
Setiap orang memiliki masalah dan urusannya masing-masing. Tak terkecuali dengan Georgio Xavier Sebastian. Pemuda yang biasa di sapa Jio itu tengah sibuk di ruang kerja sang Daddy yang ada di perusahaan. Dan ia tengah berada di depan dua laptop yang sedang beroperasi sekaligus.
Bagaimana tidak sibuk, ia sedang meretas ponsel seseorang yang sangat ia curigai. Seseorang yang sangat ia sayangi dan perlu di pantau dengan sangat hati-hati.
Dia adalah sang saudara kembar, Georgia Xavier Sebastian.
Jio memang memasang pengaman khusus di ponsel Jia untuk menghindari Hacker yang ingin meretas ponsel keluarganya. Dan kali ini ia harus menjebol sendiri benteng yang ia bangun di ponsel Jia.
Mendapati bau parfum dan gerakan mencurigakan di dalam kamar Jia, membuat Jio menggunakan keahliannya sebagai seorang Hacker dengan IQ di atas rata-rata untuk mengetahui semua rahasia yang di sembunyikan sang adik.
"Maafkan aku, Jia! Aku terpaksa melakukan semua ini demi keselamatan kamu dan keluarga kita!"
Gumam sang petarung terbaik di kuil Shifu, sekaligus putra mahkota klan Black Hold.
Berhasil menjebol pertahanan yang ia bangun, Jio di buat mengerutkan keningnya ketika memeriksa noor ponsel yang paling sering berhubungan dengan Jia.
"Siapa pemilik nomor ini?" gumamnya.
Dengan segera sang pemuda mencari tau siapa pemilik nomor ponsel satu ini. Dan betapa diri bagai kejatuhan meteor ketika melihat barisan nama yang muncul sebagai pemilik nomor yang sering di hubungi oleh sang saudara kembar.
"Fvck!"
Jio menghempaskan tubuhnya dengan kasar pada sandaran kursi kebesaran sang Ayah, Jio mengurut pelipis yang seketika terasa pening.
Bagaimana tidak pening, kenyataan tentang apa yang di dapat sangat di luar nalarnya sejak semalam. Dunia benar-benar sedang berputar di atas kepala sang pemuda. Berfikir keras, langkah apa yang harus ia ambil ke depannya.
***
Hamparan pantai yang luas di tepian kota pagi itu tidak terlalu ramai pengunjung. Gadis cantik dengan tubuh sintal berambut pirang emas duduk bersama seorang gadis yang di ketahui sebagai sahabatnya.
Gadis berambut emas itu menatap jauh ke ujung laut sana. Meski mata menatap jauh ke sana, tapi pikirannya juga tengah bekerja keras untuk mengingat setiap detail kehidupannya di usia remaja yang tak ia ingat sama sekali.
Flo sengaja membawa Virginia ke pantai yang menjadi saksi bisu cinta Jio dan Virginia. Lantas sebenarnya siapa Flo? Bagaimana ia bisa mengetahui semua tentang gadis satu ini?
"Malam itu kalian terlihat sangat romantis. Aku bahkan ingin kelak mendapatkan kekasih sebaik dan sesempurna Jio. Di mana malam itu... penantianmu selama tujuh tahun tidak sia-sia..." ucap Flo menoleh sahabatnya yang terdiam dengan menekuk kaki dan mengunci menggunakan kedua lengan tangannya. "Dia kembali dan menjadi milikmu..."
Gadis berambut emas mengangkat tangannya dan memegang kepalanya dengan sangat erat. Matanya tertutup rapat. Wajah cantiknya memicing tersiksa.
"Aku tidak ingat, Flo... Aku tidak ingat..." lirih Virginia merasa benci dengan dirinya sendiri. "Kalau memang aku telah membuat lelaki itu kecewa, mungkin sebaiknya aku pergi keluar negeri saja. Aku tidak mau menyakiti siapapun..." lirihnya terdengar sangat pilu.
"Jangan, Nia! Pergi ke luar negeri dengan kondisi kamu yang seperti ini bukanlah waktu yang tepat. Tidak akan ada yang menjaga mu sebaik kedua orang tuamu dan Jio..."
"Tapi aku tidak bisa mengingatnya sama sekali, Flo..."
