
Dengan tangan yang masih sedikit bergetar, Chania menyimpan ketiga hasil testpack ke dalam box kecil dan menyimpannya di dalam laci almarinya.
"Mommy akan menunjukkan kamu pada Daddy mu, di saat yang sudah tepat, Sayang." lirih Chania mengusap perutnya yang masih rata.
"Bantu Mommy meluluhkan kerajaan batu yang menguasai hati Daddy mu. Mommy yakin, hati Daddy akan melunak seiring berjalannya waktu." lanjutnya sembari menatap perutnya dari pantulan cermin.
"I love you.." lirihnya kemudian dengan tangan yang senantiasa mengusap lembut perut keatas dan ke bawah.
Tersenyum yakin, bahwa kelak Michael akan melunak mengantarkan dirinya untuk keluar dari walk in closed dengan rambut yang masih sedikit basah setelah mandi pagi.
Baru menyentuh handle pintu, mendadak perutnya mual liar biasa. Segera ia berlari ke kamar mandi untuk mengeluarkan isi perutnya. Berjongkok di walk in closed, menekan suaranya sekecil mungkin agar Michael tak mendengar.
"Haa.." menghela nafas berat akibat rasa lelah yang mendera saat muntah.
Ia segera membersihkan mulut, dan kembali mencuci muka setelah merasa lebih baik. Ia keluar kamar mandi dan kembali memoles wajahnya dengan make up tipis.
Berlanjut keluar dari walk in closed, untuk menghampiri Michael. Namun pria itu ternyata sudah tak berada di atas ranjang.
Matanya menyisir seluruh ruangan, hingga melihat pintu balkon terbuka dan menemukan Michael yang berdiri dan berpegangan pada pagar balkon. Sebatang rokok menancap di sela - sela jarinya.
Rupanya pria itu tengah menikmati pagi dengan sebatang rokok dan secangkir kopi di atas meja. Entah, kapan kopi itu datang.
Chania berjalan mengendap, memasang wajah ceria di pagi hari. Mendekati Michael yang berdiri membelakanginya.
"Tarraa!!" seru Chania memeluk tubuh kekar itu dari belakang, sembari mengintip ekspresi Michael.
Michael tersenyum tipis dengan melirik Chania di belakangnya. Tak ada keterkejutan sedikitpun yang muncul dari wajah menawannya.
"Kok kamu biasa aja sih?" tanya Chania heran.
"Memangnya harus bagaimana?" tanya Michael dengan senyum tipis di bibirnya.
"Yaa... misalnya kaget gitu!" ucap Chani mengerucutkan bibirnya.
"Hahah!" Michael terkekeh. "Kau melupakan sesuatu tentang siapa aku?" tanya Michael memutar tubuhnya. Lalu menarik pinggang Chania dengan satu tangan. Karena tangan lainnya masih tersisipi sebatang rokok yang ujungnya masih menyala.
Jarak antara tubuh Michael dan Chania sudah menghilang. Tergantikan oleh tubuh yang saling menempel sempurna. Menimbulkan dentuman luar biasa yang dapat di rasakan oleh masing - masing.
Dua pasang mata saling bertatap dengan tatapan yang saling menyukai. Namun yang di pikirkan Chania, mungkin saja tatapan Michael tak setulus yang ia impikan.
__ADS_1
"Kau keluar dari pintu walk in closed saja aku sudah tau. Apa lagi kamu keluar dari pintu itu." ucap Michael tersenyum sinis melirik pintu yang menghubungkan kamar dan balkon.
"Hah!" pekik Chania. Namun detik berikutnya ia sadar. Sepertinya dia memang lupa siapa pria di hadapannya ini. "Dasar Bos Mafia sombong!" celetuk Chania memukul dada bidang Michael yang justru terkekeh geli.
"Sudah lebih baik?" tanya Michael.
"Hm" Chania mengangguk manja dalam dekapan tangan kekar Michael yang merengkuh pinggangnya.
"Sudah mandi?"
"Tentu saja sudah wahai Tuan Mafia! memangnya anda belum mandi juga!"
"Walau aku tak mandipun kau tetap menempel." celetuk Michael melirik bawah, dimana dada Chania yang tak berjarak dengan dadanya.
