SANG MAFIA!

SANG MAFIA!
Chapter 122


__ADS_3

Menjadikan satu lututnya sebagai tumpuan tubuhnya dengan menyodorkan sebuah kotak kecil berisi cincin dengan berlian kecil di atasnya, membuat Reno kini menjadi pusat perhatian.


"Will you merry me?"


Sebuah kalimat singkat namun mampu menggetarkan setiap jiwa para gadis yang mendapat pertanyaan tersebut.


Tanpa pernah terdengar pria itu mengucapkan kata - kata cinta secara resmi, namun tiba - tiba sebuah pertanyaan sakral terucap di hadapan seluruh anggota keluarga Sania.


Gadis mana yang tak gugup?


Semua mata menatap lekat pada Sania yang reflek menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan. Tak pernah mengalami semua ini sebelumnya. Membuatnya membeku tanpa tau harus berkata apa.


Bibir tipis Sang Mafia tersenyum tipis. Ia seolah mengetahui semua ini akan terjadi. Ia tak terlihat kaget seperti yang lainnya.


"Say Yes, Sania..." lirih Oliver. "Reno pasti terbaik untukmu..."


Gumaman Oliver ternyata terdengar oleh Sania yang membeku. Merasuki gendang telinga yang seolah tengah menuli akibat tindakan pria yang membuatnya merasakan rindu, tapi malu untuk mengakuinya.


Tanpa pikir panjang, Sania justru...


Reflek mengangguk pelan...


"Apa?" celetuk Chania yang berharap ada kejelasan dari anggukan Sania.


Seolah semua ikut bertanya, mereka menoleh Chania sekilas dan kembali fokus pada Sania yang semakin gugup. Bibirnya terbuka, namun tak ada satu katapun yang keluar dari sana.


Mata semakin membulat, menatap Reno di bawah sana, dan...


"Aku bersedia menjadi istrimu…" ucap Sania.


Satu kalimat yang keluar dari bibir Sania berhasil membuat bibir para wanita tersenyum. Mereka puas sekali dengan jawaban Sania.


Sedang Michael, Frederick serta Jack, mereka hanya tersenyum simpul.


Dengan perasaan lega, Reno mengambil cincin berlian yang ia siapkan, kemudian menyematkan di jari manis sang wanita.


Jemari lentik dan putih mulus kini berhiaskan sebuah cincin berlian pemberian seseorang yang berani berlutut di depannya di hadapan keluarganya. Sebagai tanda bahwa ia menerima lamaran yang di ajukan pria itu.


"Wah! bagaimana bisa pas?" seru Oliver menatap tak percaya, ukuran cincin itu benar - benar sangat pas di jari manis Sania.


"Thanks, Michael!" ucap Reno melirik Michael penuh arti.


Sementara Michael hanya menyebikkan bibirnya. Seolah mengejek apa yang baru saja di lakukan Reno. Namun Reno justru tergelak tanpa suara.


Reno mengamit tangan Sania, kemudian mengecup buku - buku jari lentik sang wanita. Keharuman yang khas menguar dari sana. Membuat Reno semakin tak sabar mengamitnya di atas altar.


***


Lepas dari kisah yang baru terjadi antara Sania dan Reno, di bandara Roma, mendarat sebuah jet pribadi yang membawa seorang konglomerat, sekaligus seorang Mafia.


Bergelut di bidang yang sama dengan Michael Xavier, membuat pria itu pun tak kalah terkenal di negaranya.


"Selamat sore, Tuan Darrel!" sapa seorang pengawal berjas hitam dan celana hitam dengan sedikit menunduk.


"Bawa aku menemui Michael!"

__ADS_1


"Beliau di rumah sakit, Tuan!"


"Hemm!" jawab Darrel masih terus berjalan dnegan dingin.


Seorang asisten pribadi membawa dua paper bag kecil dengan warna yang berbeda. Bisa di pastikan jika itu adalah kado untuk anak kembar sang sahabat.


***


"Dimana keponakan ku?" seru Darrel membuka pintu kamar VIP Chania tanpa permisi.


"Darrel!" pekik Oliver.


Oliver membeku, karena Darrel tak mengatakan apapun jika ia akan datang ke Italia. Dan ketika tiba - tiba ia muncul seperti ini tentu membuat hatinya berdebar bagai genderang yang hendak berperang.


"Hai!" sapa Darrel langsung nyelonong masuk dan tanpa ragu mendekati Oliver, mendaratkan kecupan di pipi mulus.


"Aduuh.. manisnyaa...." gumam Madalena.


