
Hari itu adalah hari Kamis, dimana besok Jia akan menghadiri pesta topeng dalam rangka ulang tahun temannya, Gladys. Baju sudah siap di dalam almari, sepatu pun sudah di belikan yang baru oleh sang Mommy.
Tapi bagi Jia bukan itu yang membuatnya tak sabar menunggu hari esok. Melainkan tak sabar ingin tau, siapa yang akan mengantarkan dirinya untuk pegi ke pesta.
Karena ya... ia berharap Xiaoli yang akan mengantarnya untuk mendatangi pesta itu.
Tapi sampai saat ini memang belum ada tanda - tanda jika Xiaoli yang di perintahkan untuk mengantarnya pergi ke pesta.
✉️ "Siapa yang akan mengantarku ke pesta besok?
Tanya Jia melalui chat di ponselnya, tentu saja untuk bodyguard paling tampan dan muda di Klan.
Bicara soal Jia dan Xiaoli, tiga hari sudah mereka lalui sejak dari pertama saling menyimpan nomor. Obrolan sering tercipta, jika Jia memposting sesuatu di laman story nya. Karena Xiaoli cukup aktif membalas, meskipun singkat. Atau pun sekedar emoticon tertentu.
Meski begitu hati Nona Muda Xavier sudah merasa senang tak karuan. Dan itulah yang membuatnya aktif untuk memposting aktivitas kecil sekalipun. Guna menarik perhatian dan obrolan dengan sang bodyguard tampan.
Dan seiring berjalannya waktu, obrolan formal pun sudah mulai memudar. Berganti dengan obrolan santai. Bahkan Xiaoli lebih sering memanggil Jia dengan sebutan Cantik.
📩 "Belum ada perintah yang sampai ke telinga kami, Beautiful. Memangnya kenapa?"
Balas Xiaoli yang juga penasaran, kenapa dari kemarin Jia terus menanyakan siapa yang mengantarnya ke pesta topeng.
✉️ "Tidak, aku hanya ingin tau saja."
📩 "Mungkin besok baru akan ada perintah. Atau Nona berharap saya yang mengantarkan?" tanya Xiaoli menggoda.
"Hah!" pekik Jia tak percaya Xiaoli akan menanyakan hal itu.
Meskipun kenyataannya memang iya, tapi tidak mungkin juga kan Jia akan mengakuinya?
✉️ "Hemm... percaya diri sekali.."
Balas Jia dengan emoticon menutup mulutnya karena menahan tawa. Meskipun dalam dunia nyata dia sedang tertawa lebar.
📩 "Hahaha! katakan saja iyaa.... dan semua akan terwujud!"
✉️ "Bagaimana cara kamu mewujudkannya? sedangkan Daddy yang berhak memutuskan seeeeeegalanya. Emoticon menjulurkan lidah."
📩 "Xiaoli Chen bisa mewujudkan apapun yang Nona Cantik inginkan... selain harta. Karena saya bukan anak orang kaya seperti Nona Jia yang cantik dan penuh pesona."
Xiaoli tersenyum di ujung sana. Meskipun sebenarnya ia pun akan bingung bagaimana cara mewujudkannya. Tapi demi cinta ia akan melakukan segala cara.
✉️ "Ya..yaa... aku percaya! emoticon tertawa."
__ADS_1
Disaat pesan singkat itu terkirim pada Xiaoli, bersamaan dengan Jia yang mendengar suara derap langkah yang mengarah ke kamar sebelah. Dimana kamar Jio berada di sana.
Dari ritme yang terdengar, jelas ada sesuatu yang tidak beres sedang terjadi.
Jia pun segera melempar ponselnya di atas tempat tidur dan melompat dari ranjang untuk mendekati pintu utama kamarnya. Dengan gerakan cepat ia membuka pintunya.
Terlihat sang Ayahlah yang sedang berjalan cepat ke arah kamar Jio. Melihat ekspresi sang Ayah, Jia memilih untuk tidak menghentikan langkah sang Daddy untuk bertanya ada apa. Dan berikutnya sang Mommy juga keluar dari dalam kamar dengan keadaan tergopoh - gopoh mengikuti langkah Ayahnya.
"Ada apa, Mommy?" Jia memilih untuk bertanya pada Chania yang di anggap lebih tenang di banding sang Ayah untuk saat ini. Namun Chania hanya memberi kode pada Jia agar mengikuti langkah Daddy nya.
Hingga akhirnya Michael sampai di depan pintu kamar Jio, sedangkan Jia dan Chania ada di belakang Tuan Besar Xavier.
"Ada yang menembakkan bom pada saluran pipa gas perusahaan kita di tepi kota!" ucap Michael dengan dada yang bergemuruh. "Kebakaran di mana - mana, Jio! Persiapkan diri untuk kita segera berangkat ke sana!"
"Hah!" pekik Jia tak percaya dengan kabar yang di sampaikan oleh sang Ayah.
Mendengar kata bom, Jia yakin ini bukan sekedar ledakan berbentuk kecelakaan. Melainkan suatu kesengajaan. Yang artinya ada musuh yang sedang mengincar Sebastian Corporation ataupun Klan Black Hold. Jia pun menatap lekat sang Mommy yang pasti akan bingung harus berbuat apa.
Tak lama dari itu Michael berbalik badan dan menatap dua wanita Xavier yang sangat ia sayangi.
"Baby... aku, Jio dan pasukan harus pergi sekarang! hal seperti ini tidak bisa terlalu lama di biarkan. Beberapa anak buah sudah pergi mengejar musuh yang tertinggal." ucap Michael dengan menangkup wajah istrinya.
