
Michael kembali ke hotel. Tak sabar ingin melihat apa yang sedang di lakukan istrinya sekarang.
Lift terbuka di lantai tertinggi hotel itu. Dimitri beserta dua pengawal lain masih siaga di depan pintu kamar, dan seketika mempersiapkan diri untuk menyambut Tuan muda mereka.
Tanpa basa basi Michael langsung masuk ke kamar dengan pelayanan terbaik itu. Sepasang matanya beredar untuk mencari keberadaan Chania, istrinya.
Michael tersenyum tipis, manakala mendapati Chania yang bergelung di bawah selimut tebal. Terlihat gadis itu sangat nyenyak memejamkan matanya. Mungkin lelah karena menunggunya terlalu lama. Michael melirik jam dinding yang menunjukkan pukul dua siang.
Michael menghempaskan tubuhnya di sofa, melepas jas dan sepatunya. Namun matanya tetap fokus pada sosok Chania di ranjang. Sudah tak sabar ingin mendekat, akhirnya ia berjalan ke sisi ranjang. Berbaring di samping istrinya.
"Hey?" panggil Michael menoleh Chania.
Tak terganggu sedikitpun, Chania hanya diam seperti orang pingsan.
"Baby?"
Panggilan yang menurut Michael sangat aneh di sebutkan di luar percintaan. Namun nyatanya ia terus mengulang panggilan itu. Bahkan kini ia lebih sering memanggil Baby dari pada nama Chania sendiri.
Michael memiringkan tubuhnya, kemudian mencubit hidung dan pipi Chania hingga berhasil membuat gadis itu bergerak untuk menepis sesuatu yang mengganggunya. Namun matanya masih terpejam.
Michael tersenyum, seolah mendapatkan mainan baru untuk di ganggu, saat kepalanya di pusingkan oleh urusan bisnis.
Michael kembali menarik hidung Chania, saat tangan Chania bergerak untuk menepis, ia segera menjauhkan tangannya. Kemudian tergelak saat Chania gagal mendapatkan tangannya.
Ah, agaknya Mafia dingin itu sedikit demi sedikit mulai menghangat. Mungkin benar jika hatinya telah terbuka. Hanya saja tak pernah jatuh cinta membuatnya kesulitan mengartikan semuanya.
Beberapa kali Michael melakukan hal yang sama.
"Aaapa sih! ganggu tidur tau!" tiba - tiba Chania terbangun dan menghempaskan tangan Michael yang tertangkap.
"Eh!" pekik Chania, saat mendapati ternyata sang suami yang menjailinya. "Honey? heheh!" Chania tersenyum malu menatap wajah Michael yang selalu tampan menawan.
"Masih mau tidur?" tanya Michael.
Chania menggeleng pelan, "Kamu sudah pulang, untuk apa aku tidur. Aku tadi tidur karena bosan, cuma bisa lihat menara Eiffel doang, nggak bisa foto di sana!" keluh Chania mengerucutkan bibirnya.
"Bukannya tadi pagi suka?"
"Ya suka karena baru datang! heheh!"
"Mau jalan - jalan?" tawar Michael.
"Jalan - jalan? ke menara Eiffel?" tanya Chania yang sontak antusias.
"Hmm" Michael mengangguk santai.
__ADS_1
"Sekarang?"
"Hmm" Michael mengangguk kembali.
"Yes!" Chania sontak melompat dari tempat tidurnya, dan berlari ke kamar mandi untuk bebersih.
Michael tersenyum simpul melihat tingkah Chania. Sejak kapan pria itu memperhatikan tingkah seorang gadis?
Dengan menggunakan celana jeans ketat, kaos ketat berlengan pendek di tambah jaket hitam panjang, Chania berdiri di depan cermin. Ia menambahkan syal biru di leher, setelah merapikan rambut panjangnya. Kemudian menggunakan sepatu boots nya.
Sempurna sudah penampilannya sore ini. Namun ia tak menyangka, dandan simpelnya masih kalah cepat dari Michael yang ternyata sudah siap dengan jaket hitam yang sengaja menyamai Chania.
"Wow! tampannya suamiku!" seru Chania menghampiri Michael yang berdiri tak jauh darinya.
Mendapat pujian tampan, gagah bahkan sempurna sebenarnya sudah sering ia dengar. Namun entahlah, pujian Chania kali ini terasa berbeda. Ada desiran senang di dalam hatinya. Jika di ingat, ia tak pernah peduli dengan pujian gadis manapun yang mengagumi dirinya.
"Ayo!" ajak Michael.
Chania segera mengunci lengan Michael dan berjalan keluar kamar bersama.
