lirih Michael. "Percayalah padaku.. aku tidak seburuk yang kamu pikirkan."


Mendadak kepala Chania terasa pusing, perasaan yang bercampur aduk, membuatnya menjadi bingung. Ia pijit pelipis kepalanya dengan mata yang terpejam.


"Pergilah, Tuan. Saya harus istirahat." ucap Chania berdiri dari duduknya dengan sedikit kepayahan.


"Kamu kenapa?" panik Michael. "Pusing?"

__ADS_1


"Tidak apa!" jawab Chani ketus berjalan ke arah kamarnya. "Hanya lelah."


"Kita ke rumah sakit!"


Chania menggeleng, "Saya hanya butuh istirahat. Kehadiran Tuan membuat kepala saya pusing."


Michael mengikuti langkah Chania. Hendak memaksa istrinya untuk pergi bersamanya.


"Jangan sentuh saya!" potong Chania. "Saya akan membenci anda seumur hidup jika anda melanggar permintaan saya!" ancam Chania, membuat Michael yang berdiri di tengah - tengah pintu membeku.


"Termasuk jik anda menyuruh orang lain untuk menyentuh saya." lanjutnya, karena berfikir bisa saja Michael meminta orang lain untuk mengangkat tubuhnya dan membawanya secara paksa saat ia tengah terlelap.


Menghela nafas menyerah. Karena memang benar, pikiran itu baru saja terbesit dalam benaknya.


Chania membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur, dan langsung memejamkan matanya. Ia tak berani meminum sembarang obat sakit kepala. Sehingga menurutnya tidur akan menjadi pilihan tepat untuk mengurangi pusing di kepalanya.


Beberapa saat berlalu, bukannya nyenyak, Chania justru merasa tidak nyaman. Selain nalurinya berkata jika Michael terus menatapnya, ia juga merasa tidak nyaman dengan perutnya. Seperti biasanya, kesulitan mencari posisi.


Melihat Chania yang tidur miring kanan miring kiri, berulang kali tanpa bisa menemukan posisi tidur yang nyaman membuat Michael frustasi. Ia sisir rambutnya kasar. Melampiaskan rasa kesal dan sesak di dada.


Dua jam berlalu, matahari mulai condong ke barat. Langit jingga mulai bermunculan di beberapa bagian.


"Anda belum pergi?" suara Chania mengagetkan Michael yang terlihat uring - uringan sendiri.


"Hah!" pekik Michael menoleh Chania yang membuka mata.


"Rumah ini terasa sangat pengap untuk berebut udara, Tuan."


Michael melangkahkan kaki mendekati Chania. Masuk ke dalam kamar sempit yang plafonnya bisa di sentuh oleh Michael jika ia mengangkat tangan dan berjinjit.


Tanpa izin Michael duduk miring di tepi ranjang. Menghadap Chania yang masih menunggu jawaban darinya. Ia sentuh tangan Chania yang mendekap perut.


"Aku tidak akan meninggalkan kamu di sini, Baby..." ucap Michael. "Kamu harus tau, Deborah mencari kita. Selama empat bulan ini aku meninggalkan kantor hampir setiap hari. Dan itu membuat Deborah mencari mu." ucap Michael. "Jika dia menemukan kamu tanpa aku, kamu akan dengan mudah di bawanya."


Chania terdiam. Sedikit tertegun dan takut akan apa yang ia dengar. Namun ekspresi itu di samarkan demi mengelabui Michael. Ia hanya terus fokus pada Michael yang mencoba memberi penjelasan.


"Semenjak aku memberontak, dia berniat membawa paksa dirimu." lanjut Michael. "Kamu tau, Papa memintaku untuk menemukan kamu dan saudara kembar mu. Karena Papa bilang, jika kalian bersatu, Deborah akan kalah."


"Apa maksud Tuan besar Frederick?"

__ADS_1


"Aku juga tidak tau, Baby... tapi percayalah padaku. Aku berjanji, tidak akan ada satu bagian pun dari tubuhmu yang bisa ia ambil!"


Penjelasan demi penjelasan di lontarkan oleh Michael pada Chania. Sampai pada suatu titik, dimana Chania terlihat pasrah. Karena jika di ambil kesimpulan, apa yang jelaskan Michael ada benarnya.


Dalam benaknya, siapa yang akan melindungi dua bayinya jika bukan ayah kandungnya?


Mengubur rasa kecewa, akhirnya Chania menyerah dalam hati. Ia bahkan kini membiarkan Michael yang mulai mengajak bicara dua bayi kembarnya di dalam perut.


"Dia laki - laki atau perempuan?" tanya Michael menatap lekat istrinya. Pria itu tengah berjongkok di lantai menghadap perut sang istri, sedang Chania memiringkan tubuhnya.


Chania mengangkat kedua pundaknya. Meskipun sebenarnya ia sudah tau jenis kelamin keduanya. Meski begitu ia pun tak memberi tahu Michael, jika di rahimnya ada dua benihnya yang sedang berkembang.


Getaran cinta kembali mengusik relung hatinya. Manakala mendapati seorang Michael Xavier yang dulu menolak memiliki anak, nyatanya terlihat sangat mengagumi perut buncitnya. Gurat wajahnya menunjukkan dirinya sangat bahagia.


Menggigit bibir bawah bagian dalam guna menahan agar tidak sampai terlihat tersenyum ataupun bahagia. Chania tak sanggup membohongi dirinya jika sampai detik ini cinta untuk Michael masih dan akan selalu ada.


"Kapan dia lahir?" tanya Michael lagi menoleh sang istri setelah mendarat kecupan di perut buncit istrinya.


"Mungkin tidak sampai tiga bulan lagi, Tuan." jawab Chania.


Senyum di bibir kembali meredup. Mendengar Chania yang masih saja memanggilnya Tuan.


"Berhentilah memanggilku Tuan. Jadilah Chania yang aku kenal sebelumnya." ucap Michael menatap lekat. "Aku merindukan panggilan Honey darimu, aku merindukan dirimu yang manja. Dirimu yang selalu merajuk tidak jelas sampai aku bingung berbuat apa."


Cerita Michael mengingat momen beberapa bulan lalu. Sebelum drama Chania menghilang.


Michael membelai rambut Chania yang menjuntai di sela - sela kepalanya. Satu tangannya meraih tangan kanan Chania dan mendaratkan kecupan untuk kesekian kalinya.


"Jadilah Chania-ku, yang mencintai segala wujud ku saat ini."


Sepasang mata Chania kembali memancarkan cinta yang sempat ia pendam. Namun bibirnya terasa kilu. Tak sanggup mengatakan sepatah katapun. Hingga air mata Chania menetes tanpa suara isakan.


"Don't cry, Baby..." lirih Michael mengusap air mata Chania. "Kita pergi sekarang?" tawar Michael menatap dalam sepasang mata lentik Chania.


....


🪴🪴🪴


Happy reading 🌹🌹🌹

__ADS_1


Ikut pergi atau nggak nih? 😉


__ADS_2