SANG MAFIA!

SANG MAFIA!
Chapter 180


__ADS_3

Bugatti biru yang di kemudikan Tuan Muda Xavier, memasuki area parkir roda empat. Satu yang ia cari, Mini Cooper orange milik Nona muda Brown.


Sudut mata menemukan apa yang ia cari, Jio segera mengarahkan mobilnya mendekati mobil Virginia. Memarkirkan tepat di sisi kanan mobil sang gadis. Membuat sang gadis seketika menoleh ke kiri.


Jantung yang semua berdetak kencang bagai kuda yang di pacu, seketika berangsur tenang dan normal.


Pintu kemudi Bugatti terbuka, Virginia pun segera keluar dari pintu kemudi. Segera ia menghampiri Jio dengan nafas terengah.


"Ada apa, Nia?" tanya Jio pura - pura tidak tau.


Keduanya kini sudah berhadapan di depan Bugatti Divo milik Jio.


Masih dengan nafas sedikit tersengal, "tadi ada yang mengejar mobil ku, Jio!" jawab Virginia terengah. Raut wajahnya menunjukkan betapa panik gadis jelita itu. "Aku melajukan mobil ki di atas rata - rata. Sampai sekarang aku masih tidak percaya bisa melaju secepat itu, dan selamat sampai di kampus!"


"Kamu mengenalnya?" tanya Jio pada intinya. Soal kecepatan Virginia melajukan mobilnya, tentu ia tau.


Menggeleng cepat, "aku tidak tau, aku tidak sempat melihat wajahnya! Tapi aku jelas tidak tau mobil siapa itu!" jawab Virginia.


Jio mengamati Virginia yang belum juga terlihat tenang.


"Tenanglah, kamu aman di sini!" ucap Jio mengusap lembut lengan Virginia. "Kita ke kantin, kamu butuh minum!" lanjutnya menarik lengan Virginia untuk mengikuti langkahnya ke arah kantin.


Virginia duduk di salah satu kursi kantin sederhana, sedang Jio membeli air mineral untuk sang gadis. Tanpa di rasa air mata Virginia menggenang di pelupuk mata. Sungguh ia tak menyangka bisa secepat itu melajukan mobil di jalan raya.


"Jangan menangis..."


Suara Jio sembari duduk di sampingnya. Jio tau seberapa cengeng gadis di sampingnya. Sebagai anak tunggal di keluarga kaya raya, cengeng dan manja adalah hal biasa. Karena mereka tidak pernah menjalani sulitnya hidup. Tinggal berucap, maka semua serba ada.


"Minumlah..." ucap Jio menyodorkan botol air yang sudah ia buka segelnya.


"Terima kasih, Jio..." lirih Virginia.


"Jangan pernah berterima kasih padaku.." jawab Jio.


Virginia menutup botol air minumnya. Kemudian menoleh Jio di sampingnya dengan tatapan sendu. Mereka duduk tanpa jarak, bahkan lengan mereka bersentuhan.


Dua pasang mata saling beradu pandang dalam jarak dekat untuk beberapa saat. Debaran sungguh terasa di dada masing - masing. Namun tak ada yang berani mengungkapkan itu.


Reflek tangan Jio terangkat dan mengusap air mata yang hampir jatuh dari pelupuk sang gadis.


"Aku tidak bisa melihatmu menangis, Nia..." lirih Jio, sangat lirih. Mungkin hanya Virginia yang bisa mendengar itu. "Jadi menangis... Aku akan mencari siapa yang mengejar mu tadi! Akan bawa dia untuk berlutut di depanmu, agar tidak melakukan hal itu lagi!"


Virginia menggeleng, "jangan, Jio... Bisa saja dia hanya iseng!"


"Mengisengi mu sama artinya mengajak bermain diriku, Nia.. Sejak dulu kita seperti itu, bukan?" lirih Sang Tuan Muda.


Virginia menunduk, memang begitulah Jio. Selalu berdiri di garda terdepan jika mengenai dirinya.


"Jangan menangis, ini kantin sederhana.. Bukan kelasmu untuk menangis di sini, Nia..." hibur Jio tersenyum kecil sembari mengusap punggung Virginia.


Sesungguhnya sedari tadi keduanya sudah menjadi pusat perhatian. Yang mana semua tau jika mereka datang bukan dengan berjalan kaki, maupun antar jemput kendaraan umum.


Melainkan datang menggunakan kuda besi dengan harga yang tidak main - main.


"Oh my God!"


Seru seseorang dari arah belakang keduanya. Sontak keduanya menoleh bersamaan. Wajah Nikki terlihat seperti orang yang melihat hantu di siang bolong.


