
"Apa Tuan tuli?" tanya Chania pada Michael yang masih betah menatapnya lekat.
Tak menghiraukan pertanyaan Chania, Michael justru beralih menyentuhkan tangannya pada perut buncit Chania. Tangan itu bergetar saat hendak sampai pada perut di mana ada benihnya yang sedang tumbuh.
"Jangan sentuh saya!" sentak Chania kembali menepis tangan Michael saat menyadari pria itu hendak menyentuh perutnya.
Sudah tidak tahan lagi, Michael meraih kedua pergelangan tangan Chania. Menarik ke punggungnya, dan mengunci dengan satu tangan.
"Lepaskan saya!"
"Berhenti memberontak, Baby." tegas Michael dingin.
Tangan kiri Michael kembali mendekati perut Chania. Tangan yang bergetar adalah bukti jika ia sangat gugup hendak menyentuh keajaiban yang tak pernah ia sangka sebelumnya.
Tersenyum saat tangannya berhasil mengusap perut istrinya, "Terima kasih kamu sudah mempertahankannya meskipun tanpa aku.." lirih Michael sendu. Terus mengusap dengan lembut, hingga ia tundukkan kepala dan mendaratkan kecupan di sana.
Sungguh damai ketika melihat Michael memperlakukan calon buah hati mereka dengan lembut. Namun ia masih dalam mode Carina bukan Chania.
"Apa hubungannya denganmu, Tuan! dia anakku! wajar jika saya mengandungnya!"
"Dia juga anakku! darah daging ku.." tegas Michael kembali melirik mata Chania.
"Tuan, anda sedang bermimpi!" jawab Chania memicingkan mata. "Dia jelas bukan anak anda!"
Menghela nafas, "Biarkan aku bicara! beri aku waktu untuk bicara, Baby.." memohon dengan mendekatkan wajah pada wajah Chania. Namun Chania segera menoleh, menghindari bibir Michael yang hendak mengecup bibirnya.
"Maaf Tuan! saya Carina bukan Baby!" ucapnya tanpa menatap wajah Michael.
Sudah tak sabar dengan bantahan demi bantahan Chania, Michael mengunci tangan dan tubuh Chania dalam dekapan. Dengan paksa meraih bibir Chania dengan bibirnya. Menyatukan dua bibir tipis untuk menebus kerinduan.
"Emh! emh!"
Chania berusaha memberontak, namun siapalah dirinya. Sekuat apapun ia memberontak, nyatanya tak membuat Michael bergerak sedikitpun.
Mau tak mau ia membiarkan bibirnya di hisap oleh pria di depannya. Dan tak sedikitpun ia membalas. Meskipun sejujurnya ia juga sangat menginginkan. Tapi yang ada dalam benaknya, bisa saja ini adalah jebakan. Seperti rencana yang pernah ia dengar.
"Tuan! umh" seru Chania saat mendapatkan kesempatan untuk memberi jarak pada dua bibirnya.
"Lepas!" sentak Chania.
__ADS_1
"Akui dulu, jika dia adalah darah daging ku.."
"Apa Tuan pikir saya ini bidadari, sampai mengandung anak seorang Tuan kaya raya seperti anda?" tanya Chania. "Saya ini hanya sampah, Tuan! saya hanya gadis menyedihkan yang di tinggalkan oleh suaminya!"
"Kamu yang meninggalkan suami mu, bukan suamimu yang meninggalkanmu."
"Anda tidak mengenal saya, Tuan!" kesal Chania.
Tersenyum miring, "Jika di punggungmu ada tanda lahir hitam, maka kau adalah Chania Renata, istriku." ucap Michael dingin, membuat Chania membeku. "Dan hanya aku yang tau setiap inchi dari tubuhmu, Baby.." bisiknya merasa menang.
Sedangkan nafas Chania memburu, di punggungnya memang ada sebuah randa lahir. Ia tak menyangka Michael akan mengingat itu semua.
Dengan paksa, Michael menurunkan resleting di punggung Chania yang masih terkunci oleh tangannya.
"Stop! anda sungguh tidak sopan!" sentak Chania masih berusaha memberontak.
Namun lagi - lagi kekuatan Chania tak sebanding dengan sang suami. Hingga turunlah kepala resleting hingga bawah.
Air mata Chania menetes. Merasa malu, namun pria yang mendekapnya ini adalah satu - satunya pria yang pernah melihatnya telanj*ng.
Membantah? mana mungkin bisa. Tanda yang di maksud Michael nyata adanya.
Tak mampu menahan gejolak rindu, reflek bibirnya memberi kecupan di pundak mulus Chania.
"I miss you so much, Baby!" bisik Michael lirih namun terdengar sangat serius dan sendu di telinga Chania.
Michael mengusap punggung Chania yang sudah tertutup dress, menggiring Chania pada cermin berukuran 30*80 yang menempel di ruang tamu. Dengan posisi Chania membelakangi cermin, sedang Michael menghadap cermin.
