
🌺 Flashback On ...
Malam telah larut, Michael Xavier, remaja 13 tahun itu telah masuk ke dalam kamarnya di rumah utama. Rumah dimana ia tinggal bersama kedua orang tuannya. Menghabiskan masa kecilnya di sana, sebelum akhirnya istana miliknya berdiri.
Jarum panjang jam dinding di kamarnya sudah hampir sampai di angka 12. Itu artinya waktu menunjukkan tengah malam. Ia baru saja menyelesaikan latihan bela diri sekaligus menembak bersama guru khusus yang di datangkan sang Papa dari daratan China.
Biasanya ia berlatih dengan sahabat yang ia anggap sebagai saudara sendiri, Oliver Arlington. Namun malam ini gadis itu enggan untuk berlatih dan hanya asyik bermain di kamar tamu bersama adiknya, Selena Arlington. Mereka sudah biasa untuk menginap di rumah Frederick.
Dan begitulah Oliver kecil. Sang Mama dan Papa menginginkan ia menjadi wanita yang tangguh, minimal pandai memainkan senjata. Dan ikut bersama mereka turun ke medan perang, sebagai penerusnya kelak. Karena notabennya, keluarga Arlington juga termasuk dalam jaringan Mafia, yang tak akan bisa jauh dari kekerasan.
Namun apalah daya, Oliver tetap seorang perempuan. Yang nalurinya hanya bermain dan menikmati hari - harinya sebagai seorang anak kecil. Tanpa peduli kejamnya dunia Mafia yang belum ia pahami betul.
Kembali pada kisah Michael Xavier Sebastian...
Setelah keringatnya kering, Michael mengguyur tubuhnya dengan air hangat di dalam bilik berdinding kaca tebal. Membiarkan air hangat itu mengguyurnya hingga 5 menit lamanya.
Ia hanya diam menikmati derasnya air hangat yang bergelinciran di kulitnya yang putih bersih. Menerabas otot - otot yang mulai sedikit menunjukkan bahwa ia adalah calon seorang lelaki petarung.
Selesai membersihkan dirinya hampir 15 menit lamanya, Michael keluar dari kamar mandi. Handuk kecil berwarna abu - abu melingkar di pinggangnya. Berjalan dengan bertelanjang dada ke arah almari dan mengambil ****** ***** serta boxer dan juga kaos oblong saja.
Ia melompat ke atas ranjang, setelah apa yang ia ambil sudah melekat di tubuhnya. Mematikan lampu menggunakan remote, kemudian membaringkan diri, bersiap untuk melepas rasa lelah dengan tidur di ranjangnya yang empuk dan mewah. Berdamai dengan mimpi apapun yang akan mendatanginya malam ini.
Jarum merah pada jam dinding terus berputar. Melewati satu persatu angka yang jumlahnya tak pernah berubah. Namun waktu terus berubah.
Sampai Michael remaja, yang sudah terlatih sejak dini untuk bisa peka pada pergerakan di sekitarnya, terusik oleh gerakan senyap yang tak akan di sadari oleh mereka yang sedang tertidur.
Menyadari sebagai keluarga Mafia yang di kelilingi banyak musuh juga persaingan bisnis yang bisa saja mendatangkan musuh - musuh baru, Michael terkesiap dan seketika membuka matanya lebar.
Menajamkan pandangan di tengah gelapnya ruang kamar. Serta menajamkan pendengaran di tengah sunyinya malam.
Melirik ke sisi kanan, ia merasakan ada udara yang bergerak dari sebelah sana. Ia tidak bergerak sedikitpun, sampai akhirnya...
Hap!
Tangan remaja 13 tahun itu menangkap sesuatu yang ia yakini lengan kecil yang merayap pelan di atas bed cover. Alih - alih menemukan tangan kekar atau tangan sebesar orang dewasa yang menyelinap di dalam kamar. Ia justru menemukan lengan kecil yang seketika itu bergerak memberontak dan berusaha untuk melepaskan tangannya.
"Siapa kau!" hentak Michael mengintimidasi.
