SANG MAFIA!

SANG MAFIA!
Chapter 126


__ADS_3

"Terus sejak saat itu?" tanya Chania penasaran dengan kisah masa lalu suaminya bersama Selena selanjutnya.


"Aku berpura tidak ada kejadian yang baru saja terjadi di antara kami. Aku juga tidak memberi tahu siapapun. Dan sejak saat itu aku menjaga jarak darinya. Aku mengunci pintu saat dia menginap di rumah Papa!" lanjut Michael menceritakan.


"Namun suatu ketika, saat pesta ulang tahunnya yang ke-9 tahun, ia kembali berulah!"


"Apa?" sahut Reno tak kalah penasaran.


"Dia memberikan potongan kue ketiganya ke padaku, dan kembali mencuri ciuman di depan seluruh tamu undangan!"


"What!" seru tiga orang yang mendengar ceritanya.


Michael mengangkat kedua pundaknya, menatap kosong jendela yang menunjukkan jalanan di luar limousine.


"Ini gila..." lirih Sania.


"Apa setelah dia benar - benar pulih dari sakitnya, Selena akan kembali mengejar cinta mu, Honey?" tanya Chania khawatir.


Chania siap saja jika harus bergelut ataupun adu mulut dengan gadis - gadis yang mencoba menggoda suaminya. Tapi dengan Selena? Mereka bahkan baru bertemu, setelah dinyatakan sebagai saudara tiri. Mana mungkin Chania tega menyakiti saudara tirinya.


Menghela nafas, Ia menarik pundak istrinya untuk bersandar di dadanya yang bidang. Mendekap erat, memberikan efek nyaman untuk sang istri yang baru saja melahirkan 2 calon penerusnya.


"Aku juga tidak tau, Baby..." jawabnya. "Yang jelas apapun yang dia lakukan, atau wanita manapun di luar sana lakukan untuk menggodaku, tidak akan ada yang bisa menggantikan posisimu di hatiku, di hidupku, dan istana milikku. Cuma kamu yang akan menjadi Nyonya Xavier!"


"Kamu yakin?" hardik Chania manja.


"Tentu saja, Baby..." jawab Michael mendaratkan kecupan mesra di dahi putih nan harum istrinya.


Reno dan Sania saling melirik. Mereka sama - sama khawatir tentang apa yang kini menjadi pikiran Chania. Bukankah mereka yang berniat untuk merebut milik orang akan selalu menghalalkan segala cara?


***


🍄 Rumah Sakit


"Pelan - pelan, Nona." ucap seorang perawat yang membantu Selena untuk bangkit dari ranjang pasien. Tangan kiri memegangi lengan Selena, tangan kanan melingkar di pundak belakang Selena.


Untuk pertama kali, gadis itu turun dari ranjang. Meregangkan kembali otot - otot dan syaraf yang tak pernah di gunakan selama belasan tahun lamanya.


Sepasang kaki itu masih terlihat sangat lemas bagai jelly favorit anak - anak. Namun Selena sendiri merasa kaki itu cukup berat untuk di gerakkan.


Suster yang di awasi oleh seorang Dokter Spesialis bedah ortopedi itu membantu Selena untuk menurunkan kakinya satu persatu. Hingga semua berhasil turun, namun...


"Auh!" Selena hampir saja jatuh terkulai lemas di lantai, jika saja sang dokter tidak berhasil menopang tubuh Selena.

__ADS_1


"Otot kaki anda masih cukup lemas, Nona. Mereka harus beradaptasi kembali untuk menopang berat badan Nona yang masih baru bagi mereka."


Usia terus bertambah, berat badan pun terus naik, sedangkan terakhir kali kakinya di gunakan untuk menopang tubuhnya sudah belasan tahun lalu. Tentu saja Kakinya akan shock menerima berat badan yang baru, meskipun kaki itu terlihat lebih panjang dan besar dari pada masa itu.


"Aku tau..." jawab Selena dengan nafas terengah.


"Coba maju satu langkah, Nona.." ucap Suster.


Susah payah Selena mencoba mengangkat kaki kanannya. Namun di rasa cukup berat. Akhirnya ia hanya mampu untuk mendorongnya ke depan beberapa senti meter saja.


"Bagus, Selen!" seru Deborah yang memperhatikan dengan seksama perkembangan putrinya. "Kamu pasti bisa! coba satunya!"


Menoleh sang Mama sekilas, kemudian kembali melakukan hal yang sama untuk kaki satunya lagi.


Sreett..


"Bagus.." ucap sang Dokter saat Selena berhasil menggerakkan kakinya.


