SANG MAFIA!

SANG MAFIA!
Chapter 298


__ADS_3

Menghilangnya Jio, Jellow dan Mommy Chania dari balik pintu, menjadi awal untuk Jia dan Xiaoli beradu tatap.


Xiaoli menatap Jia dengan tatapan lembutnya. Namun mata sang bodyguard jelas menyimpan pertanyaan tentang apa yang di maksud oleh mereka semua yang tak ia ketahui.


Sementara Jia menatap nanar pada wajah tampan rupawan yang babak belur dan beberapa tetes darah jatuh dari pelipisnya. Berjalan lambat menuruni pipi dan rahang, hingga meluncur cepat dan jatuh di atas lantai marmer. Membentuk sebuah lingkaran kecil yang jika di lihat saja sudah bisa di bayangkan betapa sakit yang di timbulkan.


Jantung sang gadis teriris perlahan melihat semua itu. Bagai hatinya lah yang tengah meneteskan buliran darah merah itu.


Bagi sang gadis, Xiaoli adalah sebagian dari hidupnya, luka yang di derita maka ia juga merasakannya, begitu juga sebaliknya. Sedemikian dalam cinta yang terjalin di antara keduanya.


Jemari lentik yang sejak kecil sudah di ajari cara memukul lawan dengan baik itu secara perlahan terangkat. Menyentuh rahang tegas yang bukan kali pertama ini ia sentuh.


Ibu jari yang biasa di gunakan untuk bertarung itu kini mengusap darah segar yang tersisa di pipi sang pemuda.


Herannya, tak sedikitpun Jia mendengar sang kekasih mengeluh kesakitan. Semua terlihat seolah sang pemuda baik-baik saja. Tanpa luka juga tanpa sesuatu yang mengerikan untuk di lihat.


"Kita obati dulu luka mu, ya?" pinta Jia menatap lekat sepasang manik mata yang selalu menghanyutkan dirinya ke dalam palung cinta yang terdalam.


Jemari Xiaoli terangkat, ia raih tangan yang baginya selalu harum itu dan menggenggamnya erat. Kemudian dengan lembut kembali mengusap kulit putih mulus itu dengan sangat lembut. Seolah enggan untuk kehilangan semua yang ada pada pemilik tangan itu.


"Sama sekali tidak sakit..." ucapnya kemudian. "Ini hanya luka biasa. Aku sering mendapat luka lebih parah dari ini."


Xiaoli menatap lekat wajah cantik di hadapan. Senyum tipis namun menyiratkan luka terbit dari bibir tipisnya. Demi gadis ini lah, mati pun ia rela, pikir sang bodyguard.


"Tapi darah ini bisa saja akan terus mengalir, Amore..." lirih Jia seolah merasakan perih yang tak terkira pada tubuhnya.


Namun Xiaoli justru menggelengkan kepalanya pelan. Menepis kalimat yang di utarakan sang kekasih. Ia tak ingin terlihat kesakitan sama sekali, meski ada sedikit perih di bagian sana.


"Lebih sakit lagi jika aku harus kehilangan kamu, Bao Bao..." jawab sang bodyguard.


Jia meremas jemarinya yang sudah terkena darah sang bodyguard meskipun hanya sisa-sisa saja. Meratakan semua hingga menyebar pada kulit tangannya.


"Maafkan aku..." lirihnya dengan air mata yang akhirnya kembali menetes tanpa bisa di tahan. "Aku datang terlambat..." lanjutnya terisak.


"No..." sahut sang bodyguard. "Kamu tidak terlambat! Kamu selalu datang tepat waktu, Sayang..." lanjut Xiaoli berusaha meninggikan hati sang kekasih.


"Kalau saja aku bisa menemukan Mommy lebih cepat... kamu tidak akan seperti ini..." lanjutnya masih dengan isakan yang sama. Isak tangis yang terdengar sangat perih untuk di rasakan.

__ADS_1


"Justru dengan begini... Aku merasa jauh lebih bertanggung jawab!" sahut sang bodyguard sembari mengusap lembut air mata yang menetes di pipi sang kekasih menggunakan ibu jari.


"Dengan begini, aku sudah mempertanggung jawabkan kesalahan yang sudah aku buat... Dan aku merasa bangga sudah berjuang untuk kita!"


"Tapi bukan hanya kamu yang melakukan kesalahan! Harusnya aku juga di hukum!" rintihnya merasa sangat bersalah akan luka sang kekasih.


"Aku akan memilih mati cepat jika kamu sampai melihat mu terluka karena semua ini, Jia! Karena mungkin aku akan melawan Daddy mu, dan Tuan besar akan membunuhku dengan sangat singkat!" jelas sang pemuda. "Apalagi beliau di jaga oleh petinggi Klan yang tdiak main-main kemampuannya!"


Tidak bisa menjawab, Jia hanya bisa sesenggukan merasakan betapa sulit dan rumitnya kisah cinta yang ia jalani. Setelah sembunyi-sembunyi, lalu bayangan akan berpisah dalam hitungan tahun sudah terlihat di depan mata.


Belum sampai bercerita, ia sudah kembali menangis dan terisak lebih gila lagi.


"Bao Bao... please... jangan menangis..." lirih Xiaoli mengusap air mata yang lebih deras dari pada yang tadi.


