
Terlihat tampan dan berkelas menggunakan Bugatti, tak membuat seorang Georgio Xavier menyombongkan diri. Ia tetap terlihat seperti remaja normal dengan gaya hidup yang normal - normal saja. Tidak berlebihan sama seperti anak orang kaya pada umumnya.
Materi hari itu telah usai, keluar kelas bersama Nikki, membuat beberapa anak orang kaya di Roma saling melirik. Dalam benak mereka, bagaimana bisa pembawa mobil termewah di kampus justru berteman dengan Nikki yang datang hanya membawa Vespa saja?
Namun Jio tampak terlihat sangat cuek dengan tatapan aneh mereka. Ia masih asyik berjalan bersama Nikki ke arah kantin yang harganya cocok untuk mahasiswa dengan kantong tipis.
Kali ini tentu untuk mengisi perut yang lapar dengan makanan murah meriah sesuai isi dompet Nikki. Karena Nikki yang mengajak Jio ke sana.
Sudah terbiasa dengan makanan sederhana saat di kuil, membuat Jio tampak biasa saja ketika Nikki memperkenalkan kantin untuk mahasiswa kelas menengah ke bawah.
"Kamu mau makan disini?" tanya Nikki heran karena Jio tak memberontak. "Disini makanan paling murah yang ada di kampus ini!"
"Kenapa tidak?"
"Padahal dengan kamu duduk di sini, itu menunjukkan kamu golongan orang - orang seperti kami!" ucap Nikki mengajak Jio untuk antri di meja kasir.
"So?" tanya Jio biasa saja.
"Kamu tidak malu?"
"Kenapa malu?" tanya Jio. "Aku sudah biasa makan makanan sederhana. Bahkan mungkin lebih buruk dari makanan di sini!" jawab Jio enteng.
"Hah? Serius?" tanya Nikki tak percaya.
"Hemm.." jawab Jio mulai memilih pesanan di meja kasir.
"Bagaimana bisa?"
"Panjang ceritanya!" jawab Jio tak ingin menceritakan lebih jauh tentang kehidupannya di dalam keluarga Mafia terkaya di Italia. "Aku bahkan terlatih untuk bisa tetap bertahan hidup di tengah hutan belantara. Jadi aku tau, mana tumbuhan di hutan yang bisa di makan dan tidak!"
"WOW!" seru Nikki seolah tak percaya dengan pengalaman hidup Jio. "Kamu kan anak orang kaya! Untuk apa hidup di hutan?"
Tersenyum samar, "Bayangkan jika seandainya kamu sendiri anak konglomerat, lalu kau mendaki gunung bersama teman - teman mu. Dan ternyata kau tersesat seorang diri! Apa yang bisa kau makan kalau kamu tidak tau mana tumbuhan di hutan yang bisa di makan atau di jadikan obat?" tanya Jio. "Dan di saat seperti itu, apa title mu sebagai anak konglomerat berguna?"
Ujar Jio mengalihkan cerita dari dunianya yang sebenarnya berada dalam lingkungan hitam para Mafia.
"Kami benar juga, ya!" ucap Nikki memukul pelan lengan Jio.
Tanpa mereka sadari, Kasir yang berjaga sedari tadi telah mencuri - curi pandang pada sosok Jio yang terlihat sangat berbeda dari Mahasiswa yang lain di ruangan itu.
Mulai dari brand pakaian dan aksesoris lainnya yang di pakai Jio. Dan hal yang paling memikat kasir berusia sekitar 25 tahun itu adalah wajah tampan sang Tuan muda. Jelas tidak ada bandingan di dalam ruangan sederhana itu.
Kasir kantin bahkan membiarkan dua mahasiswa di depannya itu mengobrol, tanpa peduli di belakang ada beberapa yang masih antri. Kompensasi katanya dalam hati.
"Kau pesanlah juga! aku yang bayar!" titah Jio pada Nikki yang juga tengah memilih menu di sampingnya.
