SANG MAFIA!

SANG MAFIA!
Chapter 237


__ADS_3

Waktu masih panjang untuk kaula muda bisa menikmati Friday Night yang memang di peruntukkan bagi mereka.


Di antara semua itu, ada Jio yang melajukan mobil mewahnya untuk kembali membelah keramaian malam. Lampu - lampu malam seolah semakin terang seiring dengan bertambahnya kepekatan malam.


Ya, Friday Night adlah malam yang panjang dan indah. Banyak pasangan muda yang menghabiskan malam di pusat perbelanjaan, taman, cafe atau bahkan di hotel. Dan itu legal di luar sana.


Membawa gadis tercinta di sisi kanannya, Jio teramat bangga untuk memamerkan siapa kekasihnya pada dunia.


"Kamu ingin kita pergi kemana lagi?" tanya Jio dengan sabarnya.


"Emm... taman Siena!" jawab Virginia dengan wajah penuh harap.


"Okay, Baby!"


Taman Siena, taman yang setiap Friday Night hanya akan di penuhi oleh sepasang kekasih yang di mabuk cinta. Bagaimana tidak di sebut dengan pasangan yang di mabuk cinta. Di tempat itu mereka semua bahkan bebas untuk berciuman dan berpelukan sesuka hati. Suatu hal yang lumrah dan biasa saja. Dan tidak akan ada yang mencibir mau pun memperingatkan untuk tidak melakukan hal itu.


Yang penting tidak lebih dari itu semua.


Di sana juga banyak remaja putra - putri yang jomblo. Alias pergi hanya bersama dengan teman - teman sebaya saja. Untuk menikmati keramaian kota.


Jio mengiyakan bukan berati dia tidak tau tentang lokasi itu. Hanya saja ia merasa tidak ada salahnya membawa sang kekasih untuk mendatangi tempat itu. Toh mereka adalah sepasang kekasih yang saling mencintai.


Jika melihat orang lain berciuman dan mereka ingin, ya sudah. Lakukan saja.


Eitz! tapi bukan itu alasan Jio yang sebenarnya. Melainkan karena ia sudah berjanji untuk menuruti apapun yang di inginkan sang kekasih, Tanpa menolaknya sekalipun.


Lagi pula ia berfikir, mungkin Virginia menginginkan kehidupan seperti anak remaja lainnya. Mengingat ia tak pernah menemani Nia untuk melewati masa - masa remaja. Di mana konon katanya usia di bawah 17 tahun dan di atas 12 tahun adalah masa yang sangat indah.


Hidup seperti tidak ada beban, juga tidak ada tanggung jawab yang harus di selesaikan. Semua kenakalan seolah berada di pundak orang tua. Berbeda dengan usia yang kini mereka jalani. Kenakalan mereka harus mereka bayar sendiri.


Jika melakukan tindak kejahatan, maka mereka sendirilah yang harus berurusan dengan hukum. Tanpa ada lagi undang - undang perlindungan anak yang bisa melindungi mereka dari jeratan hukum. Yang membuat mereka harus waspada dan berhati - hati dalam bergaul.


Mobil yang memang di desain untuk para pecinta balap itu tak butuh waktu lama untuk bisa sampai di lokasi yang mereka inginkan. Sebuah pemandangan alam buatan yang di hiasi dengan aneka bentuk lampu, sungguh terlihat sempurna di malam ini.


Turun dari mobil mewahnya, Jio menggandeng sang gadis untuk memasuki taman yang sudah di penuhi oleh anak muda dari berbagai usia. Mulai dari remaja sampai mereka yang sudah terlihat berusia 30 tahun, atau bahkan lebih. Yang tidak ada di sana saat ini adalah anak kecil di bawah 12 tahun.


"Kamu pernah kesini?" tanya Jio saat keduanya saling menyatukan jemari di antara tubuh mereka.


Berjalan di jalan setapak yang setiap sisi kanan kirinya berbaris pohon cemara dengan lampu warm white di bagian atas. Kemudian kursi yang hanya muat untuk dua orang saja.


"Pernah..." jawab Virginia menatap lurus ke depan. Bagaiman pohon cemara tampak sangat indah dengan lampu berwarna putih redup serta kuning yang menyatu di ujung jalan.


"Sama siapa?" selidik Jio tak ingin mendengar Virginia menyebutkan nama seorang laki - laki lain, selain dirinya.


"Papa dan Mama!" jawab Virginia tersenyum.


"Oh, ya?" tanya Jio.


"Ya... selain Friday Night, tempat ini banyak di kunjungi oleh keluarga - keluarga yang ingin menghabiskan waktu mereka untuk bersantai di tempat ini." jawab Virginia. "Tapi jika Friday Night seperti sekarang, banyak orang tua melarang anak mereka yang masih anak - anak untuk mendatangi tempat ini. Karena kamu tau sendiri, kan?"


