
Wajah Chania terlihat histeris di depan cermin besar yang di penuhi tubuh keduanya.
"Bukan gendut, Baby! hanya sedikit berisi!"
"Apa kamu mulai tidak menyukaiku?" telisik Chania menatap wajah Michael dari pantulan cermin.
"Siapa bilang!"
"Bukankah kamu bilang, kamu menyukai wanita yang seksi dan menggoda? kalau aku gendut, sudah pasti tidak seksi!" Chania mengerucutkan bibirnya lucu.
"Haha!" Michael tergelak kecil, "Aku bilang, kamu hanya sedikit berisi. Bukan gendut!" Michael menekan kata terakhir.
"Tetap saja, bisa - bisa semakin lama aku akan jadi gendut! dan kamu akan membenci ku! lalu mengganti aku dengan sekretaris baru sekaligus istri baru mu! hiks!" mendadak air mata Chania menetes dari pelupuk matanya.
Michael terheran di buatnya, kenapa begitu saja sudah menangis? batin Michael. Semakin lama suara tangisan Chania memenuhi seluruh ruang walk in closed.
' Kamu tidak akan terganti, Chania. Tapi bagaimana caraku untuk mengungkapkan kalimat itu? aku terlalu pengecut untuk menyatakan cinta! '
Ucap Michael dalam hati sembari mengusap air mata Chania.
' Andai kau tau, lebih baik aku mengulang perjalanan menjadi diriku sekarang, daripada harus jatuh cinta. Tapi aku bahkan mulai takut kehilangan dirimu, Chania. '
"Aku tidak akan menggantimu! seterusnya hanya kamu sekretaris ku dan juga istri ku! jadi sudah jangan menangis." ucap Michael kebingungan membujuk wanita menangis hanya karena hal sepele.
Sementara Chania mengartikan kalimat Michael hanyalah untuk menghiburnya semata. Agar berhenti membuat kebisingan dengan tangisannya. Akhirnya Chania justru menangis lebih keras.
"Huaaa! pembohong!"
"Oh, God! aku menyesal mengatakan kalimat tadi!" gerutu Michael lirih. Menggaruk kepala yah bahkan tidak gatal, namun cukup pening karena suara tangisan Chania.
"Tuh kan! kalau kamu tidak bicara, kamu justru membohongi aku!" ucap Chania di tengah tangisan.
"What! ngomong salah? tidak ngomong salah?" pekik Mafia yang mendadak stress itu. "Peraturan macam apa itu?" Michael menatap Chania dengan tatapan tak percaya.
"Aaahh!" Chania melorot hingga duduk bersimpuh di lantai.
Michael semakin pening di buatnya. Sudah lelah karena perjalan jauh Italia - Los Angeles. Begitu sampai rumah terjadi drama tidak jelas seperti ini.
Michael menghela nafas panjang sembari berjongkok. Menjadikan satu lututnya sebagai tumpuan tubuhnya.
"Come on, Baby. Aku hanya bercanda." ucap Michael mengusap air mata Chania, dilanjut dengan membelai rambut panjangnya.
"Tidak!" sangkal Chania. "Mana pernah kamu bercanda!" lanjutnya masih dengan tangisan.
__ADS_1
Sudah tak sabar lagi, Michael langsung memasukkan tangan kirinya di bawah lutut Chania dengan paksa. Satu tangan lagi di pundak Chania. Ia angkat tubuh seberat 50 kilo dengan tinggi 168 cm itu ala bridal. Dan membawanya keluar dari walk in closed.
Tangisan Chania berangsur berkurang saat kepalanya bersandar di pundak pria itu. Kedamaian menyusup secara perlahan ke relung hati terdalam. Melewati dinding - dinding keegoisan. Hingga membuat tangisan khawatir berubah menjadi ketenangan.
"Sebaiknya kita istirahat, kamu pasti lelah kan?" ucap Michael saat langkah kakinya hampir sampai di ranjang.
Chania mengangguk manja tanpa suara. Michael meletakkan tubuh itu secara perlahan. Kemudian menarik tangannya dari tubuh Chania dan berjalan memutari ranjang untuk tidur di sisi satunya.
Mereka kembali bergelung dalam satu selimut tebal. Berpelukan, selayaknya sepasang manusia yang saling mencintai. Mencari kehangatan dari kulit pasangannya. Menghempaskan hawa dingin yang menyusup kulit mereka.
Tangisan berakhir dengan sedikit obrolan santai dari Michael. Pria dingin itu pada akhirnya berhasil membuat sang istri berhenti menangis tidak jelas.
Namun bagi Chania, pelukan Michael lah yang selalu membuatnya tenang. Ia merasa seperti berada pada tempat paling aman di dunia. Mimpi, atau bahkan apapun di dunia ini pasti bisa ia lewati asal ia tetap bersama pria yang sama.
