
Menyimpan rindu sekian tahun, membuat getaran tersendiri saat dua anak muda kembali bertemu. Antara ragu dan malu mengakui perasaan, mungkin akan menjadi raja dan ratu di dalam diri mereka masing - masing.
Apalagi julukan sahabat yang mereka sematkan sejak mereka kecil dulu. Pasti cukup sulit untuk di runtuhkan jika tidak salah satu yang membuka tabir.
Bertanya dengan dada bergemuruh, apakah Virginia memiliki kekasih atau sejenisnya. Jika sampai Virginia memiliki kekasih, mungkin ia akan memilih untuk melompat dari Bugatti Divo miliknya. Atau mungkin menekan pedal gas dalam - dalam untuk membuat hidupnya serasa melayang.
Tapi pikiran jernih serta IQ tinggi nya, masih menjaga kewarasannya. Menyadari jika diri adalah tombak utama keselamatan keluarganya kelak. Penerus utama Klan Black Hold di generasi selanjutnya. Menggantikan sang Ayah sebagai pemimpin di masa depan.
' Dunia tidak sesempit itu, Jio... ' lirih Jio dalam hati.
Virginia menoleh di sisi kirinya, menatap lembut, dalam dan penuh rindu pada wajah tampan pemuda itu.
Satu - satunya laki - laki yang membuatnya pernah berangkat ke pesta dansa seorang diri... Dan hanya duduk di kursi tanpa seorang teman pun. Karena semua jelas berpasang - pasangan.
"Aku... Tidak memiliki kekasih..." jawab Virginia lirih. Tersenyum pilu dengan sedikit menunduk. Gadis manis itu memang menjaga hati khusus untuk Jio. Meski pun ia sempat ragu, jika Jio juga menginginkannya lebih dari sahabat.
Jio memejamkan matanya dalam untuk sesaat. Merasa lega dengan jawaban Virginia yang sesuai harapan. Karena mata tak akan sanggup jika melihat gadis itu bersama pemuda lain. Atau bahkan hati akan ikut runtuh jika sampai hati gadis itu terisi oleh pemuda lain.
Satu hal yang membuatnya takut adalah... Jika seandainya kekasih Virginia bukanlah lelaki baik - baik.
"Kenapa kamu tidak pernah memberiku kabar, Jio?" tanya Virginia.
Jio menoleh gadis cantik di sampingnya. Menatap lekat sepasang mata lentik. Beradu pandang dengan perasaan yang menggetarkan jiwa keduanya. Tapi... Semua tatapan itu belum ada yang siap mengartikannya.
Tanpa menjawab, Jio melajukan mobilnya jauh lebih cepat. Melesat di antara beberapa kendaraan lain. Mengendarai Bugatti tentu membuatnya lebih mudah dan cepat untuk bisa sampai di lokasi yang ia inginkan.
Virginia, gadis anggun itu di buat hampir jantungan dengan cara Jio mengemudi. Tapi ia tak berani untuk protes, ia hanya memegang seat belt sekencang yang ia bisa.
Virginia sempat shock, saat Jio melajukan mobilnya ke jalur luar kota. Jelas mereka akan meninggalkan kota Roma, untuk waktu yang tak bisa ia tentukan.
' Jio... Ini menakutkan... ' gumamnya dalam hati.
Dan...
Ciittt..
Ban mobil berdecit dan berhenti di sisi kanan jalan, tepat saat hati kecil Jio merasa namanya di sebut oleh seseorang.
Mobil berhenti tepat di tepian pantai. Jalan utama yang berdampingan langsung dengan lautan.
Jia menoleh ke kanan, dan melihat wajah tegang Virginia yang ketakutan dengan cara dirinya mengemudi saat itu.
"Maaf..." lirih Jio reflek mengangkat tangan. Ingin rasanya ia membelai wajah cantik Virginia, tapi ragu dan takut masih bergelayut di dalam dada. Akhirnya tangan itu hanya mendarat di bahu kiri Virginia.
__ADS_1
Virginia membuka mata yang sempat tertutup karena melawan rasa takut. Kemudian berusaha mengatur kembali nafasnya.