Dua puluh menit sudah kegiatan itu berlangsung. Selena berhasil menyeret lebih cepat di setiap langkahnya. Suatu kemajuan yang baik. Hingga akhirnya ia menjatuhkan tubuhnya di kursi roda yang berada di dekat jendela. Rasanya ia begitu lelah hanya untuk belajar berjalan saja.


"Apakah Nona ingin kembali berbaring di tempat tidur pasien?" tanya Suster.


"Tidak, Sus! aku masih mau di sini!" jawab Selena menatap jendela luar rumah sakit.


"Baiklah, saya permisi!"


Selena, si putri tidur itu telah terbangun. Baru kali ini ia melihat kembali hiruk pikuk dunia yang sudah lama ia tinggalkan. Menatap jendela, langit biru dengan awan putih menjadi titip pertama Selena menatap takjub.


Puas dengan kepala yang mendongak, Selena ganti menunduk. Berada di lantai 5 Rumah sakit, membuatnya bisa melihat betapa sibuknya orang - orang di bawah.


Mobil dari berbagai jenis, mereka dan warna berseliweran. Para pejalan kaki dengan OOTD sesuai kebutuhan mereka, berseliweran di trotoar, halaman rumah sakit dan juga keluar masuk mall yang ada di sebrang jalan.


Tak luput para pengguna sepeda yang mengayuh pedal mereka di jalan bergambar sepeda tak bermesin itu.


"I'm back!" lirih Selena.


"Selamat datang kembali, my girl..." sahut Deborah yang sudah berdiri di belakangnya.


"Yes, Mom!"


"Kamu harus segera bisa berjalan. Kamu belum tau kan? kehidupan sekarang jauh lebih canggih." ucap Deborah. "Ada gadget keluaran terbaru. Oliver akan mengajarimu. Dia sudah menyiapkannya."


"Ya, Mom!" jawabnya. "Aku juga akan belajar mengemudikan mobil sendiri!"

__ADS_1


"Tidak perlu, girl... ada supir untuk mengantarkan kemanapun kamu ingin pergi!"


Selena tak menjawab, tapi ia menoleh ibunya sebagai jawaban pasrah atau setuju. Kembali menatap gerombolan manusia di bawah sana. Hati Selena berdecak kencang. Ingin rasanya ia segera berbaur dengan mereka.


' Aku harus bisa berjalan, Kak Michael harus menjadi milikku! ia tak akan mau dengan ku, jika aku cacat! '


Batin Selena merancau.


Selena, gadis yang belasan tahun begitu polos di mata keluarga besar dan teman sepermainan, mana ada yang menyangka jika terselip sifat congkak dan keras hati di bagian tertentu.


Mungkin hanya Michael yang tau, betapa Selena kecil tak bersikap sewajarnya anak seusianya.


' Chania... aku benci kamu... '


Lanjut Selena. Tangannya reflek terkepal meski lemah. Menatap kosong ke bawah, dimana ada sepasang remaja yang asyik bersantai berdua di cafe seberang jalan. Ia bayangkan, jika itu adalah dirinya dan Michael beberapa tahun yang lalu.


Namun sungguh sayang, takdir membuatnya kehilangan masa remaja. Masa indah di usia belasan tahun. Cinta monyet, persahabatan dan mada belajar.


***


Terlepas dari Selena yang mulai turun dari ranjang pasien, di istana Michael telah terjadi keributan kecil yang menggemaskan.


Ya, baby twins menangis bersamaan. Satu di tangan sang Eyang Madalena, satu lagi di lengan sang Eyang Frederick.


Dua baby sitter terus berjaga di sekitar keduanya. Bersiap untuk menggantikan gendongan, mengambil susu, ataupun jika sewaktu - waktu harus berganti popok.


"Gio, Gia..."


Suara khas Nyonya pemilik istana telah hadir. Bersiap untuk menenangkan sang buah hati.


"Chania... akhirnya kamu datang.. Entahlah kenapa mereka menolak susu dan terus menangis." lapor Madalena menyerahkan Gio pada sang menantu.


"Mungkin mereka ingin Asi, Ma!" jawab Chania segera duduk di sofa.


"Ayo, Michael! coba gendong Gia!" seru sang Frederick.


"Yaa Pa!" jawab Michael mendekati sang Papa, dan meraih Gia, si gadis mungil kesayangan Daddy Michael.


Tak butuh waktu lama, Gia langsung terdiam dan menebar senyum begitu sampai di lengan sang Daddy.


Ya, begitulah bayi perempuan. Mereka cenderung luluh pada cinta pertamanya, sang Daddy.


Di sofa, Gio pun sudah terdiam karena berhasil mendapatkan apa yang ia cari. Asi sang Mommy.

__ADS_1


"Hihihi!" Madalena terkikik. "Dasar bayi...." ucapnya gemas mencubit gemas pipi Gio.


...🪴 HAPPY READING 🪴...


__ADS_2