SANG MAFIA!

SANG MAFIA!
Chapter 260


__ADS_3

Di malam yang gelap ini, ketegangan terjadi di dalam ruang rawat VIP, ketika tangan gadis yang menjadi pasien menunjukkan pergerakan kecil.


Kini seorang dokter sudah berada di dalam ruangan itu, bersamaan dengan mata Virginia yang mulai terbuka dan terlihat lebih rileks.


Namun gadis yang beberapa minggu lagi berulang tahun yang ke-19 itu tampak sangat kebingungan. Ia melihat kanan kiri dan sekitaran, dan hanya menemukan orang-orang yang menatapnya dengan tatapan yang menurutnya aneh.


Semua yang ada di dalam ruangan mundur ke belakang, atas permintaan sang dokter. Dan kini hanya dokter Martin Lee yang ada di dekat sang gadis. Bersiap untuk melakukan pengujian, apakah sang gadis mengalami efek samping atau tidak.


"Selamat malam, Nona Brown..." sapa sang dokter.


Virginia mengerutkan keningnya, kemudian menatap dokter Martin Lee dari ujung rambut hingga ujung kaki. Lalu melihat baju kebesaran warna putih yang di kenakan sang dokter. Kemudian membaca nama yang tertera, dr. Martin Lee.


"Ya, Dokter..." jawab Virginia kemudian.


Sedikit kelegaan, ketika Virginia mengingat sang dokter.


"Apakah Nona sudah merasa rileks?" tanya Dokter Martin Lee setelah membiarkan pasiennya beberapa saat menyesuaikan dengan suasana yang ada.


"Ya..." jawab Virginia meski masih ada rasa ragu.


"Siapa nama kamu?"


"Virginia Brown..." jawab Virginia dengan datar dan penuh tanda tanya, untuk apa sang dokter menanyainya seperti itu.


"Kamu bisa mengingat apa yang baru saja terjadi?" tanya sang dokter.


Virginia melirik ke kanan dan ke kiri, "Apa yang baru saja terjadi?" tanya Virginia bingung.


DEG!


Semua jantung para penunggu kabar terbaru Virginia berdetak lebih cepat.


"Hal terakhir yang kamu ingat apa?" tanya dokter Martin Lee.


"Hal terakhir?" tanya Virginia.


"Ya... menurut kamu, apa yang baru saja kamu lakukan?"


Virginia kembali berpikir, dan yang melintas di benaknya adalah sebuah mall, yang luas dan mewah.


"Aku berada di mall!" jawab Virginia.


"Bersama siapa?"


Jantung Jio nyaris berhenti mendengar pertanyaan ini. Semoga jawaban Virginia adalah bersama dirinya.


"Bersama..."


Virginia kembali mengingat apa yang melintas di dalam benaknya, dan yang terlihat adalah dua orang dewasa.


"Bersama dua orang, laki-laki dan perempuan."


"Apakah itu Papa dan Mama kamu?"


Virginia menggelengkan kepalanya, "Aku tidak tau..."


"Seperti apa wajahnya?" tanya sang dokter.

__ADS_1


"Seperti..." Virginia kembali mengingat.


"Apakah seperti mereka?"


Dokter Martin Lee menunjuk Tuan dan Nyonya Brown yang berdiri dengan saling berpelukan. Menatap lekat pada sang gadis, dengan sepasang mata sendu, yang pasti akan menumpahkan air mata jika sampai sang gadis lupa ingatan.


Menatap lekat, kemudian Virginia berucap...


"Ya! tapi kenapa mereka terlihat lebih tua?"


DEG!


"Lebih tua?" gumam Nyonya Brown menoleh suaminya.


"Ya, aku ingat aku pergi ke mall dengan kalian berdua membeli ice cream dan tiga barbie berambut panjang. Tapi siapa kalian? di ingatanku kalian lebih muda."


Nafas Jio di sini mulai terengah. Dari kalimat itu, ia bisa menduga, jika ingatan Virginia masih di masa kecilnya. Lalu dirinya? yang merupakan teman di sekolah TK, apakah masih di ingat.


"Nia... ini Papa dan Mama..." lirih Tuan Brown sedikit mendekat.


Dua orang itu mulai ingat, kapan momen itu terjadi. Tepat 14 tahun yang lalu. Saat Virginia berulang tahun yang ke 5, sang anak gadis meminta hadiah tiga barbie berambut panjang yang ia pilih sendiri di toko mainan yang ada di Mall.


"Papa? Mama?" tanya Virginia kebingungan.


Namun akhirnya ingatannya tentang cara ia memanggil dua orang itu kembali melintas.


"Ya! aku ingat! Papa... Mama... Maafkan Virginia tidak mengingat kalian..." ucap Nia lirih. "bagaimana aku bisa melupakan kalian..." keluhnya.


"Tidak apa, Sayang..." jawab kedua orang tuanya bersamaan. "Kami sudah sangat bahagia kamu mengingat kami.." ucap Nyonya Brown mendekat dan mencium kening sang gadis sekilas. Lalu kembali berdiri di ujung ranjang bersama sang suami. Masih banyak yang harus di lakukan dokter pada sang anak gadis.


Dokter Martin tentu tau apa hubungan Virginia dengan sang pemuda. Di luar sana, kekasih ibarat pasangan hidup yang sudah memiliki hak akan hati dan tubuh kekasihnya.


:"Yang mana?" tanya Virginia menatap Jio dan Jellow bergantian.


"Kekasih kamu yang mana?" tanya sang dokter.


"Kekasih?" tanya Virginia bingung. "Aku masih anak-anak! mana mungkin aku punya kekasih!" gerutunya.


DUARR!


