
Berdiri di depan sebuah pintu pendek, yang ia perkirakan tingginya hanya separuh pintu kamarnya di rumah. Dengan lebar mungkin hanya setengah pintu kamarnya. Bercat putih yang sudah pudar dan berbagai coretan dimana - mana.
' Pintu macam apa ini? Bagaimana mungkin Chania-ku betah tinggal di tempat aneh seperti ini? '
Batin Michael menatap sayu. Sama sekali tidak bisa membayangkan betapa sempit ruangan - ruangan yang ada di dalam.
' Lalu seperti apa tempat tidurnya? '
Begetarlah tubuh Michael. Jika saja ia lupa diri, sudah pasti ia akan menangis di tempat itu, di hadapan banyak bodyguard yang sudah menyebar di sekitar rumah itu.
' Ayo Michael! jemput istri dan calon anakmu apapun caranya! '
Kuat sudah hati Michael untuk mengetuk pintu di depannya. Tangan terangkat, dan siap untuk mengetukkan kepalan pada papan rapuh itu.
Jika di perkirakan, satu tinjuan seorang Michael Xavier saja sudah bisa menghancurkan daun pintu beserta kusennya. Bahkan dinding di sekitarnya pun mungkin akan hancur berkeping - keping.
Hampir saja kepalan tangannya menyentuh daun pintu dengan gerakan lembut. Namun terhenti dalam jarak satu senti meter saja.
' Bagaimana jika Chania menolak ku? Bagaimana jika Chania tidak mau menerima ku? '
Tanya Michael dalam hati.
' Michael, sejak kapan kau jadi pengecut seperti ini! ratusan bahkan mungkin ribuan nyawa mati di tangan mu! lalu satu wanita saja kau tidak dapat menaklukkan? mati saja kau Michael! '
Gerutunya dalam hati. Merutuki hal paling memalukan itu. Akhirnya sejarah akan mencatat dirinya yang tak punya nyali menghadapi seorang istri.
Namun keberadaan para bodyguard, membuatnya tersadar, sangat tidak pantas dirinya terlihat bagai seorang pecundang seperti ini.
Tok tok tok!
Kepalan tangan mulai mengetuk untuk pertama kali.
Tok tok tok!
Kembali mengetuk saat dirasa tak ada jawaban dari dalam.
Menghela nafas, berfikir apakah mungkin Chania tau jika pria brengsek seperti dirinya yang mengetuk pintu itu.
Saat kembali ingin mengetuk, dan jarak tangan hanya kurang dua senti lagi, naluri serta pendengaran tajam Michael menangkap pergerakan dari dalam rumah hingga suara kunci pintu terdengar.
Perasaan lega, tidak sabar, gugup serta rasa bersalah bercampur menjadi satu. Seolah dunia siap runtuh di atas kepalanya.
Jantung berdetak bak baru saja berlari puluhan kilo meter. Keringat dingin serasa mengucur dari tubuhnya yang mendadak menegang. Dan...
__ADS_1
Krekk!
Bunyi pintu tua terbuka secara perlahan. Kaki Michael serasa semakin bergetar. Namun sebenarnya tidak ada pergerakan dari dirinya. Sepasang matanya sudah tak sabar untuk melihat sang istri yang berada di balik pintu.
Hingga...
Wanita dengan perut buncit, rambut hitam lurus, berpakaian dress sangat sederhana berdiri di ambang pintu. Sampailah dua pasang manik mata bertemu dalam satu garis lurus. Ketika mata lentik mendongak ke atas.
"Baby..." lirih Michael nyaris tak terdengar. Namun gerakan bibirnya dapat di artikan Chania.
Jantung keduanya berdetak begitu cepat. Bagaikan sebuah pertemuan setelah sepuluh tahun tak jumpa. Tubuh membeku, saat sama - sama menatap wajah yang dirindukan.
Sama - sama merindukan namun memiliki pandangan yang berbeda, membuat keduanya membeku dalam diam. Chania menahan air mata yang ingin menetes. sedang Michael menahan rasa bersalah akan apa yang membuat Chania pergi.
Tak tau harus berkata apa, bahkan tak tau harus berbuat apa. Yang terjadi keduanya hanyalah saling tatap, dengan Chania yang berada di dalam rumah, sedang Michael di luar rumah. Pintu yang terbuka menjadi satu - satunya penghalang untuk keduanya.