"Hehehe!" Chania tersenyum kikuk. "Kamu terlalu tampan. Tak mandi pun tak ada yang tau." puji Chania yang begitu mengagumi ketampanan sempurna milik Michael Xavier.
Michael tersenyum bangga. Ia sudah biasa mendapat pujian seperti apapun. Tapi pujian yang keluar dari bibir Chania di rasa cukup berbeda dan membuat sedikit besar kepala.
"Kau pun cantik!" balas Michael.
Chania tersenyum malu hingga kedua pipi terlihat begitu memerah. Melempar pandang ke arah lain, tak sanggup menatap mata Michael yang menatap wajahnya dengan lekat.
' Kesempatan untuk menyalakan kompor! '
Desis Chania dalam hati, menyembunyikan senyum sinisnya.
Tangan Chania merambat keatas hingga melingkar di leher Michael. Kemudian berjinjit dan mengecup singkat bibir tipis Michael yang menawan. Tak menebar senyuman manis - manis manja di hadapan Michael.
Setelahnya ia mengembalikan posisi kakinya seperti semula. Namun saat itu juga Michael sedikit menundukkan kepalanya dan kembali meraih bibir Chania. Mencium dan menikmati kekenyalan bibir manis Chania.
Sengaja Chania membalas cuman Michael dengan sedikit liar. Namun tubuh dan tangannya masih di posisi yang sama. Agar tak terlalu kentara jika sebenarnya dia tengah menggoda sang Tuan Mafia.
Panas sudah sepasang mata di bawah sana. Hatinya bahkan sudah terbakar api cemburu. Yang entah dengan cara apa bisa di padamkan.
Sepasang mata memicing, sesekali kaki menghentak kesal. Dada kembang kempis dengan intonasi cepat. Menunjukkan sang pemilik tubuh tengah menahan amarah.
' Sepertinya aku harus menghabisi gadis itu saja! Tak peduli dengan pesan Mommy! Mataku panas, tak sanggup jika setiap hari harus melihat gadis itu bermesraan dengan Michael. "
Gerutu Oliver dalam hati, melihat Michael dan Chania yabg terlibat ciuman cukup dalam dan lama. Dan semakin sakit saat melihat tangan kiri Michael merengkuh pinggang Chania dengan begitu erat.
__ADS_1
' Hah! sepertinya aku sendiri yang akan mengantar gadis itu agar segera memberikan sumsum tulang belakangnya untuk Selena. Terlalu lama menunggu gadis itu menyerahkan diri. '
Oliver tersenyum culas. Namun detik berikutnya ia teringat pedan sang Mama yang mengatakan ia akan menyesal jika menganggap remeh nyawa Chania.
"Hah!" membuang nafas kasar sembari melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah.
***
Mengakhiri adegan romantis di pagi hari dengan sarapan bersama. Kemudian Chania melanjutkan untuk mencari diary sang Mama. Ia bahkan meminta ijin untuk tidak ikut ke kantor hari ini dengan alasan belum benar - benar membaik.
Rasa penasaran akan masa lalu sang Mama dan Papa membuatnya sedikit malas bekerja. Lebih tepatnya takut tidak bisa fokus dalam menyelesaikan pekerjaannya.
Bukankah ibu hamil memang lebih banyak malasnya dari pada rajinnya?
Buku diary usang sudah ada dalam tangan Chania. Kali ini ia membawanya untuk duduk bersantai di balkon kamar. Membuka lembar selanjutnya yang belum ia baca.
🌺🌺🌺
Tuan, andai kau tau...
Morning sickness ini sangat menyiksa ku setiap pagi.
Dan lebih sakit karena tak ada satu orangpun yang bersamaku saat merasakan semua ini.
Tapi demi apapun, aku akan mempertahankan mereka.
Aku akan menyayanginya, seperti aku menyayangimu.
Cinta kita akan selalu hidup bersama dengan tubuh kembangnya.
🌺🌺🌺
Chania memegang perutnya, ia teringat betapa tersiksanya saat memuntahkan isi perutnya.
Berbeda dengan sang Mama yang merasakan morning sickness tanpa seorang pun di sisinya, Chania justru ada suaminya namun ia yang menolak memberi tahu Michael tentang kehamilan. Bahkan memilih muntah seorang diri.
...🪴🪴🪴...
...Happy reading🌹🌹🌹...
__ADS_1