Sementara Jio dan Nia saling melirik sekilas, lalu kembali melirik Nikki di belakang mereka.


Nikki berjalan cepat ke arah depan Jio dan Nia. Duduk dengan sedikit menghentakkan bokongnya di kursi. Menatap Jio dan Nia bergantian. Seolah tak percaya dengan apa yang ia lihat sekarang.


"Kamu sudah mengenalnya lebih dulu dari aku?" tanya Nikki pada Jio dengan polosnya. "Aku kira kamu dingin, ternyata kamu lebih ambyar aku, my man!" seru Nikki menggelengkan kepalanya.


"Aku tidak segila itu, Nikk!" sahut Jio, "aku hanya tidak tau, kalau yang kamu idolakan ternyata... dia.." Jio melirik Virginia sekilas.


"Memangnya kalian sudah saling mengenal?"

__ADS_1


"Ya... Begitulah!" jawab Jio datar. "Namanya Virginia!" lanjut Jio. "Nia, kenalkan! Dia Nikki! Teman pertama ku di kelas!"


Virginia mengangkat tangan untuk melambai kecil pada Nikki. "Hai.." sapanya ringan.


"Oh My God! Halo Virginiaa.." balas Nikki tersenyum cerah. "Jadi selama ini kalian berteman?" tanya Nikki dengan sepasang mata membulat. Seolah mengagumi sesuatu yang indah.


"Kami bersahabat sejak di taman kanak - kanak." jawab Virginia tersenyum lucu melihat ekspresi Nikki.


"Yaa.. Tuhan.. Kenapa bukan aku yang bersahabat dengannya?" gumam Nikki memukul meja kantin dengan gemas.


Virginia semakin sulit menahan tawa. Nikki terlihat sangat kocak dengan tingkah polosnya itu.


"Kalau kau yang bersahabat dengannya, aku tidak mau jadi dirimu yang seperti anak kecil menemukan mainannya yang hilang!" sahut Jio ketus.


"Heheh.." Nikki terkekeh geli. "Dia sangat cantik! Seperti bidadari yang turun dari langit!" bisik Nikki pada Jio selirih mungkin. Namun tetap saja Virginia dapat mendengarnya.


"Cih!" Jio berdecih kesal. Rasanya hati kecil tidak terima ada lelaki lain yang memuji Virginia cantik.


"Cemburu?" tanya Nikki ketus.


Pertanyaan Nikki tentu saja membuat sang gadis memasang telinga sebaik mungkin. Ia ingin tau seperti apa perasaan Jio setelah hampir 8 tahun tidak bertemu.


"A..." Jio menggantung kalimatnya. Melirik Virginia melalui ekor matanya. Kemudian melihat Nikki. Masih ragu untuk mengartikan rasa cemburu.


"Apa!" seru Nikki tak sabar.


"Aku hanya tidak suka ada yang melihat nakal pada Nia! Awas saja kalau kamu melakukan itu!" seru Jio beralibi.


Virginia tersenyum kecut. Tapi setidaknya Jio masih peduli padanya.


"Oh my man... Jangan bohongi dirimu!"


"Diam, Nikk!" sembur Jio.


"Yaa.. Baiklah baiklah! Yang penting hari ini punya kemajuan!"


"Aku sudah tau namanya! Itu kemajuan yang bagus bukan?" tanya Nikki berbisik. "Selama ini aku hanya bisa melihatnya dari jauh..." kikik Nikki melirik Virginia dengan nakal.


Pakk!


Tamparan kecil mendarat di pipi Nikki yang seketika membuat kepalanya terdorong ke belakang.


"Sudah ku katakan, jangan melirik nakal pada, Nia!"


"Oh my God! Baiklah!" pasrah Nikki menatap resah pada Jio. Kemudian mencuri lirikan pada Virginia yang sedari tadi hanya terkekeh mendengar obrolan Jio dan Nikki.


***


Sementara di istana Xavier, Jia baru saja keluar dari kamarnya dengan pakaian rapi untuk kuliah. Celana jeans ketat, dengan atasan sweater tanpa lengan berwarna pink muda, kemudian di lapisi jaket semi jeans berwarna putih. Tak lupa sepatu sneakers putih membalut kakinya. Tas ransel kecil, menggantung di pundaknya sebelah kiri.


Nona muda Xavier memang tidak se-feminim gadis pada umumnya. Ia lebih suka berdandan ala... suka - suka.


Menuruni tangga dengan sedikit berlari, dan terus berlari ke luar pintu utama istana Michael. Jia di sambut Dimitri yang sudah berdiri di samping mobil Lexus LM yang di peruntukan untuk mengantar kemanapun Nona muda Xavier pergi.


