SANG MAFIA!

SANG MAFIA!
Chapter 238


__ADS_3

Berjalan di red carpet yang berada di tengah - tengah barisan meja setelah berpamitan pada Gladys, Jia melangkah meninggalkan Ballroom hotel tempat pesta di selenggarakan.


Saat berada di paling ujung barisan kursi, Jia di buat terkejut dengan beberapa pria yang berpakaian bodyguard berdiri di tepian ruangan. Jelas terlihat jika mereka tengah mengawasi para majikan mereka yang masih berbaur dengan tamu lain di tengah ruangan.


Satu yang menjadi target pencarian Jia, keberadaan Xiaoli Chen. Jantung berdebar hebat, sangat merasa tidak enak hati jika sampai Xiaoli tadi melihatnya tengah berdansa dengan Diego.


Sungguh ia tak menyangka jika bodyguard ternyata di ijinkan untuk masuk tanpa menggunakan topeng. Mungkin karena saking banyaknya tamu penting yang di undang oleh Gladys, sehingga para bodyguard di ijinkan untuk mengawasi majikan masing - masing. Dan satu yang kini menjadi pertanyaan Jia...


' Mungkinkah Xiaoli ada di antara mereka? '


Gumam Jia dalam hati.


Matanya cepat bergerak mengamati satu persatu orang - orang berpakaian hitam yang rata - rata berwajah datar dan kaku. Ia amati dengan seksama. Dan berharap tidak ada Xiaoli di sana.


Jia tidak kaget dengan wajah - wajah datar, seram, tanpa pemanis apapun seperti itu. Setiap hari ia sudah melihatnya di rumah. Seluruh bodyguard selalu memasang wajah demikian jika sedang bertugas tanpa menghadap Tuan rumah.


Sampai barisan bodyguard terakhir yang ia lihat, Jia tak menemukan Xiaoli ada di antara mereka.


' Apa dia tidak punya pikiran untuk melindungi ku? sampai tidak masuk dan menjagaku di ruang sebesar ini? '


Gumam Jia dalam hati, dengan bibir yang mengerut saking kesalnya.  Ia hentakkan kaki dengan kesal dan kembali melangkah ke arah pintu keluar Ballroom.


Ya, berurusan dengan penguasa Bumi memang tidak mudah. Apapun yang di lakukan laki - laki bisa jadi salah di mata mereka. Istilahnya maju kena, mundur kena.


Padahal tadi ia sempat berharap jika Xiaoli tidak ada di sana. Tapi saat benar - benar tidak menemukan Xiaoli di sana, ia justru marah dan cemberut. Karena merasa tidak di perhatikan dan tidak di jaga dengan benar.


Dasar wanita!


Umpatan yang sering di lontarkan para lelaki untuk para wanita yang banyak maunya dan susah di mengerti. Meski kenyataannya, banyak juga lelaki yang pada dasarnya tidak peka dengan kemauan wanitanya.


Dengan mata tajam yang siap menebas Xiaoli yang katanya menunggu di ruang tunggu, Jia tak lagi melihat kanan kiri setelah mengisi buku keluar meninggalkan pesta. Tujuannya hanya satu, yaitu menemukan Xiaoli dan protes dengan ketidakberadaan pemuda itu di barisan para bodyguard yang ada di dalam.


Langkah semakin dekat dengan ruang tunggu yang sudah di desain untuk menjamu para supir dengan menu sederhana. Di mana di sana banyak sopir yang sedang menunggu majikan mereka keluar. Hingga Jia kesulitan menemukan Xiaoli yang entah ada di kursi sebelah mana.


"Di mana dia?" gumam Jia dengan wajah resahnya. Karena Xiaoli benar - benar tak terlihat di ruang tunggu.


Jia berdiri di sisi ruang tunggu. Matanya menelisik ke seluruh kursi - kursi yang berbaris yang di duduki oleh para supir.


"Di dalam tidak ada! di sini tidak ada! kemana sebenarnya pemuda itu!" gerutu Jia dengan wajah yang sudah di tekuk bagai kanebo kering.


"Awas saja! kalau ketemu aku akan makan hidup - hidup kamu, Xiaoli Chen!" Jia meremas hampers yang ia dapat dari penjaga di pintu keluar.


"Cari sopir anda, Nona?"


Suara seseorang yang bertanya terdengar dari arah samping Jia. Dan Jia langsung menoleh ke sisi kanan untuk melihat siapa yang bertanya. Sepertinya orang yang bertanya adalah bagian dari EO yang mengamankan jalannya pesta.


