
Dengan keteguhan hati yang sudah di persiapkan sejak beberapa hari yang lalu, Michael membawa Chania menuju salah satu lorong di rumah yang tak kalah besar dengan rumahnya di Italia.
Lorong yang di penuhi dengan beberapa pintu, dan hiasan dengan nilai fantastis itu menjadi saksi bisu kebingungan hati seorang Chania Renata.
Kemana Michael akan membawanya? Ia bahkan tak menyadari jika di rumah itu terdapat lorong megah di lantai tiga, namun tampak sangat sunyi itu.
Sebuah pintu berukuran cukup besar, dengan nuansa putih dan ukiran bunga yang menawan menyambut mata Chania yang di penuhi rasa penasaran.
Dua orang penjaga pintu segera menunduk begitu melihat kedatangan Michael dan Chania.
"Selamat siang, Tuan muda dan Nyonya muda."
Michael diam saja tanpa membalas sapaan penjaga. Ia justru langsung memasukkan sandi pintu untuk membuka pintunya
Chania yang memang memiliki sifat ramah, membalas sapaan dengan anggukan dan senyum yang nyaris tak terlihat. Karena jiwanya sedang di landa ketegangan. Tentang hal apa yang akan di tunjukkan Michael di dalam ruangan itu.
Clek!
Pintu terbuka dengan perlahan. Michael sengaja hanya membuka beberapa senti saja. Chania bahkan belum bisa menangkap ruang apa itu. Namun Michael justru mengalihkan tatapannya pada raut wajah Chania.
Chania mengangguk, seolah meyakinkan agar pria itu tak ragu untuk membuka pintu itu.
Menarik nafas dalam, akhirnya tangan Michael tergerak untuk mendorong pintu hingga terbuka sepenuhnya. Keduanya terpaku untuk beberapa saat, kemudian barulah mereka masuk dan Michael kembali menutup pintu itu.
Chania mengerutkan keningnya. Lantaran ruangan itu ternyata sebuah kamar yang di bagi menjadi dua sisi, berbatasan dengan dinding transparan dan rak - rak berisi barang antik.
Kamar dengan warna putih bersih yang mendominasi. Serta bunga - bunga mawar asli berwarna putih ada di beberapa vas bunga yang tersebar di beberapa titik. Sepertinya bunga itu rutin di ganti dengan bunga yang baru. Terlihat masih segar dan keharumannya pun menyeruak di dalam ruangan itu.
Namun Chania semakin bingung, lantaran kamar yang mampu mewakili untuk menunjukkan betapa kaya raya sang pemilik itu tampak kosong tak berpenghuni. Lantas kenapa Michael membawanya ke ruangan itu? apa istimewanya?
"Kamar siapa ini, Honey?" tanya Chania.
Michael tak menjawab, ia menarik tangan Chania dengan lembut, membawanya ke arah pintu menuju balkon.
Clek!
Michael membuka pintu, dan sapaan dari seorang wanita berpakaian suster menyambut Chania dan Michael di balkon kamar itu.
"Selamat siang, Tuan muda."
"Hem.." balas Michael yang seketika menangkap keberadaan seseorang di sana.
Kemudian suster itu mengangguk ke arah Chania, dan segera berlalu dari balkon. Membiarkan Tuan muda nya waktu pribadi.
Chania mengikuti arah pandang Michael, dan berhasil membuat dahinya mengerut.
"Siapa beliau, Honey?" tanya Chania setengah berbisik. Menatap seorang wanita yang duduk di kursi roda dengan membelakangi keberadaan mereka. Berjarak empat meter darinya berdiri saat ini.
"My Mom." lirih Michael dengan wajah mendung nya.
__ADS_1
Chania tertegun menatap ekspresi wajah tampan Michael Xavier. Kemudian ia kembali menatap wanita berambut hitam, namun ada sedikit uban di beberapa bagian.
' Jadi beliau Mama mertua ku? '
Batin Chania, rasanya sungguh bahagia bisa bertemu dengan wanita yang sudah melahirkan suaminya. Ia tak menyangka Michael akan membawanya menemui wanita paling istimewa di hidup Michael Xavier.
' Tapi apa aku di anggap menantu? Bahkan tak ada yang tau kami menikah. '
Lanjutnya dalam hati. Kegelisahan akhirnya menyelimuti relung jiwa Chania. Nyalinya menciut begitu saja.
Michael berjalan mendekati wanita yang di sebutkan sebagai Mama nya itu. Duduk bersimpuh tepat di depan sang ibu yang tampak tak menyadari kehadirannya.
"Mom?" panggil Michael lembut.
Namun wanita itu tampak masih diam, menatap lurus ke depan. Seolah tak mendengar panggilan Michael Xavier yang terdengar penuh ketulusan.
