SANG MAFIA!

SANG MAFIA!
Chapter 228


__ADS_3

Semua pasukan Klan Black Hold kembali ke kota saat jam dinding semakin mendekati pagi. Seluruh pasukan tampak kelelahan, hingga Michael sendiri memejamkan matanya sambil menyandarkan kepalanya pada sandaran jok mobil. Entah benar - benar tidur atau hanya ingin memejamkan matanya saja.


Sementara Jio sesekali terlihat sibuk dengan ponselnya. Ia tak terlalu lelah seperti sang Ayah malam ini. Karena malam ini Ayahnya lah yang harus bekerja keras.


📩 "Aku senang kalian semua kembali dalam keadaan selamat..."


✉️ "Hmm... Satu pasukan kami tewas terkena bom... Dan kami bersedih akan hal itu."


📩 "Aku turut berduka cita, Sayang..."


✉️ "Hmm.. Terima kasih! kamu tidak tidur? Ini sudah hampir pagi, Baby.."


📩 "Aku sengaja menjaga mataku agar tidak mengantuk. Aku ingin menunggu kabar dari mu, My Prince! Karena aku sudah berjanji pada diriku sendiri di hadapan cermin! Kalau aku tidak akan tidur, sampai kamu menghubungi aku! Dan mengatakan kamu baik - baik saja!"


Jio tersenyum membaca setiap kata yang tersusun dari ibu jari sang kekasih. Sangat sederhana. Tapi benar - benar merasuk ke dalam relung hatinya yang terdalam.


✉️ "Okay, Baby... I'm fine! Aku akan selalu pulang dalam keadaan baik - baik saja untuk mu..."


📩 "Thank you, Sayangku! Do'a ku akan selalu bersama kamu dan pasukan kamu!"


✉️ "Sekarang tidurlah... Besok aku akan menjemputmu untuk menghabiskan friday night! Bagaimana?"


📩 "Serius?"


✉️ "Yes, Baby!"


"Yeay! Memangnya kamu tidak kuliah?"


"Sepertinya aku kelelahan, Sayang..."


📩 "Okay! Sampai rumah langsung tidur ya.... I love you so much, My Prince!"


✉️ "I love you too, My Princess..."


Sebuah kalimat mengakhiri obrolan di saat hari menjelang fajar. Mengantarkan diri masing - masing untuk tidur dengan lelap, bersama mimpi dan pengharapan akan hal baru yang lebih baik di esok hari.


***


Di mobil Hummer belakang, ada pula Xiaoli yang sedang melakukan hal yang sama dengan Jio. Yaitu menghubungi sang pujaan hati.


Bedanya, jika Jio sudah benar - benar memilikinya. Maka Xiaoli masih dalam tahap perjuangan. Yang mana jalan yang harus ia lalui adalah jalanan terjal dan menukik tajam.


Salah sedikit, nyawa menjadi taruhannya. Meski sekarang dirinya sendiri sudah merasa bersalah karena mencintai anak Bos nya sendiri.


Siapalah dirinya, berani saling bertukar pesan pada Nona Muda Xavier? Apalagi kalimat godaan dan candaan sering terlontar dari bibir keduanya.


Padahal ada pagar pembatas yang harus di jadikan patokan oleh keduanya. Ada pagar yang tak boleh di lewati oleh dua posisi yang terbentang sangat jauh.


📩 "Daddy? Kak Jio? Bagaimana?"


Tanya Jia dengan tidak sabar. Karena dia sama sekali tidak mendapat kabar dari sang Ayah maupun sang Kakak.

__ADS_1


Tentu saja, karena keduanya pasti menjadikan pasangan mereka sebagai penerima kabar nomor satu.


✉️ "Kami semua selamat, Nona Cantik! Hanya satu pengawal yang tewas, karena terlambat keluar dari mobil Jeep."


📩 "Syukurlah, Daddy dan Kak Jio selamat. Siapa yang tewas?"


✉️ "Roky!"


📩 "Yaa Tuhan! Paman Roky tewas? Dia sering mengantar ku kemana - mana! Bahkan barusan Mommy bilang, kalau yang mengantar ku nanti malam Paman Roky dan Paman Noel."


Hati Xiaoli terasa teriris, saat membaca pesan dari Jia. Yang mana mengatakan jika nanti malam bukan dirinya yang di tunjuk untuk mengantarkan Nona Muda Xavier pergi ke pesta topeng sang sahabat.


