
Pria itu menoleh pada mobil rudal, samar - samar di tengah gelap malam, hanya sinar rembulan yang paling terang, dapat di lihat, jika sang pengemudi telah tewas bersimbah darah.
Sedangkan pasukan rudal sudah berjatuhan di aspal, dan rudal sudah di kuasai oleh orang - orang yang tak di kenalnya. Tentu saja mereka adalah pasukan rudal yang di miliki Michael.
Membuat pria bengis itu membulatkan matanya. Sontak ia memasang kuda - kuda untuk menghadapi anak buah Michael yang menyebar di sekelilingnya, di ikuti oleh anak buah pria itu.
Atau bahkan Michael sendiri yang menghabisi pasukan rudalnya?
"Selamat datang, Albert Atherna!"
Suara dingin Michael menghancurkan konsentrasi pria bernama Albert itu. Sontak sepasang mata mereka saling tatap, begitu juga moncong senjata mereka masing - masing dengan raut kebencian yang sama.
Michael yang membawa pistol, pisau kecil di tangan kiri dan samurai di punggungnya menatap Albert dengan kebencian yang tiba - tiba muncul untuk pria di depannya itu. Karena berani mencampuri urusannya tanpa ada perselisihan sebelumnya.
Sedang Albert Atherna terlihat membawa senjata yang sama, tengah menatap Michael penuh dengan kebenciannya di masa lalu. Sesuatu yang tidak di ketahui Michael.
Situasi di dermaga masih sunyi, namun mereka sudah siap dengan senjata masing - masing, dan mengarah pada lawan yang di pilih masing - masing. Pasukan Michael terlihat lebih banyak kali ini. Membuat nyali beberapa anak buah Atherna menciut.
Rudal gagal menghancurkan kapal. Sehingga senjata masih aman di dalam kapal. Tentu saja di bawah pengawasan khusus oleh anak buah Michael. Seperti Jack yang memang di tugaskan oleh Michael mengamankan kapal.
"Apa yang membuatmu mencampuri urusanku?" tanya Michael dingin.
"Hah!" Albert tersenyum sinis. "Kau yang lebih dulu mencampuri urusanku!"
Michael memicingkan matanya, karena merasa tak pernah berurusan dengan Atherna selan hampir sepuluh tahun menjabat sebagai Ketua Klan Black Hold di Italia.
"Apa maksudmu?"
"Kau selalu membuatku kalah di semua pertandingan di sekolah kita dulu! apa kau tidak tau betapa malunya aku saat itu?"
Michael tak menduga hal kecil di masa lalu, persaingan di sekolah membawa dendam sampai empat belas tahun lamanya.
"Di sekolah?" tanya Michael. "Sejauh itu kau membawa dendam di masa sekolah?"
"Aku benci!" jawab Albert. "Gara - gara kau, Papa selalu saja membanding ku dengan mu! putra Frederick Sebastian!"
Michael menggelengkan kepalanya. Tak menyangka semua ini hanya karena dendam masa lalu. Yang bahkan tak di sadari Michael jika pria itu iri padanya.
__ADS_1
"Sekarang aku sudah kuat! bahkan tubuhku lebih besar dari mu! aku pasti bisa mengalahkan mu!"
"Apa kau juga yang memerintahkan orang - orang untuk menyerang ku di jalan malam itu?"
"Ya! memang aku yang menyuruh mereka semua! Hahaha!" Albert tertawa menggelegar.
"Brengsek!" umpat Michael dengan amarah yang mulai terpancing.
"Kenapa?" tanya Albert dengan seringai licik. "Kau tak menyangka jika aku memiliki pasukan yang begitu setia? rela mati demi menutupi siapa pemimpinnya?"
"Aku lebih tidak menyangka, jika kau berani muncul di pelabuhan ini!" jawab Michael dingin. "Kau jelas tau, dermaga ini milik siapa!"
Albert menarik nafas panjang. Ia sudah tak sabar ingin menghabisi Michael. Seseorang yang selalu membuatnya di banding - bandingkan oleh sang ayah.
"Berhenti bersikap sombong padaku! jika memang kau seperti apa yang di katakan ayahku, sebaiknya kita bertarung tanpa senjata api!" ucap Albert. "Dan biarkan anak buah kita beradu dengan cara yang sama!"
Tanpa basa basi Michael memasukkan pistol Glock di tangannya ke belakang. Kemudian mengeluarkan samurai dari punggungnya. Sedang tangan kirinya masih dengan pisau kecil yang tajam miliknya.
Baginya Albert bukan lawan sulit untuk di tumbangkan. Ia hanya perlu sedikit fokus dan tenaga penuh. Agar bisa membuat pria itu kocar - kacir.