"Kenapa kita harus keluar kota, Jio?" tanya Virginia setelah kembali normal. "Bagaimana nasib mobil ku di kampus? Bagaimana kalau mereka semakin merusak mobilku? Apa yang akan aku ceritakan papa Daddy dan Mommy?" tanya Virginia panik, "tidak mungkin kan kalau aku bilang, mereka memusuhi aku? Bisa - bisa mereka akan memberi bodyguard untuk mengikuti ku kemana saja! Aku tidak mau itu terjadi!"
Jio tersenyum lucu, menatap lekat bibir tipis yang ia rindukan sedang komat kamit dengan berbagai pertanyaan yang di lontarkan padanya.
Cerewet itu, hanya akan muncul jika saat gadis itu bersama Jio. Dan akan lenyap saat ia bersama siapapun selain Jio. Jio faham akan hal itu. Dan untuk kali ini pun ucapan Virginia murni alami tanpa di buat - buat.
"Aku sudah menyuruh seseorang untuk mendereknya dan membawanya ke bengkel!" jawab Jio santai. "Ban mobil mu akan di ganti terlebih dahulu sebelum bisa kamu bawa pulang..." lanjut Jio masih dengan tatapan dalam yang menghanyutkan siapa saja yang di tatapan.
Sebuah tatapan dalam yang melesat dari sepasang mata tajam seorang Georgio. Laki - laki 18 tahun yang banyak di gilai kaum hawa dimana pun ia berada. Dengan IQ lebih dari 150, menjadikan ia sebagai seorang hacker handal dan mampu menjalankan bisnis orang tuanya dan kuliah tanpa hambatan sedikitpun.
Virginia menghela nafas lega. Sejak kecil ia tau, semua masalah akan selesai jika Jio bersamanya.
Tersenyum lirih, "kamu belum menjawab pertanyaan ku, Jio.." ucap Virginia. "Kenapa kamu tidak sekali pun memberi aku kabar kalau kamu sudah pulang? hampir delapan tahun lamanya aku menunggu, Jio.." menatap semakin lekat wajah tampan rupawan. "Aku juga sempat mendengar kamu pulang setelah pemakaman Nenek Madalena."
Jio mematikan mesin mobilnya, menunduk dalam, menatap bawah dashboard. Dengan pikiran yang kalut.
"Saat itu aku mendengar dari Arfha, kemudian aku datang ke rumah kamu. Tapi Aunty Chania bilang kamu dan Jia sudah kembali berangkat ke kuil satu jam yang lalu..." lirih Virginia. "Satu jam Jio!" menoleh Jio. "Andai waktu itu aku tau lebih awal, kita pasti bertemu Jio... Aku pasti memberi nomor ponsel ku yang baru. Aku tidak berani menitip nomor ponsel ku pada Aunty Chania... Apalagi Uncle Michael melarang akan hal itu!"
Tersenyum gamang, "aku tau, Nia..." jawab Jio dengan dada yang bergemuruh. "Aku yang salah, karena aku berada dalam lingkungan seperti ini. Aku tidak bisa bebas seperti kamu dan teman - teman yang lainnya, sebelum ini."
"Sebelum ini? Maksud kamu... Sekarang kamu sudah bisa bebas?"
"Kamu yakin?" tanya Virginia terbelalak, "kamu tidak akan membohongi aku?"
Jio menggelengkan kepala pelan, ia berikan senyum penuh keyakinan.
"Aku kembali memiliki...." Virginia menggantung kalimatnya. Ia tak tau harus menyebut Jio apa. Sahabat? Bukankah ada sesuatu yang tersimpan di dalam sana. Di lubuk hati terdalam. Dimana hanya dirinya dan Tuhan yang tau.
"Memiliki apa?" tanya Jio seolah tak peka dengan kalimat perempuan yang menggantung.
"Emm..." wajah Virginia memerah, antara malu dan ragu menyebut hubungan apa yang akan terjalin di antara mereka berdua kedepannya.
