SANG MAFIA!

SANG MAFIA!
Chapter 106


__ADS_3

Berjalan beriringan, menghampiri kamar yang dua hari lalu mereka datangi. Michael dan Chania tampak saling lirik. Mereka harus bisa membawa Sania kembali ke Italia.


Di depan mereka, berjalan seorang pria berusia lebih dari 50 tahun. Mereka menuju pintu yang sama. Ya, kamar yang di tempati oleh Sania.


Ting tong!


Bel kamar ditekan oleh Jack. Dan tiga pasang telinga terlatih dapat mendengar gerakan lambat dari dalam kamar Sania.


Clek! pintu terbuka dengan cepat.


"Papa!" pekik Sania setelah memastikan pria yang sempat ia intip dari lubang kecil, sama dengan yang ia lihat di depan pintu kamarnya.


"Sania..." jawab Alexandre.


"Kenapa Papa datang ke sini?" tanya Sania. "Kakak Margareth belum ingin pulang, Pa." jawab Sania.


"Papa tau! tapi Papa datang bukan untuk Margareth, tapi untuk kamu!"


"Untuk Sania?" tanya ulang Sania. Matanya melihat ke belakang, dimana tampak dua orang yang sudah berjanji akan datang pada hari itu.


"Silahkan masuk!" ucap Sania menyingkir dari tengah pintu.


Alexandre, Michael dan Chania, tak ketinggalan Jack juga ikut masuk ke dalam kamar Sania. Meninggalkan Dimitri dan Antonio di liar sana.


Untuk sesaat, ruang tamu terasa hening. Semua seolah kesulitan menemukan kata - kata pertama.


"Pulanglah, Sania." suara Alexandre terdengar pertama kali di tengah keheningan.


"Di sini rumah Sania, Pa!"


"Rumah kita memang disini, Sania. Dan selamanya Paris akan menjadi rumah kita. Alias rumah kedua - mu." ucap Alexandre bijak. "Maafkan Papa, jika selama ini Papa tidak bisa menjadi Papa yang baik. Dan maafkanlah semua perlakuan kakakmu, Margareth. Yang memang keterlaluan."


"Tapi, Pa?"


"Ikutlah mereka, Sania.." Alexandre menatap putri angkatnya itu dengan sendu. Meskipun Sania putri angkat, Alexandre selalu bersikap baik pada Sania. Menganggapnya sama seperti Margareth. "Kamu harus merebut hak mu!"


"Hak apa maksud Papa?" tanya Sania.


Alexandre melirik Michael. Terlibat aksi saling di antara keduanya. Bahkan Chania ikut melirik suaminya.


"Ikutlah bersama mereka. Di sana kau akan tau banyak hal. Kau berhak atas suatu hal yang hanya bisa di ambil oleh kalian berdua."


Sania tampak lesu. Ia menatap sang Papa dengan perasaan yang campur aduk. Ia begitu menyayangi pria yang sudah seperti ayah kandungnya sendiri.


"Michael!" pekik seseorang dari arah pintu yang baru saja terbuka tanpa ketukan.


Semua menoleh ke arah pintu, termasuk Michael yang juga menoleh sekilas, namun kembali membuang muka.

__ADS_1


Setelah melihat siapa yang memanggil nama suaminya, seketika Chania memberikan tatapan jengah pada wanita seksi yang menatap tak berkedip pada suaminya.


Saat itu juga ia merangkul lengan Michael erat. Seolah menunjukkan jika dirinyalah Nyonya Xavier.


Margareth berjalan mendekat. Tanpa ragu dan tanpa malu pada sang Papa ataupun Chania, Margareth duduk di samping Michael. Merangkul lengan Michael dengan percaya diri.


Hal itu tentu membuat darah satu - satunya wanita hamil yang berada di ruangan itu mendidih. Sepasang mata membulat, menatap benci pada jemari dengan cat kuku merah menyala yang melingkari lengan suaminya.


"Singkirkan tanganmu, Nona!" hentak Chania tidak terima lengan suaminya di sentuh wanita lain.


"Bagaimana kabarmu Michael?" tanya Margareth tak menggubris kalimat Chania.


Tentu saja hal itu membuat Chania semakin geram. Ingin rasanya ia menarik rambut panjang bergelombang yang menjadi gaya Margareth pagi ini.


