SANG MAFIA!

SANG MAFIA!
Chapter 217


__ADS_3

Setelah satu pernyataan yang mengubah status hubungan sepasang anak muda yang berada di tepi pantai itu, kini udara pantai terasa lebih hangat.


Tidak ada lagi dingin, tidak ada lagi angin yang bisa mengibarkan rambut sang gadis. Karena rambut sang gadis sudah terhalang dada bidang sang lelaki.


Bagaimana udara tidak berubah menjadi hangat, lengan kekar sang pemuda memeluk tubuh mungil nan ramping sang gadis dari belakang.


Punggung Virginia serta bagian belakang kepalanya menempel sempurna di dada bidang nan lebar milik sang lelaki. Dan menemukan kenyamanan luar biasa dari dalam sana.


Keduanya menghadap pantai yang semakin terlihat gelap pekat. Keduanya sama - sama memejamkan mata dalam. Sementara hati semakin berbunga manakala mengingat sudah tidak ada lagi keraguan di dalam hati.


Sudah saling mengungkapkan apa yang terpendam di dalam dada selama bertahun - tahun. Terbayar sudah penantian selama itu.


Kini merasa saling memiliki, membuat keduanya tak ragu lagi untuk sekedar berpelukan, atau bahkan memberi sebuah kecupan mesra di dahi sang gadis, dan satu balasan cium di pipi sang lelaki.


Lalu bibir?


Ah! mungkin belum waktunya untuk sampai di sana. Jio harus mendeklarasikan dulu hubungan mereka di depan sang Mommy. Sebagai anak sulung yang sangat mencintai Ibunya, Jio tak ingin melanggar aturan sang Mommy, yang melarang keras dirinya untuk mempermainkan seorang gadis.


Dan Jio tidak akan melakukan hal itu. Apalagi menyakiti Virginia. Sesuatu yang sangat tidak ingin ia lakukan.


"Jio...?" panggil lirih Virginia dengan mata yang bahkan masih terpejam sembari bersandar di dada sang lelaki.


"Hm?"


Suara Jio terdengar begitu teduh di telinga Virginia yang begitu dekat dengan bibir Jio. Karena Jio begitu nyaman menyandarkan pipinya di atas kepala sang gadis pujaan.


"Jangan pernah tinggalkan aku..." lirih Virginia, namun terdengar begitu serius.


"Never!" jawab Jio yakin. Meski mata masih terpejam menikmati harum rambut keemasan mantan sahabatnya itu.


"Apapun yang terjadi, bisakah kamu berjanji untuk tidak meninggalkan aku?" lanjut Virginia meminta.


"Aku janji apapun yang terjadi dengan mu, aku tidak akan pernah meninggalkan kamu. Selamanya!" Jio mantap mengucapkan janji yang bahkan akan ia buat tanpa harus sang gadis memintanya.


Virginia tersenyum gamang. Namun ia yakin, Jio bukan tipe orang yang mudah mengingkari janjinya.


"Kamu meragukan aku?" tanya Jio yang firasatnya cukup peka akan hal - hal kecil tentang penilaian orang pada dirinya.


"Bukan aku meragukan kamu, Jio... tapi aku takut kamu meninggalkan aku suatu hari nanti." jawab Virginia sendu.


"Kamu tau kehidupan keluarga ku tak jauh dari sebuah peperangan. Hampir setiap problem di perusahaan maupun di dunia hitam Daddy, kami selalu berhadapan dengan senjata api." jawab Jio mempererat lengannya yang melingkar di tubuh sang gadis. Pandangan matanya beralih menatap lurus ke arah laut lepas.


"Kapan pun, dan di manapun kami bisa tewas jika tidak beruntung. Dunia ku sangat dekat kema..."


"Jangan ucapkan hal itu, Jio..." lirih Virginia tak ingin mendengar kata terakhir Jio. Juga tak ingin membayangkan kehidupan keras yang di lakoni sang... kekasih.


Ya! bukankah julukan sang sahabat sudah berubah menjadi julukan sang kekasih?


"Kelak kamu harus kuat seperti Mommy ku, Nia. Yang harus tegar untuk melepas suaminya berperang." ucap Jio.


"Bagi kami, berperang seolah tengah bergelantungan pada seutas tali di atas tebing. Jika Tuhan menghendaki, maka kami bisa selamat. Tapi jika Tuhan tidak menghendaki, maka...."


"Stop!!" Virginia membalikkan badannya dan langsung memeluk tubuh sang petarung. "Aku baru saja memilikimu. Jangan bicara yang tidak akan sanggup aku dengar jika itu semua benar terjadi." lirih Virginia di dalam pelukan Jio.