"Ah, tidak - tidak! Aku bisa bayar sendiri kalau makan disini!" tilak Nikki.
"Sudahlah, anggap saja sebagai awal persahabatan kita!"
"Ha! Begitu ya?" menatap Jio penuh tanya. "Lalu kenapa harus kamu yang bayar? Bukan aku?" tanya Nikki lagi.
"Karena kau teman pertama ku!"
__ADS_1
"Kamu juga teman pertama ku di sini!" sahut Nikki. "Kalau begitu kali ini kita bayar sendiri - sendiri saja, bagaimana?" tanya Nikki. "Anggap saja kita sudah saling mentraktir!" ucap Nikki terkekeh lucu.
"Baiklah kalau begitu! Aku setuju saja apa katamu!" jawab Jio santai
"Tapi lain kali kalau kamu ingin mentraktirku, aku tidak akan menolaknya! Heheh!" Nikki kembali terkekeh.
"Yaa... Tentu saja!" sahut Jio kemudian beralih pada kasir yang jelas terlihat tengah terpana pada dirinya. Namun Jio sang pemuda dingin seolah cuek saja, lalu ia sebutkan apa yang ingin ia pesan pada Kasir, kemudian membayarnya dengan uang genap. Yang mana kembaliannya pasti akan menjadi uang tip untuk sang kasir.
Jio dan Nikki duduk di meja kantin sederhana itu. Bergabung dengan beberapa anak kelas menengah ke bawah lainnya. Yang rata - rata pendidikan mahasiswa mereka di sana atas dasar beasiswa, termasuk Nikki sendiri.
Jio tampak tak terlalu senang mengobrol atau bercanda dengan banyak orang. Ia lebih sering bicara dengan Nikki saja. Tanpa peduli dengan tatapan para mahasiswa yang mungkin berada di kelas tingkatnya.
***
Di kantin lain, dimana kelas menengah ke atas rata - rata berada di sana, ada Jia yang juga punya teman baru. Hanya saja teman Jia ada dua, Gladys dan Reena. Sama - sama berasal dari keluarga kaya, tentu mereka tampak biasa saja makan di sana.
Ruangan yang di desain bak restauran di hotel bintang 8. Semua tampak mewah. Menunjukkan tahta siapa saja yang ada di dalamnya.
Mahasiswa Dengan dompet tipis, tidak akan punya nyali untuk masuk ke dalam sana, kecuali atas undangan traktiran.
Duduk bertiga dengan menu yang berbeda - beda. Mereka mengobrol santai seolah sudah kenal lama. Padahal belum genap sehari. Namun Jia ternyata gadis yang humble. Mudah bergaul tanpa pandang bulu. Kebetulan saja yang duduk di dekat bangkunya sama - sama anak orang berpengaruh di kota Roma. Jadi mereka bisa memasuki kantin yang sama.
"Kakakmu tidak makan disini?" tanya Gladys.
"Memangnya ada Kantin lain di sini?" tanya Jia.
"Ada! Tapi di belakang kampus!" sahut Reena. "Hanya saja aku yakin Mahasiswa seperti kamu dan kakak mu tidak akan mungkin menginjakkan kaki di sana!"
"Kenapa begitu?"
"Maksud kalian di kampus ini ada dua kantin dengan beda harga begitu?" tanya Jia.
"Iya, Jia..." jawab Reena. "Mahasiswa lain menyebut kantin ini untuk kelas menengah ke atas. Sementara kantin di belakang untuk mereka yang berasal dari kalangan menengah ke bawah. Biasa nya mereka bisa kuliah di sini atas beasiswa, atau mereka sambil kerja part time!"
"Oh..." Jia mengangguk. "Tapi kalian harus tau, aku dan Kak Jio bukan tipikal anak yang suka pilih - pilih. Kami bisa makan apa saja asal itu sehat dan tidak berbahaya. Jadi kami tidak memandang harga."