"Iya... kamu benar! aku mencari bodyguard ku!" jawab Jia datar dengan bibir yang masih mengerucut.


"Tapi semua yang memiliki kartu tanda bodyguard menunggu di dalam, Nona."


"Iya, aku tau. Tapi bodyguard ku tidak ada di sana tadi."


"Boleh sebutkan ciri - ciri bodyguard Nona?"


"Dia tinggi, rambutnya hitam dan di sisir rapi, kulitnya putih. Dan dia keturunan China."


"Oh... tadi saya melihat dia keluar ke arah sana, Nona.." jawab pria itu menunjuk halaman hotel yang cukup luas.

__ADS_1


"Untuk apa?" tanya Jia mengerutkan keningnya.


"Saya kurang tau, Nona...."


"Sudah lama?"


"Sekitar 5 menit yang lalu, Nona."


"Oh, baiklah. Aku akan mencarinya ke sana!" jawab Jia dengan bibir yang masih maju ke depan dengan kesal. "Terima kasih."


"Sama - sama, Nona."


Jia membalikkan badan, dan menghentakkan kakinya ke lantai dengan gemas. Dengan langkah yang berderap, Jia mulai menuju keluar hotel.


' Awas kamu! kalau ketemu akan aku telan hidup - hidup! '


Gerutu Jia dalam hati.


' Eits!! tunggu - tunggu. ' Jia menghentikan langkah setelah pikirannya mulai bekerja untuk memutar waktu. ' Jadi apa tadi Xiaoli menunggu di dalam atau tidak? '


Jia membalikkan badan untuk mencari informasi dari orang yang tadi memberi tahu kemana perginya Xiaoli. Namun sayang, pria itu sudah menghilang dari tempatnya berdiri tadi. Bahkan tak lagi terlihat pria dengan seragam yang sama.


' Ah! F*ck! dia sudah pergi! '*


Sedikit banyak sang Daddy yang sering mengumpat, menurun kepada anak - anaknya. Jia kembali membalikkan badan dengan kesal dan...


BRUKK!


Jia menabrak benda keras yang tak bergerak sedikitpun ketika ia tabrak sedemikian kencang. Ia gosok dahinya yang terasa cukup sakit akibat menabrak seseorang yang tak ia ketahui.


"Mencari saya, Nona?" ucap Xiaoli. "Maaf, sudah menabrak anda."


Suara itu, dan nada bicara itu. Jia sangat hafal siapa pemiliknya. Dengan cepat Jia menarik turun tangannya yang menggosok dahi dan langsung melotot tajam pada bodyguard yang paling tampan di mess, dan paling cool dengan jaket kulit hitam miliknya.


Dan saat matanya melihat wajah tampan bodyguard yang terlihat datar dan biasa saja, justru Jia sangat terpesona. Bagaimana tidak, Xiaoli terlihat sangat tampan dengan postur dan gayanya yang mempesona. Rasa ingin menelan pemuda itu hidup - hidup seketika lenyap begitu saja. Berganti dengan tatapan yang tak pernah ia berikan kepada siapapun juga.


Membeku dan hanyut...


"Kamu dari mana saja..." Gemas Jia dengan suara yang sangat lirih namun dengan gigi yang mengerat, ketika ia sadar jika tidak sedang berada di ruangan yang sepi. Ia tidak boleh menatap Xiaoli dengan tatapan penh damba saat berada di alam liar. Bisa - bisa semua orang akan tau jika.... ya begitulah...


"Maaf, Nona... saya hanya mencari toilet."


"Di depan sana ada. Alasan saja kamu!" Jia berpura - pura memasang wajah galak untuk menutupi betapa ia kagum dengan Xiaoli yang terlihat sangat menawan malam ini.


"Saya harus mencari toilet yang jauh, Nona. Toilet di depan Ballroom terlalu menyesakkan." jawab Xiaoli dengan nada menyindir.


Jia yang sadar jika Xiaoli sedang bicara dengan nada menyindir pun hanya bisa berfikir, kira - kira bagian mana ini yang di sindir oleh sang bodyguard.


"Toiletnya bagus kok.." jawab Jia yang masih bingung dengan sindiran Xiaoli.


"Ya, tapi tidak sebagus lagu yang tadi saya dengar sedang di putar. Sangat indah dan romantis.." jawab Xiaoli menatap lekat wajah Jia yang memerah karena mulai menyadari bagian mana yang di sindir oleh sang bodyguard. Wajah Xiaoli yang datar dan santai, sama sekali tidak terlihat jika pria itu sedang... cemburu.