Virginia melirik sisi kirinya, dimana ada sepasang kekasih sedang berciuman mesra, dengan posisi sang wanita yang duduk di pangkuan si pria. Tanpa rasa malu pada siapapun. Dan itu hal yang biasa.


Jio tersenyum miring nan samar, "Aku juga mau seperti itu..." gumam Jio melepas tangannya yang bertaut dan beralih merangkul pundak sang kekasih. "Praktek, mau?" goda Jio.

__ADS_1


"Genit!" ujar Nia tergelak dengan mencubit gemas pinggul sang lelaki.


Meski sungguh, cubitan Virginia sama sekali tidak terasa oleh Jio. Pemuda itu justru terkekeh dan mencium pipi sang gadis dengan sangat mesra. Seolah menunjukkan pada pasangan yang lain, jika ia juga memiliki kekasih yang sangat cantik.


"Kapan kamu ke sini?" tanya Jio kembali pada obrolan.


"Dulu waktu kecil sering di ajak Papa dan Mama ke sini. Dan terakhir aku datang ke tempat ini sekitar satu tahun yang lalu."


"Sama Uncle Brown juga?" tanya Jio.


"Ya, tentu saja. Siapa lagi yang mau mengajakku keluar kalau bukan mereka?"


"Aku!" sahut Jio.


"Itu sekarang, Sayang!" jawab Virginia mengacak - acak rambut sang kekasih.


Dan keduanya pun kembali terkekeh. Tanpa hal romantis berlebihan, mereka sudah terlihat sangat romantis dan serasi.


Mereka kembali berjalan, menuju bagian tengah taman yang sangat indah dan terang.


"Tapi ini kali pertama aku pergi selain dengan Mama dan Papa di malam Friday Night."


"Kenapa begitu? Kamu punya banyak teman, bukan?"


"Saat tujuh tahun kamu pergi, aku tidak tertarik untuk berteman dengan teman laki - laki. Sedang keluar rumah bersama teman perempuan di malam Friday Night seperti ini, rasanya sangat berbahaya."


"Kenapa berbahaya?"


Virginia tersenyum simpul. Kemudian ia mendongak sang kekasih yang tinggi badannya melampaui dirinya. Menghentikan langkah, Virginia sedikit berjinjit dengan meraih leher kekasihnya agar menunduk. Kemudian ia berbisik...


Jio mengamati sekitar, dan memang ada beberapa anak laki - laki yang bergerombol di sisi - sisi taman, untuk menggoda gadis - gadis yang tidak di temani kekasih mereka.


Bisa jadi mereka yang bergerombol adalah persatuan Jomblo kota Roma. Seperti yang di ucapkan Virginia, persatuan Predator wanita.


Jio terkekeh dengan cara berfikir sang kekasih. Namun ia sungguh bangga karena Virginia termasuk gadis yang sangat menjaga dirinya sendiri. Menghindari sesuatu yang menurutnya berbahaya.


Kini mereka sudah melewati area tengah taman yang sangat indah. Mereka hanya melintas dengan mengambil satu foto bersama di bawah bangunan yang menjulang tinggi, yang di penuhi dengan lampu berwarna putih yang mempercantik bangunan itu.


Mereka kembali berjalan, melanjutkan langkah menuju tepian taman, yang jauh dari cahaya lampu terang. Mendekati area kolam ikan yang cukup besar. Dimana hanya ada lampu - lampu berwarna warm white di tengah kolam ikan.


Di sekitar kolam sudah ada beberapa pasang muda mudi yang bermesraan. Ada yang duduk di atas rerumputan, ada pula yang duduk berdua di tepi kolam untuk mengobrolkan hal - hal yang romantis. Tak ketinggalan, juga ada sepasang kekasih yang sedang berpelukan menghadap kolam ikan. Semua tampak sibuk dengan aktivitas masing - masing, yang tujuannya sama. Bermesraan di tempat umum. Memamerkan pada dunia, betapa indahnya cinta mereka.


Jio menyandarkan punggungnya pada pagar besi pembatas kolam. Sedangkan Virginia melakukan hal sebaliknya. Ia berdiri menghadap kolam ikan yang luas dan berisi ikan koi yang cukup banyak dan terawat. Kedua tangan menggenggam batang pagar besi.


"Kamu menyukai ikan?" tanya Jio.


"Ya, di rumah aku juga punya banyak aneka ikan bukan?"


"Iya.." jawab Jio mengangguk.