Jio tersenyum lirih. Dua hati yang selama ini berjauhan, kini berada begitu dekat. Hanya terhalang kain yang menempel di tubuh masing masing saja. Bahkan detak jantung Virginia dapat di rasakan oleh Jio yang sangat sensitif oleh pergerakan macam apapun juga.

__ADS_1


"Kenapa kamu seperti tidak yakin dengan hubungan kita, Nia?" tanya Jio mengusap lembut rambut Virginia.


"Aku selalu percaya padamu, Jio. Aku tidak pernah tidak yakin akan dirimu. Kamu pamit untuk pergi selama tujuh tahun pun, aku percaya bahwa kamu akan kembali kepadaku. Dan benar bukan? kamu pasti selalu menepati janji mu. Aku yakin akan hal itu." jawab Virginia sembari menghirup harum parfum yang sedang di kenakan Jio. Sangat menyejukkan hingga merasuk ke dalam relung terdalam.


"Aku akan selalu kembali untukmu, Nia.."


***


Jika di pantai ada pasangan baru yang sedang berpelukan untuk pertama kalinya. Maka ada pula seseorang yang justru bersembunyi di balik pohon demi menghindari pandangan seorang gadis yang sangat ia impikan untuk bisa di miliki.


Meski kemungkinannya sangat kecil. Karena baginya, mana mungkin pula seorang Nona Muda menyukai dirinya yang hanya seorang bodyguard.


Dialah Xiaoli Chen! bodyguard tampan yang diam - diam mengagumi seorang Nona Muda dari keluarga terkaya di Italia.


Tidak salah jika seandainya ada yang tau, lalu meminta Xiaoli untuk bangun dari mimpinya. Toh baginya, ia memang sedang tidur dan enggan untuk bangun.


Jia menyandarkan siku tangannya pada pagar pembatas. Kemudian mendongak ke atas melihat langit setelah yakin jika tak ada orang di balik pohon. Langit yang sama dengan langit yang menjadi saksi cinta Jio dan Virginia di tepi pantai.


Bintang bertaburan, cahaya bulan bahkan sampai di wilayah istana, yang membuat istana Michael semakin terlihat megah di tengah malam gelap dan cahaya lampu redup.


Sang Nona Muda menerawang jauh di antara bintang yang bertabur. Pertanyaan - pertanyaan kecil yang membuatnya tersenyum samar dan hanyut dalam sebuah lamunan yang panjang.


' Apakah Xiaoli juga sedang menatap langit ini? '


' Hai, Xiaoli? Apakah kamu juga tertarik padaku, seperti aku yang tertarik padamu? '


' Bagaimana bisa ada bodyguard setampan kamu, Xiaoli? '


Pertanyaan - pertanyaan yang tak ia temukan jawabannya itu akhirnya hanya membuat dirinya tersenyum tipis. Benar - benar terlihat, jika sang Nona Muda tengah melamun di bawah langit malam yang semakin larut.


"Siapa di sana!" teriak Jia menajamkan pandangannya ke bawah sana. Tepat di mana Xiaoli bersembunyi di balik pohon.


Merasa tidak aman, Jia masuk ke dalam dan segera mengambil sebuah senjata api berjenis desert eagle dengan cepat. Dan langsung membawanya kembali ke balkon.


Dengan gaya anggunnya yang khas, Jia mengongkang senjata api itu tepat ke arah pohon yang ia curigai.


"KELUAR! ATAU PELURUKU AKAN BERSARANG DI KEPALAMU!" teriak Jia cukup kencang.


Namun sama skali tak ada pergerakan dari pohon itu.


Dan di saat waktu yang menegangkan itu, sosok yang baru saja merasuki pikiran Jia, justru datang dari arah yang berlawanan dengan pohon yang menjadi sasaran moncong senjata api Jia. Dan posisi Jia membelakangi lelaki itu. Sehingga ia tak tau jika ada yang datang.


"Ada apa, Nona?" tanya Xiaoli sedikit keras, karena posisi Jia yang berada di lantai dua.


Mendengar suara yang sama sekali tidak asing, Jia langsung tertegun. Senjata yang sudah ia kongkang ke arah pohon, perlahan di turunkan dengan di barengi oleh dada yang berdebar.


Dengan sangat pelan Jia menoleh ke arah di mana sumber suara berasal. Ragu namun ingin, itulah yang di rasakan Jia saat ini.


Kepala bergerak ke arah belakang tubuhnya. Sedikit demi sedikit ia bisa melihat siapa yang sedang berdiri di bawah sana sembari menatapnya lekat.


Pemuda itu seolah bertanya apa yang sedang ia lakukan?


"Xi..Xi..Xiaoli..." gagap Jia menyebut nama sang Bodyguard.


