SANG MAFIA!

SANG MAFIA!
Chapter 108


__ADS_3

Frederick, Madalena, Michael, Chania dan Sania, serta pengacara Smith telah berkumpul di keesokan harinya.


"Saya akan menjadwalkan supaya kita semua bertemu dalam satu waktu yang sama." ucap sang pengacara.


Frederick, selaku anggota tertua mengangguk setuju. Ia yang akan berdiri di barisan paling depan saat menghadapi Deborah nantinya.


"Selamat datang kembali, Nona Sania Arlington!" ucap pengacara menoleh Sania. "Saya harap Nona Sania tidak akan kesulitan dengan rencana - rencana yang akan kita lakukan!"


"Baik, Tuan!"


"Panggil saja saya, Uncle Roy!"


"Iya, Uncle Roy!"


***


Matahari mulai merangkak naik, Sania berjalan santai mengelilingi rumah megah seorang Michael Xavier. Sebenarnya ia sudah terbiasa dengan bangunan mewah. Toh Papa angkatnya juga tergolong kaya raya di Paris.


Namun melihat rumah Michael ia seolah tak percaya. Rumah Michael begitu megah, mewah dan luas. Di setiap sisinya selalu ada pos penjaga dengan minimal dua orang yang berjaga di sana.


Ini kali pertama ia berkeliling, karena sejak kedatangannya kemarin ia belum sempat mengenal lebih jauh rumah saudara iparnya itu.


Dan apa yang ia tangkap dari sini. Kemungkinan tentang dugaannya bahwa Michael adalah Mafia, semakin besar. Namun masih tersisa ruang di dalam pikirannya, semoga dugaannya tidaklah benar.


Berurusan dengan Mafia bukankah sangat menakutkan? Salah sedikit, nyawalah taruhannya.


"Sania..." panggil seseorang dari belakang membuatnya menoleh.


"Chania..." lirih Sania berhenti sembari menunggu langkah Chania sampai di tempatnya berdiri. Sania menyambut saudara kembarnya dengan mengusap lembut perut buncit Chania.


"Aku harap kamu akan betah di sini." ucap Chania mensejajari langkah Sania.


"Iya.." jawab Sania tersenyum tipis. "Chania?"


"Ya?"


"Bolehkah aku bertanya?"


"Tanyakan apapun yang ingin kamu ketahui."


"Apa Tuan Michael itu...." Sania menggantung kalimatnya. Ia tampak ragu untuk menanyakan sesuatu yang masih mengganjal di hatinya.


"Itu apa?"


"Apa dia itu Mafia?" tanya Sania menoleh Chania. Ia berharap saudara nya itu tidak marah atas pertanyaannya.


Chania menarik nafas dalam dengan pelan.


"Memangnya dia terlihat seperti Mafia?"


"Yaa.. Dari pertempuran semalam. Banyaknya senjata yang ia miliki. Rumah sebesar ini. Bahkan ada penjaga di mana - mana."


"Iya, kamu benar! Suami ku memang seorang Mafia!" jawab Chania lirih. "Sebastian adalah keluarga Mafia, dan itu sudah turun temurun."


Sania berhenti melangkah, kakinya mendadak lemas layaknya jelly. Sedang tubuhnya membeku. Sepasang matanya membulat, menatap tak percaya pada jawaban Chania.


Timbul rasa takut sekaligus menyesal sudah mengikuti saudara kembarnya. Meskipun sudah bisa ia tebak sejak kemarin.

__ADS_1


"Ka...ka..kamu.. tidak takut pu..punya sua..mi seorang Mafia?" tanyanya terbata. Wajah berubah menjadi pucat pasi.


Chania tersenyum geli melihat reaksi saudara kembarnya. Ia rangkul tangan Sania dan kembali mengajaknya berjalan. Mendekati gazebo yang ada di taman belakang.


Mereka duduk berdua di gazebo. Chania dengan teduh melihat bunga - bunga yang bermekaran di sekitar kolam ikan koi, dimana air terjun buatan terlihat begitu iconic. Sangat terlihat jika taman istana itu sangat terawat.


Sania mengikuti apa yang di lakukan Chania, hanya saja dia dalam keadaan belum sepenuhnya tenang. Ia justru melihat wajah - wajah penjaga yang bertebaran. Ada yang berada di pos penjaga, ada juga yang sedang berpatroli.


Dimana rata - rata mereka bermuka seram dengan tubuh yang gagah di balut seragam khusus. Namun membuat Sania canggung, lantaran saat ia melintas di depan mereka, semua akan akan menunduk hormat.


"Saat pertama kali aku tau jika Michael adalah seorang Mafia, aku pun seolah tak percaya." ucap Chania mengawali cerita. "Saat itu aku masih menjadi sekretarisnya, dia membawa ku ke markas Black Hold. Dia menghajar musuhnya di depan mataku. Tentu saja aku ingin muntah rasanya. Apalagi saat itu dia masih sangat mudah marah - marah padaku! Tapi seiring berjalannya waktu, aku justru menyukainya bahkan mencintainya. Kemudian aku mengajukan sebuah pernikahan sebelum kontrak ku sebagai sekretaris berakhir. Dan entah kenapa, kala itu dia menyetujuinya!"


"Kamu dulu sekretarisnya?"


"Iya... sekretaris plus - plus!" jawab Chania terkekeh geli mengingat masa lalu.


"What!" pekik Sania.


"Iya... karena dari awal Michael selalu bergonta - ganti sekretaris. Untuk di jadikan pelampiasannya saja katanya. Dan aku satu - satunya yang berani membohonginya!" jawab Chania membuat Sania mendelik.