"Memiliki sahabat seperti?" sahut Jio.
"Sahabat?" lirih Virginia memicingkan matanya. Seolah tak percaya ia masih di anggap sebagai sahabat setelah sekian tahun menunggu. Padahal ia berharap akan menjadi gadis paling spesial di hati Jio.
"Kamu masih memakai gelang persahabatan kita..." ucap Jio masih tidak peka dengan ekspresi kecewa Virginia. "Aku juga masih memakainya!" lanjut Jio meraih pergelangan tangan Virginia dan mengusap gelang merah dengan butiran mutiara asli.
"Tanda persahabatan?" tanya Virginia tak percaya akan pemikiran Jio.
"Em..." Jio menggantung kalimatnya.
__ADS_1
Kini giliran Jio yang menggantung kalimatnya. Ia tarik tangannya yang menyentuh pergelangan tangan Virginia. Menatap jendela mobil di sisi kirinya.
Tak mau lagi terperangkap pada obrolan tentang sebutan apa yang kini mereka sematkan setelah delapan tahun, Virginia tersenyum manis. Membuang kecewa, dan yakin mereka hanya menunggu waktu yang tepat untuk mengungkapkan semuanya.
"Kamu ambil kuliah apa?" tanya Virginia mengubah topik serius menjadi topik santai.
"IT!" jawab Jio kembali menoleh Virginia dan menatap penuh rindu pada wajah cantiknya.
"Wow!" seru Virginia mencoba untuk kembali menjadi Virginia yang asyik. "Padahal saat aku lulus sekolah, aku berfikir anak dengan IQ lebih dari 150 seperti kamu tidak perlu sekolah ataupun kuliah... Ternyata kamu tetap kuliah. Dan aku senang, tanpa janjian kita bisa satu kampus.
Tersenyum lucu, "Aku hanya ingin mencari teman, Nia.."
"Teman?" tanya Virginia.
"Iya, aku ingin bergaul dengan mereka yang seusia denganku!"
Virginia tersenyum, ia tahu kehidupan macam apa yang di lalui si jenius itu. Jika mengikuti otaknya, Jio sudah melampaui mereka yang selesai pendidikan S3.
"Kamu kenapa ingin menjadi Dokter?" tanya Jio kemudian sembari meletakkan kepalanya pada benda bunda di depan dada. Memiringkan wajah ke kanan. Sehingga bisa melihat wajah cantik Virginia lebih nyata dan sempurna.
"Tahu dari mana?" Virginia terbelalak. Bukankah ini pertemuan pertama mereka? Pikir Virginia.
"Aku tau semua tentang dirimu, Nia..." lirih Jio menatap lekat wajah Virginia. Menatap penuh kekaguman dan penuh damba.
Sementara yang si tatap tentu saja tersipu malu. Ingin tak tersenyum supaya tak terlihat besar kepala. Tapi bibir tak sanggup menahannya. Akhirnya sedikit banyak senyum itu terlihat oleh Jio.
"Kamu semakin cantik.." lirih Jio tanpa sadar.
Sontak Virginia semakin merasa malu. Ia sampai harus membuang muka ke arah jendela, untuk menghindari tatapan Jio yang semakin menusuk hati di pertemuan pertama mereka setelah sekian tahun.
"Jio.." lirih Virginia menggigit bibir bawah bagian dalam, supaya tak semakin lebar senyum di bibirnya. Cukup wajahnya saja merah merona karena malu.
"Kamu belum menjawab..."
"Apa?"
"Kenapa kuliah Kedokteran?" tanya Jio reflek mengusap pipi mulus Virginia menggunakan ibu jarinya.
Mendapat perlakuan sedemikian manis, tentu saja membuat Nona Muda Brown merasa melayang di atas awan. Meskipun kenyataannya ia berada di dalam sebuah mobil sport super mewah seorang pemuda tampan.
"Entahlah.. menurutku aku butuh ilmu kedokteran.." jawab Virginia di bibirnya.
Namun hatinya memiliki jawaban yang lain.
__ADS_1
...🪴 Happy Reading 🪴...