Tak ada jawaban, tangan kecil itu hanya bergerak - gerak seolah meminta untuk di lepaskan tanpa bersuara. Namun apalah daya, tangan itu bagi Michael tak ada tenaganya sama sekali. Michael remaja sudah biasa menghadapi lawan yang badannya bahkan 3 kali lipat lebih besar dari badannya saat itu.
Tangan Michael bergerak menemukan remote lampu. Merayap pelan namun pasti, akhirnya tangannya berhasil meraih remote kecil dan blarrr..
Lampu utama kamar menyala dengan sangat terang. Seketika ia tau siapa yang menyelinap masuk ke dalam kamarnya.
"Selena!" seru Michael melepaskan lengan kecil yang ia genggam. "Apa yang kamu lakukan di kamarku tengah malam begini!" tanya Michael menatap heran pada gadis 8 tahun di depannya, yang terduduk di lantai. Seolah bersembunyi.
Selena kecil menatap Michael yang duduk menggunakan dua lututnya sebagai tumpuan di atas tempat tidur. Tanpa menjawab sepatah katapun, Selena berdiri dan langsung naik ke atas tempat tidur Michael, meringsek tubuh Michael. Memeluk tubuh laki - laki itu dengan sangat erat.
"Apa yang kau lakukan, Selen!" heran Michael mencoba melepas pelukan Selena. Baginya pelukan Selena saat ini tidak selayaknya pelukan sahabat seperti biasanya.
Bisa saja ia menghempaskan tubuh kecil Selena dengan mudah, namun mana mungkin ia menyakiti gadis yang ia anggap sebagai adiknya sendiri?
__ADS_1
"Selen!" hentak Michael sudah tak sabar. Ia menarik dua lengan Selena yang melingkar di perutnya, dan terkunci di punggungnya.
"Aku mencintai mu, Kak!" ucap Selena kemudian dengan kepalanya yang masih di rebahkan di dada Michael.
Michael menghentikan usahanya untuk melepas tangan Selena. Ia mencerna apa maksud dari ucapan gadis kecil yang memeluknya erat.
"Apa maksud mu?" tanya Michael.
"Aku mencintaimu, Kak!" ulang Selena. "Berjanjilah jika kita besar nanti kau hanya akan menikah denganku!" rengeknya.
"Lepas, Selen! Kita terlalu kecil untuk membicarakan hal seperti itu!" Michael kembali mencoba untuk melepaskan kuncian tangan Selena.
"Berjanjilah padaku lebih dulu, Kak! Kalau Kak Michael sudah berjanji, aku akan melepas Kakak!"
"Tidak bisa, Selena!"
"Kenapa!" tanya Selena sedikit menghentak, dengan kepala mungilnya yang mendongak ke atas, menatap wajah tampan yang berambut hitam legam seperti rambutnya.
"Menikah itu karena cinta dua anak manusia, bukan keinginan sepihak saja! Lagi pula itu obrolan para dewasa, bukan anak - anak seperti kita, Selena!" Michael melepas paksa tangan Selena, hingga tangan gadis itu terlepas dengan sedikit terhenyak.
"Tapi bagaimana kalau kelak Kak Michael mencintai gadis lain, bukan aku?" tanyanya. "Aku mencintaimu, Kak! kamu juga harus mencintaiku!"
"Kamu sudah seperti adikku sendiri, Selen! Untuk apa kamu ingin aku mencintaimu dan menikah! Pemikiran mu terlalu jauh!"
"Aku tidak mau tau!" kesal Selena. "Kak Michael hanya boleh menikah dengan ku!" Selena kembali berusaha merengkuh leher Michael.
Michael kembali menepis tangan Selena. Menggagalkan tangan itu merengkuhnya.
"Cinta itu tumbuh di hati, Kak!"
"Aku juga tau, Selen!"
"Untuk itu Kak Michael juga harus tau, kalau di hatiku sudah tumbuh cinta sejak aku berusia 5 tahun!"
Michael menggelengkan kepalanya pelan. Pikirnya, Oliver saja belum pernah terlihat tertarik pada laki - laki manapun, bagaimana bisa gadis kecil di depannya bisa tau ada cinta yang tumbuh di hatinya sejak usia 5 tahun.