Jia menggeleng, sebagai jawaban jika ia kesulitan untuk menghentikan tangisannya.


Menarik nafas berat, dan menghelanya dengan panjang, Xiaoli bergerak, menarik pundak ringkih dan membawanya ke dalam pelukannya yang hangat.


Memeluk dengan berbagai perasaan cinta terbaik yang ia miliki. Menyalurkan setiap elemen kehangatan yang hanya ia berikan pada sang kekasih seorang.


Semakin erat Xiaoli memeluk, entah mengapa sang gadis semakin menangis dalam isakan. Hingga Xiaoli bingung sendiri cara menenangkan sang kekasih.


Jia tidak bisa menjawab, ia justru menangis tersedu dengan jemari yang meremas kuat jaket Xiaoli, mengingat mereka akan terpisah dalam waktu dekat. Tanpa komunikasi, tanpa kabar atau bahkan tanpa harapan untuk bisa kembali bersama.


"Menangislah... Aku akan menunggu sampai kamu selesai mengeluarkan segala emosi." ucapnya sembari memberi kecupan dalam pada puncak kepala Jia. Dan dari sanalah ketenangan lambat laun hadir untuk sang gadis.


Hingga detik sejak Xiaoli berucap "sudah", berubah menjadi sekian menit. Xiaoli menggiring Jia untuk mendekati jendela yang memperlihatkan bagian belakang gedung latihan. Di mana di sana ada halaman kosong yang cukup luas. Yang biasa di gunakan oleh seluruh penghuni istana untuk bermain bola di waktu libur mereka.


Kemudian jauh di sana, banyak bangunan rumah lainnya yang tak kalah tinggi dari istana Xavier. Hanya mungkin kalah mewah saja. Itu adalah rumah warga yang berada satu komplek dengan rumah Michael.


Membuka jendela kaca dengan cara menggeser ke kiri, Xiaoli membantu Jia untuk duduk di kusen jendela tanpa sekat itu.


Duduk berdampingan berdua, menatap halaman belakang yang sepi, dan hanya terlihat dua orang yang tengah memong rumput menggunakan mesin pemotong rumput. Kaki menjuntai ke bawah, berayun dengan tidak kepastian.


Angin sore yang melintas, di tambah cahaya matahari yang semakin condong ke barat, hingga halaman sebagian terlihat teduh, karena tertutup oleh gedung latihan.


Jemari bertaut, saling menggenggam satu sama lain. Semakin erat merkea semakin menggenggam tangan, semakin dalam rasa cinta yang mereka salurkan.

__ADS_1


"Katakan padaku dengan jujur, Bao Bao... apa yang tadi kalian maksudkan?" akhirnya Xiaoli bertanya setelah merasa Jia lebih baik dari sebelumnya.


Tidak langsung menjawab, Jia justru menoleh dan menatap lekat wajah tampan sang kekasih.


"Kenapa kalian tidak terlihat bahagia dengan syarat yang di berikan oleh Tuan besar?" ulang Xiaoli dengan cara yang berbeda. "Bukankah yang terpenting kita di ijinkan untuk bersama?"


Jia menatap lekat wjah tampan yang pasti akan ia rindukan itu. Ingin menjawab, tapi hati sungguh berat mengatakannya.


"Karena itu artinya kita akan berpisah..." lirihnya.


"Hah?" pekik Xiaoli tidak paham maksud sang kekasih.


"Hmmm..." Jia mengangguk lesu.


"Tapi Tuan besar bilang kita bisa bersama, asal aku tetap mau menjadi penerus Tuan Jack Black!"


"Ya, memang.." Jia kembali mengangguk, tak tega ingin menceritakan apa yang tidak di ketahui oleh sang pemuda.


"Lantas?" Xiaoli menatap lekat wajah cantik di hadapan.


"Karena untuk menjadi pengganti Paman Jack Black, kamu harus meninggalkan negeri ini 3 sampai 5 tahun lamanya..." jelas Jia dengan air mata yang ingin meluncur, namun setengah mati ia berusaha untuk menahannya di pelupuk mata.


"keluar negeri kemana?"


"Jepang...."


"Kenapa begitu?" heran sang bodyguard.


"Karena kamu harus menempa ilmu lebih kuat dari yang kamu miliki sekarang." jawab Jia. "Selain itu kamu akan belajar bisnis yang super rumit, Amore...!" lirih Jia menggenggam jemari mereka yang bertaut dengan tangan yang lainnya.


"Lalu kenapa kalian bersedih?" tanya Xiaoli bingung. "Bukankah kita hanya akan berpisah 3 sampai 5 tahun?" tanya Xiaoli. "Dunia semakin canggih, Bao Bao... Kita bisa berkomunikasi menggunakan internet, bukan?" tanya Xiaoli heran.


"Dan lagi Jepang negara yang bagus, tidak mungkin jika tidak ada sinyal..." Xiaoli berusaha untuk tetap tenang, meski sempat shock karena harus belajar bisnis.


"Itulah yang menjadi masalah, Amore..." lririh Jia menatap nanar pada wajah tampan kekasihnya.


"Masalah apa lagi?"

__ADS_1


...🪴 Bersambung ... 🪴...


__ADS_2