SANG MAFIA!

SANG MAFIA!
Chapter 159


__ADS_3

Mendapatkan titah untuk menempa ilmu di sebuah kuil pedalaman, maka tak ada pilihan lain selain menerimanya. Sebagai putra pertama Xavier, Georgio, bocah 10 tahun itu sudah menyadari tanggung jawab yang harus ia emban kelak.


Terdaftar sebagai murid - murid di sekolah terbaik dan termahal di kota Roma, meskipun dengan tingkat pendidikan yang berbeda, Jio, Jia, Jellow, Zee, Arfha, dan Gerarld pagi ini berangkat dalam satu mobil limousine. Karena semua masih berada di istana Michael Xavier.


Jellow, meskipun orang tua nya pindah - pindah, ia tetap memilih bersekolah di Italia. Tinggal bersama Chania di istana Michael, selaku Aunty yang paling dekat dengannya.


"Bagaimana jika Virginia di ganggu anak - anak lain?" tanya Jia pada kakaknya Jio.


"Yang penting bukan Lussio!" jawab Jio datar.


"Aku akan mengawasinya!" sahut Zee begitu saja. "Aku juga tidak kalah hebat dari si Lussio itu!" ucapnya bangga.


"Hemm.." sahut Jio datar.


Mereka tiba di sekolah, bersamaan dengan sebuah mobil merah sampai. Jio tau itu mobil siapa.


Segera saja dia turun lebih dulu dari para saudaranya, dan berjalan cepat ke arah dimana seorang supir membuka pintu mobil merah itu. Dan keluarlah si cantik Virginia.


"Jio?" gadis kecil itu terhenyak saat tau ternyata Jio sudah menunggunya di luar pintu. "Hai!" sapa Virginia tersenyum.


"Virginia!" sapa Jio. "Ayo masuk kelas bersama!" ajak Jio.


"Ayo!" jawab Virginia.


Keduanya berjalan bersama menuju kelas mereka di lantai 3 gedung sekolah. Di kelas 4 Blok Teratai. Begitu juga Jia. Sedang Zee, ada di kelas 3 Blok yang sama, Teratai.


Sedangkan Arfha dan Gerald, mereka masih berada di kelas terakhir Kindergarten School. Beda Blok juga beda gedung dengan mereka.


"Kalian berangkat bersama?" tanya Virginia saat melihat Jia dan Zee sudah berjalan di depan.


"Iya..." jawab Jio datar.


"Tumben?" Virginia menoleh Jio yang tampak tak semangat seperti biasa.


"Ada yang ingin aku sampaikan padamu, Nia..." Jio menoleh Virginia dan menatap lekat gadis itu.


"Apa?" menanti kalimat Jio. Wajah Jio tidak seperti biasanya, membuat Virginia semakin penasaran.


"Saat istirahat nanti, kamu ikut aku, ya? ini sudah mendekati jam masuk kelas!"


"Tidak bisa cerita sekarang?" sudah tak sabar.


"Terlalu panjang!" jawab Jio. Bocah jenius yang selalu juara di kelasnya, dengan nilai tertinggi di antara kelas empat, di Blok yang lain.


***


Maka jam yang dinantikan Virginia telah tiba. Meja mereka bersebelahan, membuat Virginia yang penasaran langsung menarik tangan Jio untuk keluar kelas.


Jia yang melihat itu pun, hanya bisa menghela nafas. Sebagai saudara kembar, tentu Jia tau seperti apa sikap Jio pada Virginia selama ini. Ia tau ada perasaan yang terpendam, atau lebih tepatnya perasaan yang belum waktunya untuk di ucap. Karena usia mereka yang masih anak - anak.


"Aku dan Jia akan keluar dari sekolah ini."

__ADS_1


"Apa!" seru Virginia menoleh Jio dengan mata bulatnya yang tajam. "Kenapa Jio?"


"Bukan hanya aku dan Jia. Tapi Jellow juga, bahkan Zee juga akan menyusul keluar nantinya!"


"Apa yang terjadi? memangnya ada sekolah yang lebih baik dari sekolah kita?"


"Bukan untuk sekolah, Nia... tapi..."


"Tapi?"


Menarik nafas panjang, menghelanya dengan berat.


"Kamu tentu tau latar belakang keluarga ku..." ucap Jio menatap lurus ke depan. "Daddy tidak ingin anak - anaknya menjadi anak yang lemah. Kami harus kuat dan tangguh! lebih tepatnya tahan banting!"


"Iya, aku tau tentang itu.. Lalu apa hubungannya dengan keluar sekolah?" tanya Virginia berapi - api. Menginterogasi, untuk menemukan alasan yang tepat jika memang harus berpisah sekolah nantinya.


"Daddy akan mengirim ku pada gurunya di masa kecil!"


"Dimana?" nada bicara gadis sepuh tahun itu terdengar getir.


"Jauh dari sini. Bahkan jauh dari masyarakat awam!"


"Maksud kamu di daerah pelosok? macam itu?"


"Ya..." Jio menoleh Virginia. Menatap lembut gadis cantik yang paling dekat dengannya.


"Lalu.. kapan kamu akan kembali?"


"Tujuh tahun lagi!"


"Itu permintaan Daddy yang tidak bisa aku bantah Nia..." jawab Jio. "Kami semua harus berada di sana, sampai waktu yang di tentukan usai!"