✉️ "Hati - hati untuk besok, My Beautiful!"


Sekarang jantung Jia yang seperti sedang di bombardir dengan perasaan salah tingkah. Yang mana pemuda itu dengan jelas menuliskan kata 'My' saat memanggil dirinya. Itu berarti dirinya adalah milik sang pemuda.


Bibir tak sanggup lagi untuk tidak berteriak senang. Ya, meski harus sebisa mungkin di tahan. Karena suasana yang sepi, bisa saja teriakannya nanti akan terdengar sampai keluar kamar.


"Haruskah sekarang aku menyebutnya My Prince?" pekik Jia tak tertahan. Ia sampai masuk ke dalam selimut, agar apa yang ia ucapkan tak terdengar sampai keluar kamar. Apalagi bibir tak henti tersenyum senang.


"Ah! Bisa saja dia salah sebut!" ucapnya kemudian mendadak bersedih.


"Tidak! Tidak! Tidak! Xiaoli tidak boleh salah sebut!" gerutunya gemas.


"Ya, Xiaoli. Aku akan selalu berhati - hati di manapun..."


📩 "Bagus! tidurlah... Semoga mimpi indah, My Princess in dream world!"


"Oh my God! dia tidak salah sebut!" ucapnya dengan rasa senang yang berkobar. Bukan hanya menjadi sebuah senyum di bibir, tapi juga menjadi sebuah getaran hebat di dalam dada.


✉️ "Kamu juga.... selamat malam... Xiaoli Chen..."


Sebuah emoticon senyum dengan pipi yang memerah menjadi akhiran kalimat singkatnya untuk sang Bodyguard.


***


Sampai di rumah, waktu sudah menunjukkan pukul empat pagi. Yang mana rumah dalam kondisi sepi dan gelap di beberapa titik. Setelah mendapat kabar jika pasukan Black Hold memenangkan perang, sangat wajar jika semua anggota keluarga tidur dengan lelap.


Jio masuk ke dalam kamarnya, dan di sambut oleh ranjang kosong nan empuk. Membuat sang Putra Mahkota segera membersihkan badannya, dan membuang baju sisa - sisa pertempuran yang mana banyak cipratan darah anak buah musuh di sana.


Selesai membersihkan dirinya, dengan cepat Sang Tuan Muda membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Sebelum ia memejamkan matanya, ia sempatkan diri untuk melihat layar wallpaper yang mana ada foto dirinya bersama sang kekasih saat makan siang di kaki bukit Fields of Pealand.


"I love you, My Lady!" bisik Jio.


Kemudian segera ia memposisikan diri untuk tidur dengan nyaman. Dan bangun jika diri sudah terasa lebih ringan.


***


Jika sang Putra Mahkota di sambut oleh kamar kosong tanpa ada detak jantung lain di dalam sana. Tentu berbeda dengan sang Ayah. Sang Tuan Besar di sambut oleh satu - satunya wanita yang membuat seorang Michael Xavier berubah 180 derajat.


Dari diri yang nyaris seperti iblis, menjadi manusia yang memiliki rasa cinta luar biasa dalam untuk istri dan anak - anaknya. Dari manusia tidak punya hati menjadi manusia yang penuh arti.

__ADS_1


Melihat tubuh molek nan sintal di atas ranjang, membuat Michael kembali merasakan detak jantung yang ia rasakan sekitar 20 tahun yang lalu. Detak jantung yang tak biasa bagi seorang Michael Xavier. Karena seumur - umur baru kali itu ia merasakan perasaan yang sedemikian sulit di artikan.


Yang mana dia adalah satu - satu nya wanita yang pernah ia bawa pulang dan masuk ke dalam kamarnya yang dulu selalu di jaga oleh dua orang penjaga. Lambat laun penjaga kamar kini sudah tidak ada lagi. Karena Chania yang risih dengan kehidupan yang terlalu berlebihan. Toh suami dan anaknya suah cukup hebat. Bairlah penjagaan di dalam rumah di kurangi.


Dan Michael tersenyum tipis, saat mengingat jika istrinya itu adalah satu - satunya sekretaris yang berani merajuk kepadanya. Jika saja itu sekretaris yang lain, sudah pasti akan di buang oleh Michael untuk di ganti dengan yang baru. Tapi entah, ia tak bisa melakukan itu pada Chania pada masa itu.