"Oh, begitu?" tanya Gladys tak menyangka Jia seperti itu.
"Kalau begitu coba di telpon saja, mungkin Kakak kamu di sana!" sahut Reena.
"Sudah aku chat!"
"Apa katanya?"
"Dia ada Kantin Roll's Canteen..." jawab Jia.
"Hah!" pekik Gladys dan Reena bersamaan.
"Kenapa?"
"Jiaa.. Itu kantin yang kami maksud!"
"Oh, ya?" tanya Jia. "Dimana tempatnya?"
__ADS_1
"Di belakang Fakultas Kedokteran." jawab Reena.
"Sebelah sana?" Jia menunjuk gedung bertingkat bertuliskan Fakultas Kedokteran dari jendela kaca.
"Ya, betul! Ada di belakang gedung itu!"
"Biar nanti aku datangi ke sana!"
"Eh, ikut ya!" tawar Gladys.
"Aku juga!" sahut Reena.
"Untuk apa?" tanya Jia. "Bukankah kalian tidak pernah makan di sana?"
"Emm.. Tentu saja kami ingin berkenalan sama Kakak kamu!" jawab Gladys terkekeh malu - malu. "Gantengnya kakak kamu benar - benar maximal, Jia!" serunya nyaris histeris membayangkan tampannya Jio saat keluar dari Bugatti tadi.
"Hem... Terserah kalian sajalah!" jawab Jia pasrah.
Gadis keluaran kuil tengah hutan itu belum terlalu paham akan tertarik pada lawan jenis. Karena di kuil di larang keras untuk hal itu.
"Yes!" seru Gladys dan Reena bersamaan.
***
"Kamu lihat, Jio!" ucap Nikki. "Mahasiswa baru di Fakultas Kedokteran sepertinya cantik - cantik!" lanjutnya.
"Oh ya?" sahut Jio menoleh sekilas ke arah beberapa Mahasiswa yang keluar dari Fakultas Kedokteran. Namun kemudian ia kembali menyeruput jus miliknya.
"Iya! apalagi gadis berbaju pink yang barusan lewat! Aku pertama kali melihatnya saat mendaftar beberapa bulan lalu!" ucap Nikki mengingat saat datang ke kampus untuk mendaftar.
"Kamu berkenalan?"
"Tidak! Aku hanya mengingat wajah cantiknya saja! Mana berani aku berkenalan!" jawab Nikki. "Rata - rata mereka dari keluarga kaya raya! Sedangkan aku? Hanya seonggok sikat WC untuk mereka!"
Brush!
Jio hampir saja tersedak mendengar perumpamaan Nikki yang kelewat menjijikkan. Namun Jio terkekeh kecil.
"Sudahlah, jangan pikirkan perbedaan! Bagi ku kita berhak berkenalan dengan siapa saja tanpa harus melihat siapa ayah kita!"
Nikki tersenyum, "Aku bangga bisa mengenalmu, Jio!" ucap Nikki tulus.
"Aku juga bangga padamu yang apa adanya!" sahut Jio menepuk lengan Nikki pelan. Karena menepuk dengan gerakan kuat sedikit saja, bisa - bisa Nikki akan menjerit.
Nikki mengangguk, "Lihatlah, tidak ada satupun dari mereka yang belok ke sini! Apalagi para mahasiswi!" lanjut Nikki.
Namun Jio enggan untuk menoleh lagi. Bagi Sang Tuan muda Xavier itu bukan urusannya.
"Kelak kau juga akan menjadi ahli IT terbaik! Percayalah!" jawab Jio.
"Semoga.."
Tanpa di sadari Jio, setelah ia mengakhiri melihat Mahasiswi Fakultas Kedokteran, gadis berbaju pink yang datang ke kampus menggunakan Mini Cooper itu lewat. Gadis yang di sebut Nikki sangat cantik.
__ADS_1
...🪴 Happy Reading 🪴...