Sontak Jia tersenyum kikuk menatap wajah Xiaoli. Pipi merah merona terpancar dari wajah sang Nona muda.


"Kamu suka lagu itu?" tanya Jia yang berfikir lebih baik ia menggoda Xiaoli.


"Apa kita akan pulang sekarang, Nona?" Xiaoli mengalihkan pembicaraan. Tempat ini tidka aman untuk bercerita sepribadi itu.

__ADS_1


"Kenapa pulang?" tanya Jia tidak terima. Ekspresi jahil yang baru saja ia berikan pada Xiaoli segera berubah menjadi ekspresi kesal. Seperti anak kecil yang sedang asyik bermain kemudian di jemput paksa oleh sang Ibu untuk pulang. "Ini baru jam 9!" protes Jia.


"Lalu kemana Nona ingin pergi?" tanya Xiaoli menatap lekat pada wajah cantik yang sangat menggemaskan di mata Xiaoli.


Jia mendekati Xiaoli dan berbisik, "Bawa aku jalan - jalan... ini malam Friday Night, bukan?"


Xiaoli menggigit bibir bawahnya saking tidak bisa lagi menahan gemas pada sang Nona Muda. Padahal semalam ia tidak bisa tidur nyenyak. Bagaimana mungkin ia bisa memiliki kesempatan membawa Nona muda jalan - jalan?


"Baiklah, Nona..." jawab Xiaoli masih dengan nada bicara ala bodyguard pada majikan.


"Yeay!" seru Jia tertahan.


Keduanya berjalan bersama meninggalkan Ballroom hotel untuk kembali ke tempat parkir. Di sana sudah sangat sepi. Hanya ada mereka berdua. Dan itu membuat mereka kembali bersikap seperti sebelumnya.


"Silahkan, Tuan putri.." ucap Xiaoli mempersilahkan Jia untuk masuk ke pintu penumpang bagian depan.


"Thank you..." jawab Jia masuk ke dalam mobil sang Mommy. Dengan seulas senyum simpul. Ia bersiap untuk menagih janji pada Xiaoli Chen.


Mobil CRV kini kembali melaju dengan berbaur bersama mobil - mobil yang lain.


"Kamu ada ide, tempat yang bisa kita kunjungi sekarang?" tanya Jia.


"Ada!" jawab Xiaoli menoleh sekilas. Meski sekilas, tapi Xiaoli bisa menyalurkan tatapan yang sangat bermakna.


"Kemana?" tanya Jia. "Cukup tidak waktu tiga jam?"


"Cukup!" jawab Xiaoli segera menekan pedal gas untuk bisa mengejar waktu yang tersisa.


"Xiaoli, hati - hati!" seu Jia ketika mobil melaju dengan kecepatan di atas 200 km/jam.


"Aku tau, Lady!" jawab Xiaoli.


"Awas kalau sampai salah satu dari kita kembali harus terkapar di Rumah Sakit! kamu belum menjawab pertanyaanku!"


Di tengah kepanikannya, Jia masih sangat ingat dengan sesuatu yang membuatnya ingin segera meninggalkan pesta.


"Aku tau, Cantik!"


Maka 30 menit sejak meninggalkan lokasi pesta, kini mobil yang di kemudikan Xiaoli, telah sampai di bukit yang pernah didatangi Jio dan Virginia. Bedanya, jika Jio hanya berada di kaki bukit. Maka Xiaoli membawa lebih tinggi lagi.


Fields of Pealand.


Keduanya turun dari mobil, hawa dingin langsung menyeruak dan menyerang tubuh Jia yang tidak mengenakan jaket.


"Ini sangat dingin, Xiaoli Chen!" gumam Jia dengan bibir yang bergetar.


"Aku tau, Nona Cantik..." jawab Xiaoli sembari memakaikan jaket kulitnya pada Jia. Dengan sangat lembut, ia juga menarik ke atas resleting jaket hitamnya.


Dua sorot mata bertemu dengan bibir yang sama - sama terkunci, saat ujung resleting sampai di bagian leher. Hanyut... keduanya sama - sama hanyut oleh sorot mata lawannya.


Sebagai lelaki normal, dengan posisi semacam itu, pasti lah Xiaoli ingin mendekati dan mencium wajah cantik di hadapan.


Lalu seperti apa kondisi jantung keduanya, saat hanya berdua di bukit yang mana hanya ada mereka berdua di sana?


Nantikan cerita Jia dan Xiaoli besok, ya...!!


...🪴 Bersambung ... 🪴...

__ADS_1


__ADS_2