Ledakan itu benar terjadi di dalam hati Jio. Jio hampir saja merengsek sang kekasih, tapi Jellow menarik tubuh sepupunya itu setelah melihat gerakan cepat sang dokter, yang memperingatkan untuk tidak mendekat terlebih dahulu.


"Nia!" ucap Jio tertatih dengan luka yang lebih sakit dari sayatan pedang musuh sekalipun.


"Lihat tubuhmu, Nona Brown..."


Virginia mengikuti perintah sang dokter, dan ia tercengang melihat tubuhnya yang jauh lebih besar dari yang ia ingat. Ia raba rambut keemasannya yang lebat dan panjang. Seingatnya saat di mall tadi tubuhnya sangat kecil mungil dan rambut emasnya masih di kepang menjadi dua ala Anna dalam serial Frozen.


"Aku sudah besar..." lirihnya bergumam. Ketika melihat tubuhnya dari balik selimut tebal yang menutupi separuh badannya.


"Ya! dan kamu sudah punya kekasih! yaitu aku!" sela Jio sudah tak sabar ingin memeluk atau bahkan menyadarkan Virginia yang ia anggap sedang pingsan itu.


"Jio! tenangkan dirimu!" celetuk Jellow memegangi pundak Jio, agar sang pemuda tidak lepas kendali.


Jio menarik nafas dan menghelanya gusar. Sungguh ini sangat berat, jika sampai sang kekasih benar-benar melupakan dirinya.


Virginia menoleh dan menatap tingkah lelaki yanng menurutnya sangat aneh. Mengaku sebagai kekasihnya? tapi ia sama sekali merasa tidak pernah berpacaran.

__ADS_1


' Tapi kenapa Papa dan Mama tidak berbuat apa-apa pada lelaki itu? '


tanya Virginia dalam hati.


Coba perhatikan dengan seksama," ucap sang dokter. "Apa kamu pernah melihat wajahnya?"


Virginia memutar otaknya. Mengingat-ingat kembali tentang sosok yang menurutnya masih asing, sangat asing.


"Sepertinya aku pernah mengenalmu saat di kelas TK!" gumam Virginia. "Kamu yang mengambil gantungan tas ku yang jatuh di kolam ikan?"


"Ya! aku yang mengambil gantungan itu di kolam ikan Zilvanare International School! kamu mengingatnya?" tanya Jio.


"Tapi aku tidak yakin itu kamu..." jawab Virginia melirik ke atas. "Atau karena kamu sudah besar, aku jadi lupa seperti apa perubahan wajah kamu..." lanjut Virginia datar.


Ekspresi datar sang kekasih adalah hantaman keras untuk Jio. Maka tanpa peduli dengan larangan maupun tarikan Jellow, Jio menghampiri Virginia dengan gerakan yang sangat cepat. Hingga Jia dan Jellow reflek maju berdua.


"Jio!" panggil Jellow.


"Kak!" seru Jia.


Namun keduanya kalah dengan tekad Jio yang ingin segera menyadarkan sang kekasih.


Jio memegang kedua lengan Virginia yang masih terbaring di brankar pasien. Menghadap tepat sang kekasih yang sedang mengalami lupa ingatan. Memori demi memori seperti tenggelam begitu saja.


"Kamu tidak boleh melupakan aku, Nia! Tidak boleh!" sarkas Jio sudah tidak sabar lagi.


Namun yang di ajak bicara justru menatap aneh pada Jio, "Papa! tolong Virginia!" ucap Virginia yang berubah menjadi takut.


"Jio... sepertinya kamu harus bersabar..." ucap Tuan Brown menepuk pelan pundak Jio.


"Ayo, Jio, mundur!" ucap Jellow mencoba menarik puncak Jio.


"TIDAK! kamu harus mengingat aku lebih dulu!" ucap Jio terengah.


"Jangan buat dia takut, Jio! bekas operasinya pasti masih terasa sakit!" ucap Jellow lagi.


"Ayo, Kak! mundur!" sahut Jia.


Mau tak mau akhirnya Jio mundur dengan terpaksa. Dan dokter pun mulai menceritakan apa yang terjadi pada Virginia apa yang baru saja di lakukan, setelah meminta pasiennya untuk menggerakkan tubuh, hingga semua saraf di tubuhnya benar-benar terlihat normal.


Hingga akhirnya sang dokter menyampaikan pada Virginia, bahwa sang gadis mengalami amnesia. Ia kehilangan sebagian memori di sepanjang hidupnya.


Itu artinya ia melupakan sang pemuda yang pernah ia tunggu selama tujuh tahun lamanya.


Jika Virginia sama sekali tak mengingat Jio, maka Jio kini terlihat menjadi manusia paling menyedihkan yang ada di ruangan itu.


Kedua orang tua Virginia tentu menatap iba pada kekasih putrinya. Tapi kedua orang tua Virginia memberinya dukungan dan meminta sang pemuda untuk bersabar. Sebagai orang tua yang mendukung penuh hubungan putrinya dan anak orang paling kaya di Italia itu, tentu mereka akan berusaha membantu untuk mengembalikan memori sang anak gadis.


***


Dan waktu terus berlalu, Virginia yang merasa risih dengan keberadaan tiga orang yang menurutnya asing, meminta sang Ayah untuk mengeluarkan tiga orang itu.


Ya, Jio memutuskan untuk pulang bersama Jellow dengan mengendarai Bugatti miliknya. Kemudian Jia kembali bersama sang kekasih. Masih dengan mobilnya. Hanya saja keduanya sengaja berjalan dengan kecepatan terendah.


Tentu saja demi mengulur waktu yang tersisa...


...🪴 Bersambung ... 🪴...

__ADS_1


__ADS_2