Tragedi demi tragedi kembali teringat di benak sang Mafia, seperti tragedi di mana Chania harus adu jambak dengan Oliver di ruang makan, kepala pelayan yang tak lain adalah Kakak kandung Chania sendiri.


Dan awal pertemuannya dengan Chania juga bukanlah suatu yang kebetulan. Melainkan sesuatu yang sudah di rencanakan. Dan dengan kesengajaan itu pula yang membuat Michael menjadi yang sekarang.


"Terima kasih sudah menemaniku sampai sejauh ini, Baby..." lirih Michael yang berdiri di jarak tiga meter dari ranjang.


Ia menunduk, melihat baju yang di penuhi dengan cipratan darah - darah musuh yang mulai mengering. Kemudian ia kembali menatap sang istri di tempat tidur, dan menghela nafas panjang.


"Kamu adalah keajaiban, Baby... tidak semua wanita berani mendampingi pria sepertiku..."


Puas memandangi sang istri, Michael segera beranjak ke kamar mandi. Melepas lelah di bawah guyuran air shower yang hangat. Selama butiran hangat itu menyentuh kulitnya, ia pejamkan matanya dan ia kembali teringat, jika baru saja ia membunuh seseorang untuk kesekian kalinya.


Diri sudah berusaha mengakhiri peperangan apapun. Tapi kenyataannya hidupnya memang sudah terlanjur masuk ke dalam dunia hitam. Dan itu akan terus berlanjut sampai anak cucunya kelak.


Menolak? itu sudah menjadi garis hidup mereka karena lahir di keluarga Sebastian.


Yang bisa mereka lakukan hanyalah tidak lagi membuat masalah dan menawarkan perdamaian di setiap peperangan yang ada. Bukan bearrti menjadi lemah. Tapi dengan menempa ilmu sedemikian tekun, sudah cukup menjadi tameng saat semua yang tidak ingin di lakukan harus terjadi.


Merasa cuku dengan air shower yang melunturkan penatnya, Michael segera keluar dari bilik shower. Kemudian memakai handuk putih untuk menutupi pinggangnya. Lalu handuk kecil untuk mengeringkan rambutnya.


Michael keluar dari kamar mandi mewahnya, dan lagi - lagi melirik tempat tidur. Disana, ada wanita cantik yang tidak akan pernah keberatan jika ia bangunkan untuk meminta di puaskan saat dirinya membutuhkan pelepasan.


Maka setelah ia memakai ****** ***** berbentuk boxer ketat, ia segera menghampiri sang istri. Dengan sangat pelan, menggunakan keahliannya untuk begera senyap, Micahe sudah berada di belakang tubuh sang istri dan sama - sama berada di dalam selimut.


Ia dekap lembut tubh sintal istrinya yang memakai piyama tidur model kimono. Dan saat tangan merayap untuk menemukan kehangatan di titik tertentu, Chania menggeliat karena merasa ada yang sedang meraba dadanya.


Ia buka mata secara perlahan, Dn melihat wajh tampan snag suami sudah ada di sampingnya.


"Suah pulang, honey?'


"Ya, Baby..." jawabnya menatap sendu sang wanita.


Chania membalikkan badannya. Dan kini tubuh mereka saling berhadapan. Dua pasang mata saling menatap lembut. Sorot mata yang selalu menghanyutkan satu sama lain. Jemari lentik terangkat, dan merayap lembut di rahang sang suami.


Dari apa yang dilihat, Chania tau ada luka yang di simpan suaminya itu. Ada sesuatu yang tak bisa di ungkapkan.


"Kamu adalah suami dan Ayah yang hebat! aku bangga menjadi bagian dari hidupmu, Honey..."lirih Chania mencium bibir tipis sang suami. "Anak - anak juga pasti bangga karena memiliki Ayah sehebat dirimu. Memiliki Ayah seorang Michael Xavier. Yang mana pasti banyak di luaran sana yang ingin menjadi anak mu..."


MIchael tersenyum tipis, ia tarik wanita itu untuk lebih dekat dengannya. Hingga tubh menempel sempurna.


"I love you, Baby...." ucap Michael mencium dalam kening sang istri yang tetap harum meski sudah bangun tidur.


"I love you too, Honey...." balas Chania dengan mendekap erat tubuh sang lelaki.


...🪴 Bersambung ... 🪴...

__ADS_1


__ADS_2