"Bohong bagaimana?"


"Dia tidak mau sekretaris perawan, sedangkan saat itu aku masih perawan! haha!" gelak Chania. "Dan mungkin karena itulah dia mau menikahi ku!"


"Wow!"


"Hanya saja... ternyata semua adalah rencananya dengan Deborah."


"Maksudnya?" tanya Sania.


Chania menoleh saudara kembarnya, menatap dalam sepasang mata yang sama lentiknya dengan matanya. Kemudian menceritakan semua kisah, kehidupan hingga mereka sampai di titik sekarang.


***


"Michael?" panggil seseorang setelah membuka pintu.


"Masuklah!" jawab Michael setelah memutus pandangan dari luar jendela dan menoleh tamunya.


Tak hanya masuk selayaknya tamu, perempuan hampir 30 tahun itu berlari menubruk tubuh Michael. Memeluk erat tubuh dan menyandarkan kepala di dada bidang sang Mafia.


"I miss you.." lirihnya.


"Lepas, Oliver!" tangan Michael berusaha menarik lingkaran tangan Oliver di tubuhnya.


"No! no!" ucap Oliver. "Sampai detik ini aku tak bisa melupakanmu, Michael! Aku sangat mencintaimu! Lebih dari cinta wanita itu!"


"Jangan sembarangan menyebut istriku!" desis Michael. "Lepas!"


"Tidak!"


"Kau lupa siapa aku, hah!" ucap Michael. "Aku bisa saja sekarang mematahkan tanganmu agar terlepas!"


"Kamu tidak akan pernah melakukan itu padaku!"


Tak butuh lagi drama, Michael memasukkan tangannya ke dalam jas mengeluarkan senjata Glock yang selalu ia bawa kemana - mana. Sontak Oliver melepas pelukannya. Ia tau, Michael tak akan pernah main - main.


"Baiklah, aku menurut!" ucap Oliver memberi jarak. "Lalu kenapa kamu memanggilku kesini?" tanya Oliver setelah Michael memasukkan senjatanya.

__ADS_1


Michael duduk di singgasananya. Memberi kode pada Oliver untuk duduk menggunakan gerakan mata.


"Aku ingin memberimu penawaran." ucap Michael setelah Oliver terlihat lebih tenang.


"Penawaran apa?"


"Kau tau, Ibu mu sedang di ambang kehancuran."


"Apa maksud kamu?"


"Jadilah dirimu sendiri, Oliver!"


"Maksudnya?" sepasang mata memicing menatap Michael.


"Kita kembali bersahabat seperti dulu! Jangan ada ambisi kotor atau pun rasa ingin memiliki."


"Maksudmu kau ingin aku merelakan mu berbahagia dengan gadis itu?" wajah tegas Oliver terlihat jelas.


Menghela nafas, "Ya.." Michael mengangguk.


Oliver tersenyum culas, "Aku belum kalah, Michael! aku tidak mau kalah dengan gadis itu!"


"Tapi kenyataannya aku tidak akan pernah melepaskan Chania sampai kapanpun! Siapapun yang berani menyakitinya seujung kuku pun akan berhadapan denganku!"


"Mama mengincarnya! sampai kapanpun, selama Chania kamu lindungi, kalian tidak akan pernah bisa hidup tenang! Dua keluarga akan terus beradu."


"Kau tidak tau apapun, Oliver!" ucap Michael. "Selama ini kau hanya diracuni dengan pemikiran bahwa Chania memiliki sumsum tulang belakang yang sama dengan Selena. Padahal bukan itu yang menjadi satu - satunya alasan!"


"Apa maksudmu?"


"Sampai kapanpun, sumsum tulang belakang Chania tidak akan pernah cocok!"


"Kenapa?"


"Selena tidak sedarah dengan Chania!" jawab Michael. "Jadilah Oliver yang dulu, gadis yang ku anggap sebagai adikku sendiri!"


"Bohong!" hentak Oliver. "Segila itu kau berusaha membuat aku menyerah untuk mendapatkan cintamu?"


"Kau harus percaya padaku, Oliver!"


"Tidak!" tegas Oliver. "Tidak akan!"


"Oliver... kamu harus berubah! kita harus kembali menjadi sahabat seperti dulu!" ucap Michael dengan nada lembut, yang sudah lama tidak pernah lagi di dengar oleh Oliver.


"Tidak, Michael..." lirih Oliver meneteskan air mata. Ia sangat merindukan suara lembut Michael. Suara yang dulu selalu menangkan tangisnya saat terluka oleh goresan benda, atau sekedar jatuh dari sepeda. "Bukan persahabatan yang aku inginkan..."


"Selamanya kita akan menjadi sahabat.bl Berhentilah mengharap sesuatu yang tak bisa aku berikan. Cinta ku hanya untuk Chania, istriku. Hanya dia yang ku percaya menyandang namaku."


Air mata semakin deras membasahi pipinya. Suara lembut Michael begitu memabukkan. Ia tak sanggup jika suara itu hanya akan menjadi sahabat. Ia ingin suara itu yang selalu terdengar baik siang ataupun malam.


"Lebih baik aku mati, Michael!"


Oliver menangis histeris, ia ambil bolpoin di meja Michael, dan membuka penutupnya. Semua itu tak luput dari perhatian Michael.


Sampai akhirnya....


"Oliver!" teriak Michael.

__ADS_1


🪴🪴🪴


Happy reading 🌹🌹🌹


__ADS_2