***
Di area menara Eiffel, Jack dan Dimitri yang mengikuti Michael dan Chania di buat saling lirik sembari mengulum senyum mereka.
Namun di sisi lain, mereka cukup senang. Setidaknya mereka melihat Tuan nya berbahagia. Tidak hanya melulu tentang perusahaan dan dunia hitam saja.
"Semoga Tuan muda dan Nyonya muda akan terus bersama!" ucap Jack pada Dimitri di sampingnya.
"Kau benar Jack! baru Nyonya Chania yang bisa membuat Tuan muda seperti ini."
"Hemm...aku bahkan tidak pernah melihat tawa lepas Tuan muda semenjak aku mengikutinya belasan tahun yang lalu.
"Sama!" sahut Dimitri.
Mereka berdiri dengan jarak 100 meter dari Tuannya. Menggunakan kaca mata hitam, baju casual agar tak menonjol. Sesekali matanya melirik kanan kiri untuk mengamati sekitar.
"Jack!" panggil Chania tiba - tiba.
Jack merasa namanya di sebut, segera berlari menghampiri majikannya.
"Siap, Nyonya muda. Ada yang bisa saya bantu?"
"Fotoin kami dong!"
"Hah!" Jack sedikit terperanjat dengan perintah istri bosnya.
__ADS_1
Sedangkan Michael mengulum senyumnya. Tak pernah dalam sejarah mereka para genk mafia mengambil foto seseorang. Bahkan Michael sendiri tadi sempat kwalahan menuruti keinginan Chania dalam pengambilan gambar.
Dari kejauhan, Dimitri tampak terkekeh melihat Jack yang seolah menerima tugas paling konyol di sepanjang perannya sebagai pengawal pribadi. Mengambil gambar sepasang suami istri.
"Kenapa?" tanya Chania.
"Saya tidak bisa mengambil foto dengan baik, Nyonya!" jawab Jack ragu untuk menerima kamera yang di sadarkan Chania.
"Halah! asal cekrek, udah!" ujar Chania menyodorkan kameranya.
"Ba.. baiklah, Nyonya!" jawab Jack.
Akhirnya beberapa pose di lakukan Chania bersama Michael. Dengan menjadikan menara Eiffel sebagai background foto mereka. Dan langit sore sebagai hiasan alam yang sempurna.
Michael, pria kaku dan dingin itu tampak sangat berbeda kali ini. Ia mengikuti setiap arahan Chania. Mulai dari pose mesra, hingga pose konyol sekaligus.
Mulai dari menggendong Chania di punggungnya. Mengangkat tubuh Chania ala bridal. Berciuman bibir romantis. Hingga Chania meminta Michael untuk memeluknya dari belakang dan mencium pipinya dengan mesra. Layaknya pasangan yang sedang di mabuk cinta.
Sekian jam berlalu, hingga senja berubah menjadi malam yang di penuhi dengan lampu.
"Honey, lapar!" ucap Chania dengan manjanya.
"Ayo" jawab Michael menarik tangan Chania.
Sepanjang sore berlaga ala remaja jatuh cinta pada akhirnya membuat keduanya kelaparan. Namun ternyata kejutan Michael tidak hanya jalan - jalan romantis, melainkan makan malam romantis pun sudah di siapkan Michael.
Chania memeluk erat tubuh Michael saat berdansa, setelah makan malam berakhir. Ia merasa sedang berada di alam bawah sadar. Ia takut semua yang ia rasakan saat ini hanyalah sebuah mimpi, dan hilang saat terbangun.
Atau hanya harapan palsu yang di berikan Michael untuk menghiburnya semata. Dan harus membayar dengan kekecewaan suatu hari nanti.
Chania memejamkan mata, menenggelamkan kepala di dada bidang Michael, saat iringan biola masih terdengar. Ia tak ingin melepaskan tubuh kekar itu.
Ia berfikir, ingin rasanya menculik seorang Michael Xavier. Dan membawanya untuk hidup berdua. Menjauh dari harta, tahta dan orang tua Michael yang mungkin saja akan memisahkan mereka.
"Kenapa?" lirih Michael saat merasakan dadanya basah.
"Aku takut kehilangan kamu" jawab Chania lirih di tengah isakan nya.
Michael terdiam untuk sesaat, mengecup puncak kepala Chania dengan lembut. Seolah memberikan ketenangan untuk hati Chania yang resah.
"Never!" bisik Michael.
Jawaban Michael tak lantas membuat Chania puas. Ia takut itu hanya hiburan semata.
Waktu terus berlalu, hingga keduanya kembali ke kamar mereka dengan membawa rasa lelah yang di penuhi kebahagiaan.
__ADS_1