Berusaha menguasai diri dan menguasai keadaan, Chania kembali melanjutkan aktingnya. Meskipun ia tau, pria di depannya bukanlah pria yang mudah untuk di bohongi. Karena dari raut wajah saja pria itu sudah bisa menebak jujur atau tidak.
"Maaf, mencari siapa, Tuan?" tanya Chania bersuara.
Menatap lekat Chania, ia tak peduli lagi dengan akting Chania. Pikirnya, ini menjadi tempat yang tepat untuknya dan Chania bicara. Tidak seperti di restauran tadi.
Tanpa sepatah kata pun, ia langkahkan kakinya memasuki rumah sempit itu. Satu langkah ...
Michael berhenti tepat di tengah - tengah kusen. Namun tidak dengan tatapan matanya. Sepasang matanya masih pada titik yang sama, wajah Cantik istri yang dirindukan.
"Siapa anda!" tanya Chania sengit. "Jangan bertindak macam - macam di rumah saya!" ancam Chania melirik sekitar.
Namun matanya di buat terkejut dengan bibir sedikit terbuka. Manakala melihat ada beberapa bodyguard Michael yang berpencar, dan Jack terlihat tengah negosiasi dengan pemilik rumah yang ia tempati.
Tak sanggup berkata - kata lagi. Bermain - main dengan seorang Michael Xavier memang tidak semudah yang ada dalam rencananya.
Memanfaatkan kelengahan Chania, Michael maju hingga membuat Chania terdorong ke dalam tanpa sanggup menahan tubuh Michael yang jelas - jelas lebih kuat darinya.
"Tuan! jangan tidak sopan di rumah saya!" sentak Chania menatap tajam Michael.
Brak!
Bukan jawaban dari Michael yang ia dengar, justru pintu yang di tutup oleh Michael.
"Mau apa kamu!" tanya Chania dengan nafas yang mulai tersengal karena takut.
Michael terus berjalan pelan mendekati Chania dengan mata yang tak beralih sedetikpun, membuat Chania reflek mundur.
__ADS_1
Karena ruang tamu yang sempit beberapa langkah saja sudah membuat punggung Chania menempel pada dinding.
Bug!
Kedua telapak tangan Michael menempel pada dinding dengan kencang, hingga Chania sedikit terkejut. Dengan yakin mengunci tubuh Chania di tengah - tengah tangannya.
Terlihat jelas Chania seperti orang yang ketakutan. Air matanya menetes begitu saja. Gambaran rindu namun takut bercampur menjadi satu. Ia dekap perut buncitnya, mencari kekuatan naluriah dari dalam sana.
"Kenapa kamu pergi, Baby?" lirih Michael.
"Apa maksud anda?" tanya Chania.
"Berhentilah berakting, Baby... kau tentu tidak lupa siapa aku..." ucap Michael.
"Maaf, Tuan! sepertinya anda salah orang!" tegas Chania menatap mata Michael tanpa takut.
Tangan kiri Michael bergerak, mendekati pipi Chania. Dengan punggung tangannya ia usah air mata Chania yang menetes.
"Jangan sentuh saya!" sentak Chania menepis kasar tangan Michael. "Anda benar - benar tidak sopan, Tuan!" teriak Chania.
"Pipi ini milikku, Baby... seluruh tubuhmu adalah milikku. Bagaimana mungkin aku di katakan tidak sopan saat menyentuhnya?"
"Maaf Tuan! saya yakin anda salah orang! silahkan keluar dari rumah saya!"
Michael memejamkan matanya, masih di posisi yang sama. "Please..." lirihnya membuka matanya pelan. "Dengarkan penjelasan ku, Baby.."
"ANDA SALAH ORANG, TUAN!" teriak Chania. "Saya tidak mungkin mengenal orang sekaya anda!"
"Hentikan akting mu, Baby! hentikan please!" tegas Michael menatap penuh harap.
"Minggir!" sentak Chania mendorong dada Michael. Ia sudah tak punya kata - kata untuk membantah Michael. Karena semua terjadi di luar rencana.
Namun sayang, tubuh tegap Michael sama sekali tidak bergerak dengan dorongan ibu hamil itu.
🪴🪴🪴
Happy reading 🌹🌹🌹
Jika banyak yang menginginkan up lagi, Othor akan kasih bonus double up nanti jam 21.00 WIB.
Jika tidak penasaran next episodenya, Othor akan up besok pagi saja. 😉
Jadi yang penasaran, komentar sebanyak - banyaknya yaaa 🥰🥰🥰
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan dukungannya 🤩