SANG MAFIA!

SANG MAFIA!
Chapter 56


__ADS_3

' Untuk apa wanita itu ada di kota ini? apa dia mengikuti suamiku? Atau Frederick bahkan tau dia ada di sini? '


Batin Madalena kacau saat itu juga.


"Nyonya jangan mengingatnya lagi." ucap Jennie yang duduk di sampingnya. Ia juga melihat wanita yang sama.


"Menurutmu apa yang dia lakukan wanita itu di kota ini, Jen? mencari suami ku? atau untuk kembali berusaha merebut Smith dari Deborah?"


"Saya tidak tau, Nyonya." jawab Jennie. "Saya rasa mungkin dia ada urusan, mengingat mereka berasal dari kota ini juga."


"Deborah harus tau!" desis Madalena geram.


Jennie hanya tersenyum simpul, gadis itu tidak berani berekspresi lebih jauh. Mengingat dirinya yang hanya seorang Asisten pribadi. Namun apapun yang akan di lakukan majikannya ia akan tetap mengikutinya.


# # # # # #


Suatu hari, mobil yang membawa Madalena memasuki bangunan mall yang sudah lama kosong. Jennie di sampingnya merasa was - was akan rencana Nyonya nya.


Mobil berhenti tepat di depan gedung. Dua bodyguard yang duduk di kursi bagian depan turun untuk membukakan pintu majikannya.


Madalena turun dengan membawa sesuatu di tangannya, dan pandangan matanya langsung tertuju pada sosok wanita yang berdiri di lantai dua bekas bangunan mall. Dengan seorang anak kecil berusia 15 bulan yang sangat mirip dengannya berada di dalam gendongan.


Madalena berjalan dengan aura dinginnya, mendekati wanita yang tak lain adalah Kimberly itu.


Jennie berjalan satu langkah di belakang Madalena. Sedang satu bodyguard satu langkah di belakang Jennie. Bodyguard satu lagi berjaga di depan mobil Mercedes Benz milik Madalena.


Dua langkah lagi maka ia akan berhadapan dengan Kimberly tanpa jarak. Namun ia berhenti tepat di titik itu.


"Berani juga kau datang!" desis Madalena.


"Maafkan saya, Nyonya!"


"Untuk apa kau datang ke Roma?" hardik Madalena.


"Kenzie hendak merintis usaha di kota ini, Nyonya."


"Kenapa harus di Roma?"


"Karena klien Kenzie kebanyakan berasal dari kota ini, Nyonya."

__ADS_1


"Bohong!" ucap Madalena. "Kau ingin mendekati suami ku kan?" tanya Madalena sinis. "Atau kau masih ingin mengejar Smith? tidak puas di hajar dan di usir istrinya?"


"Sama sekali tidak ada niatan seperti itu, Nyonya. Saya sudah berusaha melupakan Tuan Smith, dan juga kehidupan saya di masa lalu."


"Kehidupan saat kau masih jadi baby sugar, hah!" cecar Madalena. "Kau menjijikkan untuk dikenal para istri seperti ku, Kimberly!"


"Saya tidak seperti itu, Nyonya."


"Lantas, kenapa kau bisa mengandung putri Smith?"


Madalena memicingkan matanya menatap wajah Kimberly yang sedikit menunduk. Lalu beralih pada gadis kecil di gendongan Kimberly.


"Maafkan saya, Nyonya. Saya hanya manusia biasa yang bisa kapan saja melakukan kesalahan. Tapi percayalah, saya tidak sepenuhnya salah. Saya dan Tuan Smith lebih dulu menjalin hubungan. Sebelum Tuan Smith di jodohkan dengan istrinya sekarang."


"Hahaha! alasan mu terlalu klasik, Kimberly!" ucap Madalena tertawa sinis.


"Saya tidak bohong, Nyonya. Saya mengenal Tuan Smith sejak delapan tahun yang lalu, saat saya masih sekolah. Hanya saja perbedaan status membuat Tuan Smith menyembunyikan hubungan kami."


"Jadi menurutmu kisah cinta kalian berakhir karena perjodohan seorang Smith Arlington?"


Kimberly menggeleng lemah. Namun nafas Madalena semakin menggebu. Mengangkat beberapa lembar kertas dan melempar ke wajah Kimberly. Beberapa bagian kertas mengenai lengan putri Kimberly.