"Jangan mengada - ada Selena, kembalilah ke kamarmu!" ucap Michael. Rasanya ia enggan berhadapan dengan anak kecil yang berlaga seperti orang dewasa. "Aku akan melupakan kejadian malam ini!"
"Tidak mau!" Selena menyilangkan tangan di depan dada. Bibirnya maju mengerucut, menandakan gadis itu tengah merajuk gegara di usir dari kamar sang idola.
"Selena... keluar!" hentak Michael sedikit tertahan. "Ini sudah jam 2 pagi! bukankah kita semua harus sekolah besok pagi?"
"Aku tidak mau!" hunus Selena. "Aku mau tidur di sini dengan Kak Michael!"
"Mana mungkin, Selen! kamu tidak bisa tidur di kamarku! aku tidak suka tidur dengan siapapun!" hentak Michael kesal.
"I don't care!" seru Selena melempar tubuhnya di bantal empuk Michael.
Michael menatap dengan kesal yang tertahan. Baginya tingkah Selena benar - benar tidak masuk akal. Dan tidak sewajarnya.
Michael menyerah sebelum berperang, ia harus istirahat malam ini. Baginya sekolah dan berlatih adalah dua hal yang sama - sama penting. Sehingga ia pun harus bisa beristirahat dengan cukup.
__ADS_1
Michael turun dari ranjangnya dan melangkah menuju pintu. Ia akan tidur di kamar lain pikirnya.
Belum juga kakinya sampai di depan pintu, ia mendengar Selena melompat dari atas tempat tidur dan berlari ke arahnya.
Dengan sangat lincah gadis itu menghadang Michael dan melompat ke tubuh laki - laki yang berusia 5 tahun di atasnya itu. Mengunci tangan di leher sang Naga Hitam kecil. Kedua kakinya juga mengunci di punggung Michael.
Michael yang goyah karena serangan dadakan yang tidak biasa, akhirnya goyah dan jatuh d sofa. Ia berusaha melepas lengan Selena.
"Se...."
Belum sempat Michael melayangkan protes Selena sudah mencium bibir Michael. Menyatukan bibirnya.
Michael yang kaget pun mendelik, ia tak menyangka mendapat serangan yang menurutnya aneh.
' Oh God! bagaimana mungkin gadis kecil ini melakukan hal gila seperti ini! '
Dengkus Michael dalam hati. Ia terus berusaha melepaskan bibirnya dari dari bibir Selena. Ia dorong kepala Selena, juga menarik kepalanya ke belakang.
"Hah!" nafas Michael setelah berhasil. "Apa yang kau lakukan, Selena!" teriak Michael. Ia turunkan paksa tubuh kecil itu dari tubuhnya dan langsung berdiri.
Tanpa menjawab Selena kembali mencoba meraih kepala Michael. Tinggi badan yang berbeda membuat Selena kesulitan meraihnya. Karena Michael selalu menghindar dan menghempaskan tangannya.
"Jangan gila kamu!" sembur Michael.
"Aku sudah gila sejak tiga tahun lalu, Kak!" seru Selena menatap tajam pada Michael.
"Keluar!" seru Michael dingin dan tegas.
"No!"
"Keluar!!" teriak Michael lebih kencang.
Braakk!!
Pintu terbuka, Selena dan Michael menatap gadis lain muncul dari sana.
"Selena! apa yang kamu lakukan disini? Kakak mencari mu kemana - mana!" ucap Oliver menatap adiknya dengan penuh tanda tanya.
Selena melihat Oliver dan Michael bergantian.
"Ada sesuatu yang ingin aku berikan pada Kak Michael!" ucapnya kemudian.
Dan kemudian berlalu dari hadapan Michael begitu saja. Seolah baru saja tak terjadi hal yang aneh.
Michael menatap punggung Selena yang menjauh dari pintu dengan kepala yang menggeleng pelan. Kemudian menoleh Oliver yang seolah bertanya ada apa?
Michael menggeleng pelan, sebagai jawaban tidak ada apa - apa.
Oliver mengangguk dan menutup pintu kamar Michael kembali.
' Selena... Ada apa dengan mu? '
__ADS_1
🌺 Flashback Off ...