
Jio tengah melakukan pekerjaannya sebagai calon penerus perusahaan milik sang Ayah, Sebastian Corp. Ia sengaja membuat rancangan kerja dan menyelesaikan semua lebih awal. Bahkan di hari yang sebenarnya ia bebas untuk tidur maupun bersenang - senang.
Semua ia lakukan tentu supaya minggu depan, di saat Virginia menjalankan operasinya, ia bisa punya banyak waktu untuk menemani sang kekasih yang pasti butuh banyak dukungan darinya, dan juga keluarga.
Sehingga yang seharusnya ia bisa bersantai di kamarnya, atau mendatangi sang kekasih, ia justru berada di dalam ruang kerja. Di meja yang khusus di sediakan oleh sang Ayah untuk dirinya. Ia terus fokus pada laptop, berkas dan apa yang menjadi masalah perusahaan. Yaitu pemulihan fungsi pipa pasca di bom, beserta jaringan yang terhubung dengan semua itu.
Sembari menunggu sang sepupu yang katanya akan datang, Jio sesekali pula mengecek ponsel miliknya. Di mana sang kekasih sesekali berkirim pesan padanya. Menunjukkan pada Jio, jika pagi itu gadis itu tengah belajar untuk memasak menu makan siang di keluarga Brown.
Gadis dengan sakit yang cukup parah itu mencoba untuk mengisi hari - hari yang ia miliki untuk sesuatu yang bisa di jadikan kenangan. Tak lupa semua momen itu berada dalam rekaman kamera yang terus menyala. Bahkan pesan - pesan yang di kirim oleh Jio pun ia tunjukkan pada kamera, sebagai kenangan mutlak. Jika seandainya ia akan mengalami lupa ingatan pasca operasi.
"Kamu mau coba ini?"
Sebuah pesan di kirim Virginia untuk Jio dengan di sertai sebuah foto hasil masakannya bersama sang Moma dan seorang Chef andalan di keluarga Brown.
"Apapun yang kamu buat aku pasti akan mencoba dan memakan nya, Baby..." jawab Jio melalui pesan chat pula.
Di ujung sana, si penerima pesan tentu tengah tersenyum membaca balasan pesan dari sang pangeran.
Dan itu membuat Mama Virginia tersenyum melihat sang putri yang senyum - senyum sendiri melihat ponsel miliknya. Sebagai Ibu ia sudah bisa menduga siapa yang tengah berkirim pesan dengan putrinya.
"Nanti makan siang di rumah ku, ya?" balas Virginia penuh harap.
Sementara Jio bimbang dengan pesan yang di terima sang kekasih. Ia ingin menyelesaikan apa yang menjadi masalah perusahaan di hari itu dan besok. Tapi ia selalu tidak bisa menolak permintaan sang kekasih.
"Dengan senang hati, Sayang..."
Balas Jio sembari menatap layar laptopnya yang di penuhi dengan kurva. Belum lagi jendela lainnya yang di penuhi dengan angka - angka untuk menghubungkan ia dengan CCTV - CCTV milik umum yang ia retas. Demi mengawasi pekerja lapangan yang ia tugaskan untuk memperbaiki pipa gas di sepanjang aliran nya.
Namun di balik pening dan beratnya dia dengan pekerjaan, menolak permintaan Virginia adalah sesuatu yang paling berat untuk di lakukan Jio saat ini, sampai kapanpun.
"YEAAH!" seru Virginia membuat sang Ibu menoleh.
"Ada apa, Virginia?" tanya sang Mama.
"Jio akan datang untuk mencicipi makan siang buatanku, Ma!" ujar Virginia dengan senyum bahagianya.
"Kamu yakin, dia bisa datang?"
"Iya, Ma!" jawab Virginia yang yakin jika Jio tidak akan pernah berbohong padannya. "Virginia harus menyempurnakan rasanya, Ma!" Virginia langsung mendekati Chef yang sedang membantu dirinya untuk menyiapkan makan siang.
Bertanya ini itu, demi kesempurnaan rasa. Sang kekasih akan datang, ia tak mau mengecewakan anak orang terkaya nomor satu di Italia yang sudah ia cintai sejak masih anak - anak.
***
__ADS_1
Jio dan Virginia sedang merencanakan pertemuan. Di saat Jia justru menunggu balasan dari sang bodyguard.
"Apa menurut kamu julukan Bao - Bao pantas untuk aku yang merupakan gadis petarung ini?"
Tanya Virginia melalui pesan chat yang sudah ia kirim sejak setengah jam yang lalu. Sebuah emoticon menahan tawa turut ia sertakan. Namun entah kemana perginya sang bodyguard. Yang jelas Virginia yakin, jika Xiaoli tengah sibuk. Bukan tengah meladeni gadis lain.
"Begini rasanya jatuh cinta..." gumamnya menatap langit - langit kamar.
Dan saat ia tenggelam dalam lamunan tentang sang bodyguard, suara deru beberapa mobil terdengar memasuki pekarangan, mendekati istana.
"Ya! pasti itu Xiaoli!" seru Jia melompat dari atas tempat tidur dan melesat ke arah balkon. Dengan berdiri di balkon kamarnya saja, Jia dapat melihat siapa yang datang.