Chania hanya bisa mengangguk lemah dan sebulir air mata menetes. Dalam hati ia tentu khawatir, karena sang suami dan putra sulungnya akan kembali berperang untuk kesekian kalinya.
Michael mengecup lembut dan dalam kening sang istri yang hendak ia tinggal pergi untuk berperang. Setelah itu, ia ganti mendekati putrinya.
"Jia tau, Daddy! Jia akan menjaga Mommy dengan nyawa Jia sepenuhnya!" yakin Jia. "Jia akan melindungi rumah kita!"
"Aku meninggalkan Antonio dan Andreas di rumah!" ucap Michael pada dua wanita Xavier. "Sedangkan bodyguard utama yang lain akan ikut pergi ke tepi kota!" lanjut Michael.
"Jaga dirimu, Honey... kamu harus pulang dengan jantung yang masih berdetak dan kamu yang masih seperti ini."
"Jangan khawatir, Sayang... 20 tahun kita bersama, dan aku selalu pulang untuk mu dengan jantung yang berdetak, bukan?" lirih Michael menghibur sang istri yang pasti sedang kalut. Ia usap lembut pipi yang baru saja terlewati oleh air mata.
Lagi - lagi Chania hanya bisa mengangguk, tanpa sanggup mengucapkan kata - kata apapun.
Setelah Michael mencium kening istri dan ananya bergantian, ia segera melesat ke bawah. Tentu saja untuk berkumpul dengan pasukan yang sudah di siagakan oleh Jack di halaman belakang.
Mendengar Michael tidak menyebut nama Xiaoli di dalam daftar nama bodyguard yang tidak ikut, itu artinya Xiaoli ikut mengejar musuh ke tepi kota. Hah! untuk pertama kali sejak rasa itu timbul ia akan melepas Xiaoli bertempur di medan perang.
Jia menatap punggung Ayahnya yang berlari menuruni tangga meliuk dengan sangat cepat. Kemudian menatap punggung sang Mommy yang kini sudah berada di pagar besi. Menatap punggung Daddy nya dengan air mata yang membasahi pipi.
' Seperti inikah rasanya melepas seseorang yang berarti untuk pergi berperang? '
__ADS_1
Gumam Jia dalam hati.
Dan tak lama kemudian, Jio keluar dari kamarnya dengan gerakan yang sangat cepat pula.
"Jaga Mommy di rumah!" itu kalimat yang keluar dari Jio untuk sang adik. Dimana Gerald iku berjalan cepat di belakang Jio.
Kemudian Jia mengamati sang Kakak yang tengah memeluk Mommy nya di ujung tangga. Sangat erat, sembari menyampaikan kata - kata yang membuat sang Mommy lebih tenang. Jio meyakinkan sang Mommy jika musuh kali ini bukanlah musuh besar. Meski ia sendiri belum tau seperti apa kekuatan musuh.
"Kami akan kembali, Mommy!; ucap Jio mengecup kening sang Ibu.
"Iya, Jio.... jaga diri kalian baik - baik. Mommy tidak mau mendengar kabar buruk apapun..." lirih Chania menangkup rahang sang putra mahkota. Ia kecup dalam kening sang putra.
' Bagaimana perasaan mu saat melepas Kak Jio berperang seperti ini, Virginia? '
Gumamnya lagi. Terus berangan bahwa Xiaoli akan ikut bertempur. Bagaimana jika ia tidak kembali? ia baru saja bersenang hati karena merasa keduanya memiliki rasa yang sama.
Jia segera berlari kembali masuk ke kamarnya. Ia raih ponsel di atas tempat tidur yang tadi sempat ia lempar ke sembarang arah. Ia berharap ada pesan di sana untuknya dari...
Dan benar saja, beberapa pesan muncul di sana!
📩 "Seperti aku yang akan selalu percaya padamu.."
Pesan di dua menit kemudian...
📩 "Kamu pasti sudah mendengar berita masalah yang ada di tepi kota."
📩 "Tuan besar memasukkan aku dalam jajaran pasukan perang malam ini. Aku bangga karena aku kembali di pilih untuk memimpin 1 kompi pasukan tempur. Do'a kan kami... supaya kami bisa kembali masih dengan nyawa kami. Selamat malam, Cantik... Tidurlah... dan mimpi indah..."
Dan Xiaoli pun sudah terlihat tak lagi online sejak 5 menit yang lalu. Pasti saat ini pemuda itu sudah berkumpul di halaman belakang, pikir Jia.
Jia tertegun menatap layar ponselnya. Ia buka foto profil sang pemuda. Masih dengan gambar logo Klan Balck Hold.
"Seperti ini rasanya mencintai seorang petarung.." lirihnya terdengar sangat pilu, meski dirinya sendiri adalah gadis petarung. Kemudian ia mengetikkan pesan untuk Xiaoli.
✉️ "Aku akan selalu mendo'akan kalian semua. Kalian semua harus pulang dalam keadaan utuh, tanpa ada nyawa yang melayang..."
Balas Jia pada Xiaoli yang terlihat sudah mematikan ponselnya. Terlihat dari tanda centang yang hanya satu. Karena di saat genting seperti ini, semua pasukan tempur wajib mematikan ponsel mereka masing - masing.
"Xiaoli...." lirih Virginia menghembuskan nafasnya pelan, kasar dan menandakan rasa khawatir yang luar biasa.
***
📩 "Do'a ku selalu membersamai mu, Jio... kembalilah padaku dalam keadaan utuh.."
__ADS_1
Pesan dari Virginia masuk ke dalam ponsel Jio stelah pemuda itu mengabari akan mengejar musuh di tepi kota.
...🪴 Bersambung ... 🪴...