"Hai, Paman!" sapa Jia pada Dimitri.


"Selamat pagi siang, Nona Jia!" jawab Dimitri mengangguk hormat.


Pintu Lexus LM terbuka, bergeser ke sisi kanan sang Nona Muda. Jia masuk dan langsung duduk di kursi nyaman. Sementara Dimitri masuk ke pintu penumpang bagian depan.


"Jalan..." perintah Dimitri.


Jia mengeluarkan ponsel dan langsung sibuk dengan ponselnya. Sepanjang perjalan hanya itu kesibukan Jia tanpa melihat sekitarnya.


Beberapa kilo kemudian Jia baru menyadari jika berulang kali Dimitri mengarahkan sang sopir yang seolah belum hafal jalanan kota Roma.


Jia melihat memiringkan tubuhnya, untuk melihat siapa yang duduk di balik kemudi, tepat di depan ia duduk saat ini.

__ADS_1


Pemuda berusia sekitar 21 tahun, dengan wajah khas lelaki tiongkok tengah fokus mengendalikan kemudi bundar di depannya. Kaos lengan panjang hitam, rambut hitam dengan kulit putih membuatnya terlihat memiliki daya tarik tersendiri.


"Kamu bodyguard baru?" tanya Jia.


"Iya, Nona..." jawab Xiaoli sembari menoleh tanpa melihat wajah Jia.


"Siapa namamu?" tanya Jia terus penasaran.


"Xiaoli Chen, Nona. Nona bisa memanggil saya Xiaoli."


"Xiaoli?" tanya Jia mengulang.


"Ya, Nona."


"Sejak kapan kamu di sini?" tanya nya pada Xiaoli, namun kemudian menoleh Dimitri. "Kenapa aku baru tau ada bodyguard baru, Paman Dimitri?"


"Xiaoli baru satu minggu di sini, Nona!" jawab Dimitri menoleh Jia.


"Oh... Begitu..." Jia tersenyum samar, kemudian kembali pada posisi duduknya. "By the way, kenapa sekarang yang mengawal aku Paman Dimitri?"


"Perintah Tuan Besar, Nona!" jawab Dimitri singkat.


"Lalu siapa yang mengawal, Daddy?"


"Jack dan Noel!"


Jia mengangguk paham. Meski tanpa di jelaskan, jika pengawalnya langsung dari bodyguard utama, jelas pengamanannya di perketat. Atau ada bahaya lain yang mengintai Klan Black Hold.


***


Kembali ke Sapienza University of Rome, di sana ada pemuda yang duduk di koridor dekat area parkir roda empat, guna mengunggu kedatangan seseorang yang sedari tadi ia tunggu.


"Tumben sekali dia belum datang?" gumamnya.


Ia sudah turun dari sport car Aston Martin miliknya. Sudah tak sabar untuk bisa bertemu dengan gadis cantik nan mempesona. Cantik natural yang gak di buat - buat.


"Hai, Diego!" sapa Gladys yang tiba - tiba muncul di sampingnya.


"Hai, Gladys! Hai, Reena!" balas Diego.


"Kamu menunggu siapa di sini?"


"Oh, hanyaa... Emm.." Diego menggaruk kepala belakang yang tidak gatal.


"Nunggu Jia?" tebak Reena.


Diego terkekeh malu. Tebakan teman barunya tepat pada sasaran.


"Ciee..." goda Gladys tersenyum, "memangnya dia belum datang?"


"Sepertinya sih belum! mobilnya belum terlihat!"


"Eh, iya!" jawab Gladys setelah melihat parkiran roda empat. "Tapi ada Bugatti di sana! Siapa tau dia berangkat bersama Jio!"


"Memangnya Bugatti itu milik saudara kembar Jia?" tanya Diego.


"Iya! Cuma mereka yang bisa bawa mobil semahal itu ke kampus ini!" ucap Reena tersenyum cerah. Tentu saja dengan membayangkan wajah Jio yang tampan.


"Sudah jangan di bayangkan! Mobil Diego juga tak kalah keren!" sahut Gladys mengusap kasar wajah Reena. "Kita ke kelas duluan ya, Diego!" pamit Gladys.


"Oh, iya!" jawab Diego.


Gladys dan Reena berlalu. Sedangkan Diego masih betah duduk di sana. Melihat ke arah Bugatti biru yang parkir berdampingan dengan Mini Cooper orange.


"Sekaya apa ya mereka?" gumamnya.


...🪴 Happy Reading 🪴...

__ADS_1


__ADS_2