
Memang patut di akui, siapa saja tak akan bisa menolak kehadiran seorang Michael Xavier. Pria nyaris sempurna yang pernah ada. Pria dengan sejuta daya tarik yang memikat, terutama untuk kaum hawa.
Wanita mana yang sanggup menolak ketampanannya? Bahkan laki - laku pun bisa jadi minder untuk bersaing dengannya.
Siapa yang bisa menolak kekayaan seorang Michael Xavier? Harta berlimpah. Duduk saja, uang akan datang dengan sendiri.
Wanita mana yang bisa menolak untuk menjadi Nyonya Xavier?
Tanpa di minta, mereka akan bertekuk lutut di hadapan Sang Mafia.
Puluhan tahun sudah, seorang Michael Xavier berkecimpung di dunia gelap Mafia. Menerjang setiap musuh yang silih berganti mencoba untuk meruntuhkan tahta Black Hold.
Dan kini, untuk kesekian kali ia harus menolak kehadiran wanita lain yang menggoda. Bisa saja Michael melenyapkan mereka, tapi dia bukanlah Mafia yang mau dengan mudah menghabisi seorang wanita.
"Selamat malam, Tuan!" sapa Takara menunduk hormat pada tiga pria tampan di gazebo.
Semua hanya menoleh sekilas, tanpa ada satu orang pun yang berniat menjawab salam Takara. Tak terkecuali Jack. Pria itu sedari dulu enggan berurusan dengan lawan jenis. Pernikahannya dengan Gia, bahkan bisa di katakan sebagai keajaiban.
Gadis itu membawa sebuah nampan dari kayu di tangannya. Di atasnya ada sebuah teko dan tiga cangkir kecil berbahan sama.
"Malam dingin begini, paling segar minum teh, Tuan!" ucap Takara percaya diri. Ia letakkan nampan di tengah gazebo. "Ini adalah teh yang saya bawa dari Jepang, namanya teh Sencha. Sangat cocok sebagai pengganti kopi." jelas Takara tersenyum.
Namun tiga pris tampan, hanya kem
bali melirik, tanpa niat untuk mencoba apalagi menikmati teh buatan Takara.
Tak pantang menyerah, Takara menuangkan teh dari teko ke dalam tiga cangkir kecil. Dan meletakkan di dekat masing - masing.
Bukannya tanggapan mengenai tehnya yang di dapat Takara, justru obrolan kecil dari para Mafia itu sendiri.
"Jio memang pantas menjadi putra mahkota Black Hold!" desis Darrel.
"Putra mu juga akan tumbuh sehebat dirimu!" balas Michael pada sahabat sekaligus ipar nya itu.
"Hmm!" jawab Darrel ikut yakin.
Takara menelan kekecewaan. Sesulit itukah mendekati orang - orang penting macam mereka. Padahal Takara sudah berdandan rapi, cantik dan cukup mempesona malam itu.
"Siapa pun yang menempa ilmu di kuil ini, pastilah keluar sebagai jagoan!" sahut Takara. "Contohnya seperti Tuan Michael Xavier, Sang Legenda!" lanjutnya bangga menoleh Sang Mafia.
Michael hanya memiringkan sebelah bibirnya. Tanpa senyuman, apalagi kalimat balasan. Sedang Darrel dan Jack, hanya melirik risih pada Takara yang mereka anggap tidak tau malu.
Malam semakin larut, karena hari pertama, maka para pemuda di berikan waktu istirahat lebih awal.
Darrel dan Jack, mereka sudah terlelap di salah satu ruangan di lantai 2, yang di siapkan untuk tidur bagi tamu. Sedang Michael, pria itu masih berdiri di depan bilik kamar. Bersandar pada pagar kayu, menatap langit malam yang terlihat sangat luas.
Ia melukis senyuman Chania di sana, kemudian di susul dengan senyuman para buah cinta mereka.