Kimberly duduk berjongkok, mengambil selembar kertas yang berserakan. Matanya sedikit membulat melihat isi kertas itu. Ia tak menyangka Madalena mengetahui semua itu.


"Maafkan saya, Nyonya. Saya hanya butuh untuk modal usaha saya dengan suami saya. Tapi saya janji akan mengembalikan semua itu pada mereka."


"Hahahaha! kau pikir aku percaya? hah?" tanya Madalena sinis. "5 juta dolar, kapan kau akan membayar pada suami ku? lalu 15 juta dolar, kapan kau akan bayar pada Smith?"


"Saya tidak bohong, Nyonya!" jawab Kimberly. "Secepatnya akan saya kembalikan."


"Dengan cara apa, hem? menjebak mereka kembali!" teriak Madalena membabi buta. "Atau melempar tubuh kotor mu itu di ranjang mereka, seperti yang kau lakukan pada suamiku? dasar pelacur!"


Kimberly meneteskan air matanya. Tak sanggup lagi membela diri, karena namanya yang terlanjur di nilai buruk oleh bangsawan di depannya itu.


"Aku mungkin tidak akan bertidak gila pada mu, Kimberly. Tapi tunggulah wanita yang di kenal sebagai Nyonya Arlington akan datang dan memberi mu pelajaran untuk kesekian kalinya. Kau tau seberapa benci dia padamu?" tanya Madalena sinis.


Kimberly mengangguk, ia tau seberapa benci wanita itu padanya. Berulang kali ia di siksa dan di rendahkan oleh wanita tak berhati itu. Namun wanita itu sama sekali enggan membunuhnya. Entahlah, kenapa Nyonya Arlington menolak membunuhnya.


"Nyonya Frederick harus percaya jika saya tidak pernah memiliki hubungan dengan Tuan Frederick, selain pertemanan."

__ADS_1


"Pertemanan?" lirih Madalena.


"Iya, Nyonya!"


"Kau pikir aku percaya?" tanya Madalena, "kau pikir aku tidak tau, jika saat aku baru saja melahirkan putra pertama ku, kau mendatangi suamiku untuk meminta di pekerjakan sebagai sekretaris. Dan saat itu tepat hari pernikahan Smith Arlington dan Deborah Arlington!"


"Maafkan saya, Nyonya! saat itu saya tidak punya pilihan lain! saya hanya ingin tetap bisa melihat Tuan Smith. Karena saat itu saya masih mencintainya."


"Persetan dengan alasanmu, pelacur!" teriak Madalena.


Madalena maju untuk mendorong tubuh Kimberly yang masih menggendong putrinya. Jika berhasil di dorong, maka Kimberly beserta putrinya akan jatuh ke bawah. Namun sebuah moncong pistol mengarah pada kepala Madalena dari salah satu sisi bangunan kosong itu.


Namun ujung pistol itu terdeteksi oleh sepasang mata Bodyguard yang berdiri di depan mobil.


"Nyonya, AWAS!" teriak bodyguard itu berlari mendekati majikannya untuk melindungi sang majikan. Menaiki tangga dengan kecepatan di atas rata - rata.


Teriakan bodyguard itu menggagalkan aksi Madalena. Dan semua menoleh kanan kiri mencari letak ancaman. Bodyguard yang mengikuti Madalena segera ambil posisi melindungi Nyonyannya.


Mata Madalena membulat melihat siapa yang mengarahkan pistol padanya, Smith Arlington.


DORR!!! DORR!!!


Suara letusan peluru sebanyak dua kali dari senjata api terdengar nyaring di sana. Berbarengan dengan suara lirih korban. Semua memejamkan matanya. Dan beberapa saat kemudian mata kembali terbuka satu persatu.


Tak ada yang berdarah di titik Madalena beserta yang lainnya. Lalu siapa yang tertembak?


Semua menahan nafas sesaat, saat melihat siapa yang tersungkur dengan kepala berlubang oleh peluru.


Dan saat menoleh siapa yang menembak, maka semua di buat tercengang.


🪴🪴🪴


Happy reading 🌹🌹🌹


Tunggu kelanjutan ceritanya di episode selanjutnya. 🤩


Semoga hari kita menyenangkan. Jangan lupa sematkan Like, Komentar dan juga Dukungan lainnya.


Salam Lovallena 🥰

__ADS_1


__ADS_2