
Jika Jia dan Xiaoli masih berada di dalam mobil untuk perjalanan mereka menuju pesta. Maka di luaran sana sudah ada Jio dan Virginia yang menghabiskan Friday Night di Cafe ternama di kota Roma.
Cafe yang banyak di kunjungi oleh orang - orang dari kelas atas itupun memang sangat ramai oleh pengunjung yang benar - benar terlihat berkelas. Entah di lihat dari apa yang mereka kenakan, dari meja yang di pesan. Atau bahkan dari hidangan yang tersaji di meja mereka.
Sementara Virginia dan Jio ada di bagian roof top. Dimana yang tersedia di sana bukanlah berbentuk meja kotak dengan kursi di sisi - sisi nya, melainkan meja persegi panjang dengan sofa yang membentuk setengah lonjong.
Jio dan Virginia ada di sisi paling kiri, menghadap depan, terlihat bangunan Colosseum yang di penuhi lampu di beberapa titik. Saat malam akan menyala dengan indahnya.
Duduk berdua, berdampingan di sofa yang di sewa secara khusus, berbagai obrolan tercipta di antara gelap malam. Dengan penerangan lampu Cafe yang berpendar di beberapa titik. Juga cahaya bulan yang terang benderang serta taburan bintang di langit yang luas. Menambah keindahan malam yang syahdu untuk pasangan muda yang sedang memadu kasih di pelataran Bumi.
"Bagaimana jika setelah pengobatan itu aku aku justru lupa ingatan?" tanya Virginia dengan suara yang memilukan. "Dan bagaimana jika aku juga melupakan kamu, Jio?" tanya Virginia yang sedang menyadarkan kepala di pundak sang kekasih.
Dan pertanyaan terakhir itu membuat Jio merasa sesak. Sangat sesak. Karena tentulah ia tak ingin di lupakan oleh sang kekasih walau hanya sehari sekalipun.
Jio mengangkat tangan kanannya, memindahkan ke pundak Virginia. Merangkul dan menarik gadis itu untuk lebih dekat dengannya, dan kini kepala Virginia jadi rebah di tengkuk leher Jio. Ia dekap pundak sang kekasih dengan erat.
"Apapun yang akan terjadi nanti, aku akan membantu kamu untuk kita tetap bisa seperti sekarang," jawab Jio menahan sesak di dalam dada. "Jika kamu lupa, maka aku yang akan mengingatkan. Jika kamu lumpuh, maka aku yang akan menjadi kakimu." lanjutnya sembari mengecup puncak kepala sang gadis.
"Aku tidak akan membiarkan kamu melalui semua ini seorang diri. Kita akan melalui semua bersama. Bersama kita pasti bisa!" yakin Jio. "Aku tidak akan bisa jika harus hidup tanpa mu, Nia..." lirih Jio terdengar sangat tulus. "Cukuplah tujuh tahun kuta berpisah..."
"Aku justru takut kehilangan kamu jika seandainya aku lumpuh, lalu kamu bisa kapan saja pergi, bukan?" ucap Virginia mendongak wajah tampan yang seketika menjadi masam, saat mendengar dugaan Virginia yang semakin kemana - mana.
"Jangan pernah memiliki pikiran seperti itu, Nia..." ucap Jio kembali mendaratkan kecupan yang berulang kali di kening juga puncak kepala kekasihnya. "Aku sangat mencintaimu..." ucap Jio di dalam kecupan yang dalam tepat di dahi Virginia.
"Aku juga sangat mencintaimu, Jio..." jawab Virginia melingkarkan tangan di pinggang sang kekasih.
"Jangan saling meninggalkan..."
Dan kamera alam mulai terbang menjauh. Mendekati bintang - bintang di atas sana. Menunjukkan pada dunia, posisi dua anak muda itu jika di lihat dari cakrawala.
***
Kembali pada kisah yang di khawatirkan akan kandas di tengah jalan karena perbedaan status sosial yang jauh. Bukan hanya jauh, tetapi sangat jauh.
__ADS_1
Mobil yang di kemudikan Xiaoli mulai melewati gerbang utama kediaman Michael Xavier. Namun Xiaoli tak kunjung menghentikan kendaraan milik sang Nyonya Besar Xavier itu. Membuat Jia mengerenyitkan keningnya. Ingin bertanya, tapi juga ragu.
Ia melihat ke spion bagian tengah mobil. Dan wajah Xiaoli tampak masih datar dan fokus ke arah depan. Jia yang memiliki watak tak sabar pun langsung bertanya.
"Kamu bilang aku boleh duduk di depan dengan mu kalau sudah melewati batas gerbang utama rumah ku?" tanya Jia setengah protes.
Xiaoli pun tersenyum manis, sangat manis. Sampai Jia yang di belakang bisa melihat gurat wajah tampan itu semakin tampan melalui samping, juga melalui spion bagian tengah.