Namun sampai kapankah itu terjadi? Pikiran Chania kembali terusik. Namun dekapan Michael mengalahkan rasa takut itu. Hingga sepasang mata lentiknya terlelap. Kembali bermimpi untuk mengantarnya pada pagi yang...
Entahlah, seperti apa kisah esok pagi yang akan terjadi.
***
🍄 Roma, Italia.
"Kenapa sampai detik kau tidak menemukan gadis itu?"
"Maaf, Nona. Keberadaannya sangat sulit di lacak. Sepertinya Tuan Michael Xavier sudah menyiapkan penjagaan yang ketat untuk menyembunyikannya, bahkan sebelum gadis itu di temukan!"
"Michael sendiri?" tanya gadis berparas cantik dengan tubuh semampai itu. "Maksudmu Michael turun tangan sendiri untuk menjaga gadis itu?"
"Ya, Nona!" laki - laki berusia 42 tahun yang di ketahui sebagai seorang detektif kelas kakap itu mengangguk. "Apa menurut Nona, ada seorang gadis yang dekat dengan Tuan Michael?" tanya pria itu.
"Gadis yang dekat Michael?" tanya Oliver mengerutkan keningnya.
Detik berikutnya, seketika sepasang matanya membulat lebar. Mengingat satu - satunya gadis menyebalkan yang sedang dekat dengan Michael.
"Chania..." gumamnya kemudian.
"Chania?" tanya detektif itu. "Jika namanya memiliki nama Renata di belakang, berarti benar dialah gadis yang Nona cari!" lanjutnya. "Berdasarkan kisah yang sempat saya temukan, Renata gabungan dari Reana, dan Anata!"
"Anata?"
"Nama ayahnya adalah Anata?"
"Kau yakin nama ayahnya Anata?"
__ADS_1
"Bukan ayah kandung, Nona!"
Oliver mengangguk, karena memang ayah kandung gadis itu tak lain dan tak bukan adalah ayahnya sendiri, Smith Arlington.
"Aku tak tau siapa nama lengkap gadis yang bersama Michael itu" jawab Oliver. "Tak ada satupun yang bisa mengakses data sekretaris satu itu! bahkan dia masuk ke rumah itu tanpa menyerahkan data pribadi padaku, selaku kepala pelayan!" geram Oliver.
"Identitas gadis itu sangat sulit di akses Nona. Dan diketahui data gadis itu di hapus dan di tutup rapat sejak beberapa bulan lalu!" jelasnya.
"Baiklah! aku jika benar Chania adalah gadis yang ku cari, hentikan saja pekerjaan ini. Aku akan mengurusnya sendiri di rumah itu!"
"Baik, Nona!"
Oliver meninggalkan ruang kerja pria berstatus detektif itu. Untuk kemudian menemui seseorang.
***
"Mommy pasti sudah tau jika sekretaris Michael sekarang, ada gadis yang Mommy incar!" ucap Oliver geram di hadapan sang Mommy. "Alias ANAK TIRI Mommy!" jelas Oliver bersungut - sungut kesal.
"Berhenti Mommy, Oliver!" desis wanita itu.
"Kenapa Mommy melakukan ini? kenapa Mommy tidak biarkan saja Selena mati, agar ia tak perlu susah payah merasakan sakit! dan Oliver bisa memiliki Michael seutuhnya!"
"Mommy sudah bilang, Oliver! hentikan niat mu itu!" tegas Deborah. "Lagi pula sejak kecil Michael tidak pernah melirik mu bukan?"
"Mommy egois! Mommy hanya mementingkan kesembuhan Selena! tanpa tau rasa sakit hatiku melihat Michael setiap hari bermesraan dengan gadis itu!" ucap Oliver dengan gigi yang mengerat. "Jika aku tau dari awal jika Chania adalah anak tiri Mommy, aku pasti membunuhnya saat aku bertengkar dengannya!"
"Berhenti menyebut dia anak tiri Mommy!"
"Kenapa? bukankah memang iya! dia anak kandung Papa!"
"Itu artinya dia adik kandungmu, Oliver! kalian memiliki darah yang sama!" jelas Deborah kesal.
Oliver membulatkan matanya malas, dia sebut sedarah dengan Chania. Musuhnya sejak beberapa bulan terakhir.
"Seharusnya kau membantu Michael, agar gadis itu tunduk pada Michael. Dan menyerahkan dirinya tanpa paksaan."
Oliver bergeming, pikirannya dalam menembus angan.
"Dan ingat! jangan coba - coba membunuh gadis itu! atau kau akan menyesal seumur hidupmu!"
"Kenapa?" tanya Oliver sinis!"
"Kau akan tau suatu hari nanti!"
__ADS_1
🪴🪴🪴
Happy reading 🌹🌹🌹