SANG MAFIA!

SANG MAFIA!
Chapter 34


__ADS_3

Suasana di tengah jalan itu masih menegang. Adu tembak masih terjadi antara kubu Michael dan kubu musuh yang entah dari mana datangnya. Michael masih dengan aksi memukaunya. Begitu juga dengan Jack.


Di balik ketegangan itu, ada gadis 22 tahun yang sedang meringkuk di lantai limousine. Ia tengah memikirkan keselamatan dirinya. Namun ia juga berdoa supaya Michael tak sedikitpun terkena sabetan peluru musuh.


Sesekali mata lentik yang bahkan sudah basah oleh air mata itu melirik Michael yang masih berusaha membabat habis beberapa mobil di belakang.


Namun detik berikutnya, kelegaan menghampiri Michael dan Jack. Wajah kedua orang dengan kekuatan hampir sama itupun berubah ekspresi.


Bala bantuan datang dari arah berlawanan, juga dari belakang musuh. Sehingga posisi musuh kini berada dalam kepungan klan Michael Xavier.


Sayangnya, di balik kelegaan Michael, terjadi insiden yang tak inginkan. Dimana mendadak salah satu peluru musuh berhasil menggores lengan Michael hingga darah segar keluar dari lengan yang tertutup jas dan kemeja itu.


Chania semakin histeris saat melihat lengan pria yang dicintainya itu terluka. Namun sepertinya Michael tak merasakan sakit sama sekali. Pria itu justru membalas dengan berondongan peluru dari senjata yang di lemparkan Chania padanya tadi.


Beruntung Dimitri cukup pandai membuat mobil panjang itu bergerak ke kanan dan ke kiri. Atau bahkan berhenti mendadak dan langsung menancap gas, untuk mengecoh lawan. Michael dan Jack selaku team, sudah hafal dengan manufer Dimitri. Sehingga mereka kompak melawan musuh.


Jika tidak berpengalaman, mungkin saja saat ini kepala Michael yang terkena peluru. Ataupun kepala Jack yang juga sudah mengambil posisi sama seperti Michael.


Dalam hitungan menit, semua musuh berhasil di kalahkan dari beberapa titik penyerangan, dimana pasukan Michael mengepung mereka.


Mobil - mobil dengan manusia - manusia tak bernyawa, berserakan di jalanan yang seketika sunyi saat menyadari adanya adu tembak itu.


"Jack! perintahkan mereka membereskan sisa - sisa pertempuran ini! kita harus segera pulang!" ucap Michael sembari kembali memasukkan tubuh bagian atas ke dalam limousine. "Bawa yang masih hidup!" lanjutnya.


"Siap, Tuan!" jawab Jack segera turun dari mobil. Saat Dimitri berhenti untuk memastikan kekalahan lawan.


Di dalam limousine, Chania masih membeku di lantai. Michael membantu mengangkat tubuh itu untuk duduk sampingnya.


"Jangan menangis! ini hal biasa!" desis Michael sembari mengambil kotak obat di bawah jok mobil.


Chania menahan nafasnya, saat Michael melepas baju perang, jas dan juga kemejanya. Hingga membuat lengan putih kekar yang tergores peluru itu nampak jelas di mata Chania. Darah merah mengalir membuat kepala Chania mendadak pusing.


Chania berusaha mengumpulkan kesadaran dan keberaniannya. Ia raih kotak obat yang di ambil Michael. Melupakan gemuruh di dada, membantu Michael untuk membersihkan dan membalut luka itu.


Jelas terlihat jika wajah Chania di penuhi kepanikan. Karena cukup banyak darah yang keluar.


Michael menatap lekat wajah Cantik yang masih sesekali meneteskan air matanya itu. Ada rasa lain yang berdebur di hatinya.


"Kita harus ke rumah sakit!" ujar Chania tanpa melihat Michael yang masih menatapnya itu.


"Michael?" panggil Chania, karena Michael tampak diam saja sambil menatap dirinya.

__ADS_1


"Hanya luka kecil!" jawab Michael kemudian beralih menatap lengannya yang sudah di perban Chania.


"Luka kecil?" Chania mendelik. "Ini goresan peluru, Michael! cukup dalam!" jelas Chania.


"Aku pernah terluka lebih dari ini! dan nyatanya aku sembuh hanya dengan aku obati sendiri!"


"Kamu gila! pokoknya kita harus ke rumah sakit!" kekeh Chania. "Atau panggil dokter pribadi mu tadi ke rumah!"


Mendengar saran Chania mengenai dokter pribadi. Michael kembali teringat ucapan Rudolf tentang Chania yang cantik dan seksi.


Michael menyebikkan bibirnya. Seolah kesal ada pria lain yang memuji kelebihan sekretaris pribadinya itu.