Wajah Oliver bersemu merah. Di kecup di hadapan keluarganya membuatnya salah tingkah. Tak kalah mendebarkan dari apa yang baru saja terjadi antara Reno dan Sania.


"Apa kabar?"


"Baik!" jawab Oliver masih tak bisa menahan senyum. Ia bahkan tak berani menatap sepasang mata Darrel Harcourt.


"Hai, Michael! Hai Chania! selamat untuk kelahiran putra putri kalian!" ucap Darrel mengangkat dua paper bag di tangan kirinya ke udara dan kemudian menyerahkan di samping Chania.


"Thanks!" jawab Michael tersenyum tipis.


"Terima kasih, ipar!" ucap Chania tersenyum menggoda dengan dua alis yang bergerak naik turun.


"Halo little Chania...?" sapa Darrel gemas pada baby Gia.


"Hai Uncle Darrel!" sahut Chania dari ranjang pasien.


Seisi ruangan tersenyum. Tak terkecuali Reno dan Sania yang kini duduk berdampingan di sofa.


# # # # #


Kebahagiaan menyelimuti keluarga Sebastian dan keluarga Arlington. Menerima dua keturunan sekaligus, membuat seluruh keluarga tersenyum bangga.


Di tambah dua gadis dari keluarga itu akan segera mengikuti jejak Chania untuk menikah, dan melahirkan generasi penerus mereka kelak.


Hari ini sudah satu minggu sejak kelahiran twins. Mereka sudah berada di istana Michael. Oliver sering sekali berkunjung ke rumah dimana dulu ia pernah menjadi seorang kepala pelayan.


Sedangkan di salah satu kamar rumah sakit, seorang perempuan berbaring di ranjang pasien dengan menghadap jendela kamarnya.


Ia baru saja membuka mata, untuk pertama kali setelah sekian lama tanpa tau hiruk pikuk duniawi.


"Selena!" seru seorang wanita yang baru saja menghentak pintu ruangannya.


Kepala lemah milik Sania bergerak ke arah samping. Menatap sayu pada sosok yang ia kenali sebagai Mommy nya, Deborah Arlington. Namun wajah itu terlihat lebih tua dari sebelum ia koma.


"Mommy?" lirihnya nyaris tanpa suara.


"Yes, girl!" balas Deborah menghambur untuk memeluk sang putri yang kini ia ketahui sebagai bukan putri kandung Arlington. "Mommy sangat bahagia saat di mendengar kabar kamu kembali membuka mata setelah tahunan berlalu, girl!"

__ADS_1


"Me too" lirih Selena. "Dimana Kak Oliver?"


"Dia di rumah Michael!" jawab Deboeah gamang.


"Kak Michael?" tanya ulang Selena. "Apa mereka tidak tau jika aku sudah sadar, Mom?"


Wanita itu menggeleng pelan, "Mommy belum memberi tahu Oliver."


"Kenapa?" tanya Selena.


"Kakakmu akan segera melangsungkan pertunangan dengan Darrel Harcourt! pengusaha dari Perancis! Mommy tidak bisa mengganggu hari - hari sibuknya."


"Lalu kak Michael?"


Deborah kembali menggeleng lagi. Namun kali ini menggeleng bingung.


"Kenapa, Mom?" kejar Selena. "Mereka pasti bahagia saat tau aku sudah sadar. Aku ingin tau, setampan apa Kak Michael sekarang!"


"Selena..." lirih Deborah tak mampu lagi berkata - kata.


"Kenapa, Mom?"


"Michael...." kembali diam, ia tak tau harus memulai dari mana.


"Kenapa, Mom!" sentak Selena.


"Mommy tau, sejak kecil kamu sangat mengidolakan seorang Michael Xavier sejak kecil. Tapi...."


"Apa, Mom!"


"Ini bukan waktu yang tepat untuk kamu mengetahui segalanya, Selena. Tahun terus berganti, dunia terus berputar. Semua juga ikut berubah!"


"Apa maksud Mommy!" sentak Selena sekuat tenaga.


Menghela nafas, "Mommy akan memberi tahu kau, jika kamu sudah benar - benar pulih."


"No, Mom! katakan sekarang juga!"


"No, girl!"


"Yes, Mom!"


Deborah kembali ragu, ia tak sanggup di hardik oleh anak kandungnya sendiri. Melihat mata itu kembali sudah terbuka, rasanya tak sanggup untuk kembali membohonginya di saat awal - awal kehidupannya kembali.


"Michael..."


"Apa?"


"Michael... Michael sudah menikah, Selena!"


"APA!"teriak Selena sekencang yang ia bisa.


🪴🪴🪴


Happy reading 🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2