"Sudahlah... Semua akan membaik di waktu yang tepat." Flo memeluk lengan Virginia dengan lembut.
Ketika matahari merangkak naik, dua anak muda itu meninggalkan area pantai untuk pulang. Dan hanya lamunan suram yang tergambar di dalam benak sang Nona Muda Brown.
***
"Kami sudah pulang... Aku sudah di rumah, kamu bisa memantau dari orang di rumahnya!"
Sebuah pesan singkat masuk ke ponsel Jio yang ada di atas meja. Sang pemuda masih sibuk mencari sejauh apa hubungan sang adik dengan ya... begitulah.
"Ok!"
Balas Jio singkat pada Flo.
***
__ADS_1
Setelah mengantar Flo pulang, siapa sangka jika tanpa sepengetahuan siapapun, Virginia kembali ke pantai itu hanya dengan di antar oleh sopir pribadinya.
Kali ini ia berjalan-jalan seorang diri di tepian pantai. Mengamati suasana pantai yang semakin ramai pengunjung di kala siang.
Berulang kali sang gadis memutar tubuhnya untuk mengamati sekitar. Mencoba mengingat apa yang pernah terjadi di pantai ini. Namun semua benar-benar nihil.
Virginia yang sudah sangat lelah dengan ingatannya, memilih untuk kembali duduk seorang diri di kursi tepian pantai karena kepala yang mulai terasa sakit.
Kembali menghadap hamparan laut yang luas, Virginia seperti gadis melamun yang kehilangan arah.
Di tengah lamunan, di tengah kepala yang sakit, ekor matanya menangkap kaki seseorang bersepatu casual menghadap dirinya. Dari ukuran sepatu dan bentuk kaki, sudah bisa di tebak jika pemiliknya adalah seorang laki-laki.
Kepala bergerak ke atas untuk melihat siapa yang tiba-tiba berdiri di sampingnya. Hingga keningnya mengerut karena merasa tidak mengenali.
"Ada apa, ya?" tanya Virginia.
"Hai?" sapa pemuda yang berusia sekitar 24 tahun.
"Hemm..." Virginia mengangguk ramah menanggapi sapaan sang pemuda.
"Boleh aku duduk?" tanya pemuda itu menunjuk sisi tempat duduk yang ada di samping Virginia.
"Silahkan!" jawab Virginia mengangguk.
Dan duduklah pemuda yang berusia lebih tua dari Virginia itu.
"Sendiri?" tanya sang pemuda.
"Iya." jawab Virginia ramah. "Kamu juga sendiri?" tanya balik Virginia.
"Tidak. Aku bersama sepupu dan saudaraku. Hanya saja mereka sedang berjemur." jawab sang pemuda menunjuk seorang pemuda dan seorang gadis yang tengah berjemur di atas pasir pantai.
"Oh..." Virginia mengangguk dan tersenyum datar.
"Teman ku sudah pulang..." jawabnya. "Kamu kenapa tidak ikut berjemur?"
"Aku tidak suka..."
"Ohh..." Virginia mengangguk.
"Boleh berkenalan?" tanya pemuda itu. "Ini hari pertama aku di Italia."
"Hari pertama?" tanya Virginia mengerutkan keningnya.
"Iya..." pemuda itu mengangguk.
"Sebelumnya di mana?"
"Sebelumnya aku tinggal di Texas, Amerika!" jawab pemuda itu.
"Oh..." Virginia mengangguk. Meskipun ia tidak terlalu ingat, di mana letak kota Texas. Yang ia tau hanya tentang Amerika. "Di sini untuk berlibur?"
"Emm... bisa di bilang seperti itu. Tapi untuk berlibur dengan jangka waktu yang cukup panjang."
Virginia kembali mengangguk dan tersenyum datar.
"Namaku Axton Jacob! Kamu siapa?" tanya pemuda yang mengaku bernama Axton itu.
"Panggil saja aku Virginia..." jawab Virginia menoleh sekilas pemuda dengan rambut pirang kecoklatan yang di sisir rapi.
__ADS_1
"Hai, Virginia! Salam kenal!" ujar Axton dengan tersenyum ramah menawan.
"Ya!" jawab Virginia tersenyum. "Em... Aku harus pulang... Bye Aston! semoga liburan mu di Roma menyenangkan!" ucap Virginia sembari beranjak dari duduknya.