Dan saat melihat mobil sekelas Alphard berhenti tepat di depan istana, Jia yakin itu adalah Xiaoli yang membawa Jellow. Dengan setia Jia berdiri dan menatap ke bawah, di mana dari sana ia sudah bisa melihat di balik kaca mobil yang gelap siluet sang kekasih sedang berada di balik kemudi.
Jia menunggu sang bodyguard tampan keluar dari sana, tapi ia berdalih jika tengah menuggu sang sepupu keluar dari dalam mobil sana. Antonio turun lebih dulu untuk menyambut keluarnya Jellow dari dalam sana.
"Jellow!" seru Jia menyapa sang sepupu dari balkon kamarnya.
"Hai, Jia!" balas Jellow. "Turunlah!" perintah Jellow bersamaan dengan pintu kemudi yang terbuka.
Di mana lelaki idaman Jia keluar dai sana. Dengan pakaian serba hitam yang khas, dan yang paling penting dengan ketampanan yang selalu berhasil menenggelamkan lamunan Jia.
"Baiklah!" jawab Jia setelah sorot matanya bertemu dengan sorot mata sang kekasih yang hanya menyapa melalui telepati semata.
Jia segera masuk ke dalam kamarnya, untuk bisa segera turun ke bawah, menemui sang sepupu untuk kemudian mencuri pandang pada sang kekasih.
"Mau kemana?" tanya Virginia mengerutkan keningnya.
"Kencan lah!" jawab Gerald dengan entengnya.
"Cih! tambahin dulu itu umur! baru kencan!" ejek Jia saat keduanya sudah sampai di anak tangga terakhir.
"Cerewet!" dengkus Gerald dengan gemas pada sang kakak perempuan.
"Hai, Kak Jellow!" sapa Gerald pada Jellow saat keduanya berpapasan di ruang tengah.
"Hai, Ger! mau kemana?" tanya Jellow melihat sepupunya dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Gerald ingin menemui teman, Kak!" jawab Gerald.
"Yakin teman?" tanya Jellow tak percaya melihat bertapa rapi tampilan Gerald.
"Untuk saat ini Gerald masih teman, Kak!" jawab Jellow tersenyum tipis. Sebagai anak muda yang berulang kali ganti teman kencan, ia tau maksud dari jawaban Gerald.
__ADS_1
"Ya, sudah pergilah! Aku berharap setelah ini bukan lagi teman!"
"Hahaha! thank you, Kak Jellow!" jawab Gerald tergelak. "Paman Antonio, bisa antar aku ke rumah Chloe?" tanya Gerald.
"Saya selalu siap mengantar kemanapun Tuan Muda ku pergi, Tuan!" seru Antonio.
"Good!"
Dan pergilah dua orang beda usia itu meninggalkan Istana Xavier. Sementara Jia langsung menyapa Jellow dengan sebuah pelukan hangat.
"Welcome back, Jell!" bisik Jia.
"Yeah, girl!" jawab Jellow membalas pelukan JIa dengan pelukan yang lebih erat.
Saat Jia memeluk Jello, dan bibir berbisik pada sang sepupu, tapi mata Jia hanya tertuju pada Xiaoli yang berdiri juga dengan menatap dirinya. Pandangan mereka bertemu, Jia yang seolah tersenyum dengan pelukan Jellow, sesungguhnya telah tersenyum pada sang bodyguard.
Rencana untuk mencuri pandang sudah berhasil.
Sadar jika Nona Muda yang tak lain adalah kekasihnya itu tengah tersenyum padanya, Xiaoli mencoba untuk tersenyum samar. Jika saja Jellow bukan sepupu sang Nona Muda, bisa di pastikan lelaki itu hanya akan tinggal nama besok pagi.
Tidak akan rela ada yang memeluk kekasih hatinya selain dirinya.
"Di mana Jio?" tanya Jellow melepas pelukan mereka.
"Di ruang kerja! dia lembur!"
"Oh ya? why?" Jellow seolah tak percaya dengan jawaban Jia. "Ini weekend, harusnya dia mengajakku e klub malam di kota yang lama tak ku kunjungi ini!" ujar Jellow menatap pada kembaran Jio.
Namun Jia hanya mengangkat kedua pundaknya, sebagai jawaban tidak tau.
"Aku akan merusuhi nya!" ucap Jellow dan langsung melesat ke pintu di mana ruang kerja keluarga Xavier ada di sana.
"Ya, lakukan apa yang kamu mau!" jawab Jia menatap punggung sepupunya.
"Kami permisi, Nona... hendak meletakkan barang - barang Tuan Muda Harcourt."
"Oh... yaaa.." jawab Jia mengangguk.
Kini tinggallah dirinya dan Xiaoli yang berada di ruang tengah. Kedua mata saling bersilang tatap. Jia tidak bisa lagi menyembunyikan senyumnya.
"I love you...." ucap Xiaoli tanpa bersuara.
Hari sudah terik, tidak mungkin jika tidak akan ada yang melintas di ruangan itu, bukan?
__ADS_1
"I love you more!" balas Jia juga tanpa suara.
...🪴 Bersambung ... 🪴...