"Michael?" panggil Chania, karena Michael sepertinya sangat menyepelekan luka dan bahkan tak mendengar saran darinya.


"Sudahlah! ini tidak parah!" kekeh Michael.


"Dimitri! cepat!" ucap Michael dari jendela yang belum ia tutup kembali.


"Siap, Tuan!" jawab Dimitri dan Jack bersamaan.


"Dasar keras kepala!" umpat Chania kesal dengan menyilangkan tangan di dadanya.


Michael tersenyum tipis melihat ekspresi cemberut Chania yang justru terlihat menggemaskan.


🍄 Satu minggu sudah, sejak kejadian pertempuran malam itu. Namun Michael dan para bawahannya tak kunjung menemukan dalang dari penyerangan itu.


Semua musuh yang masih hidup, di bawa oleh para pengawal ke markas untuk interogasi. Karena dari pengamatan Michael sebelumnya, tak ada pemimpin yang ikut serta dalam penyerangan itu.


Namun aneh, saat di tanya siapa yang membayar mereka. Mereka semua justru memilih mati dengan cara meminum racun secara bersamaan yang di ambil dari saku celana masing - masing. Seolah racun itu sudah mereka siapkan sebelum berangkat bertempur.


Dan itu membuat Jack dan Dimitri, selaku tangan kanan Michael yang menangani mereka secara langsung di buat terheran - heran.


Hal itu pun membuat Michael yang kini duduk di meja kerja kamarnya di buat sedikit pusing. Pria tampan dengan garis wajah yang tegas itu terlihat begitu pening. Sesekali ia memijat pelipisnya.


Musuh kali ini sangat sulit di lacak. Bahkan Michael bekerja sama dengan mata - mata senyap. Namun hasilnya nihil. Karena sekalinya tertangkap, mereka akan langsung memilih mengakhiri hidup dengan meminum racun.


Memeriksa sidik jari dan label di seluruh senjata yang mereka gunakan pun sudah di lakukan. Namun hasilnya hanya sidik jari mereka saja yang ada. Tak ada pertanda bahwa senjata mereka dari suatu klan musuh.


' Jika bukan ahlinya, mana mungkin penyerangan seperti ini bisa terjadi! '


Batin Michael bergemuruh.

__ADS_1


"Brengsek!" umpak Michael menggebrak mejanya dengan keras.


Chania yang duduk di atas tempat tidur pun seketika tersentak kaget, bahkan ponsel di tangannya jatuh ke lantai.


"Michael! mengagetkan saja!" teriak Chania menahan kesal.


Michael hanya melirik sekilas. Ia sendiri seperti resah setiap melihat Chania dan mengingat tak kunjung menemukan dalang penyerangan.


Sejak kejadian malam itu, Chania enggan berjauhan darinya. Bahkan Chania tak lagi keluar untuk belanja baju dan kebutuhannya untuk dirinya sendiri. Chania mempercayakan kebutuhannya pada asisten khusus di rumah Michael.


Bahkan untuk perawatan tubuhnya, kini ia lakukan cukup di ruang spa pribadi milik Michael.


Dulu ia enggan kesana, karena sering bertemu Oliver. Namun selama seminggu ini ia memilih untuk menebalkan telinga, tenaga dan pikiran untuk melawan Oliver.


Gadis itu seolah mengalami trauma berat. Ia takut jika mengalami penyerangan dadakan saat tak ada Michael bersamanya. Bagaimanapun ia termasuk ke dalam klan Michael. Pasti bisa saja nyawanya jadi incaran musuh.


Chania turun dari ranjang, dan berjalan mendekati Michael. Ia bersandar di meja kerja Michael, menghadap tubuh kekar yang terlihat cukup frustasi itu.


Sebenarnya Chania cukup senang, karena sejak malam itu, Michael tak lagi mengejar kata cinta darinya. Namun melihat Michael frustasi ada rasa kasihan tersendiri. Apalagi itu juga berhubungan dengan nyawanya sendiri.


"Apa kamu punya musuh dalam selimut?" tanya Chania tiba - tiba.


Seketika mata Michael melirik tajam pada Chania. Ingatannya kembali pada beberapa waktu silam.


' Tapi pria itu sudah mati di tangan istrinya sendiri! '


Ucap Michael dalam hati.


Fokus Michael teralihkan pada tubuh Chania yang terlihat begitu seksi di balik lingerie berwarna merah dengan panjang di atas lutut, dan tali kecil di pundak. Serta bagian dada yang terbuka lebar. Membuat gundukan kenyal Chania, menyembul keluar.


"Sepertinya aku lapar!" desis Michael melirik nakal pada Chania.


"Makanlah!" sahut Chania datar.


Namun sebenarnya gadis itu paham maksud dari kata lapar yang di lontarkan Michael.


.


.


🪴🪴🪴

__ADS_1


Happy reading 🌹🌹🌹


__ADS_2