"Mom?" panggilnya lagi sembari menangkup wajah wanita yang sudah sedikit keriput itu.
"Ah!" wanita itu terkesiap, seperti orang yang kaget. Kemudian menatap putra tunggalnya itu.
Michael tersenyum manis, menatap sepasang manik mata sang Mama yang tetap indah meski di usianya yang sudah sedikit lewat setengah abad itu.
"Ini aku, Mom! Michael Xavier. Putra mu." ucap Michael saat sang Mama tak bereaksi.
"Michael Xavier?" ulang wanita itu bertanya.
"Yes, Mom! this is me!" yakin Michael.
Michael mengangguk, dengan kedua ibu jari yang mengusap air mata sang Mama.
"Sepertinya baru kemarin, Papa dan Mama mengantar kamu berangkat sekolah." ucapnya dengan begitu haru.
Tersenyum smirk. "Michael bahkan sudah selesai kuliah, Mom. Michael sudah menduduki posisi yang Mama inginkan."
"Oh, ya?" tanya sang Mama tersenyum sumringah.
"Ya, Mom!"
"Kamu sudah jadi CEO di Sebastian Company?"
"Ya, Mom!"
"Mama bangga pada mu, Michael! Tetaplah menjadi putra terbaik Mama."
Sang Mama menciumi seluruh wajah tampan Michael Xavier. Dan Michael terlihat begitu hanyut oleh kecupan sang Mama. Ia merindukan kehangatan yang sempurna. Bukan hanya sesaat seperti ini.
"Tapi, Nak!" ucap wanita itu tiba - tiba dengan wajah paniknya.
"Apa, Mom?" Michael sudah tau pertanyaan apa yang selanjutnya akan di tanyakan sang Mama.
__ADS_1
"Kamu..." ragu untuk mengucapkan, "kamu tidak mewarisi dunia mafia Papa dan mendiang kakek mu, kan?"
Seketika Michael menggelengkan kepalanya. Dengan sebuah senyuman yang seolah untuk menyakinkan sang Mama, bahwa dia bukanlah Mafia.
Seketika Chania yang berdiri di belakang sang Mama mertua, tersentak dengan gelengan Michael. Bukankah dia bos Mafia di Italia? kenapa bilang bukan Mafia? Chania sungguh terlihat bingung dengan interaksi ganjil ibu dan anak itu.
"Bagus, Nak! dengan begitu Mama tidak akan khawatir dengan masa depan mu." ucapnya sembari menarik pundak dan memeluk Michael yang masih berjongkok. "Kamu akan aman jika tidak berurusan dengan para penjahat!'
"Mama jangan pernah mengkhawatirkan Michael. Michael akan selalu dalam keadaan baik. Agar terus bisa menjaga Mama. Selamanya!" bisik Michael.
"Terima kasih, Michael!"
"Yes, Mom!" jawab Michael mengusap punggung sang Mama dan menciumi pipi wanita paling berharga dalam hidupnya itu.
"Mom?" panggil Michael melepas pelukannya, kemudian menatap dalam wajah ibunya.
"Ada apa, Michael?"
"Mom? jika Michael menikah, apa Mama akan merestui Michael dan calon menantu Mama?" tanya Michael.
"Anak Mama mau menikah?" tanya sang Mama sumringah.
"Yes, Mom!" jawab Michael.
"Dengan siapa, Nak? siapa nama orang tuanya? Apa Mama mengenalnya?"
"Namanya Chania Renata, dan Mama tidak mengenal orang tuanya." jawab Michael seyakin mungkin.
"Chania Renata... Apa dia cantik?"
"Hem." Michael mengangguk. "Cantik seperti Mama!" lanjutnya.
"Benarkah?"
"Dimana dia, Michael?"
Michael memberi kode pada Chania agar mendekat. Dengan langkah ragu, Chania mendekat dan ikut berjongkok seperti Michael.
"Inilah Chania Renata, Mom. Calon istri Michael!" ucap Michael.
"Selamat siang, Nyonya besar. Nama saya Chania Renata, salam kenal." ucap Chania saat mama mertuanya menelisik wajah cantiknya.
"Kamu...." sesuatu merasuki pikiran wanita yang masih memiliki postur tubuh yang bagus itu. Hanya saja ia hanya bisa duduk di kursi roda.
"Mama tidak mengenal orang tuanya!" pungkas Michael tau apa yang merasuki pikiran sang Mama.
Menoleh Michael sekilas, namun kembali menoleh pada Chania yang terlihat kebingungan. Menatap dalam wajah itu, meneliti warna rambut, mata bahkan setiap inchi dari tubuh Chania yang bisa di lihatnya.
"Kamu...."
__ADS_1
🪴🪴🪴
Happy reading 🌹🌹🌹