"SERRRAAAANGGG!" Teriak Albert memberi komando pada pasukannya.
Michael menghunuskan samurai ke leher Albert. Namun pria itu berhasil menangkisnya. Samurai kembali berputar menyerang sisi kiri Albert dan kembali di tangkis.
Beberapa menit peperangan itu terus berlangsung. Banyak anak buah Albert yang sudah tumbang di tangan anak buah Michael.
Dugaan Michael tentang Albert tenyata sedikit meleset. Pria itu sudah cukup mahir untuk melawannya. Hingga sebuah sabetan berhasil mengoyak lengan Michael kanan Michael. Darah segar mengalir dari lengannya.
"Hahahahah! dasar payah! begitu saja kau sudah berdarah!" teriak Albert tertawa mengejek.
"Jangan senang dulu Albert!" desis Michael penuh kebencian.
"Hahaha! puas rasanya bisa menertawai mu!" ucap Albert. "Sepertinya... kau juga lemah saat di ranjang!" ejek Albert. "Aku dengar sekarang kau punya sekretaris yang kau bawa pulang? Apa dia cantik dan seksi?" tanya Albert berseringai. "Kalau iya, boleh lah aku mencobanya jika aku memenangkan peperangan ini."
"JANGAN MIMPI!" teriak Michael menatap Albert dengan tatapan membunuh miliknya.
"Hahahaha! aku suka membuatmu kesal Michael! Ah ya! aku hampir lupa siapa nama gadis dengan body aduhai itu... siapa... Cha... Ah! Chania! nama yang cantik seperti orangnya! pasti tubuhnya juga cantik dan aduhai! Aku tidak sabar mencicipinya, Michael!" Albert sengaja memancing amarah Michael dengan seringai penuh nafsu.
__ADS_1
Amarah Michael seketika memuncak. Melihat pria yang tengah membayangkan tubuh istrinya.
Michael dengan cepat menggunakan jurus seribu bayangan miliknya. Melupakan rasa sakit di lengannya yang terus mengalirkan darah segar.
Semakin ia ingat seringai Albert tentang istrinya, semakin terpancing amarah di hatinya. Membuatnya lupa diri.
Hingga pria bertubuh tinggi besar itu kwalahan dengan serangan Michael. Ia tak menyangka efek pancingannya melampaui batas kemampuannya.
Peperangan samurai itu terus berlanjut. Michael berhasil membuat pisau kecil Albert terlempar beberapa meter. Dan kembali fokus menerjang Albert menggunakan samurai.
Terlalu fokus dengan samurai Michael yang bergerak sangat cepat, membuat Albert melupakan pisau kecil di tangan kiri Michael. Hingga pisau Michael berhasil menancap di perut Albert.
Spontan darah mengalir dari perut dan mulutnya. Hingga akhirnya pria itu roboh ke atas tanah pelabuhan. Sontak semua anak buah yang tersisa berhenti untuk saling serang.
"Dari dulu kau memang bukan lawan yang sepadan denganku!" desis Michael saat duduk berjongkok untuk mencabut pisau kecilnya.
Albert yang masih ada sisa - sisa nyawa, menatap Michael dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Kau tau? Chania adalah istriku!" ucap Michael membuat Albert semakin membuka matanya lebar.
Albert tak menyangka Chania adalah istri Michael. Itu artinya ada cinta di antara keduanya yang di sembunyikan.
"Sekali saja seseorang membayangkan sesuatu yang menjijikkan tentang istri ku, maka aku tidak akan segan untuk membunuhnya. Termasuk dirimu!"
Michael mengangkat tangan kanannya yang terdapat pisau yang baru saja ia cabut. Michael hendak menancapkan pisau itu kembali. Namun suara Albert membuatnya mengurungkan niat.
"Mi..Michael! kau..ha..rus tau. Aku ti..dak..da..tang sendiri. A..da yang mem..ba..yar ma..hal aku!" ucap Albert terbata di sela - sela mulutnya yang mengeluarkan darah.
"Siapa!" tanya Michael memicingkan matanya.
"Se..seorang yang me...ngi...ngin..kan istrimu! Di ja..lan itu bukan aku pe..mim..pinnya. Me..lain..kan sa..ma de..ngan a..ku! di.. ba..yar!" lanjutnya untuk kemudian menghilanglah nafas pria yang sebenarnya suruhan seseorang itu.
"Albert!" panggil Michael. Namun pria itu sudah tewas.
"Yang mengincar Chania?" gumam Michael.
Hanya ada satu nama yang menginginkan Chania. Michael mengepalkan tangannya. Ia harus merencanakan suatu pengamanan.
__ADS_1
🪴🪴🪴