"Kamu lihat ini, Baby... aku tak pernah lupa tanda lahir ini." Michael mengusap tanda lahir yang berada tepat di atas pengait br* Chania.
Chania sedikit menoleh ke belakang, menatap cermin. Sesaat pandangan mereka bertemu di sana. Namun seketika Chania mengalihkan pandang pada bagian yang di usap Michael.
"Kamu tidak akan bisa lari dari ku, Sayang.." lirih Michael. "Kamu adalah milikku, sejauh apapun kamu menghindar, aku akan tetap bisa menemukan dirimu."
Chani meneteskan air matanya. Kalimat sayang Michael serasa seperti pisau yang bermain - main di hatinya. Namun ia yang masih dalam pelukan Michael, tak memberontak sedikitpun. Karena ia pun merasa nyaman dengan dekapan itu.
"Maafkan aku, Baby... selama ini aku sangat bodoh." bisik Michael melepas tangan kirinya yang mengunci tangan Chania. "Aku adalah pria bodoh dan brengsek yang pernah kamu kenal!" lanjutnya sembari kembali menarik resleting dress Chania ke atas. "Aku dengan bodohnya mengikuti rencana busuk wanita tua itu. Namun sampai pada suatu titik, aku menyadari jika tidak seharusnya aku melakukan semua ini."
Chania tak tau lagi harus berbuat apa, ia hanya menangis. Sudah tak ada guna menutupi identitasnya. Michael tidak mungkin semudah itu di kelabui.
__ADS_1
Menarik nafas dalam, menetralkan perasaan sebelum bicara. Namun bukannya membaik, air matanya justru menggenang begitu saja. Mendongak ke atas, menahan air mata namun tak ada hasil.
"Saya lah yang bodoh, Tuan." ucapnya parau. "Karena saya berhasil masuk ke dalam perangkap yang Tuan buat. Hingga saya jatuh terlalu dalam, dan lupa siapa diriku." ucap Chania lirih. "Tapi saya bersyukur, karena Tuhan memberi tahu saya di waktu yang tepat. Saya hanyalah gadis sampah, mana mungkin saya bisa memasuki kehidupan seorang Michael Xavier jika bukan karena ada sesuatu hal yang anda inginkan dari diri ini."
Kata demi kata yang keluar dari bibir Chania terdengar begitu memilukan. Menyayat batin Michael. Apalagi cara bicara yang tak biasa. Seolah ada jarak yang begitu jauh di antara keduanya.
"Dan satu pelajaran yang saya dapatkan, Tuan. Bahwa suatu hal yang buruk mengharapkan manusia lebih dari siapa kita."
Air mata semakin deras mengalir. Menangis tanpa suara yang berlebihan. Memperlihatkan betapa rapuh dirinya. Betapa sial nasibnya. Betapa hancur hatinya.
Mendengar semua itu, Michael menggelengkan kepalanya pelan. Jantungnya ikut teremas saat melihat air mata pilu Chania yang terus mengalir. Ia usap lembut menggunakan ibu jarinya. Seolah ingin menghapus semua pikiran buruk Chania.
"Tidak benar, Baby... akulah yang sudah terjatuh. Aku yang sudah tenggelam dan terperangkap oleh permainanku sendiri."
Michael meraih kedua tangan Chania. Mengecup beberapa kali punggung tangannya, kemudian mendekapnya erat di dada.
"Maafkan aku, Baby... please!"
"Hiks!" tak sanggup berkata - kata. Chania hanya menangis sedemikian dalam. "Pergilah dari sini, Tuan. Saya mohon, jangan serahkan saya pada Nyonya Deborah. Hiks!" mengingat itu hati Chania semakin hancur. "Saya ingin bayi saya lahir dengan selamat, dan tumbuh seperti anak pada umumnya. Saya tidak mau bayi saya lahir lalu saya mati. Hiks hiks!"
"Never!" sahut Michael menggeleng. Ia pun tak ingin semua itu terjadi. "Pulanglah bersamaku, Baby! aku pasti menemukan cara untuk membuat perjanjian itu hangus! Aku berjanji tidak menyerahkan mu pada wanita tua itu!"
Hati Chania sudah remuk. Ucapan Michael bak angin lalu saja. Menarik tangannya dari dekapan Michael. Merasa sangat tidak pantas tangannya di cium oleh seorang Michael Xavier, dengan mendapatkan janji - janjinya.
Michael justru menggenggam erat tangan Chania, menarik pundaknya untuk kemudian membawa tubuh itu dalam pelukannya.
"Aku melewatkan ulang tahunmu, Baby..." lirih Michael mencium puncak kepala Chania.
Chania hanya terus menangis, tanpa membalas pelukan Michael. Namun ia terkejut saat Michael mengatakan ia melewatkan ulang tahunnya.
' Memangnya kenapa? '
Batin Chania bertanya - tanya.
🪴🪴🪴
Happy reading 🌹🌹🌹
Ini Othor jam 20.50 WIB
__ADS_1
Tapi entahlah lolos review jam berapa... 🤔