Dada yang sudah berdebar akibat mendengar suara Xiaoli, kini semakin berdetak lebih kencang, bagai genderang yang di tabuh. Gestur tubuh sang bodyguard memang sangat memikat di matanya.

__ADS_1


"Ya, Nona!" jawab Xiaoli ramah. "Kenapa Nona berteriak? Ada yang bisa saya bantu?" tanya Xiaoli.


"Oh..." Jia salah tingkah begitu melihat wajah tampan Xiaoli di bawah sana yang masih setia menatap dirinya yang kini terlihat sangat kikuk. "Aku... aku tadi... hanya.. seperti melihat bayangan di sana." Jia menunjuk pohon yang ia tadi ia todongi senjata api, dengan kikuk. "Tapi sepertinya aku hanya salah lihat." Jia melempar senyuman salah tingkah dan ringkuh.


"Pohon itu?" Xiaoli menunjuk pohon yang tadi ia tempati untuk bersembunyi.


"Ya!" jawab Jia mengangguk beberapa kali.


Tanpa menjawab lagi, Xiaoli mendekati pohon yang di maksud Jia. Ya, tentu saja hanya untuk berpura. Memiliki kelebihan dapat bergerak dengan senyap dan menghilang secepat kilat, tentu ia bisa dengan mudah meloloskan diri saat hampir ketahuan tengah mencuri - curi pandang pada sang Nona Muda.


"Tidak ada apapun, Nona." ucap Xiaoli setelah memeriksa beberapa pohon.


"Hihihi!" Jia kembali terkekeh malu dan kaku. "Sepertinya aku memang salah lihat, Xiaoli. Maaf merepotkan mu!" ucap Jia.


"Tidak masalah, Nona! sudah kewajiban saya melayani Nona dan keluarga." ucap Xiaoli dengan penuh hormat.


Jia hanya tersenyum kaku, sangat kaku. Meski begitu rupanya ia tak mampu untuk menatap sepasang mata Xiaoli yang mampu menghanyutkan dirinya. Ia hanya terkekeh sembari menundukkan pandangan.


"Sudah malam, Nona. Seorang gadis tidak baik tidur terlalu larut. Sebaiknya Nona Muda tidur!" ucap Xiaoli tiba - tiba.


Dan apa yang di ucapkan Xiaoli membuat Jia sedikit terbelalak menatap wajah tampan sang bodyguard. Wajah Jia yang semula tegang berangsur lebih rileks.


Apakah itu sebuah perhatian?


Entahlah, yang jelas sang Nona Muda senang mendengarnya. Ia bahkan tak mampu menutupi senyum yang di sertai pipi yang memerah merona.


"Kamu sendiri?" tanya Jia memberanikan diri untuk bertanya.


"Saya masih harus berpatroli, Nona.." jawab Xiaoli beralasan. Karena memang sudah bukan lagi tugasnya untuk berpatroli malam.


"Oh, baiklah..."  jawab Jia tersenyum cerah. "Selamat bertugas... Xiaoli..." ucap Jia dengan di sertai debaran yang luar biasa di dalam dada.


"Terima kasih, Nona!" jawab Xiaoli. "Selamat malam."


Degup jantung semakin kencang mendapat ucapan selamat malam dari seseorang yang ingin ia impikan malam ini.


"Sama - sama.."


Sungguhlah sang Nona Muda kehilangan kata - kata untuk membalas ucapan selamat malam dari Xiaoli.


Dengan senyum yang tak sedikitpun berkurang, Jia membalikkan badannya dengan malu - malu. Saat hendak menutup jendela, ia berjinjit untuk melihat, apakah Xiaoli masih di bawah sana?


Dan ternyata bodyguard itu masih berada di bawah sana. Dan saat sang bodyguard menyadari jika ia tengah mengintip, pemuda itu pun menyungging senyuman manis.


' Aa.... aku pasti mimpi indah! '


Ucap Jia dalam hati. Meski sesungguhnya ia sangat malu, karena ketahuan sedang mengintip.


Begitu selesai dengan urusan menutup jendela, cepat - cepat Jia melompat ke atas tempat tidurnya yang berukuran king size. Senyum yang semula hanya malu - malu kini menjadi senyum lebar yang tak ingin ia sudahi.


Ingin rasanya ia tetap terjaga, untuk terus mengingat suara sang bodyguard yang memintanya untuk tidur. Dan yang paling spesial adalah, Xiaoli lelaki pertama yang mengucapkan selamat malam sebagai pengantar tidur secara langsung.


"Good Night, Xiaoli Chen!"


Gumam sang Nona Muda sebelum akhirnya ia memejamkan mata, dan mengharap mimpi indah datang untuk menutup hari yang penuh warna.

__ADS_1


...🪴 Bersambung ... 🪴...


__ADS_2