"Menyingkir!" hentak Michael ketus. Melepas paksa tangan Margareth yang membuatnya begitu risih.


Chania sedikit tersenyum sinis. Mengejek sang empunya tangan.


"Apa yang kau lakukan Margareth?" hentak Alexandre melihat risih dengan tingkah putrinya. "Perbuatanmu sangat tidak sopan!"


"Papa! Papa harus tau, dialah Michael Xavier, putra tunggal Uncle Frederick Sebastian. Laki - laki yang pernah Margareth cintai 15 tahun yang lalu!" jelas Margareth.


"Papa tau siapa Michael!" jawab Alexandre. "Tapi apa yang kamu lakukan ini? sangat tidak pantas!"


"Baguslah kalau Papa tau!" jawab Margareth. "Dan Papa juga perlu tau, kami berpisah karena fitnah keji dari sahabatnya, Reno!" lanjut Margareth.


"Jangan sembarang menyalahkan Reno!" sambar Michael kesal.


"Dia melakukan itu karena kau pun melakukan hal yang sama! kau membuat Reno kehilangan Tyara! Jangan pernah pura - pura lupa atas kesalahanmu!" ucap Michael menghunus dengan fakta yang bahkan belum pernah di katakan pada siapapun. "Jangan kau pikir aku tidak tau apapun, Margareth!" lirihnya dengan gigi yang mengerat.


"Ta.. tapi aku... aku..."


"Aku apa!" sentak Michael.


perdebatan dua orang itu tentu menjadi pusat perhatian empat orang lainnya.


"Aku hanya tidak suka, karena..."


"Apa!"


"Karena waktu itu Tyara memenangkan audisi modeling!" jawab Margareth. "Aku tidak mau kalah dari siapapun! Jadi seharusnya waktu itu kamu memaafkan aku!"


Michael tersenyum tipis. "Aku tau! dan yang membuat aku kesal bukan jebakan Reno untukmu! Melainkan aku tau, jika kau memang bukan perempuan yang baik untukku!"


"Michael... lupakan masa itu! Andai kau tau, aku tidak pernah melupakanmu, semua tentang dirimu!" rayu Margareth memelas. "Kau selalu dalam ingatanku! Tapi saat kamu bilang jika kamu jijik padaku, aku sangat hancur dan takut untuk bertemu denganmu!"


"Seperti katamu! lupakan masa lalu!" ucap Michael tegas. "Kita tidak lagi saling mengenal!"

__ADS_1


"Tapi..."


Belum sempat kalimat itu terucap, sang Papa sudah menarik lengan Margareth dengan kasar. Membawanya menuju pintu keluar.


"Michael!" panggil Margareth tak terima dengan cara Papanya mengusir.


Sedangkan Chania tersenyum penuh kemenangan.


***


Pesawat pribadi Michael, mengudara meninggalkan kota Paris menuju Roma, Italia.


Beberapa jam yang lalu, mereka berhasil membawa Sania menuju negera kelahiran.


"Kita harus jadi saudara yang baik, Sania."


"Tentu, Chania!" Sania tersenyum sumringah.


Ketiga orang itu duduk di kursi. Sembari saling tatap.


' Aku ingat siapa dirimu, Tuan Michael! ' gumam Sania dalam hati.


***


Hampir dua jam mengudara, akhirnya mereka berhasil masuk ke dalam limousine mewah milik Michael. Suara ponsel terdengar begitu nyaring, memenuhi ruang limousine itu.


"Halo!" ketus Michael setelah tau siapa yang menelfon.


"Selamat sore, Michael!" sapaan dari sebrang dengan senyum nakal dan menyebalkan.


"Mau apa kau?"


"Tentu saja menagih janjimu, brother!"


"Janji apa?" mengerutkan kening.


"Tentang Carina .....' jawab seseorang dari sebrang.


Melirik Chania sekilas, menyesal memberikan persyaratan yang begitu menguntungkan musuh. Batinnya kesal.


Namun ia tersenyum licik saat melirik sekilas Sania yang duduk di bagian pojok.


"Anak buah ku akan menjemputmu, tidak lama lagi!"


"Hahaha! see you sahabat terbaikku!"


"Ciih!" decih Michael sembari mengakhiri panggilan dari orang yang tak lain adalah Reno.

__ADS_1


🪴🪴🪴


Happy reading 🌹🌹🌹


__ADS_2