Rindu sudah bergelayut manja di dalam dada. Meronta ingin segera di pertemukan kembali dengan cinta hati yang tumbuh tanpa di sengaja.
Jika di putar kembali, maka ia akan selalu mengingat. Jika kisah mereka tidak semulus kisah cinta pada umumnya. Segala sesuatu yang tumbuh di antara mereka, adalah berasal dari ketidaksengajaan.
Grapp!
__ADS_1
Mendadak Michael menoleh ke belakang, mengarahkan senjata Glock kesayangannya tepat dimana ia merasakan udara bergerak di sana. Merasa ada yang mengancam, maka senjata kesayangan akan selalu menjadi ancaman utama bagi para musuh.
Filling nya tak pernah salah. Di sana, tepat du meter di belakangnya, siluet tubuh wanita berdiri dengan anggunnya. Membawa dua cangkir berisi kopi buatannya.
"Belum tidur, Tuan?" sapa Takara tersenyum manis.
"Bukan urusanmu!" jawab Michael masih dengan senjata yang mengarah ke arah kepala Takara.
Bukannya takut, Takara justru melangkah maju. Mengikis jarak di antara keduanya. Meletakkan dua cangkir kopi. Dan dengan berani Takara menutup lubang peluru dengan tangannya, mengarahkan senjata itu supaya di turunkan. Dan kembali masuk ke tempat penyimpanan.
"Saya tidak seberbahaya itu untuk bisa melukai anda, Tuan..." ucap Takara lembut.
Michael menghela nafas panjang. Ia lirik Takara yang berpakaian kimono panjang namun cukup tipis. Bahkan garis pakaian dalam, bisa terlihat dengan jelas. Dua gundukan pun seolah sengaja di buat menyembul keluar. Menantang mata siapa saja untuk melihat ke arahnya.
"Lebih baik kita mengobrol santai!" sahut Takara mengikuti cara Michael berdiri seperti semula. Menghadap langit dengan tangan bersandar pada pagar kayu.
Sementara Michael masih menatap bingung dengan Takara. Bolehkah di kuil berpakaian seperti itu? seingatnya dulu, tak di perkenankan berpakaian seperti itu, apalagi untuk seorag guru.
"Kenapa, Tuan?" sapa Takara menoleh Michael.
Michael hanya menggeleng sekilas. Dan memalingkan muka dari Takara.
"Jia dan Jio sangat bersemangat ya, Tuan?" tanya Takara tanpa ragu. "Dara muda memang selalu lebih bersemangat!" lanjutnya.
Michael melirik sinis pada Takara.
"Kalau Tuan Michael umur 41 tahun, istri Tuan umur berapa?" tanyanya lagi. "Atau kalian seumuran?"
"35!" jawab Michael datar.
"Apa yang Tuan ingat saat usia istri Tuan 28 tahun seperti saya?"
"Yang aku ingat dia selalu cantik!"
Takara mengangguk paham. Usahanya membuat Michael melirik belahan dadanya gagal. Karena Michael tak menoleh sedikitpun.
Akhirnya ia ambil kopi buatannya, "Coba sedikit saja, Tuan!"
Michael menggelengkan kepalanya. Namun Takara terus memaksa, dan berhasilnya setetes kopi masuk ke dalam tenggorokan Michael.
Takara tersenyum penuh makna.
"Pasti sudah dua malam ini Tuan tidak bertemu dengan istri Tuan?"
"Hemm..." jawab Michael mengerutkan keningnya. Merasa ada yang sedikit aneh di dalam tubuhnya.
Cepat - cepat Michael mengotak atik ponselnya, mencoba untuk menghubungi Jack, namun gagal.
Takara semakin tersenyum, "Tuan kenapa?" tanya Takara menyentuh rahan Michael. Kembali sengaja ia membuka belahan kimono lebih lebar. Menunjukkan benda kenyal yang menantang.