"Oh..." Axton sontak ikut berdiri ketika melihat Virginia berdiri. "Thank you!" jawab Axton dengan senyum yang masih sama.
"Bye..." pamit Virginia melambai singkat.
"Oh, Virginia!" seru saat Virginia hendak melangkah meninggalkan tempat duduk permanen yang mereka gunakan.
"Iya?" Virginia kembali menoleh pada Axton, pemuda yang tak kalah tampan dari Jio ataupun Xiaoli.
"Boleh kita bertukar nomor ponsel?" ucap Axton dengan ragu. "Aku mungkin akan beberapa bulan di Italia, jadi aku rasa sepertinya aku membutuhkan teman yang baik untuk berkomunikasi selama di sini."
Virginia mengerutkan keningnya mendengar permintaan dan alasan sang pemuda. Namun Virginia yang memang sejak kecil selalu bersikap ramah, ia pun akhirnya tersenyum menanggapi permintaan pemuda itu.
"Em... sepertinya belum tentu kita akan bertemu kembali setelah ini. Jadi aku rasa nomor ponsel tidak terlalu di butuhkan untuk pertemuan pertama kita." jawab Virginia seramah mungkin.
"Aku tau... Hanya saja... Dari tiga orang yang aku temui, hanya kamu yang bersikap ramah padaku. Selebihnya sangat sinis ketika aku mengajak mereka berkenalan." ucap sang pemuda memelas. "Sementara aku membutuhkan seseorang yang bisa mengenalkan aku dengan Italia."
Virginia kembali tersenyum singkat. "Begini saja.. Aku tidak terbiasa memberikan nomor ponsel ku pada orang yang baru aku kenal. Lagi pula jika untuk memperkenalkan Italia,...aku sendiri tidak terlalu mengenal..." Virginia menggelengkan kepalanya.
"Jadi....?"
"Jadi kalau seandainya kita kembali bertemu secara tidak sengaja... Aku akan memberi nomor ponsel ku padamu..." jawab Virginia meski ragu.
"Oh, begitu..." Axton menunduk sesaat. "Baiklah! Semoga kita bertemu kembali." ucapnya tersenyum dengan penuh harapan.
"Hem..." Virginia mengangguk. "Aku pergi dulu... Bye!" Virginia melambaikan tangannya.
"Ya!" jawab sang pemuda. "Bye!"
Dan berpisah lah dua anak muda yang baru berkenalan itu. Axton menatap punggung Virginia dengan tatapan yang cukup sulit di artikan.
' Dia memang cantik... '
Pujinya dalam hati.
Sedang Virginia sudah tidak lagi menoleh ke belakang untuk melihat sang pemuda. Gadis cantik yang masih lupa ingatan itu memang masih kesulitan untuk mengingat apapun yang sudah ia lalui selama ini. Bahkan tata letak kota maupun negara di dunia.
***
"Virginia belum pulang, Jio..." jawab Nyonya Brown mengangkat telepon dari pemuda yang di harapkan akan menjadi menantunya kelak.
"Aunty yakin?"
"Tentu saja, Jio!" jawab Nyonya Brown.
"Tapi Flo bilang, mereka sudah pulang dan Flo pun sudah ada di rumahnya sejak satu jam yang lalu." ucap Jio. "Seharusnya Nia sudah ada di rumah, Aunty!"
"Lah... terus? Kemana dia, Jio?" wajah Nyonya Brown mulai terlihat tegang.
"Jio juga tidak tau, Aunty! Kalau begitu Jio akan melacak nomor ponsel Virginia terlebih dahulu, Aunty!"
"Ya, Jio! terima kasih!"
"Yes, Aunty!"
Maka salah satu Hacker terbaik itu kembali mengotak atik laptopnya guna menemukan keberadaan sang kekasih. Belum selesai pusing kepalanya akan kenyataan tentang sang saudara kembar, kini ia harus juga mencari sang kekasih yang seharusnya sudah sampai di rumah sejak hampir satu jam yang lalu.
__ADS_1
"Kemana kamu, Baby..." lirihnya menghela nafas panjang dan sedikit kasar.
...🪴 Bersambung ... 🪴...