Kemudian mata Jio menyisir sekitar, dan apa yang ia lihat benar - benar membuat matanya malu untuk melihatnya. Tapi sebagai lelaki normal, tentu ia juga menginginkan hal yang sama dengan apa yang sedang di lakukan oleh pasangan di depannya.


Berciuman dengan mesra, hangat dan saling memeluk satu sama lain.

__ADS_1


Tapi setengah mati Jio menahan diri untuk tidak melakukan hal itu di tempat seperti ini.


Tapi apalah daya, dia hanyalah manusia yang lemah iman pula, meski sudah sekuat hati ia bangun, Nyatanya ia tetap ingin memeluk sang kekasih.


Jio bergerak, merubah posisi, menjadi mengunci tubuh Virginia di dalam kungkungannya. Kedua tangan berada di pagar yang sama dengan tangan Virginia yang menggenggam pagar besi. Kemudian ia dekatkan wajah pada pundak sang kekasih. Ia rebahkan dagu lancipnya di pundak yang membuatnya nyaman itu.


Kemudian ia miringkan wajah ke kiri, dan ia daratkan kecupan di leher jenjang sang wanita. Dan apa yang di lakukan Jio, benar - benar membuat darah di dalam tubuh Virginia berdesir hebat. Ia tarik nafas sebanyak - banyaknya untuk menekan debaran yang terasa begitu hebat.


"Baby...?" panggil Jio lirih, menahan hawa panas di dalam tubuhnya. Reaksi akibat apa yang ia lihat dan lakukan pada sang kekasih.


"Hem?" jawab Virginia yang masih merinding dengan nafas Jio yang berhembus dilehernya.


"Aku sangat mencintaimu..." bisik Jio dengan suara beratnya.


"Aku juga sangat mencintaimu..." balas Virginia menoleh sedikit ke kanan. Dimana dapat ia lihat jika ternyata sang kekasih sedang menatapnya lekat dan dalam.


Sebagai anak muda yang normal, tentu Virginia tau arti dari tatapan sang lelaki padanya. Sebuah tatapan menginginkan yang dalam. Apalagi saat ia merasakan tangan kiri Jio sudah mulai merambat dan berpindah ke perut rampingnya.


"Kita pergi dari sini.." ucap Jio membuat Virginia keheranan.


Gadis itu berpikir jika Jio akan mengajaknya untuk berciuman di tempat itu. Sehingga Virginia hanya bisa tertegun ketika mendengar permintaan Jio yang tak sesuai harapan. Dan itu membuat Jio mendaratkan kecupan mesra di bibir sang kekasih.


"Pulang?" tanya Virginia ketika tersadar dari lamunannya.


"Tidak, yang penting jangan di sini.."


Tak bisa menolak, Virginia hanya bisa mengangguk. Dan mereka kembali bergandengan tangan untuk mendekati area parkir.


***


Sedangkan di lokasi pesta ulang tahun Gladys, ada Jia yang baru saja mengakhiri dansa nya dengan sang sahabat, Diego Maldini.


Ia sama sekali tidak tau jika sang bodyguard tampan melihatnya. Sehingga Jia terlihat datar - datar saja, meskipun ia masih tidak nyaman dengan apa yang baru saja ia lakukan dengan Diego.


Lima menit kemudian, Jia yang sudah benar - benar bosan, memilih untuk pamit pada Diego dan Reena utuk pulang.


"Kenapa pulang, Jia?" tanya Reena. "Ini baru jam 9.."


"Aku lelah, Reen. Lagi pula Daddy bilang aku tidak boleh pulang terlalu malam. Kamu tau sendiri, kan? aku masih dalam masa hukuman." lanjut Jia berdusta demi bisa punya banyak waktu bersama Xiaoli.


Sang Daddy memberinya waktu sampai jam 12 malam untuk pesta malam ini. Dan itu kurang 3 jam lagi.


Itu artinya ia masih punya waktu tiga jam lagi untuk bisa bersama Xiaoli setelah ini.


"Iya, juga sih..." jawab Reena.


"Ya, sudah ... aku pamit Gladys dulu, ya... Bye Reen, bye Diego!" pamit Jia pada dua sahabatnya.


"Bye, Jia!" jawab Reena.


"Aku antar ke depan, ya?" tawar Diego yang sedang merasa bahagia karena berhasil berdansa dengan gadis incarannya.


"Tidak perlu, Diego. Toh, sudah ada bodyguard ku yang menunggu di depan." jawab Jia yang sudah berdiri dan hendak berpamitan dengan Gladys.

__ADS_1


...🪴 Bersambung ... 🪴...


✍️ Maaf untuk Episode selanjutnya ada urutan yang tidak benar dan tidak bisa di perbaiki.. Silahkan baca judul dulu yaa... Baca sesuai urutan Chapter,...


__ADS_2