Michael melirik sekilas tanpa di sengaja, dan tubuhnya terasa semakin aneh. Ia gelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Mencari kesadaran lebih.
"Tuan?" panggil Takara lagi. Kali ini senyumnya mengembang, ia tau Michael sudah bereaksi. Maka dengan ia harus memancing lebih dalam lagi.
__ADS_1
Takara mengambil satu tangan Michael, dna dengan sengaja ia letakkan pada sebelah kanan dadanya. Menggerakkan punggung tangan Michael, agar meremas buah dadanya.
Michael yang berada di alam bawah sadar hanya mengikuti arahan Takara.
"Tuan mau dua?" tanya Takara. Tanpa menunggu jawaban, Takara langsung mengambil satu tangan Michael satunya, dan meletakkan di dada satunya. Kali ini, ia menyingkirkan kain kimono yang menghalangi.
Takara gerakkan tangan Michael untuk meremas kedua buah dadanya. Michael membuka matanya sekilas, ia melihat tangannya yang sedang ******* - ***** benda kenyal yang ia ingat milik istrinya.
Takara tersenyum puas. Saatnya untuk masuk ke babak selanjutnya. Pikir Takara.
Takara menarik pelan tubuh Michael ke arah belakang kuil, dimana kamar Takara para guru ada di sana.
Takara terus membuat Michael supaya meremas dua dadanya. Agar Michael tidak kehilangan hasrat.
Mereka sampai di depan sebuah pintu kamar. Itulah kamar Takara. Takara membuka pintu, membawa masuk Michael ke dalam kamarnya. Dan ia kunci rapat kamar itu.
Segera ia melepas tali kimononya. Menanggalkan kain tipis itu. Ia juga sudah melepas pengait br* di belakang, hingga dua buah dada itu kini telah bebas. Bisa dengan leluasa di mainkan Michael yang terbakar hasrat.
Saat Takara berusaha melepas kancing kemeja Michael, maka hal tak terduga pun terjadi. Di luar nalar, sama sekali tak menyangka akan seperti itu jadinya.
"Kau pikir aku terpengaruh obat mu!" hentak Michael mengambil glock tanpa di ketahui Takara. Mengarahkan senjata itu tepat pada dahi Takara.
Sontak Takara hampir melompat. Namun akhirnya tubuh setengah telanjangnya itu hanya membeku.
"Aku hanya tidak ingin murid - murid Shifu melihat hal konyol yang kau lakukan! jadi ku biarkan kau membawaku ke kamar ini!" ucap Michael.
"Apa maksud Tuan?"
Braakk!
Pintu terbuka secara paksa dari luar. Shifu, Jack dan Dimitri berdiri dengan angkuh di luar sana.
"Kau harus di hukum!" ucap Shifu.
Takara tak berkutik, ia sudah tertangkap basah telah menggoda Michael Xavier.
***
"Jadilah putra dan putri ku yang tangguh!" ucap Michael pada Jio dan Jia!"
"Yes, Daddy!" jawab keduanya serentak.
Malam telah berlalu, Michael dan rombongannya harus segera kembali ke Roma Italia. Meninggalkan kuil, Michael dan yang lain melirik ke arah air terjun.
Di bawah sana, perempuan 28 tahun di rendam untuk tujuh hari tujuh malam. Menjalani hukuman seorang guru, karena melanggar aturan kuil. Yakni menggoda tamu.
Michael mencibir perempuan itu. Wajah dinginnya tak sedikit pun hilang saat melirik ke bawah sana.
"Bagaimana rasanya?" goda Darrel. "Tanganmu kan sudah lama tidak menyentuh buah yang lain?" godanya lagi.
Jack mengulum senyuman di bibirnya. Mengingat siapa dulu Michael.
"F*ck!" desis Michael.
__ADS_1
Sementara Darrel cekikikan melihat ekspresi kesal Michael.
...🪴 Happy Reading 🪴...