Virginia menggelengkan kepalanya pelan, seolah tak setuju dengan ucapan Jio yang menyesakkan dadanya.


"Apa saat kamu kembali, kamu masih akan mengingat ku?" tanya Virginia sendu.


"Tentu saja, Nia! aku tidak akan pernah melupakan kamu! meskipun nantinya kamu tidak akan mendapat kabar dariku!"


"Kita tidak bisa chatting?" tanya Virginia. Berharap masih ada jalan untuk mereka saling berkomunikasi.


"Jangan ubah nomor ponsel mu, aku hanya boleh memegang ponsel satu tahun sekali!"


"What!" pekik Virginia semakin tidak percaya.


"Iya... itupun hanya dua jam!"


Menghela nafas berat, Jawaban Jio sama sekali tidak masuk akal. "Kenapa kita harus berpisah seperti ini, Jio?"


"Sebagai anak laki - laki pertama, aku harus menjadi pelindung untuk keluargaku, Nia. Aku akan menjadi penerus yang dapat di andalkan."


"Tapi..."

__ADS_1


Jio mengeluarkan sesuatu dari dalam saku celananya. Menggenggam erat, sebelum akhirnya ia tunjukkan pada Virginia. Sebuah gelang merah, dengan beberapa manik mutiara putih.


"Kamu ingat, saat kita study tour beberapa bulan lalu kamu pernah bilang kalau kamu suka warna merah. Merah yang artinya berani, meskipun kamu tidak seberani itu!"


Virginia mengangguk. ia ingat saat ia ucapkan kalimat itu. Saat mereka duduk berdua di dalam bus yang mengantar mereka ke lokasi yang di tunjuk sebagai tujuan pembelajaran akhir tahun.


"Aku membeli gelang ini, beberapa hari setelahnya... Lalu aku meminta pada Mommy, supaya mutiara palsu di gelang ini, di ganti ganti dengan mutiara asli!" ucap Jio. "Pakailah! dan berjanjilah untuk tidak melepasnya, sampai aku kembali!"


Virginia, gadis kecil itu meneteskan air matanya. Tak menyangka persahabatan mereka harus terhalang sebuah perpisahan tujuh tahun. Yang mungkin saja akan lebih dari itu.


Ragu, Virginia mengambil gelang di tangan Jio. Menatapnya lekat. Berharap gelang itu tidak akan pernah hilang.


"Aku tidak bisa menjanjikan apapun padamu, Nia. Yang kamu harus tau, aku tidak akan pernah melupakan kamu!"


"Bisa kah kamu yang memakaikan untukku?"


"Tentu!" jawab Jio segera mengambil gelang merah itu kembali, dan memakaikan di tangan gadis kecil yang cantik jelita. Lalu mengusap sisa air mata yang menetes di pipi mulusnya.


"Aku akan terus memakainya, Jio!" jawab Virginia yakin. "Aku juga punya sesuatu untukmu! tapi aku menyimpannya di rumah. Besok akan aku bawa!" lanjut Virginia. "Dengan begitu, kita harus saling mengingat!"


"Ya!" jawab Jio tersenyum.


Kursi panjang di taman sekolah, menjadi saksi pengungkapan perpisahan Jio dan Virginia. Usia yang baru sepuluh tahun, tidak bisa menjamin apakah benar mereka akan terus bisa bersahabat, atau apalah itu.


Jika saja mereka anak - anak remaja, mungkin saat ini mereka akan berpelukan. Tapi usia 10 tahun, tentulah keduanya masih sangat malu melakukan hal itu.


Yang ada hanya rasa yang belum mereka tau artinya. Hanya sesuatu yang sulit untuk di ungkapkan.


# # # # # #


Waktu terus berlalu, hari keberangkatan itu telah tiba. Jet pribadi sudah disiapkan Michael untuk mengantarkan sang putra mahkota menempa ilmu.


Hanya Michael, Darrel dan dan Jack saja mengantar mereka sampai ke kuil. Yang lain hanya boleh mengantar sampai Bandara saja.


Dan kini, tiga bocah kecil sudah mengudara bersama Michael, menuju lokasi yang belum pernah mereka ketahui sebelumnya.


"Anak - anak mu juga harus kau kirim pada gurumu, Jack!" ucap Michael. "Aku yakin, gurumu juga hebat!"


"Tentu, Tuan!" Jack mengangguk paham.


Sepanjang perjalanan, Jio menggenggam sebuah kalung yang menggantung di lehernya. Kalung dengan bandul kepala naga yang terbuat dari emas putih.


"Ingat Jia, Jio! nanti saat berlatih pun kalian tidak boleh mengalah!" ucap Michael. "Michael Xavier tidak pernah kalah apalagi mengala selama berada di kuil!"


"Yes, Dad!" jawab dua bocah kembarnya.


"Kamu juga begitu, Jellow! Meskipun usiamu masih di bawah Jio dan Jia, jangan mau mengalah pada mereka, jika seandainya kalian berada di dalam ring yang sama!" pesan pria 41 tahun itu pada keponakannya.


"Jellow tau, Uncle!" jawab Jellow.


Darrel tersenyum puas melihat putranya yang terlihat semangat untuk menempa ilmu baru. Meskipun dunia akan jauh darinya.

__ADS_1


"Sejak kapan kamu memakai kalung?" tanya Michael kemudian pada sang putra mahkota.


...🪴 Happy Reading 🪴...


__ADS_2