"Xiaoli!" sembur Jia dengan gemas. "Malah senyum - senyum kamu!"
"CCTV istana Tuan Besar masih ada di sisi kanan, Nona!" jawab Xiaoli sambil melihat Jia dari spion tengah. Dan betapa cantiknya Nona Muda kalau sedang kaget.
Bibir Jia membentuk huruf O, dan mata yang terbelalak melirik ke sisi kanan. Kemudian kepala Jia benar - benar menengok ke kanan. Kurang lebih ada beberapa CCTV yang terlihat di tiang - tiang lampu.
"Itu CCTV dari rumah Daddy?" tanya Jia dengan menatap tak percaya pada Xiaoli Chen.
"Ya, Nona! itu adalah CCTV dari rumah Nona!"
"Dari mana kamu tau?" selidik Jia, takut jika hanya di kibuli oleh Xiaoli.
"Oh...." Jia mengangguk paham.
Baiklah, berarti Xiaoli memang lebih tau tentang istana ketimbang dirinya yang hanya tau rumah adalah tempat untuk pulang.
"Sampai di sini belum habis, ya?" tanya Jia yang sudah tidak melihat ada kamera terpasang di tang - tiang lampu.
Xiaoli tersenyum gemas, "Nona sudah tidak sabar ingin duduk bersama saya di sini?" tanya Xiaoli dengan nada yang seolah Jia lah yang ngebet untuk berdekatan dengannya.
"Hah?" pekik Jia yang paham maksud Xiaoli. Seketika wajah cantiknya memerah karena malu. Menatap Xiaoli dengan matanya yang membulat lebar. Segera ia hempaskan punggungnya pada sandaran jok mobil sambil menghela nafas kasar.
Xiaoli yang sadar jika sedang di tatap sedemikian tajam oleh Jia, justru tersenyum gemas. Kemudian ia membawa mobil CRV itu untuk menepi. Dengan tatapan matanya yang menghanyutkan, Xiaoli menoleh ke belakang. Tersenyum pada bibir yang mengerucut karena di anggap terlalu bucin.
Segera Xiaoli turun dari mobil, kemudian membuka pintu penumpang bagian belakang.
__ADS_1
"Silahkan duduk di depan, Nona Cantik..." ucap Xiaoli dengan senyum menawan yang khas.
Jia menyebikkan bibirnya sambil membuang muka ke arah selain wajah Xiaoli. Kedua tangan sudah melilit di depan dada. Ya, Jia dalam mode merajuk ala bocah.
Xiaoli semakin gemas dengan wajah yang di tekuk itu.
"Haruskah saya menggendong Nona?" tanya Xiaoli yang masih berdiri di antara pintu dan body mobil. Dengan tangan yang memegang atas pintu, dan satu lagi di atas mobil.
"Tidak perlu!" ketus Jia sembari mengeluarkan kakinya dengan cepat. Dan menggeser tubuh Xiaoli yang sedikit menghalangi jalan untuk dia keluar.
Xiaoli pun reflek menyingkir, namun pemuda itu tetap tidak bisa menghilangkan senyum di bibirnya.
Setelah menutup pintu bagian belakang, cepat - cepat Xiaoli mendahului langkah Jia yang hendak membuka pintu bagian depan sendiri. Dengan keahliannya bergerak cepat, maka Xiaoli berhasil untuk sampai lebih dulu. Dan sigap ia buka kan pintu penumpang bagian depan, hanya untuk sang gadis pujaan.
"Silahkan, Nona Cantik!"ucap Xiaoli.
Melirik kesal pada Xiaoli, Jia menghempaskan tubuhnya kasar di kursi penumpang bagian depan. Dan langsung memakai sabuk pengamannya.
Masih mengulum senyuman, Xiaoli menutup pintu dengan pelan, dan langsung melesat masuk ke pintu kemudi.
"Siap?" tanya Xiaoli dengan suara yang lembut.
"Dasar aneh! kadang baik, kadang menghilang tanpa jejak!" gerutu Jia, dengan mata yang menatap lurus ke depan. Namun wajahnya menyimpan kekesalan.
"Maksudnya?" pekik Xiaoli yang tak paham maksud Jia.
Maka saat mobil melaju, dua sorot mata yang berbeda saling bertemu dalam satu garis lurus. Jia dengan tatapan tajamnya, sementara Xiaoli dengan tatapan bingungnya.
...🪴 Bersambung . . . 🪴...
✍️ Dear Pembaca setia SANG MAFIA! ...
Untuk besok Author izin libur dulu, yaa....
__ADS_1
Karena ada suatu hal yang tidak bisa Author tinggalkan. Tapi untuk Novel Cinta yang Tak Ku Rindukan besok tetap Up.
Salam, Lovallena